Langit Elarion tidak pernah benar-benar diam.
Ia bernapas.
Bukan seperti makhluk hidup—tidak dengan paru-paru atau denyut nadi—melainkan dengan ritme kosmik yang tak terlihat, gelombang halus yang mengalir di antara bintang-bintang seperti bisikan yang terlalu tua untuk diingat. Warna ungu kebiruan yang membentang di ufuk fajar bukan sekadar fenomena cahaya, melainkan residu dari hukum-hukum yang terus menulis ulang dirinya sendiri, detik demi detik, tanpa pernah berhenti.
Di dunia manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vi nhnựg nười Nĩóđs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: HARMONI YANG BARU
Istana Celestia yang selama bertahun-tahun terbungkus kesedihan dan kebisuan yang berat, kini seolah bernapas kembali.
Cahaya Myrrha yang kembali bersinar tidak hanya menerangi lorong-lorong kristal dan taman-taman surgawi, tetapi juga menerangi hati setiap penghuninya. Bayangan hitam peristiwa masa lalu yang pernah menggantung di atas mereka seolah telah sirna sepenuhnya, digantikan oleh pelangi harapan yang lebih indah.
Di Aula Besar Istana, sebuah perjamuan suci diadakan. Bukan perjamuan untuk merayakan kemenangan atas musuh, melainkan perjamuan syukur atas kembalinya satu bagian jiwa yang hilang.
Meja bundar megah tempat kesembilan Seraph duduk kini kembali penuh.
Di sana duduk Altharion dengan wibawanya, Elyndra dengan kehangatannya, Kaelthar dengan ketangguhannya, dan yang lainnya. Dan di tempat kehormatan yang paling bersinar, duduklah Myrrha.
Namun, meski wujudnya telah kembali sempurna, ada sesuatu yang berbeda dari dirinya.
Ia tidak lagi hanya Myrrha sang Dewi Cahaya dan Kasih Sayang. Di dalam dirinya kini mengalir juga pengalaman, kepolosan, dan ketulusan Lira sang gadis desa. Ia membawa serta aroma tanah dan rumput liar, membawa serta pemahaman tentang betapa berharganya kehidupan yang sederhana.
Perpaduan itu membuatnya menjadi sosok yang utuh. Lebih bijaksana, lebih lembut, namun juga jauh lebih kuat.
“Kau tahu, Myrrha,” kata Elyndra sambil menuangkan nektar suci ke dalam piala kristal sahabatnya. Wajahnya berseri-seri, tidak ada lagi jejak air mata kesedihan di sana. “Selama kau pergi, kami semua berjanji untuk mengubah cara kami memerintah.”
Myrrha menoleh, tersenyum mendengar itu. “Oh? Mengubah cara bagaimana?”
“Dulu kami terlalu sombong,” sahut Seraphel dari seberang meja, tertawa kecil namun penuh penyesalan. “Kami pikir kami adalah hukum yang tak terbantahkan. Kami pikir dunia di bawah sana hanyalah mainan yang bisa kami atur sesuka hati.”
“Tapi kau mengajarkan kami,” potong Altharion dengan suara berat dan penuh hormat, “Bahwa kekuatan terbesar bukanlah terletak pada kemampuan untuk menghancurkan atau memerintah, tapi pada kemampuan untuk mencintai dan mengorbankan diri.”
Myrrha menatap mereka satu per satu. Hatinya dipenuhi rasa hangat yang luar biasa.
“Aku tidak mengajarkan apa-apa,” jawabnya lembut. “Aku hanya melakukan apa yang hati kecilku katakan. Dan lihatlah sekarang… kita semua ada di sini. Kita utuh kembali.”
Namun di tengah suasana gembira itu, mata Myrrha mencari satu sosok.
Di sudut aula, agak terpisah dari kerumunan yang lain, berdiri Nyxarion. Ia tidak duduk di meja utama. Ia tidak ikut tertawa atau bersorak. Ia hanya berdiri mematung di balik bayangan pilar besar, menatap api unggun energi suci yang menyala di tengah aula dengan tatapan yang sulit diartikan.
Meskipun ia telah membantu Lira sampai ke sini, meskipun ia telah mengakui kesalahannya, bayangan masa lalunya masih terlalu gelap. Para Seraph lainnya masih sulit untuk sepenuhnya mempercayainya kembali.
Myrrha berdiri.
Dengan gerakan anggun, ia berjalan menyeberangi lantai aula yang berkilauan. Langkah kakinya tidak mengeluarkan suara, namun semua mata tertuju padanya.
Ia berhenti tepat di hadapan Nyxarion.
Pria itu menunduk, seolah tidak berani menatap wajah tuannya yang bersinar terang itu.
“Aku tahu aku tidak pantas berada di sini,” bisik Nyxarion pelan, suaranya serak. “Aku yang membuka gerbang bagi kehancuran. Aku yang meragukan kalian. Biarkan aku kembali ke kegelapan tempatku berasal.”
Myrrha menggeleng pelan.
Ia mengulurkan tangannya yang bersinar ke depan, tepat di hadapan wajah Nyxarion.
“Tidak,” kata Myrrha tegas namun lembut. “Kegelapan juga bagian dari langit, Nyxarion. Tanpa malam, siang tidak akan terasa begitu berharga. Tanpa kesedihan, kebahagiaan tidak akan terasa begitu manis.”
Ia menatap mata tajam itu dalam-dalam.
“Kau bukan musuh kami. Kau hanyalah saudara yang tersesat jalan. Dan kau juga yang membantuku pulang. Hutang budi itu tidak akan kulupakan.”
Nyxarion membelalakkan matanya. Ia tidak menyangka akan diterima dengan tangan terbuka selebar ini. Hati dinginnya yang selama ini tertutup tembusan es, seketika luluh oleh kehangatan cahaya Myrrha.
“Myrrha…”
“Ayo,” ajak Myrrha sambil tersenyum, menarik tangan Nyxarion yang dingin itu. “Duduklah bersama kami. Karena kesembilan kita adalah satu. Langit tidak akan sempurna jika salah satu warna pelangi itu hilang.”
Dengan langkah yang gemetar namun penuh rasa syukur, Nyxarion membiarkan dirinya dituntun kembali ke meja bundar.
Saat ia duduk di tempatnya yang semula kosong dan dingin, sebuah ledakan energi terjadi.
Cahaya dari delapan Seraph lainnya bersatu dengan kegelapan elegan dari Nyxarion, dan semuanya dilingkupi oleh cahaya emas terang dari Myrrha.
Sebuah lingkaran sempurna terbentuk.
Harmoni.
Keseimbangan yang sesungguhnya akhirnya tercapai setelah ribuan tahun berjalan. Tidak ada lagi konflik, tidak ada lagi perpecahan. Mereka memahami bahwa perbedaan sifat dan kekuatan bukanlah alasan untuk berperang, melainkan alasan untuk saling melengkapi.
Di luar istana, langit berwarna ungu kebiruan itu tampak lebih hidup dari sebelumnya. Bintang-bintang berkelap-kelip dengan irama yang lebih indah, seolah-olah mereka juga ikut bernyanyi menyambut kedamaian baru ini.
Myrrha menatap ke bawah, menembus lapisan awan tebal, menatap dunia fana di mana ia pernah menjadi Lira. Ia bisa merasakan kehadiran Bunda Mira yang sedang berdoa untuknya di kejauhan.
“Aku akan kembali,” bisik Myrrha dalam hati. “Suatu hari nanti, aku akan turun lagi berjalan di antara manusia, karena di sanalah aku belajar arti menjadi hidup.”
Namun untuk saat ini, ia ada di tempat yang seharusnya.
Perjalanan panjang gadis kecil berambut merah muda telah usai. Misteri tentang ingatan yang hilang telah terjawab. Bahaya yang mengancam telah diredam oleh cinta dan pengampunan.
Bab ini telah ditutup dengan indah.
Dunia aman. Langit utuh. Dan keluarga itu telah utuh kembali.