"Tertinggal di Kota Sane berarti menyerahkan nyawa pada misteri yang mengintai."
Kota Sane adalah pulau indah bernuansa surga, namun memiliki aturan yang sangat ketat: hanya dibuka 4 bulan sekali dan wisatawan hanya boleh berkunjung selama 2 minggu. Bagi yang tertinggal, mitos mengatakan mereka tak pernah selamat.
Naya, mahasiswi kaya yang manja, mengalami mimpi buruk saat ketiduran di dermaga dan ditinggal kapal terakhir. Di tengah kota yang mendadak sepi bagai kota mati, Naya memohon perlindungan pada Devan—pemilik penginapan kayu yang tampan, dingin, dan tegas.
Naya rela bekerja tanpa gaji demi bisa bertahan hidup selama 4 bulan hingga kapal berikutnya datang. Namun, Devan menolak mentah-mentah kehadiran gadis manja itu.
Ketika malam mulai jatuh dan ancaman Kota Sane mengintai, sanggupkah Devan membiarkan Naya berada dalam bahaya? Rahasia kelam apa yang sebenarnya disembunyikan pulau ini?
Simpan novel ini dan ikuti kisah romansa penuh ketegangan antara Devan dan Naya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka sundari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak di Kota Misteri
Sirene kapal besar terakhir memecah keheningan Kota Sane, bergema jauh ke tengah lautan biru yang membentang tanpa batas. Namun bagi Naya, suara itu hanya hadir sebagai mimpi samar sebelum perlahan menghilang ditelan deburan ombak.
Sore itu, sekitar pukul lima.
Naya perlahan membuka matanya. Pandangannya agak kabur, tertutup helai-helai rambut gelombangnya. Ia terbangun di atas bale-bale kayu dalam sebuah gubuk tua di dekat dermaga—tempat ia berteduh karena ketiduran saat menunggu pintu kapal diturunkan.
Naya mengusap matanya, lalu meraba saku celananya. Ponselnya mati total. Saat ia melangkah keluar gubuk, hawa dingin yang sejuk langsung menusuk kulit putihnya.
Namun, ada sesuatu yang salah. Sangat salah.
Dermaga yang tadinya dipenuhi ribuan wisatawan dan hiruk-pikuk suara jangkar kapal… kini berubah menjadi padang kesunyian yang mencekam. Tak ada satu pun orang. Pantai berpasir putih yang indah serta air laut biru bening yang biasanya memanjakan mata, kini justru tampak seperti benteng raksasa yang mengurungnya dari dunia luar.
"Kapal... mana kapalnya?" bisik Naya. Suaranya bergetar.
Mata bulatnya yang berwarna cokelat terang beredar ke sekeliling dengan panik. Bulu matanya yang lentik basah oleh gumpalan air mata yang mulai berkumpul.
Naya adalah mahasiswi semester lima yang sedang menikmati liburan. Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara—dengan tiga kakak laki-laki yang sangat protektif—serta putri dari pengusaha terkaya urutan ke-20 di kota asalnya, Naya tidak pernah menghadapi situasi sesulit ini.
Aturan Kota Sane sangat ketat dan penuh rahasia. Kota pulau ini hanya dibuka empat bulan sekali, dan wisatawan hanya diizinkan berkunjung selama tepat dua minggu. Dan yang paling mengerikan... desas-desus mengatakan bahwa wisatawan yang tertinggal di Kota Sane tidak pernah ditemukan selamat.
Gadis manja itu mulai menelusuri jalanan setapak yang sepi hingga melihat sebuah bangunan kayu sederhana namun lumayan luas. Sebuah penginapan.
Seorang pekerja pria paruh baya yang sedang menyapu teras mendongak. Begitu matanya menatap sosok Naya, sapu di tangannya terlepas dan jatuh.
"Ka—kau... wisatawan?" gagap pekerja itu dengan wajah pucat pasi. "Bagaimana bisa kau masih ada di sini?!"
Tanpa menunggu jawaban Naya, pria itu berbalik dan berlari histeris ke dalam. "Tuan Devan! Tuan Devan, ada hal buruk terjadi!"
Naya berdiri terpaku di teras penginapan, meremas ujung bajunya.
Tak lama kemudian, langkah kaki yang mantap terdengar dari dalam. Langkah itu lambat, namun memancarkan aura ketegasan yang dominan.
Seorang pemuda keluar dari balik pintu kayu. Naya tertegun seketika.
Pemuda itu bertubuh tinggi (175 cm), tegap, dan gagah. Rambut hitamnya yang sedikit panjang diikat asal di belakang kepala. Ia hanya mengenakan kaos singlet putih yang membentuk lekuk dadanya yang bidang dan celana jeans. Wajahnya memiliki garis rahang yang tajam, hidung mancung yang tegas, dan mata agak sipit dengan tatapan yang begitu menembus. Bibir kecilnya terkatup rapat.
Dia adalah Devan. Pemilik sekaligus pengurus penginapan warisan neneknya.
"Siapa kau?" tanya Devan. Suaranya berat dan dingin.
"Tolong aku..." Naya melangkah maju. Bibir bawahnya yang sedikit berisi gemetaran menahan tangis. "Aku... aku tertinggal kapal. Aku ketiduran di gubuk dekat dermaga."
Devan memicingkan matanya yang sipit. Tatapan tajamnya menyapu wajah cantik Naya—kulit putih bersihnya, mata cokelat terangnya yang menggenang air mata, dan tubuh kecilnya yang mungil (155 cm).
"Kau pikir Kota Sane ini taman bermain?" desis Devan dingin. "Kau harusnya sudah berada di atas kapal satu jam yang lalu."
"Aku tahu aku salah! Tapi tolong aku, aku tidak punya tempat tinggal..." Naya memelas, kedua tangannya terangkat menyatu. "Izinkan aku tinggal di penginapanmu sampai kapal berikutnya datang empat bulan lagi. Aku akan bekerja di sini tanpa digaji. Tolong..."
Devan menghela napas kasar, memalingkan wajahnya. "Tidak. Penginapan ini sepi. Aku tidak punya kelebihan bahan makanan untuk memberi makan seorang gadis manja dari kota selama empat bulan. Carilah tempat lain."
Devan berbalik hendak masuk kembali ke dalam penginapan.
"Devan, tolong!"
Naya refleks berlari dan menahan lengan Devan. Namun karena terburu-buru dan kakinya yang lemas, Naya justru tersandung ambang pintu kayu.
"Aah!"
Sebelum tubuh mungil Naya menyentuh lantai, Devan dengan refleks secepat kilat berbalik dan menangkap pinggang Naya.
Greb!
Tangan tegap Devan merengkuh pinggang mungil Naya dengan erat, menarik tubuh gadis itu merapat ke dada bidangnya. Aroma minyak kayu jati dan embun laut yang maskulin dari tubuh Devan seketika memenuhi indra penciuman Naya.
Naya tertegun, mendongak menatap Devan. Jarak wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter. Naya bisa merasakan kehangatan napas Devan yang berembus di dahinya, sementara Devan terpaku menatap mata bulat cokelat terang milik Naya yang berair, serta bibir bawahnya yang merah alami dan sedikit berisi.
Jantung Devan berdesir hebat secara tak terduga. Rasa hangat menyerbu dadanya saat menatap kerapuhan gadis asing di pelukannya ini.
"Kau... tidak apa-apa?" suara Devan mendadak serak, kehilangan ketegasannya sejenak.
"T-tidak apa-apa..." bisik Naya pelan, pipinya mendadak merona merah.
Naya tidak melepaskan cengkeramannya pada kaus singlet Devan. Tatapan mata sipit Devan yang tajam kini bergetar lembut.
"Kalau aku keluar dari sini, aku tidak tahu harus ke mana..." air mata Naya akhirnya jatuh membasahi dada kaus Devan. "Kata orang-orang, siapapun yang tertinggal di kota ini tidak akan selamat. Aku takut... Tolong kasihanilah aku. Aku janji tidak akan merepotkanmu. Aku bisa makan seadanya, sungguh!"
Melihat air mata Naya yang membasahi bajunya, kepalan tangan Devan melunak. Hatinya yang sekeras batu seolah luluh oleh tatapan pasrah gadis mungil itu.
Dengan perlahan, Devan menegakkan tubuh Naya kembali, namun jemarinya sempat mengusap lembut setetes air mata di pipi mulus Naya sebelum menarik tangannya kembali.
"Dengar," kata Devan pelan, suaranya kembali dalam dan bernada protektif. "Di penginapan ini ada aturan. Jika kau melanggarnya satu kali saja, aku sendiri yang akan melemparmu keluar. Paham?"
Naya mengangguk cepat, menghapus sisa air matanya dengan lega. "Paham! Aku janji!"
Devan menatapnya dalam-dalam, mengikis sisa jarak di antara mereka. "Masuklah. Dan ingat... begitu malam tiba, jangan pernah sesekali kau berani membuka jendela atau pintu kamarmu."
Akankah getaran di antara Devan dan Naya berkembang menjadi cinta di tengah ancaman rahasia kelam Kota Sane?
Apakah Naya akan sanggup bertahan hidup di penginapan sederhana milik Devan yang dingin? Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Kota Sane hingga wisatawan tertinggal jarang selamat