Jasmine, menikah dengan Aksa adalah mimpi buruk yang ingin ia kubur dalam-dalam. Sebagai anak yatim piatu yang miskin, Jasmine hanya dianggap sampah dan pembantu gratisan oleh keluarga Aksa yang terpandang. Puncaknya, sebuah fitnah kejam membuatnya terusir dari rumah megah itu tanpa membawa sepeser pun uang.
Tiga tahun berlalu, Jasmine bertahan hidup sebagai Professional Housekeeper di sebuah agen elit. Tugas terbarunya adalah mengurus sebuah penthouse mewah milik klien misterius yang sangat menuntut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Pintu penthouse tertutup dengan dentuman keras, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam ruangan.
Jasmine masih terpaku di posisinya. Tubuhnya bergetar hebat, dan tangannya perlahan menyentuh bibirnya yang masih terasa panas akibat ciuman paksa Aksa tadi. Keberanian yang ia tunjukkan di depan pria itu luruh seketika.
Pertahanan Jasmine runtuh. Tangis yang sejak semalam ia tahan sekuat tenaga akhirnya meledak. Ia terduduk lemas di kursi meja makan, menutupi wajahnya dengan kedua tangan sambil terisak hebat. Bahunya berguncang seiring dengan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
Sebenarnya, Jasmine tidak memiliki kekasih. Kalimat itu hanyalah alibinya saja agar Aksa berhenti mengejarnya. Ia hanya ingin Aksa menjauh dan membiarkannya hidup tenang. Jasmine sengaja berpura-pura di telepon tadi karena ia tahu Aksa sedang mengintipnya, sebuah akting nekat untuk menciptakan batasan di antara mereka.
"Kenapa kamu harus seegois ini, Aksa?" rintihnya di sela tangis.
Jasmine menyandarkan kepalanya di atas meja makan yang kini terasa begitu dingin. Air matanya mengalir deras, membasahi permukaan kayu jati itu. Rasa sesak di dadanya seolah tak tertahankan.
"Kenapa? Kenapa aku harus terjebak dengan pria itu lagi?" ratapnya dalam isak tangis yang pilu.
"Kenapa Tuhan tidak membiarkan aku pergi jauh darinya?"
Pikiran Jasmine melayang kembali ke masa lalu, ke titik di mana semua kerumitan ini dimulai. Ingatannya membawa dirinya kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu.
Saat itu, Jasmine hanyalah seorang gadis remaja yang penuh mimpi. Ia berhasil masuk ke sebuah SMA favorit yang sangat bergengsi melalui jalur beasiswa. Ia merasa dunia ada di genggamannya, ia hanyalah anak yatim-piatu sederhana yang ingin mengubah nasib lewat pendidikan.
Di sekolah itulah, untuk pertama kalinya ia melihat sosok Aksa.
"Andai saja saat itu aku tidak pernah masuk ke sekolah itu," gumam Jasmine perih.
"Andai saja beasiswa itu tidak pernah ada, mungkin aku tidak akan pernah mengenalnya."
Jasmine menyesali pertemuan itu. Pertemuan yang awalnya ia anggap sebagai pintu menuju masa depan yang cerah, ternyata adalah awal dari sebuah jeratan yang mengikat hidupnya hingga detik ini.
Di tengah isak tangisnya, ponsel Jasmine yang tergeletak di atas meja bergetar hebat. Layarnya menyala, menampilkan nama Sagara. Dengan tangan gemetar, Jasmine menghapus air matanya dan mencoba menormalkan suaranya sebelum mengangkat telepon itu.
"Halo, Kak Sagara..." ucap Jasmine pelan.
"Kenapa kamu tiba-tiba mematikan panggilannya?" tanya Sagara di seberang sana, terdengar nada khawatir yang jelas dalam suaranya.
Jasmine menarik napas panjang, berusaha menahan agar isak tangisnya tidak terdengar lagi. "Maaf, Kak... bos aku datang tadi. Jadi aku harus buru-buru matikan."
Terdengar helaan napas berat dari Sagara. "Sudah aku bilang, Jasmine. Kamu tinggal saja bersama Kakak. Kakak masih bisa menanggung hidupmu. Kamu tidak perlu bekerja keras seperti ini, apalagi harus berurusan dengan orang seperti dia."
Jasmine tersenyum getir. Tawaran itu sangat tulus, tapi ia tidak bisa menerimanya. Sagara adalah sosok yang selalu ada untuknya, namun Jasmine tahu batasan diri.
"Tidak usah, Kak. Makasih banyak," jawab Jasmine lembut namun tegas. "Aku takut mengganggu keluarga Kakak. Aku juga ingin mandiri, aku ingin berdiri di atas kakiku sendiri."
Hening sejenak di seberang sana, sebelum akhirnya Sagara menjawab dengan suara yang lebih lembut.
"Baiklah jika itu maumu, Jasmine. Kakak tidak akan memaksa. Tapi kalau butuh sesuatu, segera hubungi aku. Jangan dipendam sendiri. Kamu mengerti?"
"Iya, Kak. Mengerti. Terima kasih ya," ucap Jasmine sebelum akhirnya mengakhiri panggilan tersebut.
Jasmine dan Sagara adalah kakak beradik kandung yang malang. Mereka terpisah sejak Jasmine masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Setelah kematian kedua orang tua mereka dalam kecelakaan tragis, Sagara diadopsi oleh keluarga kaya dan dibawa pergi, sementara Jasmine tinggal di panti asuhan sebelum akhirnya mendapatkan beasiswa sekolah. Mereka baru saja dipertemukan kembali oleh takdir sekitar dua tahun yang lalu.
Sejak bertemu kembali, Sagara berusaha keras menebus waktu yang hilang.
......................
Aksa duduk di balik meja besarnya, namun pandangannya kosong. Pikirannya masih tertahan di penthouse, pada wajah Jasmine yang memerah karena marah sekaligus tangisan yang sempat ia dengar samar sebelum ia membanting pintu.
Rasa bersalah mulai menggerogoti egonya. Aksa mendesah frustrasi, lalu menekan interkom untuk memanggil satu-satunya orang yang paling mengerti isi kepalanya.
"Ke sini. Sekarang," perintah Aksa singkat
Tak butuh waktu lama, Bara masuk dengan gaya santai, menyampirkan jasnya di bahu. "Ada apa lagi, Bos?"
Aksa berdehem, mencoba menetralkan suaranya yang terdengar kaku. "Bara... menurutmu, apa yang biasanya diberikan pria pada perempuan kalau... ingin meminta maaf?"
Hening sejenak. Bara mematung, lalu sedetik kemudian tawanya meledak memenuhi ruangan. Ia sampai harus memegangi perutnya karena menganggap pertanyaan itu adalah hal terlucu yang pernah ia dengar dari mulut seorang Aksa yang angkuh.
"Hah! Seorang Aksa mau minta maaf?" ejek Bara di sela tawanya.
"Gue nggak salah dengar? Wah, ini sejarah baru! Lu habis ngapain Jasmine sampai kena mental begini? Lu gigit? Atau lu kurung di kulkas?"
"Diam kamu! Saya serius," bentak Aksa dengan telinga yang mulai memerah karena malu. "Saya cuma merasa... kemarin saya sedikit berlebihan."
Bara menghentikan tawanya, meski sisa-sisa senyum mengejek masih menempel di wajahnya. Ia menarik kursi dan duduk dengan gaya sok ahli.
"Gini ya, Bos. Minta maaf ke cewek itu nggak cuma soal barang. Apalagi modelan Jasmine yang nggak silau sama harta lu. Lu kasih berlian sekarung juga kalau cara lu masih kasar, ya nggak bakal mempan."
Aksa mengernyit. "Lalu saya harus apa?"
"Lu harus melunak," ujar Bara memberikan solusi.
"Cewek itu suka perhatian kecil yang nggak terduga. Jangan kasih barang mewah dulu, itu kelihatan kayak lu mau nyogok kesalahannya. Coba belikan makanan favoritnya, atau sesuatu yang dia butuhkan belakangan ini. Terus, yang paling penting: turunkan ego lu. Tulis kartu ucapan kecil, pakai tangan sendiri. Jangan pakai sekretaris lu yang nulisin."
Bara menopang dagu, menatap Aksa dengan serius. "Dan satu lagi. Minta maaf itu pakai mulut, keluarin kata maaf. Jangan cuma kasih barang terus lu pergi lagi kayak orang bisu. Jasmine butuh tahu kalau lu benar-benar merasa bersalah."
Aksa terdiam. Egonya masih memberontak. Selama ini, Aksa selalu mendapatkan apa yang ia mau dengan kekuasaan dan uang. Namun, ia sadar betul bahwa Jasmine berbeda. Wanita itu tidak bisa dibeli, dan semakin Aksa menekannya, semakin jauh Jasmine ingin berlari.
Melihat Aksa yang hanya melamun dengan wajah kaku, Bara kembali menyeringai. "Gimana, Bos? Masih gengsi? Mau gue draf in kata-kata puitis sekalian di W-App? Atau mau gue pesenin boneka beruang sebesar pintu penthouse biar lu bisa sembunyi di baliknya pas minta maaf?"
Aksa tersentak dari lamunannya. Wajahnya kembali dingin, menatap Bara dengan tatapan yang bisa membekukan air. Sindiran Bara barusan benar-benar merusak suasana kontemplasinya.
"Keluar," ucap Aksa singkat dan tajam.
"Lho, kok diusir? Gue kan lagi kasih konsultasi cinta gratisan," protes Bara sambil tertawa kecil.
"Saya bilang keluar, Bara. Sebelum saya benar-benar memotong bonus tahunanmu karena terlalu banyak bicara," ancam Aksa dengan suara rendah yang tidak main-main.
Bara mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah. "Oke, oke! Gue keluar. Tapi ingat ya, barang mewah nggak bakal bisa beli perasaan yang sudah terluka. Selamat berjuang, Tuan Posesif!"
"Keluar!" bentak Aksa sekali lagi, kali ini sambil melemparkan buku catatan kecil ke arah pintu.
Bara berhasil menghindar dengan gesit dan menutup pintu tepat sebelum buku itu mengenainya.
sekali up 1 aja