"Perempuan Mandul!" cerca Loretta melotot tajam.
"Ibu...." Amira tergugu, sakit hati ia mendengar teriakan sang mertua.
"Kenapa? Kalian sudahenikah 10 tahun, tapi tak kunjung punya anak, kalau bukan mandul apa namanya, Hah?!"
Di sudut ruangan, Beni hanya tertunduk diam, tak berniat mendekati atau menghibur istrinya.
"Atau jangan-jangan kau sengaja minum pil ya, biar nggak hamil?" Loretta tak henti menyudutkan Amira, berdiri bersedekap membelakangi menantunya itu. "Pergi dari sini, Besok pagi Beni harus menikah dengan wanita lain pilihan ibu!"
........
Pernikahan bukan hanya tentang hidup bersama, tapi juga tentang bagaiman abertahanbbersama, setia sekata dalam menghadapi setiap ujian.
Loretta, mertua yang kejam, tak segan menjebak dan menjatuhkan Amira hanya untuk memisahkannya dengan Beni yang notabene adalah putranya sendiri.
Mampukah Amira pergi menanggung tuduhan yang menyakitkan? akankah ia kembali untuk membalas perlakuan keluarga suaminya?
happy reading ya🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WeGe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelemahan Loretta
Pagi hari berikutnya,
Loretta membuka kembali matras yang sudah digulungnya sejak setahun yang lalu. Ia terlalu sibuk dengan siasat jahatnya untuk mengusir Amira, hingga melupakan rutinitas olahraga pagi yang jelas memang membantunya untuk tetap bugar di usianya yang tak lagi muda.
Apalagi setelah pertemuannya dengan Nolan, saat kemarin melakukan olahraga bersama di gymnasium, membuat Loretta semakin bersemangat untuk kembali berolahraga. Pujian-pujian Nolan, kalimat-kalimat manis yang didengarnya, menjadi tujuan baru bagi Loretta.
"Dia sudah tertarik padaku, aku akan menjadikannya milikku, mulai sekarang!" tekad Loretta yang mulai terbayang-bayang senyum dan tubuh kekar Nolan, pria yang seusia dengan putranya.
🍂🍂🍂🍂🍂
Di rumah Nolan,
Pagi itu, Nolan sudah duduk di meja kerjanya, ia sedang fokus pada laptopnya.
Tok... Tok... Tok!
"Kau didalam?" panggil Taya dari luar.
"Masuklah!" jawab Nolan.
Taya membuka pintu, dan masuk dengan wajah serius. "Ini identitas pria kemarin, sudah kutangkap dan diamankan di gudang!" lapor Taya seraya menyerahkan selembar kertas pada bosnya.
Nolan menerima, kemudian membacanya. "Raka Sugandi?" Nolan mengerutkan kening, ia sedang mengingat nama belakang yang tak asing itu.
"Ya, putra seorang rentenir, lebih tepatnya putra dari istri keduanya Jaya Sugandi yang dipenjara karena kasus pencabulan dan percobaan pembunuhan terhadap kliennya," terang Taya.
"Lalu apa yang kau tahu tentang orang ini?"
"Sesuatu yang lebih gelap dari yang kita kira. Pria ini adalah kaki tangan Loretta, tepat sesuai dugaan kita."
"Aku masih belum paham."
"Entah untuk alasan apa, Loretta membuang menantu pertamanya, wanita malang yang kemarin kita selamatkan tanpa sengaja. Dan pria inilah yang bertugas mengawasi istri Beni itu.
"Menantu kedua adalah putri pengusaha retail kan, kurasa ini semua hanya untuk mengamankan bisnis." sahut Nolan.
"Jika hanya untuk itu, kenapa dia harus menyewa seseorang untuk melecehkan menantu pertama, lihat video yang disimpan Raka di ponselnya ini." Taya menyerahkan ponsel Raka.
Nolan mengernyitkan keningnya, perlahan ia membuka galeri di ponsel itu.
"Gila! Jadi istri pertama Beni itu—"
"Bukan, dia hanya dijebak." Taya memotong ucapan Nolan. "Kau ingat wasiat yang ditinggalkan tuan Wibisono? Kurasa ada mama Amira di dalamnya."
"Kau yakin?" tanya balik Nolan tak yakin.
"Jadi itu sebabnya tuan Wibisono meminta kita mengawasi istrinya?"
"Ya, jadi jelas sekarang, kelemahan Loretta adalah Amira, kita bisa menggunakannya untuk membongkar kebusukan wanita serakah itu."
Nolan mengangguk-angguk sedang memproses informasi rumit di kepalanya. "Hmm, ada benarnya. Bawa dia kalau begitu."
"Orang-orangku sedang mencarinya, saat sibuk menangkap Raka, kami lengah dan kehilangan jejaknya."
🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Amira tiba di kota M, untuk mencapai rumah pamannya, ia masih harus berjalan kaki sejauh 2 kilometer, karena angkotan kota hanya berhenti di jalan raya besar, sedang kampung halamannya ada jauh di desa dalam.
Penampilannya yang lusuh, membuat orang-orang tak mengenalinya. Namun itu bagus untuknya, ia bisa berjalan kaki tanpa harus banyak mencari alasan jika saja ada yang bertanya kenapa sendirian.
"Amira?!" seseorang memanggil namanya tepat di gapura masuk desa.
Amira menoleh ke arah kebun di samping gapura, ia mengerjap beberapa kali karena tak yakin dengan penampilan tak asing yang dilihatnya. "Rita?"
Wanita seusia Amira yang dipanggil Rita itu meletakkan rumput dan arit yang tadi dipegangnya, lalu bergegas menghampiri Amira. "Apa kabar?" sapanya dengan senyum ramah.
Amira balas tersenyum sekaligus terkejut. "Kau ngapain disitu, kau jadi petani sekarang?" tanya Amira.
"Siapa yang bisa menebak hidup, Mir," sahut ringan Rita. "Kau sendiri kenapa jalan kaki?"
Amira terdiam menunduk, bingung harus menjawab pertanyaan sederhana itu. "Aku...."
Rita menarik Amira ke kebunnya, mengajaknya duduk di gubuk kecil di tengah tepi kebun, menuangkan segelas air dan mengulurkannya untuk Amira minum. "Melihatmu dengan penampilan seperti ini... apa kau kabur dari suamimu?"
Rita adalah sahabat baik Amira sejak kecil, keduanya memang saling peduli, hingga akhirnya mereka berpisah sejak Amira memutuskan jadi TKW dan berakhir menikah dengan Beni.
Amira tertunduk, bahkan meski tenggorokannya kering, rasanya sulit sekali menelan air putih yang diberikan Rita. Ingatan-ingatan pahit yang ia alami beberapa hari terakhir kembali datang. Amira tak langsung menjawab, tapi matanya berkaca-kaca.
Melihat Amira yang menggigit bibir bawahnya, ia langsung mengerti. Dipeluknya sahabatnya itu. "Jika masih sulit bercerita, nanti saja. Jika ingin menangis menangislah." ucap lirih Rita sambil ia elus lembut punggung lesu Amira.
Tangis Amira kembali tumpah. Ia merasa bebas, sesak di dada dan sakit disekujur tubuh seolah mendapat tempat untuk berlindung. Ia tak malu lagi untuk menangis sepuasnya.
"Laki-laki kota, apalagi setampan suamimu itu... Kau ingat kan, aku orang pertama yang menentang pernikahanmu, karena aku tahu pria sepertinya pasti akan mudah punya banyak wanita." Rita berceloteh merasa benar menebak apa yang dialami Amira.
Amira masih tenggelam dalam tangis, Rita menghela napas dalam-dalam. "Menangislah sepuasmu, Ra. Tapi kemudian berjanjilah ini adalah tangis terakhirmu. Pria kurang ajar tak pantas ditangisi, tapi bangkitlah untuk membalas. Buktikan kau bisa hidup tanpanya."
Nasihat Rita terdengar benar dan mudah, tapi Amira tak sekuat itu. "Tapi aku nggak tahu gimana caranya, Rit. Mereka itu sangat jahat!"
"Suamiku juga menikah lagi, kau nggak tahu kan? Tapi lihatlah, aku mulai hidup baru dan mandiri sekarang, bahkan menghidupi dua anakku yang masih kecil."
Amira melepas pelukan Rita, ia merasa hidupnya sangat hancur, tapi ternyata sahabatnya sendiri juga mengalami hal yang tak kalah susahnya. "Kau...."
"Ya, hidupku juga nggak nyaman, itulah sebabnya aku kembali ke kampung ini juga setelah resmi menjanda setahun belakang ini. Aku harus menghidupi dua anak yang satu sekolah SD dan yang satu mau masuk TK, tapi aku harus semangat dengan berbagai cara. Aku yakin kau juga bisa melakukannya."
"Tapi aku tak punya apa-apa lagi sekarang, Rit. Aku diusir, semua barang berhargaku habis mereka dirampas. Aku...."
"Hidupku juga sulit, tapi aku bisa menyarankanmu cara untuk bangkit. Yang harus kau pikirkan sekarang, kau mau bagaimana melanjutkan hidupmu. Nanti aku bantu mencari modal."
...🍂🍂🍂🍂bersambung🤗🍂🍂🍂🍂...