Tidak punya pilihan lain selain menikahkan Aruna dan Arka. karena sang calon pengantin wanita yang bernama Elia kabur di hari pernikahannya.
pernikahan itu hanya untuk dua tahun saja, itulah yang di katakan Arka di awal mereka setelah menjadi sepasang suami istri. tapi bagaimana kalau Arka beda pemikiran setelah tinggal satu atap yang sama dengan Aruna? dan bagaimana dengan Elia? apa sebtulnya alasan wanita itu kabur di hari pernikahannya?
cekidottt cerita keduaku. beri dukungan ya teman-teman❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Langit yang awalnya cerah pun mendadak jadi hitam. Dan yang awalnya kering pun mendadak jadi basah karena di guyur oleh air hujan__Aruna tidak tahu kalau hujan akan mengguyur kota tempatnya tinggal. Sehingga ia tak membawa jas hujan atau mungkin lebih tepatnya mengabaikan jas hujan yang biasanya ia taruh di bawah jok motornya, namun malah ia taruh ke atas nakas di dekat ranjang tempatnya tidur.
Sialan sekali. Padahal rencananya Aruna dan Ranti akan mampir dulu sebentar ke mall guna untuk membunuh kebosanan dan kepenatan, eh malah hujan aja.
“Gimana lo pulang, Run?.“Tanya Ranti sambil menoleh ke arah rekan kerjanya dengan khawatir.
Aruna mendesah panjang, kepalanya ia gelengkan.
“Enggak tahu, Ran. Kayaknya bakal nunggu sampai hujannya berhenti deh.“Jawabnya lirih. Karena tak mungkin Aruna menerobos hujan dan memaksakan sepeda motornya berjalan di atas gumpalan air hujan yang banyak dan besar-besar begini, bisa-bisanya tubuhnya ambruk saat nanti pulang ke rumah dan jangan sampai terjadi, karena besoknya Aruna harus tetap pergi bekerja untuk memenuhi semua kebutuhan hidupnya. Ya, meski sekarang sudah ada Arka suaminya. Tapi Aruna tak mungkin hanya mengandalkan uang pemberian dari Arka saja, kan?
“Ini udah setengah tujuh malam lho, Run.“
“Iya sih, tapi mau bagaimana lagi Fan.“Ujar Aruna lirih dengan wajah tertunduk lesu, ayolah. Hujan berhenti sebentar saja, karena Aruna harus pulang, selain perutnya sudah keroncongan, tubuhnya juga lelah dan Aruna benar-benar ingin segera mengistirahatkan tubuhnya di atas ranjang miliknya.
“Gimana kalau lo ikut gue pulang, Run?.“Ajak Ranti yang benar-benar solusi ampuh untuk saat ini. Akan tetapi bagaimana dengan Arka? Ahh tentu saja Aruna tidak benar-benar memikirkan pria itu, hanya saja kan bagaimana pun Aruna sudah menikah, rasanya tidak elok saja ia ikut menginap di rumah Ranti, apa Aruna meminta izin pada Arka untuk menginap?
“Gimana? Atau lo kekeuh mau pulang?.“Tukas Ranti lagi dan membuat Aruna semakin bingung saja.
Hujan terus saja berjatuhan dari atas langit dan belum berhenti juga. Hampir semua karyawan dealer masih tertahan karena memang sederas itu.
“Ck.. si Rio malah pulang duluan, sih. Jadi kan lo gak ada yang nganter pulang.“Decak Ranti yang membuat Aruna meringis tak enak, memang Rio pulang duluan katanya sih izin sakit. Andai Rio masih belum pulang pun rasanya Aruna tidak akan meminta bantuan pri itu, cukup sekali dan Aruna tidak mau menyeret pria itu dalam masalahnya lagi.
“Yaudah lah, Ran. Gak papa kok gue sendiri.“Desah Aruna lirih, bagaimana pun kejadian begini bukan hanya sekali ini saja. Tapi beberapa kali__dan selama ini Aruna mampu mengatasinya, meski kerap kali Aruna sering merasa sepi dan hampa.
Apa bedanya setelah menikah dan belum? Tidak ada, dirinya sama-sama sendiri dan melakukannya semuanya sendiri__hah.. Aruna menghela nafas dalam-dalam, matanya sedikit ber air. Memang kalau hujan itu bawaannya selain lapar juga galau ya? Hehehe..
“Kok gue mendadak jadi ikut sedih, ya?.“Tukas Ranti yang di balas sikutan oleh Aruna.
“Iuw, siapa yang sedih? Orang bicara fakta kok!.“Kilahnya, walau tak di pungkiri, sebagai wanita biasa kadang Aruna merasa sedih mengingat dirinya tidak punya siapapun__ah sudahlah, lagian sudah biasa juga. Batin Aruna menyemangati.
“Iya-iya, yang selalu independent!.“Sarkasme Ranti dan di balas dengan dengusan oleh Aruna.
“Ehh gue duluan ya “
“Oh iya, hati-hati di jalannya, mas.“Timpal Ranti seraya mengangkat satu tangannya dan melambaikan tangannya pada rekan kerjanya yang kebetulan membawa mobil hari ini.
Ranti yang akan bersuara pun mengatupkan bibirnya tatkala dering ponsel miliknya mulai terdengar dari dalam tasnya__ponsel itu di ambilnya lalu di dekatkan di telinganya
“Run, mau ikut pulang, nggak? Bokap katanya mau jemput, kalau mau. Lo bisa ngikut di belakang motor bokap, lagian rumah gue enggak terlalu jauh juga kok dari dealer.“Ujar Ranti dan Aruna terlihat bimbang. Andai ia ikut Ranti pulang ke rumahnya, meskipun Aruna akan kebasahan. Tetapi setidaknya jarak dari dealer ke rumah Ranti cukup dekat, beda halnya saat Aruna pulang ke rumah Arka__akan tetapi.
“Duluan aja, Ran. Gue pulang ke rumah sudara gue.“
“Yakin, lo?.“
Aruna mengangguk, Aruna tidak mau ada gosip buruk mengenai dirinya lagi. Terlebih punya tetangga Tika yang mulutnya besar dan ember, belum lagi Aruna takut di hubungi oleh mama mertuanya. Meski kemungkinan tidak juga sih, tapi kan lebih menjaga ketimbang mengobati.
“Iya, gak papa. Nanti gue juga bakal di jemput kok.“Tukas Aruna berbohong supaya Ramti tidak memikirkan dirinya.
“Sama siapa?.“Tanya Ranti seraya memicing ke arah Aruna.
“Sama sepupu gue, lah.“
“Kirain..“Ranti terkikik geli.
“Udah sono, kalau mau pulang, ya. Pulang ajalah.“
“Iya-iya, hati-hati ya, kalau udah sampai rumah kabari dan untuk jalan-jalannya. Next time ya, Run.“
“Siap.“
****
Beberapa saat kemudian.
Arka terlihat kebingungan sendiri, tatkala motor besarnya sampai di dekat sebuah dealer motor tempat istrinya bekerja__jangan tanya kenapa Arka bisa sampai ke sini, Arka yang mengendarai motornya pun merasa heran sendiri.
Padahal Arka hanya berniat untuk segera pulang ke rumah dan menikmati semangkuk mie panas dengan tambahan toping bakso saja. Eh taunya, dia malah membawa motornya berhenti di dealer ini.
Ckkk.. Arka tidak sebaik itu ya, sampai mau-maunya menjemput Aruna pulang.
Ah sudahlah, sudah terlanjur juga__apalagi dealer tempat istri ya bekerja sudah terlihat sepi, mana gerbangnya juga sudah di tutup. Satu lagi, hujam yang masih terus turun dan belum terlihat akan selesai__ok, ini hanya kebetulan ya? Dan bukan di sengaja.
Terlanjur sudah sampai. Arka pun menarik ponsel dari salu celananya dan menekan beberapa nomor telepon di sana, lalu Arka menempelkan ponsel di telinganya.
“Kamu keluar, saya ada di depan!.“Tegas Arka.
“Saya udah di dealer tempat kamu kerja, saya tunggu tuga menit.“Ujarnya tanpa ingin di bantah, lalu Arka pun mematikan ponselnya dan menyimpannya kembali ke saku celananya.
Beberapa saat kemudian, Aruna keluar dengan membawa payung dan tanpa menggunakan alas kaki, membuat Arka menatapnya melotot. Aruna yang di tatap pun mendengus keras, padahal Aruna tidak menyuruh Arka datang lho, dia sendiri yang satang ke tempatnya bekerja, eh taunya dia marah..ckck
“Mau nginep di sini?.“Ujar pria itu ketus, tatapan matanya masih belum teralih dari kedua kaki Aruna yang bertelanjang di bawah sana.
“Ya, pulang atuh.“
“Ini sudah jam delapan dan kamu masih di sini.“Arka seolah menegaskan dan Aruna berdecih.
“Hujannya belum berhenti!.“
“Gak akan berhenti kalau kayak gini mah.“
“Gak bawa jas hujan.“
“Ceroboh.“
“Emang.“Sahut Aruna yang lelah ketika berdebat dengan Arka. Dua-duanya sama-sama keras kepala dan seolah tak mau mengalah.
“Btw, Mas Arka sendiri kok bisa ke sini? Jemput saya, ya?.“Tanya Aruna dengan sedikit mencondongkan tubuhnya dan menatap Arka penuh selidik__karena kekesalannya yang sudah mencapai ubun-ubun, Aruna pun membalasnya dengan sebuah pertanyaan yang agak sedikit geer. Tidak apa-apa, sesekali. Lama-kelamaan, Aruna cukup suka lho dengan melihat ekspresi mengesalkan dari Arka.
Arka mendengus, wajahnya berpaling dan pria itu mencengkram erat pada mptor besar yang di bawanya.
“Geer, saya cuman lewat kok dan saya gak sengaja liat motor kamu di depan.“Bohongnya, kedua matanya berputar ke atas dan seolah tak berani menatap langsung pada mata Aruna__Aruna tahu Arka sedang berbohong dan anehnya membuat sesuatu di dalam sana layaknya kembang api, hangat. Diam-diam Aruna merasa cukup senang, walau Arka menyebalkan sekali. Tetapi dia datang juga untuk Aruna.
“Iya percaya aja.“
“Harus percaya, saya nggak bohong!.“
“Hm..“Tukas Aruna sambil mengulum senyumnya.
Lama mereka di posisi itu, sampai-sampai Aruna hilang fokus dan matanya kini menatap dalam pada sosok Arka yang masih duduk di atas motor besarnya dengan jas hujan yang membalut tubuh kekarnya sempurna. Helm full face yang di pakainya pun cukup membuat gagah dan gentle di mata Aruna, sampai___
Fiuhhhh
Sapuan angin membuat payung yang di pegangi Aruna pun terbang begitu saja, karena air hujan turunnya keroyokan, makan Aruna pun memilih untuk tidak mengejar payung yang sudah terbang entah kemana, Aruna pasrah kalau dirinya harus kebasahan dan yang paling ekstrimnya menggigil karena hujaman air hujan di atas tubuhnya__namun tidak terjadi, sampai Aruna menyadari kalau sepotong jas hujan bagian atas sudah menempel di tubuhnya pun dengan ciputnya yang sudah di pasang di kepalanya__untuk beberapa saat waktu seolah berhenti bergerak, udara di sekitar tak terasa apapun. Tidak ada suara apapun, kecuali detang jantung yang berdebar seirama dan mirip seperti melodi yang begitu lembut dan merdu.
Sepasang netra saling bertatapan, menyelami dan berbicara lewat tatapan itu, sampai.....
“Lo siala? Mau nyulik Runa, ya?.“