NovelToon NovelToon
Kekasih Yang Tak Akur

Kekasih Yang Tak Akur

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: I Putu Merta Ariana

Nono dan Ayu adalah sepasang kekasih yang unik. Mereka sering bertengkar soal hal-hal kecil—mulai dari soal baju, jalan mana yang lebih cepat, sampai soal makanan. Tetangga bilang mereka kayak air dan minyak, nggak pernah akur. Tapi siapa sangka, di balik setiap pertengkaran dan perdebatan, tersimpan rasa sayang yang besar dan perhatian yang tulus. Bagaimana kisah mereka bertahan dan tetap bersama meski sering beda pendapat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Putu Merta Ariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak yang Menyebar dan Cinta yang Semakin Luas

Waktu terus berjalan, membawa Nono dan Ayu melangkah ke fase baru dalam perjalanan hidup mereka yang penuh warna. Setelah naskah buku "Cinta, Kopi, dan Perjalanan Seumur Hidup" selesai disusun dengan rapi dan penuh cinta, langkah selanjutnya yang harus mereka tempuh adalah mencari penerbit yang tepat untuk membawa cerita mereka menyebar ke seluruh negeri.

Suatu pagi yang cerah, di ruang kerja mereka yang selalu harum dengan aroma kopi, Nono dan Ayu duduk berhadapan dengan beberapa surat penawaran dari berbagai penerbit yang sudah mereka kumpulkan. Wajah mereka terlihat serius namun penuh antusias, seolah-olah mereka sedang mempersiapkan peluncuran menu baru di kedai mereka dulu.

"Yu," kata Nono pelan sambil membolak-balik surat-surat itu dengan hati-hati. "Aku lagi mikir nih, penerbit mana yang paling cocok buat buku kita. Ada yang besar dan terkenal banget, tapi ada juga yang lebih kecil tapi kelihatannya lebih peduli sama detail dan cerita yang personal. Menurut kamu, kita pilih yang mana ya?"

Ayu yang sedang membaca profil salah satu penerbit dengan teliti menoleh ke arah Nono dengan alis terangkat sedikit, tatapannya penuh dengan pertimbangan yang matang. "Iya, Mas. Aku juga lagi mikirin hal yang sama. Tapi ingat ya, Mas, kita nggak boleh cuma lihat dari seberapa besar nama penerbitnya aja. Kita harus pastikan penerbit itu bisa ngerti maksud dan tujuan kita nulis buku ini. Kita pengen buku ini nyampein pesan yang tulus, bukan cuma jadi barang dagangan biasa. Kamu tuh ya, kadang suka tergiur sama nama besar tanpa mikirin apakah mereka cocok sama visi kita," seru Ayu sambil menatap Nono dengan tatapan tajam yang khas.

Nono tertawa renyah mendengar jawaban istrinya itu. Suara tawanya masih terdengar begitu akrab dan hangat seperti dulu. Dia meraih tangan Ayu dan menggenggamnya erat. "Ya ampun, Tuan Putri. Sampai kapan pun kamu tetep sama aja ya. Iya deh, iya deh. Kamu yang paling teliti, kamu yang paling jauh pandangannya, dan aku yang paling beruntung bisa punya kamu. Makanya kan aku butuh banget pendapat kamu buat milih yang terbaik. Kita cari yang bisa ngerti kita dan bisa bikin buku ini sampai ke tangan orang-orang yang benar-benar butuh inspirasi ini, ya kan?"

Ayu mendengus pelan tapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyum manis. "Hmph, baru tahu kamu. Dasar suami yang manis mulutnya. Tapi ya udah, aku setuju. Kita pilih penerbit yang punya visi yang sama sama kita. Meskipun mungkin nggak yang terbesar, tapi yang pasti bisa dipercaya dan bisa ngerjain buku ini dengan sepenuh hati."

 

Setelah melalui proses pertimbangan yang panjang dan beberapa pertemuan dengan perwakilan penerbit, akhirnya Nono dan Ayu memutuskan untuk bekerja sama dengan sebuah penerbit yang memang dikenal sangat menghargai cerita-cerita inspiratif dan memiliki rekam jejak yang baik dalam menghasilkan buku-buku berkualitas. Keputusan itu terbukti sangat tepat.

Proses penerbitan buku berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Tim dari penerbit sangat menghargai masukan-masukan Nono dan Ayu, dan mereka bekerja sama dengan sangat baik untuk memastikan bahwa buku itu terlihat indah dan ceritanya tersampaikan dengan sempurna.

Tentu saja, selama proses ini pun, interaksi khas Nono dan Ayu tidak pernah hilang.

"Yu, aku bilang tuh cover bukunya harus lebih cerah dan lebih hangat warnanya. Kan cerita kita ini penuh dengan cinta dan kebahagiaan. Kalau warnanya terlalu gelap, nanti kesannya jadi berat gitu," kata Nono sambil menunjuk draf cover yang baru saja datang dari penerbit.

Ayu yang sedang memeriksa draf itu dengan teliti langsung menoleh ke arah Nono dengan tatapan tajam. "Eh, jangan ngomong sembarangan dong, Mas! Kalau warnanya terlalu cerah dan mencolok, nanti malah kelihatan norak dan nggak elegan. Kita harus cari warna yang pas, yang bisa menggambarkan kehangatan tapi tetap terlihat berkelas. Kamu tuh ya, kadang seleranya suka agak kurang pas kalau nggak ada aku yang ngoreksi," seru Ayu dengan tegas.

Nono tertawa lepas mendengar komentar istrinya itu. "Ya ampun, Tuan Putri. Iya deh, iya deh. Kamu yang paling punya selera bagus, kamu yang paling benar. Aku sih cuma nawarin pendapat aku aja kok. Ya udah, kita diskusi lagi sama tim penerbitnya ya biar dapet warna yang pas dan disukai sama kita berdua."

Ayu mendengus pelan tapi tersenyum lebar. "Hmph, baru tahu kamu. Dasar suami yang manis. Oke deh, kita atur lagi biar hasilnya maksimal."

 

Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Buku "Cinta, Kopi, dan Perjalanan Seumur Hidup" resmi diluncurkan. Acara peluncurannya diadakan di kedai utama "Ombak & Senyum" yang sudah mereka dekorasi dengan sangat indah. Acara itu dihadiri oleh keluarga, teman-teman lama, karyawan, para lulusan sekolah, dan juga banyak penggemar yang sudah penasaran ingin membaca cerita mereka.

Suasana di kedai saat itu begitu meriah dan penuh semangat. Nono dan Ayu berdiri berdampingan di depan para tamu, menerima ucapan selamat dengan hati yang penuh rasa syukur dan bahagia.

"Bapak Nono dan Ibu Ayu, selamat ya atas peluncuran bukunya!" seru salah seorang tamu yang ternyata adalah lulusan angkatan pertama dari "Sekolah Ombak & Senyum". "Saya yakin buku ini bakal ngasih banyak inspirasi buat banyak orang, sama kayak apa yang Bapak dan Ibu udah lakuin ke saya selama ini."

"Makasih banyak ya," jawab Nono sambil tersenyum hangat. "Kami berharap banget buku ini bisa bermanfaat dan bisa nyampein pesan bahwa dengan cinta, kerja keras, dan saling mendukung, segalanya mungkin terjadi."

Ayu pun ikut menambahkan dengan mata berbinar-binar. "Iya, betul banget kata suami saya. Dan ini semua juga berkat dukungan dari kalian semua. Makasih ya udah selalu ada buat kami."

 

Hari-hari setelah peluncuran buku itu, respon dari masyarakat luar biasa bagus. Buku itu terjual dengan sangat cepat dan mendapatkan banyak ulasan positif dari para pembaca dan kritikus. Banyak orang yang mengirimkan surat atau pesan kepada Nono dan Ayu, menceritakan betapa terinspirasi dan tersentuhnya mereka setelah membaca cerita perjalanan hidup mereka. Ada pasangan muda yang merasa lebih semangat untuk membangun mimpi mereka bersama, ada orang yang sedang mengalami kesulitan hidup yang merasa lebih kuat setelah membaca tentang perjuangan Nono dan Ayu, dan ada juga yang merasa lebih menghargai pasangan mereka setelah membaca tentang cinta dan kesabaran Nono dan Ayu.

Membaca pesan-pesan itu membuat hati Nono dan Ayu terasa begitu penuh dan bahagia. Mereka menyadari bahwa jejak yang mereka tinggalkan kini semakin luas dan menyebar jauh melebihi apa yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Suatu sore, saat mereka sedang duduk di teras rumah sambil membaca beberapa surat dari pembaca, Nono menoleh ke arah Ayu dengan tatapan penuh cinta dan keharuan.

"Yu," bisik Nono pelan. "Lihat nih, apa yang kita udah lakuin. Buku ini beneran nyampe ke hati orang-orang. Rasanya bersyukur banget kita bisa bagi cerita kita sama dunia. Dan ini semua nggak bakal mungkin terjadi kalau nggak ada kamu di samping aku."

Ayu menoleh dan tersenyum melihat suaminya, matanya juga berkaca-kaca karena terharu. "Iya, Mas. Aku juga ngerasa hal yang sama. Kita emang tim terbaik di dunia. Dan lihat nih, jejak kita udah menyebar ke mana-mana. Tapi ingat ya, Mas, ini bukan berarti kita berhenti di sini. Masih banyak hal lain yang bisa kita lakuin buat berbagi dan buat orang lain bahagia. Kamu siap kan buat lanjutin perjalanan ini bareng aku?"

Nono menggenggam tangan Ayu dengan erat dan menatapnya dengan penuh keyakinan. "Siap, Tuan Putri! Selamanya aku bakal siap buat nemenin kamu ke mana pun kita pergi dan buat apa pun yang kita mau lakuin. Selama kita berdua sama-sama, dunia ini bakal terus jadi tempat yang indah buat kita tinggali dan buat kita bagikan cinta kita."

Di sore yang hangat itu, di tengah aroma bunga dan secangkir kopi yang harum, Nono dan Ayu tahu bahwa perjalanan hidup mereka masih terus berlanjut. Buku ini hanyalah salah satu bab lagi dalam kisah cinta mereka yang tak pernah berakhir. Masih banyak cerita yang menunggu untuk ditulis, masih banyak momen yang menunggu untuk diukir, dan masih banyak cinta yang menunggu untuk dibagikan. Dan mereka yakin, langkah-langkah mereka selanjutnya akan tetap indah, tetap seru, dan tetap penuh dengan cinta yang abadi yang akan terus mengalir selamanya.

1
Ayu Suryani
Bagus Banget Kak🥰
Ayu Suryani
Bagus kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!