Di dunia di mana takdir ditentukan oleh kemurnian akar spiritual, Wang Tian terlahir sebagai kutukan. Memiliki lima elemen dasar yang saling bertabrakan, ia dicap sebagai "sampah abadi" dan dibuang ke Perpustakaan Terlarang yang terlupakan. Namun, di balik debu sejarah, ia menemukan Sutra Kaisar Sembilan Unsur—sebuah teknik terlarang yang mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemurnian, melainkan dari kekacauan primordial.
Demi mengubah nasib, Wang Tian menempuh jalan yang diharamkan: menghancurkan pusat energinya sendiri untuk membangun Pusaran Primordial yang mampu melahap segala elemen alam semesta. Dari murid pelayan yang dihina, ia bangkit menjadi anomali yang mengguncang tatanan langit.
Perjalanannya penuh darah dan pengkhianatan. Ia harus menyembunyikan kekuatannya dari 12 Klan Kuno yang angkuh dan 4 Sekte Penguasa Arah Angin yang mengincarnya sebagai ancaman dunia. Di tengah pelariannya, ia dipertemukan dengan empat wanita luar biasa—termasuk sang Ratu Kegela
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abai Shaden, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Kidung Kematian di Lembah Naga
Badai pasir yang menelan Kota Terlarang Kuno perlahan mereda di kejauhan, menyisakan keheningan yang menyesakkan di cakrawala Gurun Kematian. Wang Tian berjalan dengan langkah yang tak lagi menyentuh butiran pasir; kakinya seolah berpijak pada lapisan udara tipis, sebuah manifestasi dari Hukum Ruang yang mulai ia serap dari Kitab Sembilan Segel. Di belakangnya, Lin Xuelan, Sui Ren, dan Mora mengikuti dengan tatapan yang penuh campuran rasa hormat dan kekhawatiran. Mereka bisa merasakan bahwa pemuda di depan mereka bukan lagi sekadar kultivator berbakat—ia mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih purba, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya.
"Kita hampir sampai di perbatasan utara gurun," ucap Lin Xia, yang memimpin di barisan paling belakang. Matanya yang tajam menatap ke arah pegunungan hitam yang puncaknya tertutup awan petir abadi. "Di balik gunung itu terletak Lembah Naga Terlupakan. Tempat di mana energi elemen kayu dan petir bertabrakan, menciptakan ekosistem yang bisa membunuh kultivator Nascent Soul dalam hitungan menit."
Wang Tian menghentikan langkahnya sejenak. Ia membuka gulungan Kitab Sembilan Segel. Huruf-huruf di dalamnya tidak ditulis dengan tinta, melainkan dengan urat saraf naga yang masih berdenyut. "Kitab ini mengatakan bahwa untuk membentuk Senjata Primordial, aku membutuhkan Inti Kehidupan yang murni. Dan inti itu hanya bisa ditemukan di jantung sarang naga yang telah punah."
"Naga?" Sui Ren mendengus, meski tangannya gemetar saat memegang hulu pedangnya. "Bukankah mereka sudah dianggap mitos sejak Perang Langit sepuluh ribu tahun lalu? Klan-klan besar menghabiskan ribuan tahun untuk mencari satu tetes darah naga dan tidak menemukan apa pun."
"Mereka mencari dengan kesombongan," jawab Wang Tian datar. "Naga tidak bersembunyi dari manusia; mereka bersembunyi dari energi yang kotor. Dan lembah di depan kita adalah satu-satunya tempat di mana energi dunia masih murni seperti saat penciptaan."
Penyergapan di Gerbang Tebing Tanduk
Perjalanan mereka terhenti saat mereka memasuki celah sempit yang dikenal sebagai Tebing Tanduk. Tebing ini menjulang tinggi, menyempit hingga hanya cukup untuk dilalui dua orang berdampingan. Udara di sini mulai berubah; aroma belerang dan listrik statis membuat bulu kuduk berdiri.
"Berhenti," Wang Tian mengangkat tangannya.
Dari atas tebing, puluhan bayangan melompat turun dengan kecepatan yang luar biasa. Mereka bukan lagi tentara bayaran kelas teri seperti Sekte Pemburu Langit. Mereka mengenakan jubah putih bersih dengan sulaman awan emas—Pasukan Penegak Hukum Sekte Awan Putih.
Di depan mereka berdiri seorang pria paruh baya dengan pedang panjang yang memancarkan aura es yang membekukan udara sekitarnya. Dia adalah Penatua Han, salah satu dari tiga pendekar pedang terbaik di Sekte Awan Putih, seorang master Ranah Nascent Soul Tahap Menengah.
"Wang Tian," suara Penatua Han terdengar seperti retakan es. "Kau telah mencuri pusaka terlarang, membunuh murid-murid berbakat klan, dan membawa lari putri-putri suci sekte sekutu. Dosamu sudah melampaui pengampunan langit."
Wang Tian menatap pria itu tanpa ekspresi. "Dosaku? Dosaku adalah membiarkan orang-orang seperti kalian tetap bernapas setelah apa yang kalian lakukan pada ibuku dan ribuan orang kecil lainnya. Sekte Awan Putih selalu bicara tentang langit, tapi tangan kalian penuh dengan lumpur."
"Lancang!" Penatua Han menghunus pedangnya. "Hari ini, aku akan mencabut akar spiritualmu dan menyeret mayatmu kembali ke gunung untuk dipajang sebagai peringatan!"
Tarian Kematian Primordial
Penatua Han bergerak secepat kilat. Teknik pedangnya, "Sembilan Musim Dingin Abadi", menciptakan badai salju yang tajam di dalam celah tebing. Setiap kepingan salju adalah bilah energi yang mampu menembus perisai baja.
"Xuelan, Sui Ren, Mora—mundur!" perintah Wang Tian.
Wang Tian tidak menghindar. Ia memejamkan matanya, merasakan aliran energi primordial yang kini menyatu dengan detak jantungnya. Saat pedang Penatua Han hampir menyentuh lehernya, Wang Tian melakukan gerakan yang sangat lambat namun efektif. Ia menangkap bilah pedang es itu dengan dua jarinya.
KRAK!
Pedang tingkat tinggi yang ditempa dari es abadi itu retak seketika di bawah jepitan jari Wang Tian.
"Apa?!" Penatua Han terbelalak. "Bagaimana mungkin tubuh fisikmu bisa menahan pedangku?!"
"Karena pedangmu hanya mewakili hukum musim dingin manusia," ucap Wang Tian dingin. "Sedangkan aku... adalah hukum yang menciptakan musim dingin itu sendiri."
Wang Tian melepaskan Tinju Kehampaan. Pukulan itu tidak mengeluarkan suara, namun saat tinjunya mendarat di dada Penatua Han, seluruh energi es di tubuh penatua itu mendadak berbalik arah, membekukan darah dan organ dalamnya sendiri dalam hitungan detik.
Penatua Han terlempar menghantam dinding tebing, tubuhnya hancur menjadi serpihan es sebelum sempat menyentuh tanah.
Pasukan penegak hukum yang lain tertegun. Pemimpin mereka, seorang master Nascent Soul, dibunuh hanya dalam dua gerakan oleh seorang pemuda yang secara teknis masih berada di Ranah Fondasi.
"Serang dia bersama-sama! Jangan beri dia ruang!" teriak salah satu murid elit.
Puluhan murid Awan Putih membentuk Formasi Pedang Langit. Mereka melayang di udara, menciptakan jaring cahaya yang mematikan. Namun, bagi Wang Tian, ini hanyalah latihan sasaran.
Ia memanggil elemen Petir Primordial. Berbeda dengan petir kuning biasa, petir Wang Tian berwarna ungu tua yang pekat. Ia melambaikan tangannya ke langit, dan seolah-olah merespons panggilannya, awan badai di atas lembah naga menyambar turun, menyatu dengan energinya.
"Hujan Penghakiman," bisik Wang Tian.
Ribuan jarum petir jatuh dari langit, mengejar setiap murid Sekte Awan Putih dengan akurasi yang menakutkan. Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Dalam hitungan detik, Tebing Tanduk dipenuhi dengan bau daging terbakar dan rintihan kematian.
Mora, yang biasanya haus darah, hanya bisa menelan ludah melihat pemandangan itu. "Dia tidak lagi bertarung... dia sedang memanen nyawa."
Memasuki Lembah Naga
Setelah membersihkan jalur dari para pengejar, mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai di mulut Lembah Naga Terlupakan. Pemandangannya sungguh luar biasa. Pohon-pohon di sini tingginya mencapai ratusan meter, dengan batang yang bercahaya hijau emerald. Akar-akar mereka meliuk-liuk di atas tanah seperti ular raksasa, dan di sela-sela dahan, percikan listrik statis melonjak dari satu pohon ke pohon lainnya.
"Energi kayu di sini sangat padat," ucap Lin Xuelan, yang memiliki afinitas elemen air dan kayu. "Rasanya seperti paru-paruku sedang dicuci oleh kehidupan itu sendiri."
"Namun, di balik kehidupan ini, ada kematian yang mengintai," sambung Lin Xia. "Lembah ini dilindungi oleh Napas Naga Purba. Siapa pun yang memiliki niat jahat atau hati yang lemah akan langsung berubah menjadi pohon di tempat ini."
Mereka berjalan masuk lebih dalam. Wang Tian merasakan tarikan yang sangat kuat dari arah jantung lembah. Pusaran Primordialnya berputar dengan kegembiraan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Tiba-tiba, tanah bergetar. Sebuah raungan yang seolah-olah berasal dari perut bumi bergema, merontokkan dedaunan kristal dari pohon-pohon raksasa.
"Itu bukan raungan hewan biasa," ucap Wang Tian, matanya berkilat. "Itu adalah panggilan."
Di depan mereka, sebuah danau yang airnya berwarna emas cair terbentang luas. Di tengah danau itu terdapat sebuah pulau kecil yang dihuni oleh satu pohon tunggal yang daunnya terbuat dari api putih. Di bawah pohon itu, melingkar sebuah kerangka raksasa yang masih memancarkan aura keemasan yang luar biasa.
"Makam Naga Emas," bisik Lin Xia dengan nada hormat yang jarang ia tunjukkan.
Wang Tian melangkah menuju danau. Saat kakinya menyentuh air emas itu, ia tidak tenggelam. Air itu justru mengeras membentuk jembatan kristal di bawah kakinya.
Namun, sebelum ia mencapai pulau, sesosok bayangan besar muncul dari dalam air. Itu adalah seekor Ular Naga Langit—makhluk yang telah hidup selama ribuan tahun dengan memakan sisa-sisa energi naga. Tubuhnya tertutup sisik yang sekeras berlian, dan matanya memancarkan kecerdasan yang jahat.
"Manusia... kau membawa aroma Kitab Sembilan Segel," ular naga itu berbicara dalam bahasa jiwa. "Berikan kitab itu padaku, dan aku akan membiarkan wanitamu hidup sebagai budakku. Tolak, dan danau ini akan menjadi makam bagi kalian semua."
Wang Tian tidak berhenti melangkah. "Budak? Kau hanya seekor cacing yang bermimpi menjadi naga. Kau telah memakan sisa-sisa energi naga ini, tapi kau tidak pernah memahami esensinya."
Ular naga itu marah. Ia membuka mulutnya, menyemburkan racun hijau yang sangat korosif. Wang Tian hanya mengangkat tangannya, memanggil elemen Logam Primordial. Sebuah perisai abu-abu yang luas terbentuk, menangkis racun itu dengan mudah.
"Mora, Sui Ren, Xuelan—ini adalah ujian kalian," ucap Wang Tian tiba-tiba. "Kalian telah bersamaku melalui badai, tapi jika kalian ingin tetap di sampingku saat aku naik ke langit, kalian harus mampu membunuh makhluk setingkat ini. Aku akan menekan aura tekanannya, tapi sisanya adalah milik kalian."
Wang Tian melepaskan gelombang energi yang menekan aura spiritual ular naga itu hingga turun ke Ranah Fondasi Puncak, setingkat dengan ketiga gadis tersebut.
Mora tersenyum lebar, sabitnya bersinar ungu gelap. "Akhirnya, aku mulai merasa bosan melihatmu melakukan semua pekerjaan kotor, Wang Tian!"
Sui Ren menghunus pedang peraknya. "Angin Barat tidak akan pernah kalah dari seekor ular!"
Lin Xuelan menggenggam tongkat airnya, matanya penuh determinasi. "Aku akan membuktikan bahwa aku bukan hanya beban bagimu."
Pertempuran Tiga Istri
Pertempuran pecah di tepi danau emas. Mora bergerak seperti bayangan, menebas sisik ular naga itu dari sudut yang tak terduga. Meskipun sisiknya keras, sabit Mora dilapisi oleh energi penghancur jiwa yang ia pelajari secara diam-diam.
Sui Ren menciptakan ribuan pedang angin yang menyerang mata dan bagian sensitif ular tersebut. Ia bergerak dengan kecepatan yang bahkan membuat ular naga itu kesulitan untuk memfokuskan serangannya.
Sementara itu, Lin Xuelan berperan sebagai jangkar. Ia menggunakan elemen air untuk mengikat gerakan ekor ular naga, dan setiap kali Mora atau Sui Ren terluka ringan, ia segera mengirimkan energi kayu untuk menyembuhkan mereka secara instan.
Wang Tian berdiri di tengah danau, mengamati pertempuran itu dengan tangan terlipat. Ia tidak hanya melihat kekuatan fisik mereka, tetapi juga bagaimana mereka mulai bekerja sama dengan harmonis. Inilah fondasi dari faksi yang ingin ia bangun.
Setelah satu jam pertempuran yang sengit, ular naga itu akhirnya mulai kelelahan. Mora melompat tinggi ke udara, sabitnya memanjang dengan energi ungu yang pekat.
"Tebasan Bayangan Akhir!"
Sabit itu menembus tepat di jantung ular naga. Di saat yang sama, Sui Ren menusukkan pedangnya ke otaknya melalui lubang mata, dan Lin Xuelan membekukan seluruh darah di tubuh ular tersebut menggunakan elemen air dingin.
Ular naga itu jatuh dengan suara dentuman besar, air emas danau memuncrat tinggi.
"Bagus," ucap Wang Tian sambil mendarat di samping mereka. Ia memberikan masing-masing dari mereka sebuah pil pemulihan tingkat tinggi. "Kalian telah membuktikan bahwa kalian layak untuk berdiri di puncak bersamaku."
Rahasia di Balik Pohon Api Putih
Wang Tian kemudian melanjutkan langkahnya ke pulau kecil di tengah danau. Ia sampai di depan kerangka Naga Emas. Di bawah pohon api putih, terdapat sebuah telur naga yang telah membatu, namun di dalamnya, masih ada titik cahaya yang berdenyut lemah.
Inilah Inti Kehidupan Naga.
Saat Wang Tian menyentuh telur itu, sebuah visi masa lalu membanjiri pikirannya. Ia melihat bagaimana naga-naga dikhianati oleh para kaisar langit purba. Ia merasakan kemarahan, kesedihan, dan kerinduan naga terakhir untuk membalas dendam.
"Aku akan membawa keinginanmu," bisik Wang Tian. "Darahmu akan mengalir dalam senjataku, dan namamu akan ditakuti kembali oleh mereka yang berada di atas awan."
Wang Tian menggunakan teknik dari Kitab Sembilan Segel. Ia mulai mengekstraksi inti naga tersebut, menggabungkannya dengan energi primordialnya sendiri. Proses ini menciptakan pusaran energi raksasa di tengah lembah, menarik semua elemen kayu dan petir di sekitarnya.
Cahaya menyilaukan meledak dari pulau itu. Saat cahaya meredup, di tangan Wang Tian kini terdapat sebuah pedang yang sangat unik. Bilahnya transparan seperti kristal, namun di dalamnya mengalir cairan emas naga yang berdenyut. Gagangnya terbuat dari tulang naga purba, dan di atasnya terdapat sembilan lubang kecil untuk menampung sembilan elemen.
Inilah Pedang Primordial: Dragon’s Wrath (Murka Naga).
Wang Tian mengayunkan pedang itu ke arah gunung di kejauhan. Hanya dengan satu ayunan ringan tanpa menggunakan Qi yang besar, puncak gunung itu terbelah menjadi dua secara bersih.
"Senjata yang bagus," gumam Wang Tian.
Namun, di tengah kemenangannya, Lin Xia mendekat dengan wajah yang sangat serius. "Wang Tian, kita harus segera pergi. Penatua Han yang kau bunuh tadi... dia berhasil mengirimkan sinyal transmisi terakhirnya. Seluruh faksi utama dari 12 Klan Kuno dan 4 Sekte Penguasa kini telah bersatu. Mereka sedang menuju ke sini dengan armada kapal perang udara. Ini bukan lagi pengejaran... ini adalah invasi penuh."
Wang Tian menatap pedang barunya, lalu menatap langit yang mulai dipenuhi oleh titik-titik cahaya dari kapal-kapal perang klan.
"Biarkan mereka datang," ucap Wang Tian, suaranya tenang namun mengandung otoritas yang bisa menggetarkan jiwa. "Aku baru saja mendapatkan pedang baru. Aku butuh darah para kaisar itu untuk mengasahnya."
Mora tertawa kecil, Sui Ren bersiap, dan Lin Xuelan berdiri tegak di samping Wang Tian. Di Lembah Naga Terlupakan yang menjadi saksi kepunahan naga di masa lalu, hari ini akan menjadi saksi kebangkitan kaisar baru yang akan menelan seluruh langit.
Statistik Bab 18:
Karakter: Wang Tian, Lin Xuelan, Sui Ren, Mora, Lin Xia, Penatua Han (Tewas), Ular Naga (Tewas).
Lokasi: Lembah Naga Terlupakan - Danau Emas.
Pencapaian: Membunuh master Nascent Soul, Mendapatkan Pedang Primordial: Dragon’s Wrath.
Status Kultivasi: Wang Tian (Fondasi Puncak - Kekuatan tempur setara Nascent Soul Akhir), Istri-istri (Mencapai Fondasi Akhir).
Konsekuensi: Koalisi seluruh klan kuno telah terbentuk untuk menyerang Lembah Naga.
jalur kultivasi lebih panjang,adegan baku hantam,,,,tar kita bikin dia berdarah