NovelToon NovelToon
DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

DILUAR DIPUJA DIDALAM DIHINA Istri Pengganti Ceo Brayen

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:940
Nilai: 5
Nama Author: Aurelia Sadewa

Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Duyung Di Vila Alkantara

Pesawat private Alkantara Air mendarat mulus di landasan pribadi Male. Pilot mengumumkan, "Kita telah mendarat di surga, Tuan dan Nyonya."

Begitu pintu pesawat terbuka, angin Maladewa yang hangat langsung menyapa. Biru. Semua biru. Langit biru tanpa awan, laut biru toska jernih sampai terlihat karang dan ikan-ikan kecil dari atas.

Brayen menggandeng tanganku turun dari tangga pesawat. Staf resort dengan baju putih sudah menunggu dengan handuk dingin dan kalung bunga.

"Selamat datang Nyonya Isyana, Tuan Brayen di Alkantara Private Island," kata mereka sambil membungkuk hormat.

Speedboat pribadi sudah menunggu di ujung dermaga. Bukan speedboat biasa, tapi yacht mini berwarna putih dengan tulisan ALAKANTARA di sampingnya. Hanya kami berdua plus kapten di depan yang pura-pura tidak melihat kami.

Perjalanan 20 menit di atas laut itu... Ya Tuhan, itu honeymoon itu sendiri. Brayen memeluk pinggangku dari belakang, aku duduk di pangkuannya di ujung yacht. Ombak memercik. Angin menerbangkan rambutku.

"Tutup mata," bisik Brayen tiba-tiba.

"Kenapa Mas?"

"Tutup aja, ada kejutan."

Aku menutup mata. Ia mengambil sesuatu. Dingin.

Ternyata air kelapa muda dengan sedotan!

"Minum, sayang. Kamu pasti haus," katanya sambil menyuapiku. Tangannya yang satu memegang kelapa, tangan satunya memegang pinggangku biar aku tidak jatuh karena ombak.

Aku minum dengan mata tertutup, manja. "Mas suapin terus ya sampai Maladewa?"

"Seumur hidup Mas suapin," jawabnya. Dan aku langsung tersedak air kelapa karena malu! Brayen tertawa puas.

Dan akhirnya... dari kejauhan terlihat titik putih di tengah laut biru. Semakin dekat semakin besar.

VILA ALKANTARA.

Aku membuka mata lebar-lebar. "Mas... itu... itu punya Mas semua?"

"Satu pulau itu punya kita untuk 3 hari ini, Berlian," bisik Brayen di telingaku. "Tidak ada tamu lain. Hanya kita dan 5 staf yang tinggal di pulau belakang. Jadi kamu bebas mau teriak, mau nyanyi, mau... apapun."

Villa air itu terapung di tengah laut. Dari kayu jati putih, atap jerami modern, jendela kaca dari lantai sampai langit-langit. Begitu pintu dibuka oleh staf...

"Wow..." mulutku benar-benar tidak bisa berkata-kata.

Kolam renang infinity private yang airnya menyatu dengan laut lepas. Saking jernihnya, tidak terlihat batas antara kolam dan laut. Di ujung kolam, langsung pantai pasir putih dengan ayunan kayu dan tempat tidur jaring di atas air. Di dalam vila ada kamar dengan tempat tidur king size yang menghadap langsung ke sunset.

Brayen meletakkan koper, menyuruh semua staf keluar. "Kalian boleh ke pulau belakang. Kami panggil kalau butuh makan malam."

"Siap Tuan."

Pintu tertutup. Sekarang benar-benar hanya kami berdua di tengah laut.

Brayen langsung merebahkan diri di kursi santai tepi kolam sambil membuka kacamata hitamnya dan menghela napas. "Akhirnya... sepi..."

Aku menatap kolam renang itu. Airnya berkilauan terkena matahari sore Maladewa yang jingga keemasan. Biru toska yang memanggil-manggil. Setelah 8 jam di pesawat dan drama airport tadi, rasanya ingin sekali menceburkan diri.

Tiba-tiba ide nakal muncul.

"Mas," kataku manja sambil duduk di armrest kursi Brayen.

"Hm?" Ia melirik, tangannya langsung melingkar di pinggangku.

"Aku mau berenang. Boleh ya? Airnya bagus banget..."

Brayen terkekeh, mencubit hidungku. "Baru sampai udah mau berenang? Gak capek, Duyung kecil?"

"Gak! Please Mas... sekali aja... habis itu aku temenin Mas bobok sore..."

Jurus manja level 100 berhasil.

Ia mengangguk. "Ya udah. Tapi ganti baju dulu. Jangan langsung nyebur pakai dress putih. Nanti tembus."

Aku lari ke kamar, jantungku berdebar. Aku membuka koper. Aku sudah menyiapkan baju renang khusus untuk honeymoon ini. Bukan bikini yang terbuka, karena aku malu. Tapi one-piece warna putih mutiara dengan punggung terbuka sedikit berbentuk V, elegan tapi tetap cantik. Di dadanya ada detail kain menjuntai yang anggun seperti gaun dewi.

Aku ganti di dalam kamar mandi yang dindingnya kaca menghadap laut. Saat aku keluar... aku melihat dari pantulan kaca...

Brayen ternyata tidak sengaja melihat dari pintu kaca kamar yang setengah terbuka! Ia sedang minum air, tapi tangannya berhenti di tengah jalan. Matanya menatapku lekat.

"Isyana..."

Aku langsung memeluk tubuhku malu. "K-kenapa Mas? Jelek ya? Kebuka banget ya belakangnya? Aku ganti lagi deh..."

Brayen berdiri pelan, menghampiriku. "Jelek?"

Ia menatapku dari atas ke bawah, napasnya sedikit tertahan.

"Sayang, kalau kamu pakai ini di pantai umum, Mas bisa cemburu sama semua laki-laki di pantai itu. Kamu terlihat seperti... duyung. Duyung putih milik Mas seorang."

Wajahku merah padam sampai ke telinga.

Tanpa menunggu lagi karena malu, aku lari kecil ke pinggir kolam.

"Mas lihat ya! Aku bisa berenang kayak duyung!"

_BYURRR!_

Aku menceburkan diri. Airnya hangat! Segar! Pas!

Aku langsung melaju. Aku memang jago berenang sejak SMA, juara lomba antar sekolah. Tubuhku meliuk indah di dalam air jernih itu. Rambut panjangku terurai di dalam air seperti ekor duyung. Aku berenang gaya bebas, lalu gaya punggung, lalu menyelam sebentar melihat dasar kolam yang bersih, menikmati setiap detiknya.

Brayen tertawa dari pinggir kolam sambil bertepuk tangan. "Wah! Istri Mas ternyata duyung beneran! Lebih cantik dari Ariel!"

Aku berhenti di tengah kolam, menyibak rambut basahku yang menempel di wajah. "Mas, sini! Temenin aku! Kita lomba! Yang kalah traktir makan malam!"

Brayen menggeleng sambil melepas jam tangannya. "Mas capek, sayang. Mas jagain dari sini aja. Mas jadi wasit."

"Ayolah Mas! Sekali aja! Sampai ujung sana! Kalau Mas menang, aku... aku nurut apa kata Mas malam ini!"

Kalimatku itu membuat Brayen langsung berdiri.

"Deal," katanya cepat.

Ia melepas kemeja putihnya. Ya Tuhan... tubuh kekar itu... bahu lebar, dada bidang, perut rata dengan garis tipis yang selama ini tertutup kemeja rapi dan jas mahal kini terlihat jelas di bawah matahari Maladewa yang keemasan. Air kolam memantulkan cahaya ke tubuhnya.

_BYUR!_

Ia menceburkan dirinya. Air muncrat kemana-mana sampai ke wajahku.

"Mas curang! Mas gede jadi airnya muncrat semua!" aku tertawa sambil mengusap wajah.

Ia sudah di sampingku, begitu dekat. Tetesan air menetes dari rambutnya ke wajahnya.

"Oke, hitungan ketiga. Yang sampai ujung kolam dulu menang. Yang kalah... nurut malam ini. Siap, Duyung?" bisiknya, suaranya berat.

"Siap!"

"Satu... dua... tiga!"

Kami melaju bersamaan! Aku berenang secepat yang aku bisa, meliuk-liuk seperti duyung putih. Brayen dengan gaya bebas kekarnya yang kuat dan cepat di sebelahku. Air beriak kencang.

Aku di depan! Sedikit lagi! 2 meter lagi!

"Yeay! Aku menang Mas!" aku berseru sambil menepuk dinding ujung kolam dan mengangkat tangan.

Brayen menyusul 1 detik di belakangku, napasnya agak terengah, rambutnya basah.

"Iya, kamu menang, Duyung ku," katanya sambil tertawa dan menyibak rambutnya. "Mas kalah. Istri Mas terlalu cepat dan terlalu licik. Mas harus nurut malam ini?"

"Kebalik Mas! Tadi kan kalau aku menang... eh..."

Kami tertawa bersama di tengah kolam, saling memercikkan air. Matahari sore Maladewa menyinari wajah kami, membuat tetesan air di bulu mata kami berkilau seperti berlian.

"Mas capek, Berlian," kata Brayen sambil memijat tengkuknya, napasnya masih memburu. "Jantung Mas masih deg-degan habis lomba sama kamu. Mas naik dulu ya sayang. Kamu lanjut berenang sebentar 5 menit, nanti kita mandi bareng terus Mas masakin makan malam. Mas udah pesan chef pulang."

"Iya Mas," jawabku manja, masih mengambang di air.

Brayen berbalik, berenang pelan ke tangga kolam. Punggung kekarnya naik turun. Baru dua kayuhan...

"Mas..."

Suara ku berubah. Bukan manja lagi. Tapi menahan sakit dan panik.

Brayen langsung menoleh dengan refleks super cepat. Wajahku sudah pucat.

"Kaki ku... kram Mas... aduh... sakit..."

Kaki kananku kram tiba-tiba! Otot betisku mengeras seperti batu! Mungkin karena terlalu semangat berenang setelah duduk lama 8 jam di pesawat. Aku tidak bisa menggerakkan kaki ku. Tubuh ku mulai tenggelam, tanganku memukul-mukul air panik.

"ISYANA!"

_BYURRRR!!!_

Tanpa pikir panjang, Brayen yang sudah setengah naik di tangga langsung berbalik dan melesat kembali ke tengah kolam dengan kecepatan luar biasa, seperti lumba-lumba. Dalam 3 detik ia sudah di sampingku, padahal tadi sudah 5 meter jauhnya.

Ia langsung merangkul pinggangku dari belakang, mengangkat tubuhku yang lemas dan panik ke permukaan.

"Pegangan Mas! Pegangan leher Mas yang kuat! Jangan lepas!" perintahnya, suaranya panik, bukan marah. Aku belum pernah dengar suara Brayen sepanik itu.

Aku memeluk lehernya erat, menangis karena sakit dan takut. Ia menggendongku dengan satu tangan yang kekar, membawaku ke tepi kolam dengan renangan penyelamat yang kuat. Napasnya memburu, bukan karena capek lomba, tapi karena khawatir luar biasa.

Sampai di kursi santai tepi kolam, ia mengangkatku naik, mendudukkanku pelan di atas handuk besar. Ia sendiri masih di dalam kolam, setengah naik, memegangiku.

"Kaki mana yang kram? Kanan? Kiri?" suaranya tegang, tangannya gemetar.

"Kanan Mas... aduh... masih sakit..."

Ia langsung naik sepenuhnya, berlutut di depanku. Tangannya yang besar dan hangat yang biasanya tanda tangan kontrak Miliaran itu, kini memegang betis dan pergelangan kaki ku yang indah yang masih basah dan dingin. Ia memijatnya pelan, dengan gerakan yang ahli dan lembut. Memutar pergelangan kakiku perlahan, menekan betis ku yang mengeras agar ototnya rileks kembali.

"Tahan ya sayang... tarik napas... hembuskan... pelan-pelan... Mas di sini... Mas di sini..."

Aku menatapnya. Di sore itu, di Maladewa, di tepi kolam yang airnya masih beriak bekas kepanikan kami. Suamiku yang CEO dingin yang ditakuti satu Indonesia, yang tadi pagi menampar Lalita di airport tanpa ragu, sekarang berlutut di depanku dengan hanya celana renang, memijat kaki ku yang kram dengan penuh cinta dan mata yang berkaca-kaca karena khawatir.

Keringat menetes di pelipisnya bercampur air kolam. Napasnya masih terengah.

Perlahan, rasa sakit di betis ku hilang. Ototnya kembali lemas.

"Udah mendingan Mas..." bisikku pelan, masih terisak kecil.

Brayen mendongak. Matanya bertemu mataku. Wajah kami sangat dekat. Jaraknya hanya 20 cm. Rambutku masih basah menetes ke bahu, baju renang putihku masih basah. Di sekeliling kami hanya ada suara angin laut, debur ombak yang tenang, dan kicau burung camar di langit senja Maladewa yang sudah berubah jingga keemasan.

Ia menatapku lekat. Menatap wajahku yang masih pucat, bibirku yang masih gemetar, dan mataku yang berkaca-kaca.

"Isyana..." bisiknya, suaranya serak.

"Mas... makasih... Mas selamatkan aku lagi..." bisikku juga.

Dan tanpa menunggu jawaban lagi, Brayen mencondongkan tubuhnya. Tangannya yang satu masih memegang kaki ku dengan lembut, tangan satunya menahan punggungku yang dingin agar tidak jatuh.

Ciuman itu pun terjadi.

Ciuman yang lembut, hangat, dalam, dan penuh rasa syukur yang luar biasa. Ciuman yang bukan karena nafsu, tapi karena rasa takut kehilangan. Ciuman seorang suami yang baru saja melihat istrinya hampir tenggelam di depan matanya. Ciuman yang disaksikan oleh angin sore Maladewa, debur ombak yang pelan, dan burung-burung camar yang beterbangan pulang di atas vila pribadi kami yang sepi.

Aku membalas ciumannya. Melingkarkan tanganku yang masih dingin di lehernya yang hangat dan basah. Air mata ku yang tadi karena kram, sekarang berubah jadi air mata haru.

Ciuman itu lama. Sampai matahari hampir tenggelam.

Di atas kolam renang yang baru saja jadi saksi lomba duyung dan penyelamatan dramatis kami, di sore pertama kami di Maladewa.

*Deg. Jantungku berdebar lagi. Tapi kali ini bukan karena kram. Tapi karena... malam ini baru saja dimulai. Dan Brayen kalah lomba, harusnya dia yang nurut... tapi kenapa sekarang aku yang tidak bisa bergerak di pelukannya?*

---Bersambung---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!