Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.
Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.
Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Memperbaiki Keadaan
Langkah Alya di atas timbangan digital di sudut kamarnya terhenti. Jarum angka menyala terang menunjukkan pendar merah: 70,2 kg.
Dalam kurun waktu dua minggu sejak ia terbangun di tahun 2021, dua kilogram lemak telah menguap dari tubuhnya. Perubahannya mungkin belum terlihat drastis secara kasatmata, namun pipinya sedikit lebih tirus, lingkar pinggangnya berkurang dua sentimeter, dan yang paling penting, napasnya tidak lagi tersengal saat menaiki tangga. Tubuhnya terasa jauh lebih kencang, bertenaga, dan siap bertarung.
Alya melangkah menuju kalender meja. Sebuah lingkaran merah melingkari tanggal lusa: Pesta Peringatan Hari Jadi Nusantara Industri Utama ke-25 di Ballroom Hotel Grand Hyatt.
Sekali lagi, ingatan masa lalu menghantam benaknya bagaikan godam murni.
Di kehidupan pertama, malam pesta ulang tahun perusahaan itu adalah malam kehancurannya yang paling fatal. Di depan ratusan kolega bisnis, media, dan jajaran komisaris, Alya yang dimabuk asmara—serta terprovokasi oleh bisikan Siska—naik ke atas panggung utama dan secara mengejutkan mengumumkan pertunangannya dengan Rendy. Pria yang baru dikenalnya beberapa bulan itu langsung mendadak dipandang sebagai "calon putra mahkota" perusahaan, sementara papanya terpaksa tersenyum menahan malu dan rasa kecewa di hadapan para undangan.
Malam itu aku mempermalukan Papa... dan aku menghancurkan hati seseorang yang datang membawa ketulusan, batin Alya, dadanya berdenyut nyeri oleh rasa bersalah.
Alya teringat sosok Kai Aditya. Di malam pesta masa lalu itu, Kai hadir bersama ayahnya dengan niat baik membawa kado untuk Papa Alya. Namun Alya, yang saat itu merasa sangat insecure dengan bentuk tubuhnya dan trauma karena takut Kai membandingkannya dengan wanita langsing lain, malah meluapkan kekesalannya pada Kai di sudut ruangan yang sepi.
"Kenapa sih kamu sama Om terus-terusan datang ke rumahku?" bentak Alya muda di kehidupan pertama dengan nada kasar. "Kamu itu tampan, kaya, sempurna! Jangan pura-pura mau dijodohkan sama cewek gembrot kayak aku! Cari saja wanita lain yang sepadan dan lebih cantik dari aku, Kai! Jangan bikin aku kelihatan makin kasihan!"
Alya memejamkan matanya rapat-rapat, meremas jemarinya sendiri. Ia ingat betul bagaimana sorot mata Kai saat itu—bukan kemarahan yang terpancar, melainkan rasa terkejut dan kesedihan yang amat mendalam sebelum pria itu menunduk sopan, meminta maaf, dan berlalu pergi tanpa membalas hinaannya sedikit pun.
"Aku begitu jahat padamu, Kai..." bisik Alya parau. "Kamu datang dengan ketulusan, tapi aku malah melukaimu hanya karena ketakutanku sendiri."
Alya menegakkan tubuhnya, membuang jauh rasa penyesalan yang melumpuhkan. Di kehidupan kedua ini, ia tidak hanya harus membalas dendam pada ular-ular yang membunuhnya, tetapi ia juga harus memperbaiki dosa-dosanya pada orang-orang tulus yang pernah ia sakiti. Ia ingin melapangkan jalannya, tidak ingin meninggalkan rasa sakit pada siapa pun, agar kelak langkahnya menuju surga terasa lebih ringan.
Alya meraih kunci mobilnya. "Saatnya membayar utang maaf itu."
Gedung perkantoran PT Aditya Nusantara Abadi menjulang tinggi dengan desain arsitektur modern berbasis kaca gelap. Alya melangkah menuju ruang kerja Wakil Direktur Utama di lantai paling atas setelah mendapatkan akses dari sekretaris Kai.
Saat pintu ruang kerja yang luas itu dibuka, Kai sedang berdiri di dekat jendela besar, memegang cangkir kopi seraya meninjau laporan di tabletnya. Pria itu menoleh, dan keterkejutan terpancar jelas dari wajah tampannya saat melihat Alya berdiri di sana.
"Alya?" Kai bergegas meletakkan tabletnya di meja, melangkah mendekat dengan binar mata yang hangat. "Ada apa? Senang sekali melihatmu berkunjung ke kantor kami. Ada masalah darurat soal pasokan barang?"
Alya menatap wajah tegas Kai. Ketulusan di mata pria itu sama sekali tidak berubah. Rasa hangat dan terlindungi seketika menyelimuti dada Alya, namun berbaur dengan rasa bersalah yang menusuk.
"Tidak ada masalah bisnis, Kai," ujar Alya pelan. "Aku... aku datang ke sini untuk dua hal. Bicara hal pribadi padamu."
Kai memiringkan kepalanya, agak heran namun menyambutnya dengan ramah. "Silakan duduk, Al. Mau minum apa? Kopi atau teh?"
"Tidak usah, terima kasih. Aku tidak akan menyita waktumu terlalu lama," Alya duduk di sofa kulit hitam, meremas kedua telapak tangannya di atas pangkuan. Ia mendongak, menatap mata kecokelatan Kai secara lurus. "Pertama... aku mau minta maaf."
Kai tertegun. Ia ikut duduk di sofa tunggal di seberang Alya, alisnya bertaut ringan. "Minta maaf? Untuk apa, Alya?"
"Untuk kesalahanku di masa lalu," suara Alya bergetar pelan, namun setiap kata terucap dengan kejujuran yang jujur. "Dulu... aku sering bersikap kasar padamu. Aku pernah menolakmu dengan cara yang sangat tidak sopan, menghinamu, dan memintamu mencari wanita lain yang lebih cantik hanya karena aku merasa minder dengan diriku sendiri. Aku meluapkan ketidakpercayaandiriku padamu, Kai. Padahal kamu tidak pernah sekalipun berniat jahat padaku."
Ruangan hening sejenak. Kai terpaku menatap Alya. Ia tidak pernah menyangka Alya akan mengingat perkataan yang diucapkannya beberapa tahun lalu—perkataan yang memang sempat menggores hatinya, namun telah ia maafkan sejak lama.
Perlahan, senyuman lembut mengulas di bibir Kai. Pandangannya menatap Alya dengan kehangatan yang amat dalam.
"Alya," panggil Kai lembut. "Aku sudah melupakan hal itu sejak dulu. Aku tahu kamu tidak bermaksud jahat. Saat itu kamu hanya sedang terluka oleh penilaian orang-orang di sekitarmu. Aku tidak pernah menyimpan dendam padamu, sedikit pun."
Air mata tergenang di sudut mata Alya. Beban berat di dadanya seolah terangkat sebagian. "Terima kasih, Kai... Terima kasih karena kamu begitu baik."
"Sama-sama," balas Kai tulus. "Lalu... hal kedua yang mau kamu bicarakan?"
Alya menarik napas panjang, menetralkan emosinya. Tatapan matanya berubah menjadi serius dan taktis.
"Lusa malam adalah Pesta Hari Jadi Nusantara Industri Utama di Hotel Grand Hyatt," terang Alya. "Aku ingin mengundangmu dan Om hadir di sana."
"Tentu saja, kami memang sudah menerima undangannya dari Papa kamu dan pasti datang," jawab Kai.
Alya memajukan tubuhnya sedikit. "Aku butuh bantuanmu lebih dari sekadar hadir sebagai tamu, Kai. Aku mau meminta bantuanmu... untuk berpura-pura menerima tawaran perjodohan dari orang tua kita di depan semua orang malam itu."
Kai terkejut. Tablet yang dipegangnya nyaris bergeser dari meja. Matanya membelalak menatap Alya. "Berpura-pura... menerima perjodohan?"
"Iya," tegas Alya. "Rendy dan Siska... mereka sedang menyusun rencana untuk mengumumkan hubungan kami di pesta itu untuk mengikat posisiku di perusahaan. Aku butuh kamu untuk mematahkan jebakan mereka sebelum dimulai. Jika kamu bersedia berdiri di sampingku sebagai pria yang dijodohkan denganku oleh Papa, ruang gerak Rendy akan tertutup sepenuhnya."
Alya menatap Kai dengan raut memohon, namun tetap memosisikan kesepakatan ini secara adil. "Aku tahu ini terdengar memanfaatkanmu, Kai. Tapi aku berjanji, aku akan menjelaskan semuanya padamu nanti. Aku butuh sekutu yang paling bisa kupercaya, dan orang itu cuma kamu."
Kai diam terpaku selama beberapa detik, mencerna permintaan Alya yang mengejutkan. Matanya menatap lekat-lekat pada wajah Alya—melihat keberanian, ketegasan, dan sedikit trauma tersembunyi di balik sorot mata wanita itu.
Perlahan, Kai menyandarkan punggungnya di sofa. Sebuah tawa kecil yang hangat keluar dari tenggorokannya.
"Berpura-pura, ya?" gumam Kai seraya menyunggingkan senyum misterius.
"Kai? Kamu keberatan?" tanya Alya cemas.
Kai menggelengkan kepala, lalu menatap Alya dengan intrik yang membuat jantung Alya mendadak berdebar asing. "Aku sama sekali tidak keberatan membantu kamu, Alya. Kalau itu bisa melindungi kamu dan Papa kamu dari niat buruk orang lain, aku akan melakukannya dengan senang hati."
"Sungguh? Terima kasih banyak, Kai!" seru Alya lega.
"Tapi ada satu syarat," potong Kai cepat, memajukan tubuhnya mendekati Alya hingga jarak mereka hanya terpisah meja kaca.
Alya menahan napasnya. "Syarat apa?"
"Satu," Kai mengangkat satu jarinya. "Jangan sebut ini sebagai 'pura-pura' di depan orang tua kita. Biarkan mereka bahagia melihat kita bersama."
Kai lalu menatap Alya dari atas sampai bawah—dari rambutnya yang terikat rapi hingga postur tubuhnya yang makin tegap. "Dan yang kedua... stop merasa tidak percaya diri di depanku. Bagi saya, kamu yang sekarang—dengan kecerdasan, keberanian, dan keteguhan hati ini—adalah wanita yang paling memikat yang pernah saya kenal. Berat badanmu, penampilanmu, sama sekali tidak mengubah nilai dirimu di mata saya."
Kata-kata itu terucap dengan begitu tenang, jujur, dan bervolume berat hingga meresap sampai ke tulang dada Alya. Tidak ada kepalsuan di mata Kai. Tidak seperti Rendy yang selalu memuji untuk memanipulasi, Kai memuji karena memang melihat jiwa Alya yang sebenarnya.
Alya terpaku, pipinya merona merah alami. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya bergetar bukan karena ketakutan atau dendam, melainkan karena pendar cinta tulus yang baru saja ia rasakan.
"Terima kasih, Kai..." bisik Alya pelan, menundukkan kepalanya canggung. "Aku... aku janji tidak akan mengecewakanmu malam lusa."
"Aku pegang janjimu, Bu Direktur," sahut Kai seraya terkekeh hangat, menyodorkan tangannya.
Alya menyambut uluran tangan Kai. Cengkeraman tangan pria itu begitu hangat, stabil, dan memberikan rasa aman yang belum pernah Alya rasakan sepanjang hidupnya.
Malam Pesta Hari Jadi di Ballroom Hotel Grand Hyatt berlangsung sangat megah. Lampu-lampu kristal gantung memancarkan cahaya keemasan yang mewah, menyinari ratusan tamu undangan dari kalangan pengusaha papan atas, pejabat, dan media korporat.
Di dalam ruang ganti VIP, Siska sedang sibuk memasangkan bros emas di kerah jas Rendy. Wajah Siska berbinar penuh rasa puas.
"Kamu ingat kan tugasmu malam ini, Rend?" bisik Siska setengah tertawa. "Nanti saat Om memberi kata sambutan dan memanggil Alya ke atas panggung, kamu langsung naik bawa buket bunga ini. Di depan media, kamu bilang kalau kamu dan Alya sudah berpacaran dan berniat serius. Dengan begitu, posisi kamu sebagai Manajer Operasional tidak akan bisa digeser, dan saham Alya perlahan bakal jatuh ke tangan kita!"
Rendy mematut dirinya di cermin, mengusap dagunya dengan bangga. "Tenang saja. Alya itu wanita pemalu. Dia pasti bakal kaget dan luluh kalau diromantiskan di depan banyak orang. Apalagi dengan badannya yang gemuk begitu, dia pasti merasa bangga ada pria tampan seperti aku yang mau mendeklarasikannya di depan umum."
"Bagus!" Siska menepuk dada Rendy. "Ayo kita keluar. Acara utamanya sebentar lagi mulai."
Namun, saat Rendy dan Siska melangkah keluar menuju ruang ballroom utama, langkah mereka seketika terhenti kaku di ambang pintu. Matanya membelalak tak percaya.
Di tengah karpet merah utama, di bawah sorotan lampu sorot ballroom, Alya baru saja melangkah masuk.
Malam itu, Alya tampil sangat memukau. Ia mengenakan gaun malam berpotongan A-line berwarna emerald green buatan perancang terkenal yang membungkus tubuhnya dengan sangat anggun. Meskipun bobot tubuhnya masih di angka 70 kg, gaun itu dirancang dengan sangat cerdas menonjolkan lehernya yang jenjang dan pinggangnya yang kian terbentuk. Riasan wajahnya tegas dengan lipstik merah tua, memancarkan aura seorang ratu bisnis yang sangat berkuasa.
Dan yang membuat Rendy serta Siska nyaris tersedak air liur mereka sendiri adalah pria yang menggandeng lengan Alya dengan penuh wibawa.
Kai Aditya. Pria itu tampil sempurna dalam balutan tuksedo hitam klasik, berjalan di samping Alya dengan dagu terangkat, tersenyum hangat dan protektif setiap kali menyapa para tamu yang memberikan selamat.
"Itu... itu bukan Kai Aditya?" bisik Rendy dengan suara gemetar, kepalan tangannya mencengkeram buket bunga hingga remuk. "Kenapa dia bisa jalan gandengan sama Alya?!"
Siska mengepalkan rahangnya erat-erat, matanya menyalang penuh rasa iri dan panik. "Nggak mungkin! Dulu Alya benci banget sama Kai! Kenapa mereka bisa berdampingan begitu?!"
Alya, yang sedang berjalan anggun di sebelah Kai, melirik ke arah sudut ruangan tempat Rendy dan Siska berdiri terpaku bagaikan patung.
Sebuah senyuman dingin, tajam, dan penuh kemenangan terukir di bibir merah Alya. Ia menatap Rendy dan Siska lurus-lurus, seolah berkata tanpa suara: Umpan kalian sudah tidak berguna. Malam ini, panggung ini milikku.
Kai memiringkan kepalanya, menyadari perubahan tatapan Alya, lalu menggenggam jemari Alya yang melingkar di lengannya dengan lebih erat. "Siap untuk memberikan mereka kejutan malam ini, Alya?"
Alya mendongak menatap Kai, tersenyum tulus untuk pertama kalinya malam itu. "Sangat siap, Kai. Mari kita mulai pertunjukannya."