NovelToon NovelToon
Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AkeilanaTZ

Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hampir Dipaksa!

Aku menatap Ashar.

Dia masih menunduk.

"Ibunya membesarkannya sendirian," lanjut Raka.

"Ayahnya pergi ketika dia masih kecil."

Aku merasakan sesuatu seperti mencubit dadaku.

"Ashar hampir tidak pernah melihat seperti apa hubungan suami dan istri yang normal."

Aku menelan ludah.

Raka melanjutkan.

"Dia tidak pernah melihat ayah yang memeluk ibunya."

"Tidak pernah melihat bagaimana seorang pria memperlakukan wanita."

"Tidak pernah melihat bagaimana sebuah keluarga bekerja."

Aku perlahan mulai memahami sesuatu.

Semua kecanggungan Ashar.

Semua keraguannya.

Semua ketakutannya.

"Bahkan waktu kuliah," kata Raka, "dia masih seperti anak SMA yang baru belajar bicara dengan perempuan."

Aku melirik Ashar.

Dia akhirnya mengangkat kepala.

Matanya bertemu denganku.

Ada sesuatu dalam tatapannya.

Bukan malu.

Lebih seperti… kelelahan karena harus menyimpan semua ini sendirian terlalu lama.

"Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan," katanya pelan.

Suara Ashar terdengar jauh lebih jujur dari biasanya.

"Aku tidak pernah melihat contoh."

"Aku tidak tahu bagaimana menjadi suami."

Dadaku terasa hangat.

Entah kenapa…

Alih-alih semakin curiga…

Aku justru mulai merasa kasihan.

Raka melanjutkan.

"Kamu tahu sesuatu yang lucu?"

Aku menoleh ke arahnya.

"Ashar dulu bahkan tidak tahu bagaimana cara memegang tangan perempuan."

Aku hampir tersedak kopi.

"Serius?"

Ashar menutup wajahnya dengan tangan.

Raka tertawa keras.

"Waktu ada cewek di kampus yang mencoba mendekatinya… dia malah panik."

Aku tidak bisa menahan senyum.

"Ashar."

Dia menurunkan tangannya.

Wajahnya merah.

"Aku tidak tahu harus bagaimana."

Raka mengangguk.

"Itu benar."

Dia menatapku lagi.

"Jadi kalau kamu berpikir Ashar tidak tertarik pada perempuan…"

Dia mengangkat bahu.

"...sebenarnya dia hanya tidak tahu harus melakukan apa."

Aku menghela napas pelan.

Seolah-olah beban di dadaku sedikit berkurang.

Selama ini aku terlalu cepat menyimpulkan.

Terlalu cepat mencurigai sesuatu yang mungkin tidak pernah ada.

Namun sebelum aku sempat benar-benar merasa lega…

Raka tiba-tiba mengatakan sesuatu lagi.

"Ada satu hal lagi."

Ashar langsung menatapnya tajam.

"Raka."

Tapi Raka hanya mengangkat tangan.

"Tenang."

Dia menoleh kepadaku.

"Ini penting."

Aku merasakan jantungku berdetak lebih cepat.

"Apa?"

Raka menatap Ashar sebentar.

Lalu kembali menatapku.

"Ashar pernah mengalami sesuatu waktu SMA."

Ashar langsung berdiri.

"Cukup."

Tapi Raka menggeleng.

"Kamu tidak bisa menyembunyikannya selamanya."

Ruangan terasa menegang.

Aku menatap Ashar.

Dia terlihat benar-benar tidak nyaman sekarang.

"Apa yang terjadi?" tanyaku pelan.

Ashar tidak menjawab.

Raka akhirnya berkata dengan suara lebih lembut.

"Dia pernah hampir dipaksa."

Duniaku terasa berhenti beberapa detik.

"Apa?"

Raka menatapku serius.

"Bukan oleh perempuan."

Jantungku seperti jatuh.

"Seorang senior."

Sunyi.

Benar-benar sunyi.

Aku menatap Ashar.

Wajahnya pucat.

Aku baru sadar sesuatu.

Semua ketakutan itu.

Semua keraguan itu.

Semua mimpi buruknya.

Tiba-tiba semuanya terasa masuk akal.

"Ashar…" suaraku hampir tidak terdengar.

Dia tidak menatapku.

"Aku berhasil kabur," katanya pelan.

"Tidak ada yang benar-benar terjadi."

"Tapi sejak itu…"

Dia berhenti.

Tangannya mengepal.

"Aku selalu takut menyentuh orang."

Aku merasakan mataku panas.

Sekarang aku mengerti.

Kenapa dia selalu ragu.

Kenapa dia selalu berhenti.

Kenapa dia selalu takut menyakitiku.

Bukan karena dia tidak tertarik.

Bukan karena dia menyukai pria.

Tapi karena masa lalu yang belum benar-benar ia lepaskan.

Aku berdiri.

Lalu berjalan mendekat.

Tanpa berkata apa-apa…

Aku memeluknya.

Tubuh Ashar langsung menegang.

Namun beberapa detik kemudian…

Dia perlahan membalas pelukanku.

Dan untuk pertama kalinya…

Aku benar-benar mengerti suamiku.

Dia bukan pria yang dingin.

Dia bukan pria yang aneh.

Dia hanya pria yang tumbuh tanpa contoh…

Dan membawa luka yang belum sempat sembuh.

Namun bahkan setelah semua itu…

Ada satu hal yang masih membuatku penasaran.

Aku menatap Raka.

"Kamu tahu semua ini…"

Raka mengangguk.

"Kami tinggal sekamar empat tahun."

Aku menyipitkan mata sedikit.

"Lalu kenapa kamu selalu terlihat sangat dekat dengannya?"

Raka tertawa kecil.

"Ashar tidak pernah cerita?"

Aku menoleh ke Ashar.

Dia terlihat pasrah.

Raka berkata dengan santai.

"Aku satu-satunya teman yang dia percaya."

Dia menatapku.

"Dan aku satu-satunya orang yang pernah memukul senior itu sampai masuk rumah sakit."

Aku benar-benar terdiam.

Sekarang aku tahu.

Kenapa Ashar selalu terlihat nyaman di dekat Raka.

Bukan karena sesuatu yang aneh.

Tapi karena Raka adalah orang yang pernah berdiri di sisinya…

Ketika dia tidak punya siapa pun.

Dan tiba-tiba aku merasa sedikit bodoh…

Karena sempat berpikir hal-hal buruk tentang mereka.

Namun Raka belum selesai.

Dia bersandar di kursinya dan berkata sesuatu yang membuat jantungku kembali berdetak lebih cepat.

"Ngomong-ngomong…"

Dia menatap kami berdua bergantian.

"Kalian sudah menjalankan tugas sebagai suami istri belum?"

Aku langsung tersedak.

Ashar hampir menjatuhkan gelas kopinya.

Raka tertawa keras.

"Lihat? Masih sama seperti dulu."

Aku menutup wajah dengan tangan.

Sementara Raka berkata dengan santai.

"Sepertinya aku harus membantu sedikit."

Dan entah kenapa…

Perasaanku tiba-tiba mengatakan satu hal.

Kehidupan pernikahanku yang canggung ini…

Baru saja akan menjadi jauh lebih rumit.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!