NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Adea Nangis!!

Siang hari. Fakultas Kedokteran.

Ruang kuliah Anatomi terasa lebih pengap dari biasanya. Atau mungkin itu hanya perasaan Adea yang kepalanya sudah penuh dengan nama-nama tulang, saraf, dan otot yang harus dihafal sebelum ujian pekan depan.

Dosen sudah keluar sepuluh menit yang lalu. Kelas seharusnya selesai. Tapi Adea masih duduk di bangkunya, buku tebal terbuka di halaman 237 sistem kardiovaskular. Pulpen merah di tangan, menandai bagian-bagian yang sulit.

"Dea."

Tidak digubris.

"Deaaaa."

Tidak digubris.

"ADEAAAAA!!"

Adea mengangkat kepala. Elia Kazan, sahabatnya yang duduk di samping, menatapnya dengan alis naik turun seperti ulat.

"Apa sih, Eli. Gue lagi fokus."

"Fokus apaan? Muka lu kayak orang lagi mumet, bukan fokus."

Adea menghela napas. Ia menutup bukunya. "Gue mumet iya. Ujian pekan depan."

"Bohong. Lo tuh dari kemarin aneh." Eli menyandarkan dagu di telapak tangan. "Ada apa sih? Putus sama Angga?"

"Gak putus. Kita emang gak pacaran."

"Iya iya, sahabatan. Tapi kalian tuh kayak... ya ampun, Dea. Rumah satu, makan satu, diantar jemput tiap hari. Itu mah lebih dari pacaran."

Adea tidak menjawab. Ia memainkan ujung pulpennya.

"Eh, tapi beneran deh," Eli mencondongkan tubuh lebih dekat. "Gue denger dari anak ekonomi, ada cewek baru. Cantik. Kaya. Anak Jakarta. Mobil Ferrari. Namanya Thalia apa gitu. Katanya duduk sebelahan sama Angga."

Pulpen di tangan Adea berhenti bergerak.

"Terus?" tanyanya datar.

"Ya terus? Lo gak cemburu?"

"Gak."

"Bohong."

"Gue gak cemburu, Eli. Angga sahabat gue. Dia bebas mau deket sama siapa aja."

Eli menatap Adea lama. Lalu tersenyum kecil. "Iya. Sahabat. Tapi lo nangis pas malem minggu lalu."

"Itu karena mimpi buruk."

"Mimpi tentang Angga pergi?"

Adea terdiam.

---

Jam istirahat.

Adea pergi ke kantin sendirian. Eli sedang ada praktikum tambahan. Ia membeli sepotong roti dan air mineral, lalu duduk di bangku taman dekat gedung kedokteran.

Ia tidak lapar.

Roti itu ia remas-remas di tangannya, tidak dimakan.

Pikirannya kemana-mana. Ke Thalia. Ke Ferrari pink. Ke ciuman singkat di puncak kepalanya kemarin sore...

Atau aku hanya berkhayal?

"Dea!"

Sekelompok teman sekelas menghampiri. Tiga orang: Rini, Dita, dan Maya. Wajah-wajah yang biasanya ramah, tapi hari ini ada senyum-senyum kecil yang membuat Adea gelisah.

"Dea, beneran tuh cowok yang jemput lo tiap hari pacar lo?" tanya Rini sambil duduk di sampingnya tanpa izin.

"Bukan. Sahabat."

"Sahabat?" Dita menyeringai. "Sahabat kok bonceng motor sambil peluk-pelukan? Sahabat kok di rumah bareng?"

"Kita tinggal bareng. Rumahnya bareng. Tapi beda kamar."

"Ah masa sih?" Maya ikut duduk. "Gue denger dari anak ekonomi, lo tuh tinggal di rumah cowok itu. Rumahnya Angga, kan? Bukan rumah lo."

Adea mengerjap.

"Iya, rumah Angga. Tapi-"

"Berarti lo numpang?" potong Rini cepat. Matanya menyipit, bukan jahat, tapi seperti sedang mencari kebenaran.

Adea terdiam.

Numpang.

Kata itu terasa seperti tamparan.

Iya, rumah itu milik Angga. Angga yang membeli. Angga yang membayar listrik, air, dan segala macam. Adea hanya membantu merawat bunga dan kadang membersihkan rumah. Uang sakunya dari Bibi Era, tidak seberapa.

"Bukan numpang," Adea akhirnya bersuara. "Gue tinggal sama dia. Kita berdua. Sejak gue kuliah di sini."

"Ya itu namanya numpang," ucap Dita dengan nada santai, seperti tidak menyadari bahwa kata-katanya menusuk. "Tapi gak apa-apa sih, namanya juga cewek, wajar kalo ditalenin cowok."

Adea menggigit bibir bawahnya.

"Gue bukan ditalenin."

"Iya iya, bukan ditalenin. Tapi rumahnya dia kan? Motor dia kan? Yang masak siapa? Dia kan? Yang bayar semuanya dia kan? Terus lo ngapain?"

Adea tidak bisa menjawab.

Matanya mulai panas.

Bukan karena marah. Tapi karena ia sadar. Mlungkin teman-temannya hanya bercanda, hanya bergosip seperti mahasiswa biasa. Tapi ada kebenaran pahit di dalam candaan itu.

Selama ini, apa yang ia berikan untuk Angga?

Apa?

"Ya udah, kita ke kantin dulu ya, Dea. Lu makan tuh rotinya jangan diremas-remas."

Ketiga gadis itu pergi. Tertawa-tawa kecil. Meninggalkan Adea sendirian di bangku taman.

Roti di tangannya sudah hancur.

Air mata jatuh.

Setetes. Dua tetes. Lalu banyak.

Adea menunduk, rambutnya menutupi wajahnya. Ia tidak ingin ada yang melihat. Ia tidak ingin ada yang tahu bahwa ia menangis karena pertanyaan sederhana: lo ngapain?

Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan.

Tapi air mata terus jatuh.

---

"Thony, lu ada di mana?"

Thony, cowok berbadan tambun dengan rambut keriting khas anak kedokteran yang kurang tidur, sedang bersandar di tembok lorong dekat ruang praktikum. Ponselnya menempel di telinga.

"Di kampus, Angga. Lagi istirahat. Kenapa?"

"Lo tadi bilang Adea kenapa?"

Thony melirik ke arah bangku taman. Dari kejauhan, ia bisa melihat sosok kecil dengan ransel merah muda sedang duduk sendirian. Kepala menunduk. Bahu bergetar.

"Cewe lo, nangis."

Suara Angga di seberang telepon terdengar berubah. Tidak panik. Tapi ada sesuatu yang mengeras.

"Kenapa?"

"Gak tau. Tadi temen-temennya pada dateng, ngobrol sebentar, terus mereka pergi. Abis itu dia nangis."

"Lokasi."

"Bangku taman dekat gedung kedokteran. Yang dekat pohon mangga."

"Gua tunggu di sini."

"Gue jagain dia sampe lo datang. Cepet."

Thony mematikan panggilan. Ia memasukkan ponsel ke saku jas praktikumnya yang sedikit kusut.

Cowok itu berjalan mendekati Adea perlahan. Tidak ingin mengejutkan.

"Dea."

Adea mengangkat kepala. Matanya merah. Pipinya basah.

"Thony? Lu ngapain di sini? Bukannya lu udah pulang?"

"Pulang bentar lagi. Tapi sebelumnya..." Thony duduk di bangku di sebelah Adea, memberi jarak. "Gue liat lu dari tadi. Lo kenapa?"

"Gak kenapa-kenapa. Debu masuk mata."

"Debu masuk mata dua-duanya?"

Adea tidak menjawab.

Thony menghela napas. Ia bukan tipe cowok yang jago merayu atau pandai bicara. Tapi ia kenal Angga. Ia kenal Adea. Dan ia tahu hubungan mereka bukan sekadar teman biasa.

"Gue udah telpon Angga," ucap Thony pelan.

Adea menoleh cepat. Matanya membelalak.

"Lo APAIN-"

"Dia lagi di jalan. Bakal ke sini."

"GUE GAK MINTA LO TELPON DIA!"

"Lo gak minta. Tapi gue liat lo nangis, dan gue tau cuma satu orang yang bisa bikin lo berhenti nangis."

Adea terdiam.

Ia menunduk lagi. Tangannya meremas ujung rok.

"Gue gak mau dia liat gue kayak gini," bisiknya.

"Terlambat. Gue udah bilang dia."

"THONEEYYY~ BANGSAD LU!"

"Iya. Gue bangsad. Tapi lo nangis, Dea. Lo gak pernah nangis. Lo orang paling ceria se-fakultas. Jadi kalo sampe lo nangis di bangku taman sendirian, itu berarti ada yang serius."

Adea tidak bisa membantah.

Ia hanya diam. Menunggu.

---

Tujuh menit kemudian.

Suara motor terdengar dari kejauhan. Bukan motor biasa. Suara khas Kawasaki Ninja dengan knalpot yang sedikit dimodifikasi.

Thony berdiri dari bangku.

"Udah, gue cabut dulu. Lo berdua aja."

"Thony-"

"Ya?"

Adea menggigit bibirnya. "Makasih."

Thony tersenyum. "Sama-sama. Bilang ke Angga, dia utang gue sebungkus rokok."

Cowok itu berjalan cepat meninggalkan taman, tepat sebelum motor hitam itu berhenti di depan gerbang gedung kedokteran.

Angga turun tanpa mematikan mesin.

Helm hitamnya ia lepas, menggantung di stang. Jaket kulitnya masih melekat. Wajahnya tegang bukan marah, tapi khawatir. Matanya langsung mencari.

Dan menemukan.

Adea duduk di bangku taman. Sendirian. Wajahnya menunduk, tapi Angga bisa melihat dari kejauhan pipinya basah.

Ia berjalan mendekat. Langkahnya cepat tapi tidak terburu-buru. Ia berhenti tepat di depan Adea.

"Dea."

Adea tidak mengangkat kepalanya.

Angga jongkok. Ia menunduk, mencari wajah Adea dari bawah. Matanya bertemu dengan mata gadis itu. Merah, sembab, masih berkaca-kaca.

"Kenapa?" tanyanya pelan.

Adea menggeleng. "Gak kenapa-kenapa."

"Mata lu bengkak. Hidung lu merah. Itu namanya nangis, bukan gak kenapa-kenapa."

Adea diam.

Angga duduk di sampingnya. Di bangku yang sama. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.

"Gue gak maksa," ucapnya. "Tapi kalo lu mau cerita, gue dengerin."

Adea memeluk boneka panda yang tiba-tiba muncul? Tidak. Ia tidak membawa boneka. Yang ia peluk adalah dirinya sendiri. Tangannya melingkar di tubuhnya sendiri, seperti sedang berusaha menahan sesuatu agar tidak pecah.

"Angga," bisiknya.

"Hmm."

"Apa gue cuma numpang di rumah lo?"

Angga menoleh. Matanya menyipit.

"Siapa yang bilang gitu?"

"Bukan siapa-siapa. Gue cuma... mikir." Adea menarik napas panjang. "Rumah itu punya lo. Motor itu punya lo. Lo yang masak, lo yang bayar semuanya. Gue cuma... ada di sana. Kayak..."

"Kayak apa?"

"Kayak... beban."

Angga tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia berdiri.

Lalu ia menarik tangan Adea kasar, tapi lembut memaksa gadis itu berdiri di hadapannya.

"Dengerin," ucapnya, menatap lurus ke mata Adea. "Rumah itu gue beli bukan buat gue. Gue beli buat kita. Motor itu gue pake bukan buat gue. Gue pake buat jemput lu. Gue masak bukan buat gue. Gue masak buat lu makan. Semua yang gue lakuin, Adea Kara, tujuannya satu."

Ia berhenti. Napasnya berat.

"Buat lu."

Adea terdiam. Air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini bukan karena sedih.

"Tapi gue gak pernah ngasih apa-apa buat lo, Angga. Gue cuma... ada."

"Itu cukup."

"Gak cukup."

"Cukup."

"Gak-"

"Adea." Angga memegang kedua bahu gadis itu, jari-jarinya menekan lembut. "Keberadaan lu di rumah itu, senyum lu setiap pagi, teriakan lu pas nonton film horor, cara lu nyiram bunga sambil ngomong sendiri, cara lu manggil Cumi, cara lu ngeluh tentang dosen, cara lu makan nasi goreng pake tangan-"

Ia berhenti.

"-itu semua lebih dari cukup."

Adea tidak bisa berkata apa-apa.

Ia hanya menangis. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak malu menangis di depan Angga.

---

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!