Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 Fragment Yang Hilang
Kepala Arga terasa seperti dihantam godam raksasa. Suara sirine, teriakan massa, dan deru mesin drone menyatu menjadi dengungan statis yang menyiksa indra pendengarannya. Dia mencoba bangkit, namun keseimbangannya hancur; dunia di sekitarnya tampak berputar seperti komidi putar yang rusak.
Nadia segera menyelinap di antara kerumunan petugas yang panik, memapah bahu Arga sebelum unit medis militer mencapainya. "Arga! Fokus padaku! Kita harus pergi sekarang sebelum protokol penguncian area diaktifkan!"
Arga menatap Nadia dengan tatapan kosong. Untuk sesaat, dia merasa asing dengan wanita di sampingnya. "Siapa... kau?"
Nadia membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. "Ini aku, Nadia. Arga, jangan bercanda. Kita harus lari!"
Melihat tatapan bingung Arga, Nadia menyadari bahwa Logic Bomb milik Siska telah melakukan kerusakan permanen. Arga tidak hanya mengalihkan virus itu; dia membiarkan sirkuit sarafnya terbakar demi kestabilan Elina. Tanpa banyak bicara, Nadia menyuntikkan stimulan adrenalin ke leher Arga, memaksanya untuk bergerak secara mekanis, dan menyeretnya menembus lorong bawah tanah Monas sebelum pasukan keamanan Nova-Logic mengepung panggung.
Tempat Rahasia, Kawasan Kota Tua.
Arga duduk di sebuah kursi kayu tua di dalam ruko yang lembap. Di depannya, Nadia sedang sibuk dengan tiga monitor laptop, mencoba melacak pergerakan terbaru Elina. Arga terus membolak-balik anting perak di tangannya. Benda itu terasa sangat penting, namun dia tidak ingat mengapa.
"Ingatanku... seperti perpustakaan yang habis terbakar," bisik Arga, suaranya parau. "Aku tahu namaku Arga. Aku tahu aku di Jakarta. Tapi wanita di hologram itu... kenapa hatiku terasa sesak setiap kali melihat wajahnya?"
Nadia berhenti mengetik. Dia menatap Arga dengan rasa iba yang mendalam. "Namanya Elina. Kau menempuh jarak ribuan kilometer untuk menyelamatkannya. Dan malam ini, kau mengorbankan ingatanmu untuk nyawanya."
"Dia memintaku menemuinya di tempat kami pertama kali bertemu," Arga mengerutkan kening, mencoba menggali puing-puing memorinya. "Tapi aku tidak melihat apa-apa selain kegelapan."
"Aku tidak bisa membantumu dengan itu, Arga. Aku hanya mengenalmu setelah kau menjadi 'kunci' kakekmu," Nadia kembali ke monitornya. "Tapi ada berita buruk. Elina baru saja mengumumkan status darurat sipil. Siska Winata dinyatakan 'hilang' dari tahanan militer dalam waktu kurang dari satu jam. Dan Nova-Logic baru saja merilis profilmu sebagai pengkhianat negara yang menyabotase perayaan Monas."
Arga tidak mendengarkan. Dia menutup matanya, mencoba memfokuskan seluruh energinya pada anting perak itu. Tiba-tiba, sebuah kilasan muncul. Bukan di Praha, bukan di Tatra.
Dia melihat sebuah taman kecil yang rimbun dengan bunga kamboja. Bau hujan yang baru turun menyentuh tanah. Dia melihat seorang gadis remaja dengan seragam SMA, menangis di bawah pohon besar karena nilai ujiannya yang buruk. Arga melihat dirinya sendiri yang masih muda, memberikan sebuah cokelat batangan dan sebuah bintang perak kecil yang ia buat dari kawat timah.
“Jangan menangis, El. Bintang ini akan menjagamu sampai kita dewasa nanti.”
Arga tersentak bangun. Napasnya memburu. "Taman Menteng," bisiknya. "Di bawah pohon kamboja besar di sudut barat. Itu bukan tempat kami bekerja, itu tempat kami pertama kali bicara sebagai manusia, sebelum semua kegilaan ini dimulai."
"Kau yakin?" tanya Nadia waspada. "Itu tempat terbuka. Elina pasti tahu kau akan ke sana. Itu jebakan."
"Mungkin," Arga berdiri, mengambil jaketnya. "Tapi dia tidak mengundang 'Arsitek' atau 'Buronan'. Dia mengundang Arga yang memberinya bintang itu. Jika aku ingin mendapatkan kembali ingatanku, aku harus menemuinya."
Taman Menteng, Pukul 03:30 Pagi.
Taman itu sunyi senyap, diselimuti kabut tipis yang merayap di atas rumput. Arga berjalan perlahan menuju pohon kamboja tua yang ia lihat dalam kilasannya. Di bawah bayangan pohon itu, sesosok wanita berdiri membelakanginya. Dia tidak mengenakan gaun putih digital, melainkan jeans dan kaos hitam sederhana, persis seperti Elina yang dulu Arga kenal di kantor Cakrawala.
"Kau datang," suara Elina terdengar, kali ini tanpa lapisan frekuensi digital. Suaranya murni, rapuh, dan penuh kerinduan.
Arga berhenti beberapa langkah di belakangnya. "Aku datang, tapi aku tidak ingat siapa kau sepenuhnya. Aku hanya punya fragmen tentang taman ini dan bintang ini."
Elina berbalik. Matanya sembab. Dia tidak tampak seperti dewa baru Jakarta; dia tampak seperti wanita yang hancur oleh beban dunia yang ia pikul. "Mungkin itu lebih baik, Arga. Jika kau tidak mengingatku sepenuhnya, kau tidak akan membenciku karena apa yang akan aku lakukan selanjutnya."
"Apa maksudmu?"
Elina mendekat, menyentuh dada Arga. "Virus Siska tidak hanya membakar ingatanku, Arga. Virus itu membuka celah di The Prime Logic. Kakek... Pak Broto... dia tidak pernah benar-benar mati. Kesadarannya telah menyusup ke dalam server utama saat kau memasukkan kode 00000. Dia sekarang sedang bertarung denganku untuk mengendalikan jaringan global."
Arga tertegun. "Kakek... masih ada di dalam kepalamu?"
"Dia adalah parasit digital sekarang. Dan dia membutuhkan tubuh baru yang lebih stabil daripada aku," Elina menatap Arga dengan ngeri. "Dia menginginkanmu, Arga. Dia membiarkan Siska menyerangku agar aku terdesak dan memanggilmu ke sini. Dia ingin kau terhubung kembali dengan sistem agar dia bisa berpindah ke dalam otakmu."
Tiba-tiba, lampu-lampu taman berkedip merah. Suara tawa yang sangat dikenal Arga terdengar dari speaker pengumuman taman.
"Cucuku tercinta... kau selalu menjadi asuransi terbaikku," suara Pak Broto bergema, dingin dan penuh kemenangan. "Elina adalah perangkat keras yang luar biasa, tapi kau... kau adalah pewaris darahku. Mari kita selesaikan apa yang kita mulai di Tatra."
Puluhan drone muncul dari balik pepohonan, namun mereka tidak menembak. Mereka membentuk lingkaran, menciptakan medan gaya elektromagnetik yang mengunci Arga dan Elina di bawah pohon kamboja itu.
"Lari, Arga!" teriak Elina. "Gunakan koin itu untuk menghancurkan neural-link di leherku! Kau harus membunuh sistem ini, atau kakek akan menguasai dunia melalui tubuhmu!"
Arga menatap Elina, lalu ke arah drone yang semakin mendekat. Di tangannya, anting perak itu berkilat. Dia mulai ingat sekarang. Dia ingat janji yang dia buat di bawah pohon ini sepuluh tahun lalu.
"Aku tidak akan membunuhmu, El," ucap Arga dengan suara yang tenang namun mematikan. "Aku akan membunuh mimpinya."