NovelToon NovelToon
Pendekar Pedang Iblis 2

Pendekar Pedang Iblis 2

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Wuxia / Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Mengubah Takdir / Dan budidaya abadi / Ahli Bela Diri Kuno / Perperangan / Barat / Tamat
Popularitas:14.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Kak Vi

Kekacauan dan penderitaan kembali datang, seperti penyakit yang telah mengakar hingga tumbuh semakin ganas. Sepuluh tahun sudah berlalu sejak hari itu, hari di mana haru bahagia dikumandangkan di seluruh penjuru, saat akhirnya Ratu Iblis dan Naga Es berhasil dikalahkan di tangan Xin Fai.

Ibarat api kecil yang membesar dan melahap apapun yang berada di sekitarnya, musuh lama pun mulai menampakkan jati dirinya kembali, mengguncang dunia persilatan setelah beberapa tahun dan kembali dengan membawa bencana yang jauh lebih mengerikan.

Bahkan Rubah Petir pun tak yakin Xin Fai bisa mengalahkan musuh ini dan dibanding melihat Xin Zhan yang merupakan anak tertua dengan kejeniusan tak terbandingi, dia justru menunjuk Xin Chen yang sama sekali takmemiliki bakat dalam bertarung.

Xin Chen yang sering disebut 'anak gagal' berlari melawan takdirnya, menantang langit dan mengukir namanya sendiri dalam benak orang-orang.

Meski sering kalah dari Xin Zhan namun dia tetap bersikukuh menjadi Pedang Iblis kedua. Untuk menjamin perdamaian dengan nyawanya sendiri, walaupun kebanyakan orang yang ingin dia lindungi adalah mereka yang melihatnya sebelah mata.

"Tidak ada kekalahan dalam diriku, aku hanya jatuh untuk menang. Karena pemenang sebenarnya adalah seorang pecundang yang bangkit dan mencoba sekali lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak Vi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch. 19 - Dua Sosok Berjubah

Rubah Petir mengitari sekitarnya dengan jeli, merasakan suatu hawa aneh mulai bermunculan. Menggunakan penciumannya yang tajam bukan hal sulit lagi untuk mencium bau darah dari kejauhan.

"Apa kau menciumnya juga?" tanya Rubah Petir pada Xin Chen, namun lawan bicaranya itu tak dapat mencium apapun. Selain karena memang dirinya tak begitu fokus, Xin Chen sendiri masih mengalami tekanan berat saat membunuh seseorang.

Menyadari hal itu Rubah Petir dapat memakluminya, umur Xin Chen masih terbilang muda. Kelak dia akan terbiasa sendiri dengan darah dan kematian, Rubah Petir dapat melihatnya, di balik mata yang masih berbinar terang itu suatu saat akan berubah seperti Ayahnya. Menjadi sosok Pedang Iblis yang ditakuti semua orang, membunuh untuk sebuah arti perdamaian. Tak lama lagi tangan kecilnya akan dipenuhi oleh darah.

"Ikuti aku," kata Rubah Petir kemudian. Xin Chen tak sempat menyadari Rubah Petir telah menarik tangannya dan berlari dengan kecepatan petir. Kecepatan tinggi ini membuat dia tak bisa mengambil napas dalam jangka waktu lama.

Dengan penciuman tajam Rubah Petir mereka akhirnya mencapai sebuah titik di mana satu bangunan besar berdiri, lebih terlihat seperti rumah namun ukurannya lebih besar.

"Akhir-akhir ini sepertinya situasi kalian sedang tidak stabil..." Rubah Petir menengadah di depan rumah besar tersebut, seperti menelaah berbagai kemungkinan yang sedang terjadi di dalam sana.

"Ti-tidak stabil bagaimana?" Xin Chen memegangi dadanya karena sulit menghirup udara, bahunya naik turun.

Meskipun penerangan di jalan tersebut agak minim sehingga Xin Chen kesulitan untuk melihat tetapi dia sendiri bisa menebak apa yang dirasakan Rubah Petir. Ada sebuah kesedihan dari caranya mengucapkan sesuatu. "Mungkin... Selama ini aku selalu berharap pada orang-orang sepertimu dan juga Ayahmu, kalian yang ingin mempertahankan kedamaian ini agar terus berlangsung, jika justru orang-orang yang menjadi musuh kalian yang akhirnya memenangkan perang ini... Pihak para siluman pun takkan mampu bertahan di dunia yang keji ini."

Xin Chen terdiam beribu bahasa, entah bagaimana dia harus mengatakan pada Rubah Petir bahwa dia sendiri juga menyadari situasi Kekaisaran Shang sudah berbeda dari yang dulu. Pembunuhan kembali merajalela dengan sebab yang tak jelas. Mungkin hal inilah yang ditakutkan Rubah Petir.

Rubah Petir menepuk pundaknya pelan, "Perang lahir dari keinginan kita untuk melindungi orang yang kita sayangi.”

Sebelum memasuki rumah besar tersebut Rubah Petir berbicara kembali, "Sampai api perang mulai berhembus. Kau harus sudah lebih dulu mengasah pedangmu. Aku yakin kau

mengerti apa yang sedang kubicarakan."

Ketika pintu depan didobrak oleh Rubah Petir sesuatu yang mengejutkan menghampiri mereka, di dalam rumah tersebut telah tergeletak dua nyawa anak perempuan tak bersalah. Sedangkan satu pria berumur di tengah ruang tamu dicekik ke atas hingga tak memiliki pijakan.

Persis di hadapan pria tersebut berdiri dua sosok berjubah hitam, sangat mirip dengan orang yang Xin Chen temui di bawah pohon. Mereka membawa sebuah kepingan baja berbentuk setengah dari ukiran burung. Dengan kekuatan spiritual berwarna kebiruan muda, sesuatu terhisap dari kepala pria malang di hadapan mereka.

Sedangkan sosok wanita yang tak begitu jauh darinya menangis tanpa bisa berbuat apa-apa, dia seperti memegang sebuah kalung dan menangis padanya.

"Berhenti! Apa yang kalian lakukan!?" Teriakan Xin Chen menggema di seluruh penjuru, membuat gelombang kejut di sekitarnya dan berhasil membuat dua pria tersebut kehilangan fokus.

"Kau lakukan sisanya, biar aku urus bocah itu." Bisik pria dalam jubah itu pada teman wanitanya, sedangkan temannya itu sibuk menyerap sesuatu dari sang korban yang telah meninggal. Tampaknya mereka lebih dulu melakukan kekerasan terhadap sekelompok orang dalam rumah tersebut.

Rubah Petir bahkan tak sempat memberitahu Xin Chen bahwa musuh yang dia hadapi sekarang ini memiliki level kekuatan yang tinggi, untuk anak kecil yang kekuatannya bisa disamakan dengan pendekar kecil sepertinya tentu keadaan takkan berimbang. Xin Chen akan dikalahkan dengan mudah olehnya.

Namun Rubah Petir sendiri harus mengurusi wanita yang satu itu selagi Xin Chen mengatasi yang satunya lagi.

Dengan cambuk petir, wanita tersebut mulai terkecoh beberapa detik. Terdengar decakan dari bibirnya sebelum akhirnya kekuatan dahsyat muncul, wanita itu menciptakan perisai angin di sekitarnya dan ditambah dengan rantai api dalam waktu bersamaan.

"Perisai angin dan Rantai Api-? Darimana mereka mempelajari jurus ini?" Rubah Petir menangkis salah satu rantai api yang menyerbunya. "Jurus-jurus ini sering dipakai oleh Xin Fai dalam pertarungan, kemungkinan besar mereka meniru gaya bertarungnya... Tapi untuk apa?"

Ketika sedang sibuk berpikir keras tak dia sadari Xin Chen terpental jauh ke arahnya, membuat mereka berdua bertabrakan keras.

Xin Chen memuntahkan darah segar, baru dia sadari memang dirinya masih sangat amatir dalam hal berpedang.

Lawannya itu menunjukkan teknik pedang yang sangat mulus, cepat seperti elang dan tangkas seperti singa. Membuat dirinya yang hanya bisa sekedar mengayunkan pedang jatuh ambruk. Xin Chen berusaha bangun, melibaskan pedangnya lebih kuat lagi.

"Guru, aku akan menahannya. Selagi itu tolong hentikan wanita tua itu!"

"Wanita tua katamu-!?' bentakan kencang terdengar hingga akhirnya salah satu dari rantai api menyerbu Xin Chen. Di waktu bersamaan pula pria yang menjadi lawannya ikut menyerang.

Xin Chen memilih tindakan cepat, dia menghindari rantai api terlebih dahulu tapi sayangnya pria di depannya menarik tangan Xin Chen dan melemparkannya ke arah wanita tersebut.

Segera saja temannya menyambut, tiga rantai api sekaligus bersiap menusuk Xin Chen yang tengah terdorong. Di detik itu Xin Chen menyadari nyawanya sudah di ujung tanduk, mungkin tak lama lagi isi perutnya akan hancur oleh rantai berapi tersebut.

Entah mengapa perkataan orang-orang terhadapnya mulai terasa benar, dia sama sekali tak bisa melindungi diri dan justru membuat orang lain sering berkorban untuk melindunginya. Sebab hal itu Xin Chen dibenci orang banyak.

Jika mati pun Xin Chen rasa tidak akan ada yang berkabung padanya, justru mereka menunggu saat-saat itu. Saat di mana beban menghilang dan Xin Zhan yang memang mereka jagokan mencapai gelar Pilar Kekaisaran generasi selanjutnya.

Tepat saat mata rantai hendak menusuk bola mata Xin Chen loncatan petir berkekuatan tinggi datang, menghancurkan seisi rumah hingga dinding pun retak. Dengan kekuatan siluman, cambuk petir dapat menghancurkan rantai api dalam satu kali tebas. Tidak lebih. Membuat dua lawan mereka mulai gentar.

"Kita tidak boleh gegabah, ini perintah atasan. Sebaiknya kita menarik diri lebih dulu."

"Ta-tapi..."

"Dengarkan saja apa kataku!" Pria di depan mereka meninggikan suara, deru napasnya yang berantakan disebabkan oleh hawa pembunuh dari Rubah Petir yang memang ditujukan untuk mereka berdua.

Sang wanita menatap Xin Chen dengan bola mata menusuk, seperti ingin mencabik-cabiknya menjadi beberapa bagian. "Urusanku denganmu belum selesai. Saat kita bertemu nanti, ingat. Kepalamu akan kupenggal dan kupajang di kamarku."

1
Asep Darajat
mantap ..
Fachri Mamonto
penulisan yang baik seperti novel
novel kho ping ho
pertahankan terus author...mudah mudahan kesini bikin novel pendekar dengan karakter nusantara
VirgoRaurus 31Smile
kisah ini mirip film 300 antara Sparta vs Persia....
VirgoRaurus 31Smile
bisa bayangkan orang berlari sembari berlutut....??? oon di piara....
VirgoRaurus 31Smile
di hiasi pakaian permadani...rupanya Author ga tahu, apa itu permadani.../Facepalm/
VirgoRaurus 31Smile
lho...kan para pema ah sudah di habisin MC semua....lha ini kok masih di incar panah...panah dari mana...
VirgoRaurus 31Smile
bukankah waktu itu hujan lebat...kenapa darah ga luntur oleh air hujan...yg bener aja Thor...
VirgoRaurus 31Smile
baru tahu ada pendekar takut di lempar sandal...
VirgoRaurus 31Smile
kekaisaran Shang yg damai & tenteram....tapi keropos di dalam...
VirgoRaurus 31Smile
emangnya kerbau makan kayu juga ya....kerbau dungu namanya...kayak Author, DUNGU.
VirgoRaurus 31Smile
mereka menyahuti para prajurit....apa yg di sahuti...yg betul "memerintahkan" para prajurit...sebenarnya Author bego atau oon...?
VirgoRaurus 31Smile
kok bisa ibunya MC dg gampangnya di culik, bukankah kediamannya dekat dg kekaisaran Shang...hal ini menunjukkan betapa lemahnya penjagaan di sekitar kekaisaran Shang.
VirgoRaurus 31Smile
kalau alurnya sudah keluar dari alur sebelumnya...jangan harap Author dpt dukungan lebih.....
karena ceritanya jadi bertele tele...bikin pusing readers.
VirgoRaurus 31Smile
ini bukan jawaban atas pertanyaannya sendiri...karena ada tanda tanya...kalau jawaban ga usah di beri tanda tanya (?).
VirgoRaurus 31Smile
lari Luntang lantung...kayak gelandangan aja istilahmu Thor...
VirgoRaurus 31Smile
ke 52 orang tersisa....pada paragraf di atas disebutkan tersisa 152 orang...yg 100 orang kemana Thor, bisa hitungan ga...?
VirgoRaurus 31Smile
AREP mbebaske bapake wae kok mbulet, Melu seleksi...ora mutuuuu...
VirgoRaurus 31Smile
di paragraf atas disebutkan tinggal MC berdua Yu Xiong...kok ini masih ada yg lain...hadeh...
VirgoRaurus 31Smile
di bawah kolong kasur...?
emang kasur ada kolongnya, harusnya di bawah kolong ranjang...Thor.
VirgoRaurus 31Smile
akhirnya MC mengeluarkan kitab pengendali roh...katanya akan menghadapi Salamander api hanya dg kekuatan tubuhnya saja...dasar Author oon...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!