NovelToon NovelToon
Ramalan Cinta Yang Terkunci

Ramalan Cinta Yang Terkunci

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi Wanita / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:437
Nilai: 5
Nama Author: Jasmine Oke

Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI

Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.

~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~

Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.

▪︎Objek Utama:

- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.

- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).

- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.

.
.
.
.
.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Pencurian dan Jejak yang Tertinggal

Malam itu, bulan bersinar terang menerangi kota Lunaria yang sedang bersiap menyambut hari bahagia. Suasana tenang dan damai menyelimuti setiap sudut kota. Di Kedai Bintang Jatuh, semua orang sudah terlelap setelah seharian sibuk membicarakan detail pernikahan yang megah nanti.

Namun, ketenangan itu hanyalah topeng. Di balik bayang-bayang semak belukar dan lorong-lorong gelap, gerakan licik sedang terjadi.

Sekelompok penyusup yang menyebut diri mereka "Penjaga Kemurnian Lama" sedang merayap mendekati bangunan utama kedai. Mereka berjumlah lima orang, semuanya adalah penyihir tingkat menengah yang memiliki keahlian khusus dalam siluman dan penghilang jejak.

"Tenang... detektor sihir mereka sedang dimatikan sementara untuk persiapan pesta," bisik pemimpin mereka, pria yang wajahnya tertutup saputangan itu. "Kita punya waktu tepat lima menit sebelum sistem menyala kembali."

Mereka menggunakan sihir Jubah Bayangan, membuat tubuh mereka nyaris tak terlihat oleh mata biasa dan sensor sihir tingkat rendah. Dengan hati-hati, mereka memanjat dinding belakang dan masuk melalui jendela lantai atas yang tidak terkunci rapat.

Target mereka jelas: Kamar Elara.

Mereka tahu bahwa Cincin Janji itu disimpan di sana sebelum upacara penyerahan resmi dilakukan. Menurut informasi yang mereka dapat, cincin itu bukan hanya perhiasan, melainkan wadah energi yang menyimpan sebagian besar kekuatan gabungan mereka. Jika mereka bisa mencurinya, atau bahkan menghancurkannya, kekuatan Elara dan Kael akan melemah drastis, dan ikatan jiwa mereka bisa retak.

"Di sana!" tunjuk salah satu anak buahnya.

Di atas meja rias, di bawah cahaya rembulan yang masuk dari jendela, terlihat sebuah kotak kecil berbahan kayu hitam yang dihiasi ukiran perak. Di dalamnya, terasa getaran energi yang sangat halus namun mendalam. Itulah dia.

Pemimpin kelompok itu tersenyum licik. Ia mengulurkan tangannya perlahan, takut membuat suara sedikitpun. Tangannya sudah hampir menyentuh kotak itu...

STOP!

Tiba-tiba, sebuah aura dingin menyergap seluruh ruangan. Bukan aura Elara atau Kael, tapi aura dari sebuah benda pelindung yang ditinggalkan oleh Sang Pencipta sendiri.

BZZZTT!

Lampu-lampu kristal di seluruh kamar meledak menyala terang secara otomatis! Sistem pertahanan otomatis teraktifasi!

"Sial! Cepat ambil dan lari!" teriak pemimpin itu panik.

Ia menyambar kotak itu dan memasukkannya ke dalam jubahnya. Kelima orang itu langsung melompat keluar jendela dan lari sekencang-kencangnya menuju hutan di belakang kedai.

WUUUUNG! WUUUUNG!

Sirene peringatan berbunyi nyaring memecah keheningan malam.

Di dalam kamar utama, Kael dan Elara terbangun seketika. Mata mereka terbuka lebar. Jantung mereka berdegup kencang karena rasa bahaya yang tiba-tiba muncul.

"Cincin itu!" seru Kael.

Mereka berdua langsung melesat ke ruangan tempat penyimpanan. Saat sampai di sana, mereka melihat meja rias yang kosong melompong. Kotak itu hilang.

Wajah Kael berubah gelap seketika. Aura mengerikan mulai memancar dari tubuhnya. Untuk pertama kalinya sejak kembali dari Elysium, ia benar-benar marah.

"Berani-beraninya mereka menyentuh barang kita..." gergam Kael, suaranya rendah dan penuh bahaya. "Mereka pikir mereka bisa lari?"

"Tenang, Kael," Elara memegang lengan suaminya, matanya juga bersinar tajam. "Jangan biarkan amarah menguasaimu. Tapi... biarkan mereka merasakan balasannya."

Elara menunduk melihat lantai. Di sana, tertinggal sebuah butiran kecil debu berwarna hijau kebasaan.

"Itu debu Shadow Moss," kata Elara mengenali. "Tumbuh hanya di daerah Rawa Terlarang di sebelah barat. Dan lihat jejak energinya..."

Elara mengibaskan tangannya di udara. Sebuah jalur cahaya tipis muncul, memperlihatkan arah lari para pencuri itu.

"Mereka tidak pergi jauh. Mereka bersembunyi tidak lebih dari sepuluh kilometer dari sini," kata Elara dingin.

"Kalau begitu, ayo kita jemput mereka," kata Kael. Matanya memancarkan kilatan merah yang menakutkan. "Ajar mereka sopan santun."

Mereka tidak memanggil pasukan atau siapa pun. Ini masalah pribadi. Ini penghinaan terhadap ikatan mereka.

Dengan kecepatan kilat, Kael dan Elara melesat keluar dari kedai, mengikuti jejak energi yang tertinggal di udara.

Di sebuah gua tersembunyi di tengah hutan lebat, kelompok pencuri itu baru saja sampai. Mereka terlihat sangat gembira dan tertawa terbahak-bahak.

"Kita berhasil! Kita berhasil mencurinya!" teriak salah satu dari mereka. "Raja dan Ratu mereka tidak tahu apa-apa!"

Pemimpinnya membuka kotak itu dengan tangan gemetar karena kegirangan. Di dalamnya, dua cincin itu berkilau indah.

"Hahaha! Akhirnya! Kekuatan ini akan menjadi milik kita! Kita akan menjadi penguasa baru Lunaria!" seru pria itu sambil mengangkat cincin itu tinggi-tinggi, bersiap memakainya di jarinya sendiri.

"Jangan sentuh itu!" tiba-tiba sebuah suara bergema dari mulut gua.

Suara itu tenang, namun membuat darah di tubuh mereka berhenti mengalir seketika.

Mereka menoleh dengan kaget. Di pintu masuk gua, berdiri dua sosok yang memancarkan aura kematian. Elara berdiri dengan wajah datar tanpa ekspresi, sementara Kael... wajahnya sedingin es.

"K-Kau...!" mata pemimpin pencuri itu membelalak. "Bagaimana bisa kalian menemukan kami secepat ini?!"

"Kalian lupa," jawab Kael sambil berjalan perlahan mendekat. Langkah kakinya membuat bebatuan di bawahnya retak. "Energi yang kalian curi itu adalah bagian dari jiwa kami. Di mana pun ia berada, kami bisa merasakannya. Seperti merasakan tangan dan kaki kami sendiri."

"Berikan kembali cincin itu, dan mungkin kami akan membiarkan kalian hidup dengan hanya kehilangan tangan kanan kalian," kata Elara dengan nada manja namun ancamannya sangat nyata.

"Jangan takut pada mereka!" teriak pemimpin itu panik. "Dia bilang cincin ini punya kekuatan besar! Pakai ini, kita akan lebih kuat dari mereka!"

Ia dengan gegabah memakaikan cincin hitam ke jarinya, dan melemparkan cincin satunya pada rekannya.

"Rasakan kekuatannya!!"

Namun, apa yang terjadi selanjutnya adalah mimpi buruk terburuk mereka.

Saat cincin itu menyentuh jari mereka, bukan kekuatan yang mengalir masuk, melainkan rasa sakit yang luar biasa! Cincin-cincin itu bukan benda mati yang bisa dipakai sembarangan. Mereka memiliki kesadaran sendiri.

ARRRRGGHHHH!!

Mereka berteriak kesakitan. Tubuh mereka mulai membeku, energi dalam tubuh mereka tersedot habis oleh cincin-cincin itu. Cincin-cincin itu tidak mau dikenakan oleh orang lain selain tuan aslinya. Mereka menolak "tangan kotor" ini.

"Panas! Panas sekali! Lepaskan! Lepaskan!"

Mereka berusaha mencabut cincin itu, tapi cincin itu menempel kuat seperti menyatu dengan tulang mereka. Tubuh mereka perlahan mulai mengeras, berubah menjadi patung batu hitam karena ketidakmampuan menampung energi suci tersebut.

"To...long..." bisik pemimpin itu sebelum tubuhnya sepenuhnya menjadi batu.

Dalam hitungan detik, kelima pencuri itu berubah menjadi lima buah patung batu yang mempertahankan ekspresi ketakutan mereka selamanya.

Kael dan Elara berjalan mendekat. Elara mengulurkan tangannya, dan cincin-cincin itu langsung terlepas sendiri dari jari patung batu itu, lalu terbang kembali dengan patuh ke telapak tangan Elara.

"Dasar bodoh," gumam Kael sinis. "Mencoba memakai apa yang bukan haknya."

Elara memandang patung-patung itu dengan tatapan datar. "Biarkan mereka di sini. Sebagai peringatan bagi siapa saja yang berani berkhianat atau mencoba memisahkan kita."

Mereka pun berbalik pergi, meninggalkan gua itu bersama harta mereka yang telah kembali, dan hukuman yang setimpal bagi para pengkhianat.

Malam itu, kedamaian kembali terjamin. Dan rasa cinta serta kepercayaan di antara Elara dan Kael menjadi semakin tak tergoyahkan.

(Bersambung ke Bab 23...)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!