“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34.Tempat tinggal baru.
Kereta kencana berhenti tepat di depan tangga utama Istana Mahkota Avalon. Bangunan megah itu menjulang tinggi, terbuat dari batu marmer putih yang bercahaya dan pilar-pilar kristal yang memantulkan cahaya bulan. Namun, meski terlihat indah dan megah, suasana di sekitar istana itu terasa sangat dingin dan sunyi. Seolah-olah tempat ini adalah istana es yang beku selama ribuan tahun.
"Silakan turun, Nona Luna ria," ucap Pluto, seorang pria paruh baya dengan penampilan rapi dan wajah yang selalu tersenyum sopan namun tegas.
Luna ria turun diikuti oleh Ivy yang sedikit gemetar karena kagum sekaligus takut. Mata mereka takjub melihat kemegahan tempat itu.
Ka el sudah turun lebih dulu dan berdiri menunggu di tangga. Ia menoleh ke arah Pluto.
"Pluto, ini Luna ria. Mulai sekarang dia adalah Nyonya di istana ini. Layani dia sebaik mungkin, dan penuhi semua keinginannya tanpa terkecuali," perintah Ka el dengan suara berat namun terdengar lembut di telinga para pelayan.
Pluto membungkuk dalam. "Siap, Yang Mulia. Selamat datang, Nona Luna ria."
"Pluto adalah kepala pelayan kepercayaanku. Dia yang akan mengurus segalanya di sini," jelas Ka el pada Luna ria.
Luna ria hanya mengangguk singkat. "Halo."
Setelah memastikan Luna ria aman dan diterima dengan baik, Ka el berniat pergi. Ia harus mengurus beberapa urusan kerajaan yang mendesak malam itu juga.
"Aku pergi sebentar. Istirahatlah," ucap Ka el singkat, lalu berbalik badan.
Namun, baru beberapa langkah...
Tanpa sadar, jari-jari Luna ria bergerak sendiri. Tangannya terulur dan menarik ujung jubah hitam Ka el.
Gerakan itu refleks. Entah kenapa, melihat pria itu hendak pergi meninggalkannya di tempat asing yang dingin ini, hatinya tiba-tiba merasa tidak nyaman. Rasa kesepian yang lama ia pendam seolah muncul kembali.
Ka el berhenti. Ia menoleh perlahan ke belakang, menatap tangan kecil yang mencengkeram jubahnya, lalu menatap wajah Luna ria yang terlihat sedikit bingung dan panik karena aksinya sendiri.
Wajah Ka el yang biasanya dingin, seketika berubah menjadi senyum jahil yang sangat lebar.
"Hmm?" Ka el mendekatkan wajahnya, berbisik pelan agar hanya mereka berdua yang mendengar. "Kenapa? Kau tidak mau aku pergi? Kau takut sendirian di sini? Atau... kau sudah mulai kangen sama aku?"
Luna ria tersentak, wajahnya langsung memerah padam karena malu.
"B-bukan! Jangan salah sangka!" bentaknya pelan, lalu dengan kasar ia melepaskan tangannya dan mendorong bahu Ka el menjauh. "Aku cuma... cuma mau bilang hati-hati! Kalau mau pergi pergi saja!"
Ka el tertawa kecil, suara tawanya renyah dan sangat jarang terdengar oleh orang lain.
"Baiklah, baiklah. Aku mengerti," ucap Ka el sambil mengelus kepala Luna ria sekali lagi dengan sayang. "Tunggu aku kembali ya."
Setelah itu, Ka el melangkah pergi. Namun, sebelum benar-benar menghilang di balik koridor gelap, ia menoleh sekali lagi dan mengedipkan sebelah matanya ke arah Luna ria.
Semua pelayan yang melihat pemandangan itu... terpaku diam.
Mata mereka terbelalak di balik topi pelayan mereka. Mulut mereka ternganga tapi tak berani bersuara.
Tuan mereka... Pangeran Ka el yang terkenal kejam, dingin, dan tidak pernah tersenyum... tadi tertawa? Dan dia mengelus kepala wanita itu seperti memegang barang paling berharga?!
Mereka saling pandang. Mereka sadar bahwa mulai malam ini, kehidupan di istana ini akan berubah total. Wanita itu bukan orang biasa.
"Ayo Nona, mari saya antar ke kamar Anda," ajak Pluto dengan sopan, mencoba mengembalikan suasana profesional.
Luna ria menghela napas, mencoba menenangkan jantungnya yang berdegup kencang entah karena apa. Ia mengangguk dan berjalan mengikuti Pluto.
Mereka masuk ke dalam istana.
Dan benar saja, apa yang dilihat Luna ria selanjutnya membuatnya takjub.
Istana itu tidak hanya besar, tapi sangat luas dan panjang. Koridor utama terbentang jauh hingga ke ujung yang tak terlihat mata. Dindingnya dihiasi lukisan-lukisan kuno dan permata yang berkilauan.
Namun yang paling mengejutkan Luna ria adalah cara para pelayan bekerja.
Di sana sini, pelayan-pelayan melayani dengan menggunakan sihir. Piring-piring kotor terbang sendiri menuju dapur, sapu ijuk menyapu lantai tanpa dipegang, dan tirai jendela terbuka-tutup secara otomatis sesuai perintah.
Saat Luna ria dan Ivy lewat, semua pelayan—baik laki-laki maupun perempuan—langsung berhenti bekerja, membungkuk dalam dengan sangat serempak dan hormat.
"Selamat malam, Nona!" serentak suara mereka terdengar.
Luna ria yang biasa hidup sederhana dan sering dihina, sedikit kaget diperlakukan seperti ini. Ia hanya mengangguk pelan sambil berjalan tegap, berusaha terlihat keren dan tidak kaku.
"Jauh sekali ya, Pak Pluto," celetuk Luna ria untuk memecah keheningan.
"Ha-ha, maafkan saya Nyonya. Istana ini memang sangat besar karena dulunya adalah pusat kekuasaan kerajaan kuno. Namun Tuan Muda Ka el jarang menggunakan semua ruangan ini, dia lebih sering menyendiri di sayap barat," jelas Pluto.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah pintu besar berukir bintang dan bulan yang sangat indah.
"Ini dia, Nyonya. Kamar Anda," ucap Pluto sambil membukakan pintu.
Kreeek...
Pintu terbuka, dan mata Luna ria terbelalak.
Ia berjalan masuk perlahan. Mulutnya sedikit terbuka karena takjub.
Kamar ini... luar biasa besar.
Luasnya mungkin tiga sampai empat kali lipat dari seluruh kamar dan ruang tamu yang pernah ia tempati di villa terpencil, bahkan bisa menandingi ruang utama di rumah keluarga Star born!
Lantainya dilapisi karpet bulu yang sangat tebal dan lembut, membuat kaki terasa nyaman saat menginjaknya. Di tengah kamar terdapat ranjang besar berukuran king size dengan tiang-tiang tinggi dan tirai kain sutra berwarna biru tua yang menggantung anggun.
Di sudut ruangan ada perapian yang sudah menyala hangat, meja rias berlapis emas, dan lemari pakaian yang tingginya sampai ke langit-langit.
Langit-langit kamarnya pun istimewa. Catnya dibuat sedemikian rupa menyerupai galaksi bintang yang berkilauan dalam gelap, seolah-olah ia sedang tidur di bawah langit malam yang nyata.
"Wah... Nona Luna ria! Ini indah sekali!" bisik Ivy takjub, matanya berbinar-binar. "Kamar Nona lebih mewah dari kamar Putri Kerajaan!"
Luna ria berjalan mendekati ranjang besar itu. Ia meletakkan tas kecil bawaannya di atas lantai itu.
Ia memandang sekeliling ruangan. Dingin? Ya, suhu ruangan memang agak sejuk, tapi sangat nyaman dan megah. Tidak ada debu sedikitpun, semuanya bersih dan terawat sempurna.
"Baiklah, Nona. Saya dan Ivy akan menaruh barang-barang Anda di lemari. Jika butuh apa-apa, tinggal panggil saja. Pelayan akan siap siaga di luar pintu," kata Pluto.
"Iya, terima kasih," jawab Luna ria pelan.
Pluto dan Ivy pun sibuk mengeluarkan pakaian-pakaian Luna ria yang sebenarnya tidak banyak itu, dan menyimpannya rapi di dalam lemari raksasa itu. Setelah selesai, mereka berdua mundur perlahan meninggalkan Luna ria sendirian.
Dob... dob...
Pintu ditutup rapat.
Kini,Luna ria seorang diri di dalam kamar megah itu.
Suasana menjadi sangat sunyi. Hanya terdengar suara desis angin di luar jendela dan bunyi detak jam antik di dinding.
Luna ria menghela napas panjang, rasa lelah seketika menyerang seluruh tubuhnya. Hari ini benar-benar hari yang panjang dan melelahkan. Mulai dari pesta, pertengkaran dengan Ka el, insiden pot bunga, adu mulut dengan keluarga Star born, hingga akhirnya dia dibawa ke sini.
Tanpa pikir panjang, Luna ria berjalan malas menuju ranjang empuk itu.
Bughh!
Ia menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur yang sangat empuk itu. Rasanya seperti terbaring di atas awan.
Luna ria memejamkan mata sejenak, lalu membukanya lagi dan menatap langit-langit kamar yang penuh dengan gambar bintang-bintang itu.
Jadi... ini tempatku sekarang? batinnya bertanya-tanya.
Aku sudah keluar dari rumah sialan itu. Aku tidak perlu lagi mendengar cercaan Ayah Ibu Luna ria, tidak perlu lagi melihat wajah munafik Lae ria, dan tidak perlu hidup menderita di villa terpencil.
Sekarang dia ada di istana Pangeran yang paling ditakuti di negeri ini. Pangeran yang seharusnya membunuhnya, tapi malah melindunginya dan bahkan terlihat sangat menyayanginya.
"Gila... sungguh hidup yang gila," gumam Luna ria pelan sambil tersenyum miring.
Ia memutar tubuhnya, membenamkan wajahnya ke dalam bantal yang wangi dan lembut.
"Ka el drago mir... Pria aneh," bisiknya. "Pertama kali ketemu langsung dicium, ditampar malah senang, dibawa ke istana mewah begini... Apa sebenarnya yang ada di pikiranmu?"
Namun, entah kenapa, di tempat asing ini, di kamar yang besar dan dingin ini, Luna ria tidak merasa takut. Ia justru merasa aman.
Rasa aman yang sudah lama tidak ia rasakan sejak kecil.
"Yah, sudahlah. Yang penting sekarang aku nyaman," ucapnya santai. "Besok-besok baru kita pikirkan caranya balas dendam sama Lae ria dan cara menghadapi Pria Gila itu."
Luna ria menarik selimut tebal berwarna perak itu hingga ke dada, menatap sekali lagi langit-langit berbintang itu dengan tatapan lelah namun puas.
"Selamat tidur, dunia baru..."
Dan di bawah atap istana es itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Luna ria Star born bisa tidur dengan tenang, tanpa perlu lagi berpura-pura menjadi gadis lemah.
jangan yang banyak masa lalunya kasihan dia sudah dikhianati di kehidupannya dulu.
Carikan yang setia