NovelToon NovelToon
Sistem Kepelatihan Xiao Han

Sistem Kepelatihan Xiao Han

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: MagnumKapalApi

Genre: Sistem, Sport, Tactical.
Sub-Genre: Romance, Drama, School, Slice of Life, Friendship.

Arc 1 : Kebangkitan Calon Pelatih Trainee (Chapter 1 — 21) - (22.691 kata)
Arc 2 : Asisten Pelatih yang Diremehkan (Chapter 22 - ... ) - (Ongoing)

Dari gelandang tengah SMA Hangzhou menjadi seorang pelatih muda? Dibekali Sistem Kepelatihan, Xiao Han merajut kembali mimpinya, setelah dokter memvonisnya tak bisa menjadi pesepak bola lagi karena cidera. Mampukah ia menapaki sepak bola sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

—PoV 3rd—

Rapat tahun ajaran baru dimulai pukul dua belas siang, tepat setelah bel istirahat berbunyi. Ruang guru SMP Hangzhou Xuejun terletak di lantai dasar, bersebelahan dengan kantor tata usaha. Ruangan itu cukup luas untuk dua belas meja guru yang tersusun rapi, tapi hari ini kursi-kursi ditata melingkar menghadap papan tulis putih yang sudah menguning di sudut-sudutnya.

Xiao Han duduk di kursi paling belakang, dekat rak arsip yang berdebu menggenggam pena dan buku kecil. Di depannya, Chen Hao duduk tegak dengan tangan bersilang di dada. Di barisan depan, Ibu Kepala Sekolah Ya Lin sudah siap dengan berkas di tangannya, kacamata baca melorot ke ujung hidung seperti biasa.

Hadir pula pengajar lainnya, termasuk guru olahraga yang bertubuh tambun dan berseragam track suit, guru matematika berkepala plontos yang wajahnya selalu tampak tidak puas, serta gadis yang menegur Xiao Han tadi pagi duduk di sisi kanan, jari-jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme yang tidak sabar.

Xiao Han telah mengenal siapa nama-nama mereka sebelum rapat saat ini, secara aktif dia mencari tahu dari Ibu Kepala Sekolah sendiri, Ya Lin.

“Agenda utama kita hari ini,” Ibu Ya Lin memulai, suaranya datar tapi tegas. “Evaluasi kegiatan ekstrakurikuler semester lalu dan rencana untuk tahun ajaran baru.”

Ia menatap sekilas ke arah Xiao Han, lalu kembali ke kertas di depannya.

“Dimulai dari ekskul sepak bola.”

Keheningan mendadak terasa berat. Xiao Han merasakan beberapa pasang mata menoleh ke arahnya. Bukan karena ia dikenal, tapi karena ia orang baru. Dan di ruang ini, orang baru selalu menjadi sasaran.

Guru matematika, Pak Zhang langsung mengambil inisiatif. “Bu Kepala, aku rasa kita perlu mempertimbangkan kembali alokasi dana untuk ekskul sepak bola. Tahun lalu, tim hanya memiliki dua belas anggota aktif untuk seukuran tim olahraga yang seharusnya lebih banyak kedalaman. Tidak ada prestasi. Lapangan yang dirawat pun hanya digunakan beberapa jam seminggu.”

Ia melipat tangan di atas meja, menatap Chen Hao dengan sorot yang tidak ramah. “Bukan maksudku merendahkan, tapi bukankah lebih baik dana itu dialihkan ke bimbingan belajar untuk ujian nasional? Nilai matematika siswa kelas 9 tahun lalu menurun drastis.”

Beberapa guru mengangguk. Xiao Han mencatat ekspresi mereka satu per satu di dalam kepalanya. Dukungan untuk Pak Zhang cukup banyak.

Chen Hao belum menjawab. Ia hanya duduk diam, matanya setengah tertutup seperti orang yang sudah mendengar argumen ini ratusan kali.

Mu Qingyao—Gadis yang menegur Xiao Han sebelumnya—mengangkat tangan. Gerakannya anggun, tapi matanya tajam.

“Aku setuju dengan Pak Zhang,” katanya. Suaranya jernih, seperti penyiar radio. “Selain masalah dana, kita juga harus mempertimbangkan dampak ekskul terhadap akademik siswa. Tahun lalu, sembilan dari dua belas anggota tim sepak bola harus mengikuti remedial di akhir semester. Waktu latihan yang menyita banyak waktu, ditambah tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan.”

Gadis itu menoleh ke arah Xiao Han, tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata.

“Apalagi sekarang kita punya asisten pelatih baru yang …” Mu Qingyao berhenti sekejap. “Masih sangat muda. Saya dengar baru lulus SMA. Tidak ada pengalaman melatih. Juga tidak punya lisensi.”

Chen Hao seketika bergumam, “Mu Qingyao ... kau juga baru di sini, usiamu tak jauh darinya.”

Xiao Han bisu, mendengar ucapan Chen Hao, dia tak menyangka akan dibela langsung dirinya yang dingin tadi pagi, mungkin karena kondisi ekskul tempat kami melatih nanti, atau hanya masalah pribadi? Sementara statement Pak Zhang dia abaikan.

Dirinya sudah menduga ini akan terjadi. Sejak Mu Qingyao menyapanya di lapangan fajar itu, ia tahu gadis itu tidak akan melepaskan kesempatan untuk menyerang di forum resmi.

Kemudian, dentingan sendok di piring, seseorang di barisan depan meneguk teh terlalu cepat.

“Bukannya aku meremehkan,” lanjut Mu Qingyao, menekankan kata ‘meremehkan’ dengan nada yang justru menunjukkan sebaliknya. “Tapi kita harus realistis. Ekskul yang tidak menghasilkan apa-apa hanya akan membebani siswa dan sekolah. Apalagi dengan pelatih yang belum terbukti kemampuannya.”

Mu Qingyao melirik Chen Hao. “Maaf, Pak Chen, aku tidak bermaksud menyerang pribadi. Tapi fakta di lapangan tidak bisa dipungkiri.”

Suasana ruangan semakin hening. Ibu Ya Lin menaikkan kacamata, menulis sesuatu di kertasnya tanpa berbicara.

Chen Hao akhirnya membuka suara. Suaranya pelan, terdengar berat, seperti orang yang tidak terbiasa berbicara panjang di depan banyak orang.

“Ekskul sepak bola memang tidak punya prestasi dalam tiga tahun terakhir. Itu fakta.”

Xiao Han menegang. Ia tidak menyangka Chen Hao akan langsung mengakui kelemahan mereka.

“Tapi,” Chen Hao melanjutkan, matanya terbuka lebar sekarang. “Bukan karena tidak ada potensi. Tapi karena kita tidak pernah punya cukup pemain untuk benar-benar berlatih. Dua belas orang hanya bisa membentuk tim tunggal. Dan tanpa tim yang memenuhi syarat, tidak ada pertandingan. Tanpa pertandingan, tidak ada prestasi. Lingkaran setan.”

Chen Hao menunjuk ke arah Xiao Han dengan ibu jarinya. “Dia, Xiao Han, bukan asisten pelatih sembarangan. Aku tahu siapa dia karena saya mantan asisten pelatih di SMA Hangzhou No. 9 sebelum dia SMA. Aku tahu potensinya sebagai pemain dari rekan kerjaku dulu Pak Guan Tian, dan sekarang aku ingin melihat potensinya sebagai rekanku di sini.”

Xiao Han membelalak. Ini pertama kalinya telinganya mendengar Chen Hao pernah menjadi asisten di sekolahnya dulu. Hubungan dengan Pak Guan Tian? Itu hal rumit yang tidak bisa dia jelaskan.

Pak Zhang menyela. “Potensi tidak menjamin hasil. Kita butuh bukti.”

“Maka beri kami waktu,” jawab Chen Hao cepat. “Aku minta satu bulan. Jika dalam kurun waktu tersebut tidak ada perkembangan signifikan, dalam jumlah anggota atau kemampuan tim, aku sendiri yang akan mengusulkan pembubaran ekskul lalu pamit undur diri.”

Ruangan mendadak sunyi. Xiao Han menahan napasnya. Satu bulan. Sama dengan masa percobaannya.

Apa yang kau katakan Chen Hao? Pikir Xiao Han. Kau akan selesai jika aku selesai juga?

Ya Lin meletakkan pena. Matanya beralih dari Chen Hao ke Xiao Han, lalu kembali ke berkasnya lagi.

“Satu bulan,” katanya akhirnya. “Tapi dengan syarat.”

Semua mata tertuju padanya.

“Pertama, asisten pelatih harus segera mengurus lisensi D dari CFA. Saya tidak mau ada persoalan administrasi di kemudian hari.” Ya Lin menatap Xiao Han. “Kedua, ekskul harus memiliki minimal dua belas anggota aktif di akhir bulan ini. Bukan sekadar daftar nama, tapi yang benar-benar hadir latihan.”

Mu Qingyao menyilangkan tangan. “Dan jika gagal?”

“Kita evaluasi ulang eksistensi ekskul sepak bola di sekolah ini,” kata Ibu Ya Lin datar. “Tidak ada yang kebal dari evaluasi.”

Chen Hao mengangguk. “Setuju.”

Xiao Han juga mengangguk, walau tangannya di bawah meja sudah mengepal.

Rapat dilanjutkan dengan agenda lain, ekstrakurikuler basket yang juga kekurangan anggota, paduan suara yang butuh dana baru, dan rencana study tour ke Beijing yang langsung memicu perdebatan sengit. Tapi Xiao Han tidak mendengar satupun. Pikirannya hanya berputar pada dua belas anggota, satu bulan, dan lisensi D yang belum ia miliki.

Belum lagi, misi sistem yang menginginkan lebih daripada itu.

Setelah rapat usai, para guru meninggalkan meja mereka. Mu Qingyao berjalan lambat melewati kursi Xiao Han. Ia berhenti sebentar, membungkuk sedikit sehingga suaranya hanya terdengar berdua.

“Asisten pelatih Xiao Han,” katanya pelan. “Semoga berhasil dengan satu bulanmu.” Mu Qingyao menyeringai.

Derap langkah Mu Qingyao melenggang keluar, meninggalkan aroma parfum bunga yang menyengat di hidung Xiao Han, seakan harum itu sebagai pengingat, Hangzhou Xuejun Middle School bukan tempat yang ramah untuk sepak bola.

Chen Hao yang masih duduk di kursinya, menghela napas panjang. “Anak itu,” katanya, tanpa perlu menyebut nama. “Dia tidak suka sepak bola. Atau mungkin tidak suka apapun yang tidak bisa diukur dengan angka.”

Xiao Han menatap pintu yang sudah tertutup. “Apa masalahnya dengan sepak bola?”

“Bukan sepak bola,” Chen Hao berdiri, merapikan kursi. “Keluarganya lulusan psikologi pendidikan. Dulu mungkin punya mimpi sendiri, tapi orang tuanya memilihkan jalur lain. Sekarang dia melihat murid-murid punya mimpi, dan dia ingin ‘menyelamatkan’ mereka dari kekecewaan. Caranya dengan mematikan mimpi itu sebelum sempat tumbuh.”

Ia menatap Xiao Han. “Atau setidaknya itulah teoriku.”

Xiao Han tidak menjawab. Ia hanya menggenggam buku catatannya, yang sudah mulai penuh coretan sejak pagi, catatan rapat yang menyebalkan.

“Ayo,” kata Chen Hao. “Kita punya banyak pekerjaan.”

1
Hong Biyeon Adolebit
keren bgt kak, Xiao Han😍
heroestupai: berakkkkkk
total 1 replies
Apakah transgender disunat?
sudah 39 chapter dan tidak ada insect😡
heroestupai: /Smug//Smug//Smug/
total 1 replies
Ren si Pegawai Kantoran
Pak Chen Hao kerjanya ngapain? Eh iya motivasinya kan kecil 🗿
Limian Avina
Iyap, aku pun malas baca itu, jadi diskip/Proud/
Limian Avina: /Facepalm//Facepalm/
total 2 replies
Limian Avina
Ini kayaknya enggak terlalu diperlukan deh/Sweat/
heroestupai: skill issue aja kak, maklumin, cmn ngindarin yg repetitif aja
total 3 replies
Limian Avina
Kebelet ganti PoV😂
Limian Avina
Kenapa jadi PoV satu/Sweat/
heroestupai: ahh iya, bocor POV, nanti saya revisi kak
total 3 replies
Limian Avina
Iya, mengerikan seperti ...
Limian Avina: Enggak jadi/Blackmoon/
total 2 replies
Limian Avina
Beliau terlalu percaya diri :v
Limian Avina: 🗿🗿🗿🗿🗿
total 2 replies
Limian Avina
Gambarnya kayak kamar pribadi🗿
Manusia Biasa: wkwkw tapi masih bagus kok kak, dari ai sih😂🙏
total 1 replies
Limian Avina
Ada gacha-nya/Scare/
heroestupai: masih jauh sih di gacha sistem itu /Facepalm/
total 1 replies
Limian Avina
/Curse//Curse/ Namanya kenapa harus Gacheng?!
heroestupai: Kepikiran itu aja 🗿
total 1 replies
Limian Avina
Nulisnya "Goal" deh seharusnya/Sweat/
Limian Avina: /Scare//Scare/ Secara arti goal = tujuan/sasaran/Facepalm/
total 2 replies
Limian Avina
Woah~! Riset sejarah .../Blush//Blush/
heroestupai: huum 🗿🗿
total 1 replies
Ren si Pegawai Kantoran
cukup menghibur
heroestupai: makasih kak
total 1 replies
Penjaga Gerbang
keren
Ren si Pegawai Kantoran
ditunggu Thor updatenya
Ren si Pegawai Kantoran
developmentnya sedikit terasa di sini, sistem gak semata-mata Deus ex machina, ada konsekuensi juga dari analisa MC, dan emang jadi pelatih itu harus mikirin pemain, bukan semata2 sistem novel lain yg bikin pemain jadi OP kah? 🤔
Ren si Pegawai Kantoran
Thor, jangan lupa huruf miring kalo monolog batin PoV 3 ya 🗿
Ren si Pegawai Kantoran
kambek 4-3
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!