NovelToon NovelToon
System Penyesalan Seorang Ibu.

System Penyesalan Seorang Ibu.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Reinkarnasi
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: james 9870

Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25— Ruang Sempit Pembawa Harapan

​Hari itu, suasana di toko buku terasa lebih sepi dari biasanya.

​Sejak pagi hari ketika pintu pertama kali dibuka, hanya ada segelintir pelanggan yang datang. Kebanyakan dari mereka hanya mampir sebentar untuk menanyakan majalah edisi terbaru atau mencari kamus bekas, lalu pergi.

​Maya, yang sejak pagi buta sudah bergerak lincah ke sana kemari bak gasing kecil, kini telah menyelesaikan seluruh pekerjaan yang diberikan oleh Clara.

​Rak-rak kayu yang berdebu telah dibersihkannya dengan teliti. Buku-buku yang berantakan karena disentuh pelanggan sudah disusunnya kembali berdasarkan abjad. Lantai kayu toko juga sudah disapunya bersih.

​Setelah memastikan tidak ada lagi tugas yang tersisa, Maya menarik sebuah bangku kayu kecil dan meletakkannya tak jauh dari meja kasir tempat ibunya bekerja. Ia duduk di sana dengan patuh, memangku buku pelajaran kelas satu SD yang diberikan Clara beberapa hari sebelumnya.

​Sesekali, bibir mungilnya bergerak tanpa suara, mengeja deretan kata-kata baru yang ia temukan. Terkadang keningnya berkerut saat menemukan kalimat yang panjang. Ia masih sering melakukan kesalahan membaca, keliru membedakan 'p' dan 'q' atau 'b' dan 'd'.

​Namun setiap kali ia sadar bahwa bunyi kalimatnya tidak masuk akal, ia akan menghentikan bacaannya, lalu mengulanginya sendiri dari awal dengan sabar.

​Dari balik meja kasir, Clara diam-diam memperhatikan rutinitas itu. Tangan wanita itu memegang pulpen, tetapi matanya menatap lekat pada kegigihan Maya.

​“Maya,” panggil Clara memecah keheningan.

​Mendengar suara ibunya, Maya terkejut. Dengan gerakan refleks karena kebiasaan masa lalu, ia segera menutup buku di pangkuannya dengan bunyi plak yang cukup keras. Ia menoleh dengan wajah waspada.

​“I-iya, Bu?”

​Clara menatapnya dengan ekspresi datar. Ia mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah buku yang sudah tertutup itu. “Tidak perlu ditutup.”

​Maya berkedip dua kali, bingung. “Eh?”

​“Lanjutkan membacamu,” perintah Clara singkat.

​Maya menatap ibunya dengan ragu, seakan takut ini adalah sebuah jebakan. Namun setelah melihat Clara tidak marah, Maya perlahan-lahan membuka kembali bukunya ke halaman yang tadi ia baca.

​“Iya, Bu.”

​Maya kembali menundukkan kepala dan mulai membaca. Clara pun ikut menunduk, melanjutkan pekerjaannya mencatat sisa stok buku.

​Hal-hal kecil dan sederhana seperti itu mulai terjadi hampir setiap hari di dalam toko. Dinding es yang membatasi mereka perlahan mencair oleh rutinitas.

​Clara tidak lagi melarang Maya membaca atau menyita bukunya ketika toko sedang sepi pengunjung. Perlakuan kasarnya mulai menghilang secara perlahan. Kalau Clara melihat Maya terlalu lama berdiri menyusun buku di rak paling atas hingga jinjitnya goyah, Clara akan mendengus pelan dan menyuruhnya duduk. Kalau Maya nekat mengangkat kardus berisi ensiklopedia yang terlalu berat bagi tubuh kecilnya, Clara akan beranjak dari kursinya, mengambil alih kardus itu dengan omelan pelan agar anak itu tidak merusak punggungnya sendiri. Dan kalau Maya lupa waktu hingga tidak mempedulikan perutnya yang berbunyi karena terlalu asyik membaca, Clara akan meletakkan sepiring nasi dan lauk sederhana tepat di depannya tanpa banyak bicara.

​Di antara mereka berdua, tidak pernah ada pelukan yang erat. Tidak pernah ada kata-kata manis atau pujian seperti ‘Ibu sayang padamu’ atau ‘Kamu anak yang pintar’. Tidak pernah ada ucapan kasih sayang yang diutarakan secara terbuka layaknya keluarga normal.

​Namun bagi Maya... ia bisa merasakan sesuatu yang berbeda. Ibunya tidak lagi memancarkan aura kemarahan yang mengerikan seperti saat mereka masih tinggal di kota lama.

​Dan bagi seorang anak yang selama tujuh tahun hidupnya hanya mengenal sangat sedikit sekali kelembutan, dan lebih banyak menelan cacian serta pukulan, perubahan sekecil itu sudah terasa sangat monumental baginya.

​Menjelang sore hari, suara bel pintu berdenting nyaring.

​Pemilik toko—seorang pria paruh baya yang tubuhnya agak bungkuk—datang berkunjung. Ia langsung berjalan menuju meja kasir, memeriksa beberapa buku catatan keuangan, dan berbicara sebentar dengan Clara mengenai perputaran uang minggu itu. Setelah puas melihat laporannya yang rapi, pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lorong belakang toko, menatap sebuah pintu kayu yang tertutup rapat.

​“Kamar di belakang sana... apakah masih kosong?” tanyanya pada Clara.

​Clara yang berdiri di belakang mesin kasir mengangguk pelan. “Masih. Sejak kami bekerja di sini, kamar itu hanya dibiarkan kosong, kadang dipakai untuk menyimpan stok buku yang rusak.”

​Pemilik toko itu mengangguk-angguk paham. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya yang usang.

​“Kalau begitu begini saja,” ucapnya santai.

​Clara menatap bosnya dengan kening berkerut. “Maksud Bapak?”

​“Kalian berdua, tinggal saja di sini.”

​Clara terdiam, butuh beberapa detik untuk mencerna kalimat tersebut. “Di sini? Di dalam toko?”

​“Iya.” Pria itu menunjuk ke arah pintu belakang toko. “Di sana ada kamar kecil. Memang ukurannya tidak besar, tidak mewah, tapi cukup kalau hanya untuk ditiduri oleh dua orang. Ada kamar mandi kecil juga di belakangnya.”

​Clara tidak langsung menjawab. Pikirannya berputar cepat.

​Pemilik toko melanjutkan argumennya, “Aku sakit-sakitan dan jarang sekali bisa datang memantau ke mari. Selama ada orang yang bisa kupercaya menjaga toko ini siang dan malam dari pencuri, aku sama sekali tidak keberatan kalian memakai kamar itu.”

​Clara menunduk, berpikir keras.

​Tawaran ini datang seperti jalan keluar yang turun dari langit. Jika mereka pindah ke sini, mereka memang akan jauh lebih mudah mengurus toko. Mereka tidak perlu lagi berjalan kaki sangat jauh setiap pagi dan pulang larut malam menembus jalanan gelap. Dan yang paling penting: biaya hidup mereka akan jauh lebih ringan. Ia tidak perlu lagi memusingkan uang sewa rumah petak kumuh yang sering ditagih pemiliknya dengan kata-kata kasar. Uang hasil gajinya bisa dihemat sepenuhnya untuk makan.

​Setelah mempertimbangkan semuanya matang-matang, akhirnya Clara mengangkat wajahnya dan mengangguk mantap.

​“Baik, Pak. Kami terima tawaran itu.”

​Pemilik toko tersenyum lega. “Baguslah. Kalau begitu mulai besok pagi, kalian sudah bisa membawa barang-barang kalian kemari dan pindah. Anggap saja rumah sendiri.”

​Dari balik rak buku terdekat, Maya yang sejak tadi berdiri diam-diam mencuri dengar pembicaraan itu, langsung menoleh dengan gerakan patah. Matanya membesar maksimal. Jantungnya berdebar kencang. Namun, karena teringat pesan ibunya untuk tidak mengganggu urusan orang dewasa, ia menutup mulutnya rapat-rapat dan tidak berani keluar untuk bertanya.

​Setelah selesai memberikan instruksi tambahan, pemilik toko itu berpamitan dan pergi. Lonceng pintu berbunyi mengiringi kepergiannya.

​Clara kembali menunduk, merapikan catatan keuangan di atas meja. Tak lama berselang, sebuah bayangan kecil muncul di dekat mejanya.

​Maya berdiri di sana, meremas ujung bajunya. “Ibu...” panggilnya pelan.

​“Hm?” sahut Clara tanpa mengangkat wajah.

​“Tadi...” Maya menggigit bibirnya, mencari kata-kata.

​Clara menghentikan tangannya, menatap putrinya. “Boss bilang apa, begitu?”

​Maya mengangguk cepat.

​“Kita akan pindah dan tinggal di sini, di belakang toko.”

​Maya terdiam sebentar, memproses informasi itu untuk memastikan telinganya tidak salah dengar. Kemudian, perlahan-lahan, wajah tegangnya berubah menjadi sangat cerah.

​“Benarkah, Bu? Kita tinggal di sini? Di dalam toko buku ini?”

​“Iya,” jawab Clara datar.

​“Mulai besok?”

​“Iya.”

​Seketika itu juga, Maya tersenyum begitu lebar sampai matanya menyipit melengkung seperti bulan sabit. “Wah! Berarti aku tidak perlu capek berjalan kaki pergi jauh dari rumah setiap pagi, kan Bu?”

​“Tidak.”

​“Dan... aku bisa membantu Ibu membuka toko lebih cepat setiap paginya?”

​“Iya.”

​“Dan...” Maya menunjuk ke deretan rak buku yang berjejer rapi di sekeliling mereka dengan telunjuknya yang mungil. “...setelah semua pekerjaanku selesai, setiap hari aku boleh membaca buku-buku di sini?”

​Melihat binar murni yang terpancar dari mata anak itu, pertahanan Clara nyaris jebol. Ujung bibirnya tanpa sadar hampir tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman. Namun, dengan kendali diri yang kuat, ia buru-buru menahannya dan kembali memasang raut wajah tegas.

​“Boleh. Kalau semua pekerjaanmu sudah selesai dengan bersih,” jawab Clara dengan nada memperingatkan.

​Maya mengangguk dengan gerakan yang sangat cepat dan bertenaga. “Iya, Bu! Maya janji!”

​Saking senangnya, Maya berputar dan berlari kecil menuju ke arah pintu bagian belakang toko, ingin melihat kamar seperti apa yang akan menjadi istana barunya. Langkah kakinya menimbulkan suara debakan berisik di lantai kayu.

​Clara langsung menaikkan nada suaranya. “Jangan berlari di dalam toko!”

​Maya mengerem langkahnya mendadak. Ia berbalik, menundukkan kepalanya dengan raut wajah menyesal yang dibuat-buat. “Maaf, Bu.”

​“Jalan pelan-pelan. Jangan sampai menyenggol rak buku,” perintah Clara.

​“Iya, Bu.”

​Maya membalikkan badan dan kembali berjalan menuju pintu belakang dengan langkah yang diatur pelan. Namun, dari belakang punggungnya, Clara bisa melihat dengan sangat jelas bahwa senyum lebar di wajah anak itu sama sekali tidak hilang.

​Clara melihat punggung kecil yang bergerak menjauh itu. Untuk beberapa saat, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam keheningan yang syahdu.

​Ia merenung. Betapa mudahnya membuat anak itu merasa bahagia. Maya tidak pernah sekalipun meminta dibelikan rumah besar dan mewah seperti milik Kakek Suryo. Ia tidak pernah menangis merengek meminta pakaian baru yang berenda-renda. Ia juga tidak pernah merajuk karena tidak dibelikan mainan mahal.

​Bagi Maya, kebahagiaan itu sangat sederhana: hanya sebuah tempat kecil yang aman untuk ditinggali bersama ibunya, dan sebuah kesempatan tak terbatas untuk bisa membaca buku-buku yang mengelilinginya.

​Clara menundukkan wajahnya ke atas meja kasir. Ada sebuah rasa hangat yang sangat aneh menjalar pelan di rongga dadanya, mengusir sedikit hawa dingin yang selama bertahun-tahun membekukan hatinya.

​Namun, bersamaan dengan datangnya rasa hangat itu...

​Layaknya sebuah kutukan yang enggan pergi, wajah seorang anak perempuan lain kembali muncul mencuat dari dasar pikirannya, menerobos tanpa ampun.

​Elena.

​Clara terdiam, menahan napas. Senyum tipis yang hampir terbentuk di hatinya menguap seketika.

​Kerinduan itu ternyata masih sama besarnya. Tidak berkurang satu sentimeter pun meski waktu terus bergulir. Malam-malam yang ia lewati tanpa kehadiran Elena di sisinya masih terasa begitu panjang, dingin, dan menyiksa jiwa.

​Terkadang, di tengah kesunyian malam saat ia baru saja menutup kelopak matanya, Clara masih bisa mendengar dengan sangat jernih suara tawa kecil Elena. Suara yang memanggilnya, “Tante...” dari ujung koridor sekolah.

​Dada Clara mendadak terasa nyeri. Sangat nyeri hingga ia meremas dadanya sendiri.

​Ia tahu, jauh di lubuk hatinya yang paling rasional, bahwa tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang bisa menggantikan posisi Elena. Elena adalah darah dagingnya yang lahir dari rahimnya sendiri. Elena adalah alasan utama mengapa ia rela melakukan dosa sebesar itu di malam badai; agar anak itu bisa hidup bahagia sebagai seorang tuan putri, dan tidak berakhir menjadi babu rendahan seperti dirinya. Takhta Elena di hatinya adalah sesuatu yang mutlak. Tidak akan pernah ada yang bisa merebutnya.

​Namun... ketika Clara perlahan-lahan mengangkat wajahnya dan matanya kembali menangkap sosok Maya yang sedang membuka pintu kamar belakang toko, Clara menyadari sebuah kenyataan yang menakutkan.

​Perasaannya kepada Maya saat ini sudah tidak lagi sama persis seperti perasaannya pada hari-hari pertama mereka kabur ke kota ini.

​Dulu, setiap kali matanya melihat Maya, hal pertama dan satu-satunya yang muncul membakar dadanya adalah kemarahan dan kebencian yang mendalam. Ia melihat wajah Vera pada diri Maya, dan ia ingin menghancurkannya.

​Tetapi sekarang... kemarahan dan dendam itu tidak lagi menjadi hal pertama yang merespons hatinya.

​Ketika ia melihat Maya, Clara perlahan mulai melihat wujud seorang anak perempuan kecil yang begitu setia menemaninya melewati masa-masa tersulit. Ia melihat anak yang selalu bangun paling pagi untuk membersihkan debu rumah. Anak yang rela mengucek cucian kotor dengan tangan kecilnya tanpa pernah mengeluh lelah. Anak yang pantang menyerah belajar mengeja kata-kata dengan tekun di sudut ruangan, meskipun tak pernah diberi kesempatan merasakan bangku sekolah.

​Ia melihat seorang anak yang, meskipun sering kali disakiti dan dibentaknya secara emosional, masih bisa tersenyum begitu bahagia hanya karena mendapatkan hadiah sekecil buku bacaan atau izin tinggal di sebuah kamar gudang dari ibunya.

​Clara menghela napas panjang dan berat.

​Elena... kau tetap Elena, bisik batin Clara penuh pedih. Tidak ada seorang pun yang berhak atau mampu mengambil tempatmu di hatiku.

​Tatapannya kembali terkunci lurus ke arah Maya.

​Dan kamu, Maya...

​Clara menghentikan kalimat di dalam kepalanya, tidak berani menyelesaikannya.

​Entah sejak kapan, kamu juga perlahan-lahan mulai membangun dan memiliki tempatmu sendiri di dalam hidupku.

​Clara menekan kedua matanya dengan pangkal telapak tangannya, menolak untuk mengakui kalimat itu secara terbuka. Karena mengakui bahwa Maya memiliki tempat di hatinya, berarti ia harus mengakui bahwa dendam kesumat yang ia bangun selama bertahun-tahun di atas nama keadilan itu mulai retak dan hancur berantakan.

​Malam itu, setelah matahari terbenam dan toko buku telah dikunci rapat, Maya sudah tertidur di dalam kamar kecil di bagian belakang toko yang akan menjadi rumah baru mereka.

​Clara membuka pintu kamar itu perlahan-lahan tanpa menimbulkan suara derit. Cahaya dari lampu jalan menyusup masuk melalui celah ventilasi.

​Clara melangkah masuk dan berdiri di samping kasur tipis yang tergelar di lantai. Maya sedang tidur miring, napasnya teratur dan damai. Di pelukannya, terjepit erat buku pelajaran kelas satu SD bersampul cerah yang diberikan oleh Clara siang tadi, seolah buku itu adalah boneka beruang termahal di dunia yang menemaninya bermimpi.

​Clara memandangi wajah damai anak itu cukup lama. Wajah yang mulai kehilangan aura ketakutan, digantikan oleh kelelahan yang memuaskan.

​Perlahan-lahan, tangan Clara terangkat ke udara. Jemarinya yang berkerut melayang bergetar di atas wajah Maya. Ia ingin sekali menyentuh rambut anak itu. Ia ingin membelai pipinya. Ia ingin memberikan kehangatan yang pantas diterima oleh seorang anak dari ibunya.

​Tangan Clara turun, hampir saja menyentuh helai-helai rambut hitam Maya.

​Namun di detik terakhir, gerakan itu berhenti mengambang di udara.

​Ego, rasa takut, dan bayang-bayang Vera kembali menyerang kesadarannya. Clara menarik kembali tangannya, mengepalkannya kuat-kuat di sisi tubuhnya. Ia masih belum mampu. Ia masih belum sanggup merobohkan seluruh dinding ego dan memeluk anak musuhnya itu.

​Belum.

​Tetapi malam ini... ia juga tidak segera berbalik dan pergi dengan raut kebencian.

​Clara hanya berdiri mematung di sana selama beberapa saat, menunduk mengawasi tidur putrinya layaknya seorang penjaga. Kemudian, dengan suara yang dipelankan agar tak terdengar oleh dunia, Clara berbisik,

​“Tidurlah, Maya.”

​Setelah mengucapkan doa kecil itu, Clara berbalik badan. Sebelum ia melangkah melewati ambang pintu untuk keluar, ia menoleh sekali lagi ke arah belakang. Maya masih tertidur pulas tanpa gangguan, ditemani buku kesayangannya.

​Clara mematikan saklar lampu kecil di dinding, meninggalkan ruangan itu dalam temaram yang nyaman. Pintu kayu ditutupnya dengan sangat perlahan hingga berbunyi klik halus.

​Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama hidup dalam neraka pelarian... malam itu Clara meninggalkan Maya terlelap, bukan dengan perasaan dendam atau kemarahan yang mendidih.

​Melainkan dengan perasaan khawatir yang sangat lembut, berharap agar anak itu tidak digigit nyamuk dan bisa tidur dengan nyaman hingga fajar menyingsing.

​Di dalam kedalaman hatinya yang terluka, Elena masih bertahta di tempat tertinggi yang tidak akan pernah bisa disentuh oleh siapa pun.

​Namun tanpa Clara sadari... seiring dengan detak jarum jam malam itu, sebuah tempat lain telah resmi terbentuk di sudut lain hatinya. Tempat itu masih sangat kecil. Masih sangat rapuh dan mudah digoyahkan. Dan semakin hari, tempat kecil bernama Maya itu... akan menjadi semakin mengakar dan teramat sulit untuk dia hancurkan kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!