NovelToon NovelToon
L.S. Underworld

L.S. Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Mafia
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: ANDIKA,312

Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 12

Kegelapan malam kembali membungkus Los Santos. Di sudut jalan sepi yang berjarak beberapa puluh meter dari kediaman mewah Lee Dong di Little Seoul, sedan hitam Franklin terparkir diam mematikan lampu utama. Franklin duduk tenang di balik kemudi, matanya yang tajam menembus kaca depan, mengawasi gerbang utama rumah sang bos besar Ying Long.

Tepat pukul sembilan malam, gerbang otomatis itu terbuka. Sebuah sedan BMW seri tertinggi berwarna perak meluncur keluar secara perlahan. Di dalamnya, Tuu Lee duduk di kursi belakang dengan kemeja sutra mewahnya, bersiap untuk menghamburkan uang lagi bersama teman-temannya yang sesama anak kaya dan manja. Di kursi depan, dua pria bertubuh kekar berjas hitam bertindak sebagai sopir sekaligus pengawal pribadinya.

Franklin menyeringai tipis. Tanpa menyalakan lampu tembak, ia memutar kunci kontak dan menguntit BMW tersebut secara senyap dari jarak aman.

Sambil mengemudi, Franklin menekan tombol panggilan bebas genggam di dasbornya, menyambungkan panggilan grup ke nomor Lamar dan Andika yang sudah bersiap di kawasan Downtown.

"Target sudah bergerak," bisik Franklin dengan suara beratnya. "Dia naik BMW perak menuju Eclipse Club. Buka mata kalian."

"Copy, Frank," balas Lamar dari seberang telepon. "Saya dan Andika sudah ada di area. Saya sudah pakai setelan jas mahal paling necis—siap masuk dan memetakan pergerakan bocah itu dari dalam."

"Gudang amunisi aman, Chopper saya juga sudah terparkir rapi. Kita selesaikan ini," timpal suara Andika yang tenang namun dingin.

Beberapa menit kemudian, BMW milik Tuu Lee berhenti di depan pintu masuk Eclipse Club. Dari kejauhan, tampak sepuluh orang teman Tuu Lee—tujuh pria dan tiga wanita berpakaian glamor—sudah menunggunya dengan antusias di karpet merah. Salah satu wanita Asia yang sangat cantik dan seksi bergaun merah menggoda langsung berlari kecil memeluk hangat Tuu Lee begitu ia keluar dari mobil.

"Tuu Lee, kawan! Akhirnya kau datang!" panggil salah satu temannya.

"Sayang, aku merindukanmu!" seru wanita cantik itu—yang dipanggil Citra oleh kawan-kawannya—sambil mengecup pipi Tuu Lee.

Tuu Lee merangkul pinggang Citra dengan sombong, tertawa lepas bersama sepuluh temannya, lalu melangkah masuk ke dalam kelab diiringi dua pengawal berbadan tegap di belakang mereka.

Lamar, yang mengenakan jas sutra hitam elegan seharga belasan juta rupiah, melangkah masuk beberapa meter di belakang rombongan tersebut tanpa memicu kecurigaan petugas keamanan. Di dalam kelab, dentuman musik house ber-bass tinggi membakar suasana. Lampu strobe berkedip-kedip liar. Lamar sangat lihai menyatukan dirinya dengan kerumunan; ia berjoget santai mengikuti irama musik sambil matanya yang cermat terus melacak ke mana langkah kaki Tuu Lee pergi.

Rombongan anak kaya itu berjalan melintasi lantai dansa yang penuh sesak, mengarah ke lorong paling belakang—sebuah lorong eksklusif menuju area VIP yang sangat sepi dan tertutup rapat dari keramaian umum. Tuu Lee, Citra, dan sembilan temannya masuk ke dalam ruangan VIP mewah tersebut. Sementara itu, dua pengawal bertubuh besar itu mengambil posisi tegak bersedekap di depan pintu kayu tebal, menjaga akses masuk.

Di luar kelab, Franklin yang baru saja tiba di parkiran bertemu dengan Andika. Merekalah yang mengeksekusi rencana penyamaran selanjutnya. Dengan memanfaatkan kelengaian staf di area pintu belakang katering, Franklin dan Andika berhasil 'meminjam' dua setelan kemeja resmi khas pelayan Eclipse Club.

Di saat yang sama, seorang pelayan asli kelab membawa baki berisi minuman mahal dan Makanan ringan ke ruangan VIP. Pelayan itu dicegat dan diperiksa ketat oleh kedua pengawal Tuu Lee di depan pintu. Setelah dipastikan aman, pelayan itu dipersilakan masuk, menyajikan pesanan di meja Tuu Lee, lalu keluar kembali. Kedua pengawal kembali bersedekap kaku menjaga pintu.

Lima menit berlalu. Franklin dan Andika, yang kini sudah rapi mengenakan pakaian pelayan kelab, berhasil mengambil sebuah botol minuman kaca tebal berukuran besar dari troli dapur. Mereka berdua melangkah tenang namun pasti menelusuri lorong sepi menuju ruangan VIP Tuu Lee.

Saat tiba di hadapan kedua pengawal berbadan tegap itu, Andika memasang wajah ramah. "Permisi, Bos. Ada tambahan minuman spesial dari manajer untuk rombongan Tuan Tuu Lee."

Salah satu pengawal menatap curiga, lalu mengibaskan tangannya dengan kasar. "Pergi! Jangan mengganggu! Minuman Tuan Tuu Lee baru saja diantarkan lima menit lalu. Kalian salah ruangan!"

"Oh, maaf, Bos... mungkin kami salah catat," kata Franklin sambil memutar badannya pura-pura hendak berbalik.

Namun, hanya dalam hitungan detik saat kedua pengawal itu berpaling kembali menatap lurus, Franklin melirik Andika. "Sekarang!"

PRANG! PRANG!

Secara bersamaan, Franklin dan Andika mengayunkan botol kaca tebal di tangan mereka dan menghantamkannya tepat ke kepala belakang kedua pengawal itu dengan tenaga penuh! Botol hancur berkeping-keping, membuat kedua pria kekar itu terhuyung pusing!

Tanpa memberi celah untuk membalas, Andika melayangkan dua kali bogem mentah bertubi-tubi tepat ke rahang pengawal pertama, sementara Franklin mencengkeram leher pengawal kedua dan membenturkan kepalanya keras-keras ke dinding beton lorong!

Brak! BUK! BUK!

Dalam hitungan detik, kedua pengawal kekar itu ambruk tak sadarkan diri di atas lantai lorong. Karena dentuman musik di dalam ruangan VIP sangat keras, Tuu Lee dan kawan-kawannya di dalam sama sekali tidak mendengar kegaduhan di luar.

Untuk memastikan tidak ada ancaman susulan, Franklin dan Andika secara dingin mematahkan leher kedua pengawal tersebut hingga tewas seketika. Merekapun menyeret kedua jasad itu dan menyembunyikannya rapat-rapat di dalam toilet staf yang berada di ujung lorong sepi tersebut.

Setelah mengunci pintu toilet, Franklin merogoh earpiece di telinganya dan menghubungi Lamar yang masih mengawasi dari area lantai dansa.

"Pintu depan bersih. Pengawal sudah dihabisi," bisik Franklin tegas. "Gass masuk ke ruang VIP sekarang!"

Dari seberang panggilannya, Lamar tersenyum tipis sambil merapikan kerah jas mewahnya. "Siap!"

Lamar yang mendengar perintah Franklin di earpiece-nya langsung terbawa suasana musik house yang berdentum kencang di lantai dansa. Dengan setelan jas mewahnya yang necis, Lamar mulai bergoyang dengan gaya khasnya yang super konyol—mengoyak pinggul, memutarkan tangan di udara, dan melangkah memutar sambil menyanyi-nyanyi kecil dengan nada konyol yang mengundang gelak tawa orang-orang di sekitarnya.

"Ayy, feel the vibe, baby! Hahaha!" seru Lamar setengah berbisik sambil berjalan bergoyang membelah kerumunan.

Ia melangkah meliuk-liuk seperti penari profesional yang lepas kendali, menikmati setiap dentuman bass dengan riang gembira. Tanpa disadari pengunjung lain, langkah konyolnya itu membawanya makin mendekat ke lorong sepi area VIP.

Saat akhirnya tiba tepat di depan pintu kayu tebal ruangan VIP tempat Tuu Lee dan sepuluh temannya berpesta, Lamar menghentikan tarian lucunya. Ia merapikan kerah jas mewahnya, membasahi bibir, lalu mengumbar senyum lebar yang dipenuhi niat jahat.

"It's show time, baby!" bisik Lamar pelan sambil mengedipkan matanya.

Srett.

Franklin muncul dari balik sudut lorong sepi, melangkah cepat dan berdiri tepat di samping Lamar. Franklin melirik pintu VIP, lalu menatap Lamar dengan raut wajah serius tapi menahan tawa melihat tingkah kawan tingginya itu.

"Andika sudah siap," bisik Franklin tegas di samping telinga Lamar. "Dia sudah meluncur ke parkiran untuk menyalakan mobil saya dan mengarahkannya tepat di pintu belakang lorong ini. Begitu pintu ini kita dobrak, kita langsung seret bocah ingusan yang manja itu keluar."

Lamar menyeringai lebar, merogoh pistol di balik jas mewahnya sambil menggertakkan jari-jari tangannya. "Bagus. Mari kita beri kejutan ulang tahun yang tidak akan pernah dilupakan anak bos Ying Long ini."

Keduanya mengunci pandangan ke arah pintu, mengatur napas secara bersamaan, dan siap mendobrak masuk untuk mengeksekusi penculikan Tuu Lee!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!