Liana hamil anak pria lain, tapi Morgan—suami kontrak yang selalu ia maki—justru yang menggagalkan aborsinya dan mengaku sebagai ayahnya. 'Hiduplah untuk anak itu,' ucap Morgan dingin, meski hatinya hancur melihat istrinya merindukan pria yang telah membuangnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Enak Hati
Mobil SUV hitam milik Morgan meluncur membelah keheningan malam pasca upacara pemberkatan di kapel. Di dalam kabin yang kedap suara itu, suasana terasa mencekam, jauh dari kesan romantis sepasang pengantin baru. Liana masih terbungkus jas hitam milik Morgan, menyandarkan kepalanya pada jendela kaca sambil memandangi cincin di jari manisnya dengan tatapan kosong.
Tiba-tiba, keheningan itu pecah oleh getaran keras di atas pangkuan Liana. Layar ponselnya menyala, menampilkan nama 'Derby' yang berpijar di tengah kegelapan. Liana tersentak, tangannya refleks menggenggam ponsel itu, mencoba menekan tombol silent dengan gerakan panik. Ia melirik Morgan melalui sudut matanya.
Morgan tetap fokus pada jalanan di depan, kedua tangannya memegang kemudi dengan posisi jam sepuluh dan jam dua yang sempurna. Wajahnya yang terpapar cahaya lampu jalanan dari luar terlihat seperti pahatan es—dingin dan tak terbaca.
Getaran itu berhenti sejenak, namun hanya selang tiga detik, ponsel itu kembali meraung. Derby tidak menyerah. Ini adalah panggilan ke-15 sejak sore tadi.
"Angkat," suara Morgan memecah kesunyian. Singkat, padat, dan sangat tajam.
Liana menoleh cepat, matanya membelalak. "Apa? Tapi ... kau bilang aku tidak boleh mengangkat telepon dari nomor tidak dikenal atau—"
"Itu bukan nomor tidak dikenal. Itu kekasihmu," Morgan memutar kemudi dengan tenang, membelokkan mobil ke arah jalan protokol. "Angkat, Liana. Aktifkan pengeras suara. Aku ingin mendengar apa yang ingin disampaikan oleh pria yang hampir menjualmu demi hutang judi itu."
Liana menelan ludah. Rasa tidak enak menjalar di dadanya. Ia merasa terjepit di antara dominasi Morgan yang menyesakkan dan obsesi Derby yang mulai membahayakan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Liana menggeser tombol hijau dan menekan ikon speaker.
"Liana! Sialan, kenapa baru diangkat?!" suara Derby menggelegar dari ponsel, penuh emosi dan latar belakang suara musik dentum yang samar. "Aku sudah di depan apartemenmu sejak tadi sore, tapi satpam sialan di sana tidak membiarkanku masuk! Kau di mana?!"
Liana melirik Morgan. Pria itu sama sekali tidak menoleh, namun rahangnya terlihat mengeras. Morgan menekan pedal gas sedikit lebih dalam, membuat mobil melesat lebih cepat.
"Aku ... aku sedang di luar, Derby," jawab Liana terbata-bata.
"Di luar dengan siapa? Kau masih dengan dosen robot itu, kan? Aku tahu kau terjebak tugas tambahan lagi!" Derby mendengus kasar. "Dengar, aku sudah di 'Club Zenith'. Teman-teman sudah di sini semua. Kau harus ke sini sekarang, Liana. Aku butuh kau untuk menjernihkan kepalaku!"
Liana meremas ujung jas Morgan yang dipakainya. Ia merasa sangat bersalah sekaligus takut. Di sampingnya, Morgan adalah pria yang baru saja memberikan sumpah suci untuk menjaganya, sementara di telepon adalah pria yang secara teknis masih kekasihnya namun tidak tahu apa-apa tentang statusnya.
"Aku tidak bisa, Derby. Aku ... aku masih mengerjakan tugas tambahan dari Pak Morgan. Ini sangat banyak dan harus selesai malam ini," dusta Liana, suaranya hampir menyerupai bisikan.
Keheningan terjadi di seberang telepon, sebelum akhirnya Derby tertawa sinis. "Tugas tambahan lagi? Liana, ini sudah hampir tengah malam! Kau mahasiswi atau budak pribadinya?! Kenapa setiap kali aku menelepon, alasannya selalu Pak Morgan? Pak Morgan di kampus, Pak Morgan di perpustakaan, sekarang Pak Morgan saat malam hari?"
Liana menggigit bibirnya. "Ini benar-benar penting, Derby. Aku tidak bisa pergi."
"Tidak, aku tidak terima alasan itu lagi!" suara Derby meninggi, terdengar sangat memaksa. "Aku tahu kau bosan. Kau tidak suka sayur, kau tidak suka aturan, dan kau benci dosen itu. Datang ke sini, atau aku yang akan mendatangi apartemenmu dan membuat keributan sampai dia melepaskanmu. Aku tunggu di Zenith dalam tiga puluh menit!"
Morgan tiba-tiba mengulurkan tangan kirinya, bukan untuk mengambil ponsel, melainkan untuk menggenggam jemari Liana yang memegang ponsel tersebut. Cengkeramannya sangat kuat, memberikan sensasi panas yang kontras dengan udara dingin AC mobil. Morgan tidak bicara, namun tatapannya tetap lurus ke depan dengan sorot mata yang mengerikan.
Liana bisa merasakan amarah yang tertahan di bawah kulit Morgan. Morgan tidak meledak, namun aura di dalam mobil itu mendadak terasa seperti ruang hampa udara yang menyedot seluruh oksigen Liana.
"Derby, jangan jemput aku. Aku tetap tidak bisa datang. Matikan teleponnya, aku harus bekerja," ucap Liana dengan nada final, lalu ia segera memutus sambungan sebelum Derby sempat membalas.
Liana meletakkan ponselnya di dasbor dengan napas tersengal. Ia melirik Morgan, berharap pria itu mengatakan sesuatu—memaki, memarahi, atau setidaknya memberikan instruksi. Namun, Morgan tetap diam. Ia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Liana, lalu kembali memegang kemudi dengan kedua tangan, meremasnya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Morgan ... aku minta maaf," bisik Liana pelan.
Morgan tidak menjawab. Ia justru menambah kecepatan mobil hingga jarum speedometer menyentuh angka 100 km/jam. Suara mesin mobil yang menderu seolah menjadi representasi dari teriakan batin Morgan yang tertahan.
Mobil itu melewati persimpangan menuju apartemen mereka, namun Morgan tidak berbelok. Ia justru terus melaju lurus menuju pusat kota, melewati gedung-gedung bertingkat yang gemerlap.
"Kita mau ke mana? Ini bukan jalan pulang," tanya Liana cemas.
Morgan tetap membisu. Wajahnya mengeras seperti batu karang. Ia mengambil napas panjang melalui hidung, sebuah gerakan yang menunjukkan bahwa ia sedang berjuang mati-matian untuk tidak melepaskan monster di dalam dirinya. Liana menyadari bahwa Morgan sedang menahan amarah yang sangat besar—bukan hanya kepada Derby, tapi mungkin juga kepada situasi kontrak ini yang membuatnya tidak bisa secara bebas menyatakan kepemilikannya atas Liana di depan umum.
Setiap kali lampu merah menyala, Morgan akan mengetuk-ngetukkan jarinya ke kemudi dengan irama yang sangat cepat dan tidak beraturan, sangat kontras dengan pembawaannya yang biasanya tenang dan presisi.
"Morgan, bicara padaku. Kau menakutkan kalau diam begini," Liana memberanikan diri menyentuh lengan jas Morgan.
Morgan tersentak saat kulit Liana bersentuhan dengan kain jasnya. Ia menginjak rem dengan mendadak saat mereka sampai di lampu merah berikutnya, membuat tubuh Liana sedikit terdorong ke depan. Morgan menoleh ke arah Liana, matanya berkilat penuh amarah yang tertahan dan kesedihan yang baru saja Liana lihat di kapel tadi.
"Tugas tambahan, Liana?" suara Morgan terdengar sangat rendah, hampir seperti geraman. "Itu alasan yang kau berikan padanya? Bahwa kau bersamaku karena pekerjaan?"
"Aku hanya tidak ingin dia curiga ...."
"Dia harus curiga," potong Morgan tajam. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Liana, membuat jarak di antara mereka hilang. "Dia harus tahu bahwa kau bukan lagi miliknya untuk diperintah pergi ke kelab malam. Tapi kau ... kau tetap melindunginya dengan kebohongan itu. Kau membuatnya merasa masih memiliki hak atas dirimu."
"Aku melakukannya demi keamanan kita! Kalau dia tahu—"
"Aku tidak peduli apa yang dia tahu!" Morgan memukul kemudi dengan telapak tangannya. DUG! Suaranya bergema keras di dalam mobil. "Aku baru saja mengucapkan sumpah di hadapan Tuhan untuk menjagamu, dan sepuluh menit kemudian, kau membiarkan pria lain menuntut kehadiranmu di tempat kotor seperti itu!"
Liana terdiam, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak pernah melihat Morgan se-emosional ini. Selama ini Morgan adalah benteng yang kokoh, namun malam ini, benteng itu retak.
Lampu berubah hijau. Morgan tidak menjalankan mobilnya dengan kasar, ia justru kembali ke mode dinginnya yang mematikan. Ia memutar balik mobilnya dengan gerakan tajam, lalu melaju kembali menuju apartemen tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
Keheningan yang terjadi kali ini jauh lebih menyakitkan. Liana merasa seperti sedang duduk di samping orang asing. Morgan tidak lagi meliriknya, tidak lagi merapikan rambutnya. Pria itu hanya menatap jalanan dengan pandangan kosong, membiarkan kemarahan itu membeku di dalam dadanya.
Sesampainya di lobi apartemen, Morgan menghentikan mobilnya. Ia tidak turun, tidak juga membukakan pintu untuk Liana seperti biasanya.
"Turunlah. Masuk ke atas," ucap Morgan dingin, suaranya kembali datar dan profesional, seolah mereka kembali menjadi dosen dan mahasiswa.
"Kau tidak ikut naik?" tanya Liana ragu.
"Aku butuh udara segar. Aku akan kembali saat aku sudah bisa menjamin bahwa aku tidak akan membentakmu lagi," Morgan menatap lurus ke depan, menolak untuk melihat mata Liana.
Liana keluar dari mobil dengan perasaan hancur. Ia berdiri di lobi, melihat SUV hitam itu melesat pergi meninggalkan kepulan asap tipis. Liana merapatkan jas Morgan yang masih dipakainya, menghirup aroma maskulin yang tertinggal di sana. Di jari manisnya, cincin itu terasa sangat berat. Malam pernikahan yang seharusnya menjadi lembaran baru, justru menjadi pengingat pahit bahwa di antara sumpah suci dan kontrak lima tahun, ada hati yang mulai terluka karena ketidakpastian.
Liana berjalan menuju lift, sementara di dalam saku jasnya, ponselnya kembali bergetar. Pesan dari Derby: "Kau tidak datang, Liana. Kau akan menyesal karena lebih memilih dosen itu."
Liana tidak membalas. Ia hanya ingin menangis di balik pintu kamarnya, meratapi kenyataan bahwa ia baru saja kehilangan Derby, tapi ia juga belum sepenuhnya memiliki Morgan.