Intan Rasyid sudah terikat pertunangan, tak lama lagi akan melangsungkan pernikahan, tetapi hubungan dari hasil perjodohan itu tak lantas dapat menggeser sebuah nama terukir dalam sanubari selama sepuluh tahun lamanya. Intan mencintai dalam diam pria telah berpunya.
Sampai sosok pria sangat jauh dari kriterianya tiba-tiba hadir, membawa warna baru bagi kehidupan monoton, berhasil menjungkirbalikkan dunianya.
Hal yang semula ia kira sempurna ternyata memiliki banyak kekurangan, membuatnya gamang antara dua pilihan – memutuskan pertunangan yang berarti melibatkan dua keluarga besar, atau mempertimbangkan kegigihan pria tak mengenal lelah mengejar cintanya.
Pada akhirnya, siapa yang akan dipilih oleh Intan, sang tunangan atau malah pria teramat menyebalkan, menurutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku mengecewakan : 30
“Lanira disini, lah tiga hari kabur dari rumah suaminya,” sangat sadar Intan berkata, tidak lagi menunda-nunda hal seharusnya diselesaikan sesegera mungkin.
Seketika suasana kian sunyi, tidak terdengar suara diujung sana. Sementara Lanira sudah bermandikan air mata.
“Kalian sekarang ada di hunian siapa?” itu suara pria terkenal bijaksana – Ikram Rasyid.
“Ikut kami saja. Cepatlah bersiap, sepuluh menit lagi berangkat! Katakan pada mereka jangan ada satupun orang berniat menghindar dengan alasan apapun itu!” Byakta Nugraha tak lagi berkata dengan menggunakan nada ramah, melainkan datar.
Dibelakang pria lanjut usia itu, terlihat bu Nirma menyeka airmata, tidak sanggup memandang siapapun.
“Ayah, hati-hati di jalan. Assalamualaikum.” Intan mematikan sambungan ponsel, paham kalau situasi tidak lagi bisa diajak kompromi.
“Puas kau, puas kau, Intan?!” Kamal menatap datar, terlihat sorot kesal dan juga kecewa pada netra hitamnya.
“Bukankah yang lebih pantas bertanya macam itu adalah aku? Seharusnya kalian berterima kasih pada diri ini, sebab telah sudi memberikan jalan agar tak lagi main kucing-kucingan demi bisa terus berdekatan dengan dalih menolong, berkewajiban membantu, merasa berhak ikut campur, memberikan perlindungan, aslinya cuma mau saling menyelami perasaan kian dalam. Betulkan?” Alisnya naik turun, mata indahnya redup.
Lanira terhuyung, beruntung Rania sigap memeluk pundaknya.
“Kita lah dewasa, sangat memalukan rasanya harus saling menipu demi menjaga perasaan seseorang, sementara hati sudah tahu kemana arah tujuannya. Kamal … mulai detik ini, tak perlu kau berpura-pura menginginkan aku kalau niatmu hanya mau menjadikan diriku sebagai tameng, supaya dirimu bisa terus berada didekat wanita yang kau cinta tanpa dicurigai keluarga besar kita,” ujarnya tegas.
Kamal hendak membantah, tapi langsung dicegah Intan Rasyid. “Dulu, kala masih kanak-kanak kita sering bertengkar, dan aku dapat memaklumi dikarenakan belum cukup umur untuk berpikir dewasa, menilai baik buruknya. Kini tentu berbeda, hal yang diributkan juga bukan lagi soal mainan siapa lebih bagus, uang saku siapa lebih banyak. Namun, ini tentang masa depan, ibadah panjang sebuah pernikahan. Aku memiliki hak penuh dalam menentukan, ya kan?”
Tidak ada yang bisa menjawab, mereka cuma saling pandang dengan ekspresi hampir serupa – sedih, bingung, kesal.
“Kamal Nugraha ….” Intan menarik lepas cincin yang sudah dua tahun lebih tersemat di jari manisnya. Dia maju sampai berdiri tepat di depan pria menatap hampa.
“Tak perlu menunggu para orang tua tiba, detik ini juga aku mundur dari pertunangan yang sebenarnya tak pernah ku yakini akan sampai pada pernikahan. Kamal, maaf, karena aku kau banyak menahan rasa. Kamal … terima kasih pernah menjadi tempat bersandar walaupun aku bukan tempat ternyaman untukmu pulang.” Kepalan tangannya terangkat, lalu jemari membuka dan cincin cantik itu disodorkan.
Sang pria bergeming, tidak tahu harus apa. Pun, saat Intan memasukkan cincin pemberiannya ke saku kaos.
“Sekarang antara kau dan aku sudah tak lagi menjadi kita. Kedepannya jangan lagi sungkan-sungkan bila ingin memperjuangkan apa yang menurutmu benar dan sangat kau inginkan. Tak perlu memandangku, karena kita tidak lebih dari sekadar dua orang pernah tumbuh besar bersama.” Intan tersenyum dengan bibir bergetar, air mata bercucuran.
Sabiya memalingkan wajah, kedua tangannya meremas tunik yang dia kenakan.
“Oh ya … nanti saat kita di sidang para orang tua, jangan lagi pasang badan. Katakan apapun itu kalau menurutmu memang layak untuk diungkapkan. Bela saja seseorang yang kau inginkan bukan butuhkan.” Intan memutuskan pandangan, dia tidak lagi menatap siapa-siapa, melangkah cepat keluar dari halaman tidak berpagar.
Sabiya mengejar sang kakak, malas mau mengatakan sesuatu, karena menurutnya buang-buang energi.
“Naik lah, Kak. Kita tunggu ayah dan lainnya di dekat sini saja. Biya tahu ada taman lumayan sepi,” ia pura-pura tegar padahal ingin sekali memeluk sang kakak seraya menjerit kencang.
Intan duduk di atas jok motor, masih bungkam dan tak ingin melihat para orang yang berdiri di teras.
Tinggallah Kamal Nugraha, Rania, dan Lanira. Hampir bersamaan mereka menghela napas, tidak lama lagi, beberapa jam kedepan, entah apa yang akan terjadi.
***
“Aku tak apa-apa, Biya!” Intan meremas bajunya untuk menyalurkan perasaan menyakitkan dalam hati, enggan menangis lagi.
“Apanya yang tak apa-apa? Kau itu sedang tak baik-baik saja, Kak! Jangan sok tegar, jangan sok merasa paling kuat kalau aslinya sangat rapuh. Nangislah! Bila ingin menjerit maka lakukanlah, tak perlu ditahan-tahan!” Biya menggeram, mengguncang pundak mulai bergetar.
Akhhh!
Runtuh sudah tembok pertahanan Intan, dia menjerit sejadi-jadinya, menangis dalam pelukan sang adik yang mengelus punggungnya.
Taman perumahan tidak jauh dari hunain Nugraha terlihat sepi, sebab masih sekitar jam tiga sore.
“Aku merusak hubungan keluarga kita, Biya. Aku mengecewakan ayah, mamak, serta lainnya. Aku tak bisa menahan keinginan daripada kewajiban. Aku merasa gagal menjadi anak berbakti, Sabiya. Aku berhasil menorehkan luka di hati para orang ku sayangi segenap jiwaku.” Intan meracau sambil memukul-mukul pelan punggung adiknya.
Sabiya memberikan waktu sampai tangis kakaknya berubah sendu sedan tak lagi bersuara sedikit kencang, barulah dia mendorong pundak ringkih itu, menatap sayang wajah memerah.
“Tak ada yang kau kecewakan, Kak. Malah aku salut dirimu bisa bertahan sekian tahun demi menyenangkan hati banyak orang, dan supaya istri dari pria yang kau cintai tidak menaruh curiga.”
Intan terhenyak, menatap lekat netra basah adiknya. “Kau tahu?” tanyanya dengan suara bergetar.
Sabiya tersenyum tipis, menatap nelangsa wajah saudarinya. “Aku punya mata untuk melihat, menangkap gestur gugup setiap kakak berdekatan dengan dia. Punya telinga sehingga sering mendengar kau bermunajat kepada-Nya sambil sesekali menyebutkan nama Danang.”
“Apa kau malu punya kakak macam aku ini, Sabiya? Aku sendiri sangat malu, merasa bodoh sangat, tak berguna,” katanya berupa bisikan.
“Aku tak membenarkan, tak pula menghakimi. Kau tetap salah karena memelihara cinta yang jelas terlarang bagimu sebab dia telah berpunya. Namun, diriku bangga kepadamu, mampu menjaga lisan, anggota gerak sehingga tidak merendahkan diri sendiri demi menarik simpatinya. Kak, kalaupun ada kehidupan selanjutnya … Sabiya tetap mau menjadi adikmu.”
Tangis Intan kembali pecah, dia peluk erat adik perempuannya. “Maafkan aku yang tak bisa menjadi contoh teruntukmu dan Gauzan serta Fayyadh.”
“Siapa bilang? Kau itu kakak terhebat.” Sabiya mengeratkan dekapannya. “Dulu saat ayah hilang selama setahun lebih, dan ditemukan dalam keadaan hilang ingatan. Kak Intan orang paling banyak menanggung beban, menyimpan semua keinginan, berkorban waktu demi merawat aku dan Gauzan. Kakak dah macam ibu kedua bagi kami.”
Kedua gadis itu sama-sama menangis seraya berpelukan. Tanpa kata mereka saling menguatkan, duduk di kursi taman, mengingat kembali kenangan kala di masa sulit ketika masih berumur dibawah sepuluh tahun.
***
Empat jam telah berlalu – iringan mobil mewah memasuki komplek perumahan. Mereka rombongan para orang tua dari kampung Jamur Luobok, tempat tinggal Intan Rasyid dan lainnya.
Brakk!
Seseorang yang baru saja keluar dari dalam mobil, membanting pintu. Langkahnya pasti, kedua tangan mengepal di sisi tubuh.
.
.
Bersambung.
...----------------...
Kakak, terima kasih banyak 🙏
Alhamdulillah retensinya tinggi, dan lulus bab terbaik.
Sekali lagi terima kasih yang sudah berkenan membaca ulang. Baca tertib, dan selalu mengikuti setiap bab serta update terbarunya. Terima kasih, Kak ❤️
Semoga dipenilaian bab 40 nanti juga lolos, biar sampai bab 80 penilaian bab terbaik akhir ... Aamiin 🤲
Maaf kalau sekiranya aku terkesan gimana gitu, tapi jujur ... kalau gagal retensi itu, hilang semangat, dan malas melanjutkan meskipun naskah sudah tersusun rapi.
Bukan tentang hasil, karena pendapatannya tidak sebanding dengan kerja keras, tapi tetap Alhamdulillah. Lebih ke penghargaan atas jerih payah. Kalau gagal, karya kita cuma dianggap angin lalu 🥹
Sekali lagi terima kasih atas kerjasamanya ya, Kak 🙏
...----------------...
tetap semangat ya💪🏻💪🏻💪🏻
luv sekebon Juragan MemamahByak❤
Agam Sidiq : sayang Aku punya kebon lebih besar dr Bang By lo
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Intan : Mama Jumiiiiiiiiiiiiiii., hhuuaaaaaaaaaaaaa
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣