Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.
Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.
Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11: Jalan yang Boleh Dilewati
Seminggu sebelum Jumat yang dijanjikan itu, Zaki menjadi orang paling tidak berguna di kelas nahwu.
Ustaz Malik dua kali menegurnya karena melamun, sekali menyuruhnya mengulang bacaan yang salah tempat, dan sekali lagi bertanya dengan nada curiga, "Nak Zaki, kepalamu di sini atau di tempat lain?"
"Di sini, Ustaz," jawab Zaki, meski jujur saja kepalanya sedang berkelana entah ke mana: ke tempat apa yang boleh dilewati keduanya tanpa melanggar apa pun, ke apa yang ingin dikatakan Nafisah, ke tulisan yang tergesa dan bergetar itu.
"Kalau di sini, coba ulang bacaan tadi."
Zaki mengulang, dan kali ini benar. Ustaz Malik mengangguk puas, tapi menatapnya sebentar lebih lama dari biasanya, seperti orang yang menghitung sesuatu di kepala.
Setelah kelas bubar, Darto menyeretnya ke sudut halaman.
"Kang Zaki, kamu ini kenapa? Dari kemarin bengong terus. Kalau begini terus, nanti dikira kesurupan jin dapur."
"Saya cuma memikirkan sesuatu."
"Memikirkan tempat rahasia yang boleh dilewati dua orang tanpa melanggar apa pun?" Darto menyeringai. "Saya sudah dengar, Kang. Rukmini cerita ke Kang Fadil, Kang Fadil cerita ke saya. Jaringan kabar di sini lebih cepat dari kereta api."
Zaki mendesah. "Kamu tahu tempatnya?"
"Mungkin." Darto memasang wajah misterius yang dibuat-buat. "Tapi saya tidak akan bilang."
"Kenapa?"
"Karena itu bukan hak saya. Kalau Nafisah bilang dia akan menulis lagi, berarti dia akan menulis lagi. Kamu tunggu saja." Ia menepuk bahu Zaki. "Sambil menunggu, mari kita perbaiki cara kamu membaca nahwu, supaya Ustaz Malik tidak curiga kamu kesurupan cinta."
"Bukan cinta."
"Terserah kamu menyebutnya apa. Saya cuma tukang masak yang kebetulan tahu banyak."
Balasan itu datang hari Rabu, terselip di antara dua nampan sarapan, dibungkus daun pisang yang diikat rapi seperti biasa. Zaki membukanya di sudut halaman, jauh dari mata orang, jantungnya berdebar seperti hendak menghadapi ujian nahwu paling sulit sepanjang hidupnya.
"Kang Zaki,
Maaf membuat menunggu. Saya harus memastikan dulu bahwa yang akan saya sampaikan tidak melanggar apa pun.
Ada satu tempat di pondok ini yang boleh dilewati santri putra dan putri, meski tidak sepenuhnya bersama-sama: perpustakaan kecil di belakang masjid, yang dibuka setiap Jumat sore, selepas ashar sampai menjelang maghrib, untuk siapa saja yang ingin membaca atau mengembalikan kitab. Ustaz Malik yang menjaga, duduk di kursi dekat pintu, dan aturannya sederhana: yang datang boleh berbicara, asalkan suara tidak lebih dari bisikan pantas, dan jarak tidak kurang dari satu meter.
Jumat sore ini saya akan ke sana, mengembalikan kitab tafsir milik Bu Nyai. Kalau Kang berkenan, dan kalau Kang juga sedang ingin meminjam sesuatu, mungkin kita bisa bicara di sana. Bukan tentang apa pun yang besar. Hanya supaya yang selama ini lewat pensil dan kertas, bisa sesekali diucapkan dengan suara.
Kalau tidak berkenan, saya paham. Tidak perlu membalas apa pun. Saya akan tetap ke sana untuk mengembalikan kitab, terlepas dari keputusan Kang.
— N."
Zaki membaca surat itu berkali-kali sampai kata-katanya mulai berbaur satu sama lain. Ia hampir tidak percaya jalan seaman itu bisa ada, tepat di depan mata, tapi tidak pernah ia sadari.
"Perpustakaan," gumamnya.
"Perpustakaan apa?" Darto, yang tiba-tiba muncul dari balik pundaknya seperti hantu, langsung membaca sepintas sebelum Zaki sempat menutup kertas itu.
"Darto!"
"Astaga." Darto mundur dengan wajah takjub. "Perpustakaan Ustaz Malik. Kenapa saya tidak kepikiran itu?"
"Kamu tahu tempat itu?"
"Tentu saja tahu. Semua santri tahu. Tapi tidak ada yang berpikir untuk memakainya buat urusan begini, karena..." Darto berhenti, menatap langit-langit seperti mengingat sesuatu, "...karena Ustaz Malik duduk di sana. Dan Ustaz Malik itu punya telinga tajam meski matanya minus tujuh."
"Jadi berbahaya?"
"Bukan berbahaya. Justru paling aman. Kalau ketahuan bicara di sana, paling-paling kalian disuruh membaca kitab tambahan. Bukan dihukum berat." Darto menyeringai lebar. "Ustaz Malik itu keras soal ilmu, tapi longgar soal hati. Katanya, cinta yang jujur dan terbuka lebih baik daripada yang sembunyi-sembunyi dan penuh tipu daya."
"Ustaz Malik pernah bilang begitu?"
"Bukan ke saya. Ke murid-murid lama yang cerita ke saya." Darto menepuk bahunya. "Pokoknya, Kang. Jumat sore. Bawa kitab yang mau dipinjam, biar terlihat wajar."
Zaki menatap kertas di tangannya sekali lagi, lalu melipatnya rapi dan menyimpannya di balik baju, dekat dadanya. Untuk pertama kalinya sejak tiba di Sumberwungu, ia merasa hari-hari mendatang berjalan terlalu lambat.
Jumat sore itu datang seperti biasa, matahari miring dan angin membawa aroma tanah kering yang baru disiram. Zaki berdiri di depan perpustakaan kecil, sebuah bangunan mungil dengan atap rendah dan jendela-jendela kayu yang dibiarkan terbuka lebar, di belakang masjid. Ia mengenakan baju terbaik yang ia punya, yang sebenarnya baju biasa saja, hanya lebih rapi setrikaannya karena semalam ia meminjam setrika arang dari Kang Fadil.
Di tangannya ada satu kitab tafsir kecil yang ia pinjam dari rak asrama, alasan yang, seperti kata Darto, "terlihat wajar."
Ia menarik napas, mendorong pintu kayu, dan masuk.
Ruangan itu tidak besar, hanya berisi beberapa rak kitab tua, dua meja panjang, dan bangku-bangku kayu yang berderit setiap kali diduduki. Cahaya sore jatuh miring lewat jendela, menerangi debu yang melayang pelan di udara. Di dekat pintu, Ustaz Malik duduk di kursinya yang biasa, kacamata melorot, membaca kitab dengan wajah tenang seperti sedang berjaga di gerbang istana yang sangat sepi.
Dan di sudut ruangan, dekat jendela, duduk seorang santriwati mengenakan kerudung putih dan gamis biru tua, dengan sebuah kitab terbuka di depannya yang jelas tidak sedang ia baca, karena matanya menatap pintu sejak tadi.
Ketika mata mereka bertemu, waktu kembali melambat seperti di dapur waktu itu. Tapi kali ini tidak ada asap, tidak ada dandang, tidak ada alasan untuk buru-buru menunduk.
"Assalamualaikum," kata Zaki, suaranya nyaris pecah.
"Waalaikumsalam," jawab Nafisah, dengan senyum kecil yang berusaha ia sembunyikan dan gagal total.
Ustaz Malik, tanpa mengangkat kepala dari kitabnya, berdeham pelan. "Satu meter, Nak Zaki. Dan suara secukupnya."
"Inggih, Ustaz."
Zaki berjalan mendekat, menghitung langkahnya seperti orang yang sedang menaklukkan jarak paling jauh dalam hidupnya, padahal jaraknya tidak sampai sepuluh meter. Ia duduk di bangku seberang meja, dengan jarak yang, ia yakin, sudah lebih dari satu meter, mungkin malah terlalu jauh karena kegugupannya sendiri.
"Kang Zaki," kata Nafisah pelan, menutup kitab yang tidak ia baca. "Terima kasih sudah datang."
"Terima kasih sudah mengundang," jawab Zaki, lalu buru-buru menambahkan, "maksud saya, memberi tahu tempatnya."
Nafisah tertawa kecil, tawa yang jernih dan pendek, tapi cukup untuk membuat dada Zaki terasa ringan.
"Kang," katanya, "saya tidak tahu harus mulai dari mana. Jadi saya mulai saja dari yang paling sederhana." Ia menarik napas. "Saya senang kitab saya tersasar hari itu."
"Saya juga," jawab Zaki. "Meskipun awalnya saya panik setengah mati."
"Saya tahu. Rukmini bilang wajah Kang seperti orang mau disidang."
"Rukmini banyak bicara."
"Rukmini itu penjaga rahasia paling bocor di pondok ini, tapi juga paling setia." Nafisah tersenyum. "Kalau bukan karena dia, saya tidak akan seberani ini."
Mereka berdua terdiam sebentar, bukan diam yang canggung, melainkan diam yang penuh, seperti jeda dalam sebuah lagu yang keduanya sudah hafal iramanya.
"Kang Zaki," lanjut Nafisah, lebih pelan. "Saya ingin jujur tentang sesuatu. Bukan supaya Kang menjauh. Tapi supaya Kang tahu, dan tidak mendengarnya dari orang lain lebih dulu, dengan cara yang salah."
Zaki merasakan dadanya menegang. "Tentang Gus Hanif?"
Nafisah mengangkat wajah, terkejut. "Kang sudah tahu?"
"Saya dengar sedikit. Waktu ayah Mbak Nafisah datang bersama Haji Mansur." Zaki menunduk. "Saya tidak sengaja mendengar."
Nafisah menghela napas panjang, menatap kitab di depannya seperti mencari kata-kata di antara halaman yang tidak terbuka.
"Itu benar," katanya akhirnya. "Ada pembicaraan tentang saya dan Gus Hanif, sejak lama, dari keluarga masing-masing. Tapi belum ada keputusan. Abah saya menghormati kata-kata Kiai, bahwa saya berhak menentukan sendiri." Ia menatap Zaki lurus-lurus, matanya bening dan sedikit basah. "Dan saya belum menentukan apa-apa, Kang. Karena sejujurnya, sampai minggu lalu, saya bahkan tidak yakin apa yang saya inginkan."
"Dan sekarang?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja, lebih cepat dari yang Zaki rencanakan. Ia hampir ingin menariknya kembali, tapi sudah terlambat.
Nafisah menatapnya lama. Cahaya sore dari jendela jatuh di wajahnya, membuat bulu matanya tampak keemasan sesaat.
"Sekarang," katanya pelan, "saya tahu ada seseorang yang mau membaca halaman paling takut dalam hidup saya, dan menjawabnya dengan kesabaran, bukan dengan janji kosong." Ia menunduk sebentar, lalu kembali menatapnya. "Itu bukan jawaban yang lengkap, Kang. Saya tahu. Tapi itu jawaban yang jujur."
Ustaz Malik, dari kursinya di dekat pintu, berdeham lagi, kali ini lebih pelan, hampir seperti isyarat bahwa waktu mulai menipis, atau mungkin hanya karena beliau memang sering berdeham.
Zaki menatap Nafisah, dan untuk pertama kalinya sejak ia mendengar suara itu dari balik tembok, ia merasa jarak di antara mereka bukan lagi soal bata dan lubang pemberian, melainkan soal waktu, keadaan, dan keberanian untuk menunggu tanpa tahu berapa lama.
"Saya akan menunggu," katanya. "Seperti yang saya tulis."
"Saya tahu," jawab Nafisah, senyumnya kembali, kali ini lebih tenang. "Dan saya akan berusaha jujur pada diri saya sendiri, secepat yang saya bisa."
Di luar jendela, matahari mulai turun ke ufuk barat, mewarnai langit dengan jingga yang lembut. Suara azan magrib belum lama lagi akan berkumandang, dan waktu satu meter dengan suara secukupnya itu, meski singkat, terasa seperti sesuatu yang akan mereka ingat lama sekali.