Ini merupakan Novel Sekuel dari Melepas para Benalu,
Wina tak pernah menyangka kisah hidupnya yang tragis membuatnya akhirnya bisa bertemu dengan lelaki yang sangat kejam tapi sangat mencintai dan menyayangi dirinya yaitu Alexander
Alexander adalah seorang Mafia kelas kakap yang bahkan polisi juga sangat segan kepadanya.
Pertemuan tidak sengaja itu pun menjadikan Tuan Mafia yang terkenal kejam dan tidak berperasaan itu akhirnya memiliki tempat pulang dan orang yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Rayyan menelan Salivanya dengan sukar, tubuhnya bergetar hebat mendengar suara datar dan dingin dari nyonya itu.
"Katakan nyonya, apapun akan kulakukan asal jangan sakiti mereka". Ucapnya memohon.
Wina tertawa pelan dengan suara bergetar, tawa yang terdengar menyakitkan bukan tawa bahagia, banyak sekali pengkhiatan disekitarnya bahkan orang yang sangat dia percaya tega menusuknya dari belakang.
"Apa kurangnya yang ku berikan kepadamu selama ini tuan Rayyan sehingga kamu menusuk aku dari belakangan seperti ini? ". Tanyanya pelan penuh penekanan.
Rayyan tercekat, dia ingin menjawab tapi suaranya serasa tersangkut ditenggorokan nya. Ambisinya membangun usahanya sendiri agar kelaurganya bisa mendapatkan tambahan dana setiap bulannya membuatnya gelap mata apalagi banyaknya tuntutan yang dia terima dari keluarganya dan juga keluarga istrinya soal uang.
"Maaf". Cicitnya pelan.
Sejujurnya dia menyesal melakukannya tetapi dia tidak memiliki pilihan lain karena tuntutan itu seakan mencekik nya dan dia harus memenuhinya dengan segera, cara paling cepat untuk mendapatkan uang banyak adalah menerima siap itu walau dia harus menyalahi nuraninya selama ini.
"Apakah gaji yang ku berikan kurang, apakah bonus ku berikan padamu kurang?, katakan kenapa kamu menghianati aku seperti ini". Bentaknya penuh emosi dan rasa sakit.
Dia sudah mengenal Rayyan sejak kuliah bersama Ratna tapi bisa-bisanya dia melakukan hal ini kepadanya padahal dia tidak pernah pelit dalam memberikannya bonus dan juga bantuan selama ini
"Maaf, aku yang bersalah, terlalu banyak tuntutan yang aku Terima dari keluargaku dan juga keluarga Istriku, mereka selalu meronrongku soal uang, dan semuanya tidak pernah cukup, maaf". Jawabnya dengan bergetar menahan malu.
Dia tidak akan pernah lupa bagaimana kebaikan yang Wina berikan kepadanya selama ini tapi tuntutan yang mencekik itu membuatnya tidak berdaya dan akhirnya melakukan nya.
"Setelah aku mengurus manusia-manusia pengkhianat itu pastikan kamu kelaur dari perushaaanku dan kembalikan semua yang aku berikan kepadamu, aku tidak akan sudi kebaikanku dinikmati manusia pengkhianat seperti mu, akan kubuat kamu menyesal melakukan ini padaku, kamu sudah bekerjasama dengan orang yang kusayangi maka akan kutunjukkan padamu apa yang bisa kulakukan".
Wajah Rayyan memucat seketika, dia tidak menyangka Wina akan bersikap seperti ini padanya, apalagi semua bantuannya itu akan membuatnya kembali ke titik nol.
Rumah, mobil, bahkan beberapa dana bantuan kesehatan untuk keluarga istrinya dan juga keluarganya yang membuatnya merasa tercekat seketika, nilainya tidak main-main
"Jangan Win, aku mohon, bagaimana aku bisa menghidupi keluargaku setelah ini". Ucapnya memohon.
Wina kembali tertawa sarkas dan sinis, inilah ornag-orang yang sungguh tidak tahu diri, sudah ditolong, dibantu bahkan diperlakukan bak saudara tetapi menusuknya dari belakang
"Terserah apa katamu, akan kukirim pengacara untuk mendapatkan nya dan kupastikan kamu mengganti segalanya, baik yang ku berikan maupun yang perusahaan berikan, kita lihat manusia penghianat seperti mu bisa apa tanpaku dan satu lagi pastikan kamu bekerjasama dengan orang suruhan ku untuk mendapatkan para pengkhianat itu jika tidak maka nyawa keluargamu dan keluarga istrimu jadi taruhannya".
Wina langsung mematikan telponnya meninggalkan Rayyan berteriak karena ketakutan karena dia memutuskan panggilannya.
"Rasakan itu pengkhianat, aku memang suka menolong tapi jika kamu mengusik orang yang kusayangi maka tidak akan ada maaf untukmu". Ucapnya dengan penuh dendam.
"Wina, Wina, jangan lakukan itu pada istriku, wina". Teriaknya frustasi
Dia bahkan mengacak kasar rambutnya karena stres dan tidak menyangka akan jadi seperti ini.
Belum juga dia bergerak dari tempatnya, Orang-orang suruhan Wina tepatnya anak buah Winda masuk kedalam ruangannya membuka pintu dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi dentuman nyaring, mereka berjalan mendekati dirinya kemudian langsung menangkapnya.
Dia memundurkan diei selangkah saat mereka mendekati dirinya tapi sudah terlambat
"Lepaskan aku, lepaskan aku". Jeritnya ketakutan dan memberontak.
Dia bukan tidak tahu bagaimana orang-orang seperti mereka bekerja untuk memberantas penghianat seperti nya, dia dalam masalah besar sekarang bahkan nyawanya akan terancam
"Jangan banyak bicara! , cepat ikut kami". Bentak salah satu dari mereka dengan garang.
"Aku tidak mau, lepaskan aku, aku akan bicara dengan Wina, aku tidak mau!! ". Teriaknya frustasi sambil terus memberontak.
Mereka menyeret paksa Rayyan yang memberontak mencoba meloloskan diri tapi tenaganya kalah dari orang-orang suruhan Wina itu.
Dia menjadi bahan tontonan satu kantor karena ditarik dan diseret paksa, perbuatannya yang menyeleweng kan dana kantor dan juga menghianati Wina sudah menyebar satu kantor sehingga mereka semua mencemooh dirinya dengan tatapan menghina.
Dia hanya bisa menunduk malu sambil berjalan keluar menuju parkiran dengan keadaan kacau
"Sungguh memalukan yah, dia itu sungguh manusia tidak tahu malu dan tidak tahu diri, sudah ditolong dan diperlakukan bak saudara oleh ibu Wina malah menusuk orang yang telah memberikannya kehidupan layak, anjing saja tahu caranya balas budi". Umpat salah satu karyawan begitu melihatnya.
Wajahnya smekain menunduk, dulu dia akan berjalan tegak dengan kepercayaan diri yang sempurna karena dirinya adalah ornag kepercayaan Wina sekarang dia hanya bisa menunduk menyesali segala perbuatannya, kini dia terhina dan mendapatkan caci makian.
Wina mengepalkan tangannya, sebenarnya dia tak ingin seperti ini tapi jika dia terus menerus diam saja setelah apa yang mereka lakukan maka selamanya dia akan diinjak tanpa bisa bangkit dan dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Aku Wina putri Aditama, tidak akan membiarkan kalian semua setelah ini, aku bukan orang suka dengan kekerasan tapi jika kalian mengusik orang-orang yang kusayangi maka kalian akan tahu seperti apa Wina Aditama membalas kalian". Ucapnya mengepalkan tangannya.
Setelah itu dia menghubungi semua orang yang dia andalkan dalam urusan seperti ini apalagi masih ada Winda yang berada di dekat mereka untuk memantau semua yang terlibat.
Sahabat nya itu sudah tahu apa yang terjadi pada mereka semua itu sebabnya dia sangat murka dan siap untuk membalas mereka dengan cara yang lebih dan tidak akan mereka pikirkan.
Dia menarik nafasnya dalam berusaha meredakan emosinya yang kini membara, dia akan memulihkan tubuhnya terlebih dahulu setelah itu akan siap untuk menyerang mereka.
Keesokan harinya, Wina keluar dari kamar itu dengan menggunakan kursi roda, dia bisa melihat diujung ruangan ada Ratna dan juga Leo yang keluar dari kamar mereka masing-masing, mereka akan sarapan bersama bukan lagi dikamar mereka sendiri.
"Selamat pagi nyonya, tuan". Sapa bibi Mirna dengan sopan begitu melihat mereka keluar dari kamar mereka.
"Pagi bi, kami sarapan dibawah saja, tidak perlu dibawah kekamar, kami ingin suasana keluarga seperti biasa". Ucap Wfna dengan sopan.
Mirna tersenyum lembut kemudian mempersilahkan mereka berjalan menuju lift untuk turun ke ruang makan.
"Tuan dan nyonya besar sudah menunggu kalian". Ucapnya saat mereka masih di lift.