Liora dipaksa menikah dengan Kaedric Volther, pria yang dikenal kejam dan berbahaya. Namun sebelum pernikahan itu terjadi, Kaedric meninggal dunia. Liora mengira rencana pernikahan itu akan dibatalkan dan ia bisa kembali menjalani hidupnya seperti biasa.
Namun keputusan keluarga Volther berubah. Untuk menjaga kepentingan keluarga, Liora justru harus menikah dengan ayah Kaedric, Maelric Volther, seorang pria berkuasa yang jauh lebih tua darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaelisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31
"Rumah ini benteng. Tidak akan ada yang bisa masuk begitu saja," kata Zevran.
Ronan sudah turun untuk memastikan situasi, dan Liora tahu persis apa yang sedang terjadi di luar. Maelric mengirim orang-orangnya, untuk membawanya kembali, atau mungkin lebih dari itu.
Meski tidak. Maelric pernah bilang sendiri bahwa kalau ia ingin menghabisinya, ia ingin melakukannya dengan tangannya sendiri.
Liora menatap Zevran. Wajahnya berusaha terlihat tenang, tapi tangannya yang mencengkeram tepi jendela mengkhianati segalanya. Ia berbohong dan tidak cukup pandai melakukannya.
"Maelric punya jauh lebih banyak orang dari kita." Liora berbicara pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Kalau ia mau, ia bisa menghabisi semua orang di sini. Itulah kenapa Ayah dulu menginginkan persekutuan itu. Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba semua dirusak seperti ini. Terlalu banyak yang sudah dikorbankan."
"Ronan dan Paman Deris yang mempengaruhi Ayah." Zevran berbalik, menghampirinya. "Aku pun rasa ini terlalu tergesa-gesa. Seharusnya ada cara lain yang lebih baik." Ia duduk di tepi ranjang di mana Liora duduk memeluk lututnya, posisi yang selalu muncul ketika ia takut, meski jarang ia sadari sendiri.
Zevran mulai mengusap lengannya pelan.
"Aku melihat cara ia memandangmu." Suaranya lebih lirih sekarang. "Aku tidak percaya ini bisa terjadi, tapi ia menyukaimu. Mungkin bahkan lebih dari sekadar suka."
Liora hampir tertawa.
"Ia hanya senang punya istri muda," katanya datar.
Keduanya meledak tawa pada saat yang sama tawa yang singkat, tapi terasa seperti napas segar di tengah malam yang mencekam.
Namun bayangan itu kembali, seperti air yang naik perlahan.
"Berapa lama seseorang bisa bertahan kalau dicekik?" tanya Liora tiba-tiba.
Zevran memandangnya dengan ekspresi yang belum pernah Liora lihat sebelumnya, campuran antara terluka dan tidak tahu harus berkata apa. Ia mengulurkan tangannya, menangkup dagu Liora dengan lembut, dan mengarahkan wajahnya hingga keduanya bertatap langsung.
Matanya basah.
"Jangan pernah bicara seperti itu lagi." Suaranya bergetar. "Kamu tidak mengerti, aku mencintaimu. Kamu adikku. Aku tidak sanggup membayangkan sesuatu terjadi padamu." Ia melepaskan tangannya begitu menyadari cengkeramannya terlalu kuat. "Maaf."
Liora merasakan sedikit nyeri di rahangnya tapi tidak menunjukkannya. Tidak mau Zevran semakin menyiksa diri.
"Ia marah," lanjut Zevran, suaranya kembali lebih stabil. "Tapi bukan padamu. Kalau ada yang ingin ia habisi, itu kami. ia hanya ingin membawamu kembali. Satu-satunya yang harus kita takutkan adalah jika ia berhasil, kontak kita denganmu akan semakin dibatasi."
"Kamu baru saja menyamakanku dengan benda."
Zevran menghela napas panjang. "Kamu memang selalu punya jawaban untuk segalanya."
**
Sudah lewat pukul tiga dini hari ketika Anzari meminta Liora dan Zevran turun ke ruang tamu. Ronan terus mondar-mandir di sekelilingnya, tidak bisa diam.
"Di mana Paman Deris?" tanya Liora, menyadari pamannya sudah lama tidak terlihat.
"Semoga ia jadi tameng pertama atas ide gilanya sendiri," gumam Zevran, dan Anzari melemparnya tatapan tajam. "Apa? Kita semua tahu kita bertindak terlalu cepat. Sekarang Maelric marah besar dan Liora ketakutan."
"Tidak ada yang perlu ditakutkan, Sayang." Anzari menepuk lutut Liora pelan. Kata-kata itu tidak memberikan ketenangan sedikit pun.
"Bagaimana kalau aku yang kembali ke sana sendiri?" Semua kepala menoleh padanya sekaligus. "Ia pasti akan bereaksi lebih baik jika aku datang sendiri daripada harus dipaksa."
"Tidak akan." Ronan memotong tegas.
"Kamu tahu ini akan berakhir seperti itu juga." Liora menatapnya. "Tidak ada gunanya berpura-pura lain."
Suara keras menggelegar dari arah pintu masuk, cukup keras hingga Liora terlonjak dari tempatnya.
"Mereka sebentar lagi akan meruntuhkan rumah ini!" Liora berdiri dan melangkah ke arah pintu, tapi Ronan sudah lebih cepat mencengkeram lengannya.
"Tidak kemana-mana." Ronan menahannya erat. "Aku sudah perintahkan orang-orangku untuk memanfaatkan celah, Maelric tidak ada di dalam mobil lapisnya malam ini. Satu peluru sudah cukup untuk membebaskanmu dari orang itu."
Kata-kata itu mendarat berat di dada Liora.
Ia tidak menyukai Maelric. Tidak dengan cara yang seharusnya seorang istri menyukai suaminya. Tapi kematiannya, itu hal yang berbeda. Itu bukan sesuatu yang ia inginkan.
Suara benturan keras. Pintu depan jebol.
"Sial!" Ronan melepaskan Liora dan mendorongnya ke arah Anzari, lalu menarik pistol dari holsternya.
Anzari langsung merangkul Liora dari belakang.
Beberapa sosok memasuki ruang tamu dan di belakang mereka, Maelric.
Liora menatapnya. Ia tidak bersembunyi di balik orang-orangnya. Ia berdiri di depan, langsung masuk, seolah ia tidak menganggap ada ancaman yang cukup besar untuk membuatnya ragu.
Ini bodoh. Ia tidak punya pewaris. Ia seharusnya melindungi dirinya.
"Kalian benar-benar menyangka bisa mengalahkanku." Suara Maelric rendah dan penuh tekanan. "Aku seharusnya menghabisi kalian semua malam ini."
"Kalau kita memang tidak bisa menemukan titik temu," kata Anzari dengan nada yang mengejutkan tenangnya, "mungkin memang lebih baik kita putuskan hubungan ini sepenuhnya."
"Setuju." Maelric memandangnya sebentar. "Tapi kembalikan istriku dulu."
Jadi bukan kebebasan. Tidak pernah.
"Ayah, lepaskan." Liora berbicara lirih.
"Kamu tidak harus melakukan ini, Nak."
"Aku tahu." Liora membalikkan badan sebentar dan tersenyum tipis pada ayahnya, senyum yang berusaha terlihat lebih meyakinkan dari yang ia rasakan. Lalu ia berbalik dan mulai melangkah ke arah Maelric.
"Tidak!" Ronan mengangkat pistolnya, membidik langsung ke arah Maelric.
Orang-orang Maelric langsung bereaksi senjata mereka terarah balik ke Ronan.
"Ronan, berhenti." Liora berdiri di antara mereka, memblokir garis bidik kakaknya. "Kamu tahu ini memang harus terjadi. Tidak ada yang bisa kita lakukan."
Ronan tidak menurunkan senjatanya.
Liora melangkah mendekat, mengulurkan tangannya ke arah pistol itu, bukan untuk meminta, tapi untuk menariknya turun secara perlahan.
Ronan melepaskan tembakan.
Peluru itu menembus perut Liora.