NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:785
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Bayang-bayang Sang Tiran

​Denting mesin derek yang biasanya terdengar seperti irama produktivitas, mendadak berubah menjadi suara lonceng kematian yang merambat di sepanjang pilar-pilar beton Grand Azure. Suasana di lokasi konstruksi SCBD yang biasanya sibuk dengan teriakan mandor dan debu semen yang beterbangan, seketika membeku dalam keheningan yang tidak wajar.

​Sebuah sedan Rolls-Royce Phantom berwarna hitam legam—mobil yang lebih menyerupai peti mati berjalan bagi siapa pun yang mengenalnya—perlahan merayap membelah genangan air lumpur di area depan proyek. Ban mewahnya mencetak jejak kotor di atas aspal sementara yang belum rata, namun tidak ada satu pun pekerja yang berani mengeluh. Mereka menepi secara instingtif, menundukkan kepala seolah-olah seorang kaisar dari era kegelapan baru saja turun ke bumi.

​Arjuna Dirgantara berdiri di depan unit kontainer kantornya, mematung dengan postur yang begitu tegak hingga terlihat menyakitkan.

​Naya, yang masih berdiri beberapa meter darinya di lantai dua yang setengah jadi, bisa melihat perubahan fisik yang mengerikan pada bosnya. Bahu Juna yang biasanya kokoh, kini tampak kaku seperti dipaku oleh beban yang tak terlihat. Tangan Juna yang tadi sempat mencengkeram lengan Naya, kini terkepal erat di samping tubuhnya, dengan buku jari yang memutih hingga ke tahap transparan.

​'Dia ketakutan,' batin Naya, merasakan gelombang simpati yang menyakitkan menghantam dadanya. 'Seorang CEO yang menghancurkan mental ratusan orang setiap hari, kini terlihat seperti anak laki-laki yang sedang menunggu hukuman cambuk. Siapa sebenarnya pria di dalam mobil itu?'

​Pintu Rolls-Royce terbuka. Seorang pria tua dengan setelan jas wol murni berwarna abu-abu perak melangkah keluar. Meskipun rambutnya sudah memutih sepenuhnya, tatapan matanya masih setajam mata pisau bedah yang siap membedah apa pun yang dianggapnya cacat. Ia memegang tongkat kayu hitam dengan kepala emas berbentuk elang—tongkat yang sama yang Naya lihat di dalam kilas balik visualnya tempo hari.

​Chairman Dirgantara. Sang Tiran yang menciptakan monster bernama Arjuna.

​"Turun ke sana, Kanaya. Sekarang," perintah Juna, suaranya terdengar sangat rendah, kering, dan tanpa nyawa. Ia bahkan tidak menoleh pada Naya. "Jangan biarkan dia melihatmu bersamaku. Masuk ke kantor administrasi belakang dan jangan keluar sampai aku menyuruhmu."

​"Tapi Pak Arjuna—"

​"Lakukan!" bentak Juna pelan namun tajam, matanya berkilat penuh kepanikan yang ia coba sembunyikan dengan amarah. "Jika Ayahku melihatmu sebagai variabel emosional, dia tidak akan hanya memecatmu. Dia akan menghancurkan kariermu di seluruh industri ini. Pergi!"

​Naya tersentak. Ia melihat kejujuran yang murni di mata Juna—sebuah ketakutan bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Naya. Tanpa banyak bicara, Naya segera memutar tubuhnya dan berlari kecil menyusuri tangga darurat belakang, bersembunyi di balik tumpukan material isolasi yang tinggi.

​Juna melangkah menuruni tangga besi kantor kontainernya dengan ritme yang sengaja dibuat tenang, meskipun di dalam kepalanya, badai kategori lima sedang mengamuk. Ia berhenti tepat di depan ayahnya, berdiri dengan jarak tiga meter—jarak aman yang selalu ia pertahankan sejak ia berusia tujuh tahun.

​"Ayah. Saya tidak menyangka Anda akan datang meninjau site secara langsung," ucap Juna, suaranya terkalibrasi dengan sempurna menjadi robot korporat yang patuh.

​Sang Chairman tidak menjawab. Ia justru mengangkat tongkatnya, menunjuk ke arah struktur pilar spiral yang sedang dikerjakan. "Audit internal menunjukkan ada pemborosan dana sebesar dua belas persen untuk material 'eksperimental' di pilar utama ini, Arjuna. Kau pikir aku membangun hotel atau gedung opera pribadi untuk egomu?"

​"Itu bukan pemborosan, Ayah. Itu adalah integrasi serat karbon untuk mereduksi beban struktural—"

​"Diam!" bentak Sang Chairman, suaranya tidak keras namun memiliki frekuensi yang membuat gendang telinga Juna bergetar hebat. Pria tua itu melangkah mendekat, aroma cerutu mahal dan parfum kuno yang menyesakkan seketika menginvasi ruang udara Juna. "Jangan berikan aku kuliah teknik murahan. Aku tahu kau membawa seorang desainer junior lulusan lokal ke dalam tim intimu. Desainer yang idealismenya lebih besar daripada otaknya."

​Juna menahan napas. 'Dia tahu. Ayah tahu tentang Naya.'

​"Dia kompeten, Ayah. Dia yang merancang sistem pencahayaan amber yang kita bahas di dewan direksi kemarin—"

​"Kompetensi adalah kata yang subjektif di tangan orang lemah, Arjuna," Sang Chairman mengayunkan tongkatnya, memukul pilar beton di dekatnya dengan bunyi tang yang menggema. "Kudengar kau membelanya di depan Tuan Wirawan. Kau mempertaruhkan kontrak pasokan marmer kita hanya untuk melindungi harga diri seorang staf rendahan? Sejak kapan seorang Dirgantara menjadi begitu sentimental terhadap budaknya?"

​'Budak. Ayah menyebut Naya budak,' batin Juna, merasakan amarah yang panas mulai membakar dadanya. Namun, ia tahu ia harus mematikan api itu sebelum ayahnya menyadarinya. 'Jika aku membantahnya sekarang, dia akan semakin yakin bahwa Naya adalah kelemahanku.'

​"Itu adalah manuver negosiasi, Ayah," dusta Juna, wajahnya kembali menjadi dinding es yang kaku. "Tuan Wirawan mencoba mengintervensi otoritas manajerial saya. Saya harus menunjukkan siapa pemegang kendali mutlak di proyek ini. Nona Kanaya hanyalah instrumen teknis. Saya melindunginya karena saya tidak ingin proses fabrikasi tertunda oleh gangguan eksternal."

​Dari balik tumpukan material, Naya mendengar setiap kata yang diucapkan Juna.

​Setiap kata itu terasa seperti siraman air es yang membekukan jantungnya. Instrumen teknis. Staf rendahan. Budak. Meskipun Naya tahu Juna mungkin sedang bersandiwara untuk melindunginya, namun mendengar pengakuan dingin itu di depan penciptanya tetap meninggalkan rasa sakit yang nyata.

​'Apakah itu benar-benar hanya sandiwara, Arjuna?' batin Naya, meremas ujung blus denimnya. 'Atau itulah versi dirimu yang sebenarnya setiap kali aku tidak ada di hadapanmu?'

​Sang Chairman menyipitkan matanya, memindai wajah putranya dengan tatapan predator. "Bagus jika memang begitu. Karena jika aku menemukan setitik saja bukti bahwa kau membiarkan emosimu mengontrol logikamu... aku akan memastikan gadis itu menghilang dari Jakarta sebelum matahari terbenam besok."

​Juna mengangguk kaku. "Saya mengerti, Ayah."

​"Tunjukkan padaku prototipe pilar spiral itu," perintah Sang Chairman. "Dan panggil desainermu itu. Aku ingin melihat siapa yang berani merusak anggaran perusahaanku dengan ide-ide romantisnya."

​Juna membeku. "Nona Kanaya sedang berada di gudang teknis Jakarta Utara untuk pemeriksaan pengiriman, Ayah. Dia tidak ada di sini."

​Sang Chairman tertawa—sebuah tawa kering yang merendahkan. "Kau pikir aku bodoh, Arjuna? Riko sudah memberitahu asisten pribadiku bahwa desainer utamamu tinggal di unit bawah kontainermu. Panggil dia. Sekarang."

​Juna melirik Riko yang berdiri di kejauhan dengan wajah pucat pasi. Riko tidak bersalah; dia hanyalah pion lain dalam jaring mata-mata ayahnya. Juna mengepalkan tangannya kuat-kuat, mencari jalan keluar di labirin pikirannya yang mendadak buntu.

​Tiba-tiba, sebelum Juna sempat bicara, Naya melangkah keluar dari tempat persembunyiannya.

​Naya berjalan dengan langkah yang mantap, meskipun kakinya terasa seperti terbuat dari kapas. Ia mengenakan helm proyeknya kembali, merapikan rompi keselamatannya yang kotor oleh debu, dan menatap lurus ke arah Sang Chairman.

​Juna terbelalak. 'Kanaya! Apa yang kau lakukan?!' jeritnya dalam hati.

​"Selamat siang, Tuan Chairman Dirgantara," ucap Naya dengan suara yang luar biasa stabil dan jernih, memotong ketegangan di antara ayah dan anak itu. Ia membungkuk dengan tingkat kesopanan yang tepat—tidak terlalu rendah hingga terlihat mengemis, namun tidak terlalu tegak hingga terlihat menantang.

​Sang Chairman memutar tubuhnya perlahan, matanya memindai Naya seolah-olah Naya adalah serangga aneh yang berani masuk ke dalam kamarnya. "Jadi ini desainer junior yang membuat putraku kehilangan akal sehatnya?"

​"Saya Kanaya Larasati, desainer interior Grand Azure, Tuan," balas Naya, mengabaikan penghinaan pria tua itu. "Saya tidak membuat Pak Arjuna kehilangan akal sehat. Sebaliknya, saya di sini untuk memastikan bahwa akal sehat Pak Arjuna—yaitu efisiensi jangka panjang dan identitas visual yang tak ternilai—bisa terwujud melalui pilar spiral ini."

​Sang Chairman mengangkat alisnya, sedikit terkejut dengan keberanian gadis di depannya. "Efisiensi? Kau menghabiskan dana tambahan miliaran rupiah untuk serat karbon dan kau menyebutnya efisiensi?"

​"Benar, Tuan," Naya melangkah maju satu tahap, berdiri sejajar di samping Juna. "Jika kita menggunakan pilar beton konvensional, berat mati struktur akan menuntut fondasi tambahan senilai tiga kali lipat dari harga serat karbon. Dengan teknologi ini, kita menghemat waktu konstruksi dua puluh hari dan menghemat biaya fondasi sebesar lima belas miliar rupiah. Secara matematis, desain saya adalah keputusan paling hemat yang pernah diambil di proyek ini."

​Keheningan yang mematikan kembali jatuh. Juna berdiri terpaku, ia tidak percaya Naya berani melakukan presentasi teknis mendadak di tengah lokasi konstruksi yang berdebu ini. Di balik rasa paniknya, Juna merasakan sebuah letupan kebanggaan yang luar biasa—sebuah resonansi kekaguman yang menolak untuk mati.

​Sang Chairman menatap Naya dalam waktu yang sangat lama. Ia mengetuk-ngetukkan tongkatnya ke tanah dengan irama yang membuat Juna teringat pada detak jantungnya sendiri saat sedang disiksa oleh ayahnya.

​"Lulusan universitas negeri lokal, bukan?" tanya Sang Chairman, suaranya kini mengandung sedikit rasa ingin tahu yang dingin.

​"Benar, Tuan. Saya belajar tentang kekuatan struktur dari bengkel kayu ayah saya, sebelum saya mempelajarinya di bangku kuliah," jawab Naya tegas.

​Sang Chairman mendengus pelan, lalu ia menatap Juna. "Dia punya mulut yang jauh lebih tajam darimu, Arjuna. Dan dia tahu bagaimana cara menyembunyikan sentimentalitasnya di balik angka. Sangat berbeda dengan ibumu yang hanya tahu cara menangis."

​Juna memejamkan matanya sejenak saat nama ibunya disebut dengan cara yang begitu merendahkan. Rahangnya mengeras, namun ia tetap diam.

​"Baiklah," ucap Sang Chairman, berbalik menuju mobilnya. "Aku akan membiarkan eksperimen gila ini berlanjut hingga pilar ketiga selesai dicor. Jika ada satu saja deviasi, atau jika proyek ini terlambat satu hari saja karena 'idealismemu', Arjuna... kau dan gadismu ini akan tahu bagaimana rasanya dihancurkan oleh mesin Dirgantara."

​Sang Chairman masuk ke dalam mobilnya tanpa mengucapkan salam perpisahan. Rolls-Royce itu pun melaju pergi, meninggalkan debu yang mengepul dan keheningan yang jauh lebih menyesakkan daripada sebelumnya.

​Begitu mobil ayahnya menghilang dari pandangan, Juna langsung berbalik ke arah Naya. Wajahnya tidak lagi ketakutan; wajahnya kini dipenuhi oleh amarah yang meledak-ledak—sebuah mekanisme pertahanan setelah ia merasa baru saja dipermalukan dan ketakutan setengah mati.

​"Apa yang kau pikirkan, Kanaya?!" bentak Juna, suaranya menggelegar di tengah site yang mulai kembali berdenyut. "Aku sudah menyuruhmu bersembunyi! Kau pikir kau siapa, berani memberikan presentasi teknis di depan Ayahku?!"

​Naya tersentak mundur, ia tidak menyangka reaksi Juna akan sekeras ini. "Saya mencoba membantu Anda, Pak Arjuna! Jika saya tetap bersembunyi, dia akan terus menganggap saya sebagai beban bagi Anda!"

​"Membantu?!" Juna tertawa pahit, langkahnya maju satu tahap, mengintimidasi Naya. "Kau tidak membantuku! Kau justru memberikan alasan baru bagi dia untuk memantau setiap pergerakanmu! Kau menaruh target di punggungmu sendiri! Kau tidak tahu siapa dia, Kanaya! Dia tidak melihat keberanianmu sebagai prestasi, dia melihatnya sebagai ancaman yang harus dimusnahkan!"

​"Saya tidak takut padanya!" balas Naya, air mata amarah mulai menggenang. "Saya lebih takut melihat Anda yang terus-menerus diperlakukan seperti anjing penjaga oleh ayah Anda sendiri! Anda adalah CEO, Arjuna! Berhentilah bersikap seolah Anda tidak punya pilihan!"

​Plak!

​Juna menghantamkan tangannya ke pagar besi di samping Naya dengan kekuatan penuh hingga besi itu bergetar hebat. Wajah Juna hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Naya. Napasnya memburu, matanya merah memancarkan kepedihan yang luar biasa dalam.

​"Kau tidak punya hak bicara soal pilihanku," desis Juna, suaranya bergetar karena emosi yang tertahan selama puluhan tahun. "Kau tidak tahu apa yang harus kukorbankan agar kau tetap bisa berdiri di sini dan memberikan ceramah moral padaku. Pergi ke kontainermu. Bereskan barang-barangmu."

​Naya terbelalak. "Anda memecat saya? Hanya karena saya membelanya?"

​"Aku tidak memecatmu," sahut Juna, suaranya mendadak menjadi sangat dingin dan jauh. "Aku memindahkanmu kembali ke kantor pusat besok pagi. Riko akan mengurusnya. Kau tidak boleh lagi berada di site ini. Selama Ayahku masih memantau proyek ini, kau adalah variabel yang paling berbahaya bagi dirimu sendiri."

​Juna memutar tubuhnya, berjalan menjauh menuju tangga kontainer tanpa melihat ke belakang.

​"Kenapa Anda selalu mendorong saya menjauh setiap kali saya mencoba mendekat?!" teriak Naya, isakannya akhirnya pecah.

​Juna menghentikan langkahnya sejenak di anak tangga pertama. Ia tidak menoleh.

​"Karena mendekat padaku hanya akan membuatmu terbakar, Kanaya," bisik Juna pada angin malam yang mulai dingin. "Dan aku sudah cukup banyak melihat orang yang kusayangi hancur menjadi abu di depanku."

​Juna melanjutkan langkahnya, menghilang di balik pintu kantornya yang kedap suara.

​Naya jatuh terduduk di atas lantai beton yang dingin, memeluk lututnya di tengah kegelapan site konstruksi. Ia menyadari satu hal yang paling menyakitkan malam itu: Arjuna Dirgantara mencintainya dengan cara yang paling kejam di dunia—yaitu dengan menjadikannya orang asing demi menyelamatkan nyawanya.

​[KILAS BALIK ]

​Kamera bergerak cepat melintasi sebuah lorong rumah mewah yang gelap. Suara teriakan amarah seorang pria dan suara benda pecah terdengar dari balik pintu kayu jati yang besar.

​Dua puluh tahun yang lalu.

​Arjuna kecil, baru berusia delapan tahun, duduk meringkuk di sudut lorong, menutupi telinganya dengan bantal. Ia bisa mendengar ayahnya sedang memarahi ibunya karena sang ibu memberikan sumbangan besar pada sebuah panti asuhan tanpa izin perusahaan.

​"Kasih sayangmu itu sampah, Maria! Itu tidak menghasilkan keuntungan! Kau merusak citra tegas keluarga kita dengan kedermawananmu yang naif!" bentak Sang Chairman.

​Pintu terbuka mendadak. Ibunya keluar dengan wajah yang sembap, mencoba menggendong Juna kecil untuk membawanya pergi dari rumah itu. Namun, tangan Sang Chairman mencengkeram lengan ibunya dengan sangat kuat.

​"Jika kau melangkah keluar dari pintu ini dengan anak itu, aku akan memastikan panti asuhanmu itu rata dengan tanah besok pagi," ancam Sang Chairman dengan suara yang begitu tenang namun mematikan.

​Sang Ibu melepaskan gendongan Juna kecil. Ia berlutut di depan Juna, mencium keningnya dengan air mata yang membasahi pipi Juna.

​"Maafkan Ibu, Sayang... Ibu harus pergi agar panti asuhan itu selamat. Jangan pernah menjadi seperti Ayahmu, tapi jangan juga menjadi sepertiku yang terlalu lemah untuk melindungi apa yang kucintai," bisik ibunya.

​Sang Ibu pergi malam itu, dan Juna kecil tidak pernah melihatnya lagi sampai ia mendengar kabar ibunya meninggal karena sakit setahun kemudian. Di detik itu, Juna kecil menyadari bahwa di dunia Dirgantara, mencintai seseorang berarti memberikan senjata pada ayahnya untuk menghancurkan orang tersebut.

​Kamera melakukan close-up pada wajah Juna kecil yang menatap pintu rumah yang tertutup rapat, tatapan yang sama yang kini digunakan oleh Arjuna Dirgantara saat ia menatap pintu kantornya, menyadari bahwa ia baru saja mengulangi sejarah dengan mengusir Kanaya demi melindunginya dari tirani ayahnya.

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!