NovelToon NovelToon
Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Di Balik Niqab Maryam: Rahasia Pewaris Yang Terbuang

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Anak Genius / CEO / Tamat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26: PERAMPOKAN DIGITAL

​Gubuk reot di lereng gunung teh itu seolah menjadi saksi bisu dari keputusasaan yang meremukkan jiwa. Hujan di luar masih menderas, menampar-nampar atap seng dengan suara bising yang memekakkan telinga. Namun, bagi Aaliyah Humaira, suara yang paling menghancurkan bukanlah suara badai, melainkan sunyinya detik-detik yang membawa nyawa ayahnya menuju garis akhir.

​Aaliyah terduduk lemas di lantai kayu yang berdebu. Tangannya gemetar hebat saat menatap layar laptop yang menampilkan berita pencabutan dana ventilator Kyai Abdullah.

​Ya Allah... Sultan tidak hanya merampas harta Zayn, dia menggunakan kekuasaan itu untuk mencabut nyawa Ayahku! Ventilator itu... tanpa mesin itu, paru-paru Ayah tidak akan sanggup memompa oksigen. Waktuku mungkin tidak sampai dua jam sebelum pihak administrasi rumah sakit mematikan mesinnya dengan alasan gagal bayar. Ayah... hamba mohon, bertahanlah sedikit lagi! Hamba tidak akan membiarkanmu pergi dengan cara sekotor ini!

​Zayn, yang masih bersandar lemah di dipan bambu, merasakan dadanya sesak melihat air mata Aaliyah. Pria yang dulunya bisa mentransfer miliaran rupiah hanya dengan satu kedipan mata itu, kini merasa sangat miskin dan tak berguna. Dompetnya, ponsel utamanya, dan semua kartu kreditnya telah tertinggal atau diblokir.

​Ia memaksakan diri untuk turun dari dipan. Kepalanya berdenyut hebat, namun ia mengabaikannya. Zayn berlutut di samping Aaliyah, meraih kedua bahu wanita itu dengan tangannya yang bebas dari luka.

​"Aaliyah, tatap aku," ucap Zayn tegas. "Menangis tidak akan memperpanjang napas ayahmu. Kau adalah H_Zero. Kau pernah meruntuhkan firewall perusahaanku dalam semalam. Kau tidak boleh menyerah pada bajingan seperti Sultan."

​Aaliyah mendongak, matanya yang basah menatap manik mata Zayn yang berkilat penuh determinasi. "Zayn, tagihan deposit untuk mempertahankan VVIP dan ventilator itu mencapai lima ratus juta rupiah untuk satu bulan ke depan! Rekeningku sudah lama dibekukan polisi karena kasus pesantren, dan semua asetmu baru saja disita oleh dewan direksi Sultan! Dari mana kita bisa mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu kurang dari dua jam?!"

​Zayn tersenyum miring, sebuah senyuman berbahaya yang selalu muncul sebelum sang Raja Es menghancurkan musuhnya di meja perundingan.

​"Sultan memang mengambil alih perusahaan resmiku," bisik Zayn, matanya menyipit penuh perhitungan. "Tapi ada satu hal yang tidak dia ketahui. Ayahnya, Sutan Al-Fahri Senior, dulu memiliki rekening dana gelap di Kepulauan Cayman. Uang hasil korupsi yang ia sembunyikan sebelum ia bunuh diri. Sultan pasti menggunakan rekening itu untuk membiayai operasi preman-premannya selama ini."

​Zayn membatin: Kau pikir kau bisa membuatku miskin, Sultan? Kau lupa bahwa aku adalah orang yang menganalisis data keuangan ayahmu dua puluh tahun lalu saat kau masih menangis di panti asuhan. Uang haram itu... uang yang dibangun di atas abu penderitaan keluarga Aaliyah, akan kugunakan untuk menyelamatkan nyawa Kyai Abdullah hari ini juga. Keadilan terkadang harus direbut paksa.

​Mata Aaliyah melebar. Keputusasaan yang tadi menyelimutinya perlahan menguap, digantikan oleh adrenalin yang memacu darahnya. "Kau tahu nomor rekeningnya?"

​"Aku tidak tahu nomor pastinya," jawab Zayn. "Tapi aku tahu IP Address dari bank bayangan yang menampungnya, dan aku tahu algoritma kata sandi yang sering digunakan keluarga Al-Fahri. Sisanya, aku serahkan padamu, partner."

​Aaliyah menghapus air matanya dengan kasar menggunakan ujung lengan gamisnya. Ia kembali meletakkan laptopnya di atas meja kayu reot. Jemarinya diletakkan di atas keyboard.

​"Duduklah di sampingku, Zayn. Aku butuh kau menjadi navigatorku," perintah Aaliyah dengan nada suara yang kini berubah seratus delapan puluh derajat. Tidak ada lagi gadis yang menangis ketakutan; yang ada di sana sekarang adalah H_Zero, sang peretas jenius yang bersiap melakukan perampokan digital terbesar dalam hidupnya.

​Zayn menarik kursi kayu tua dan duduk merapat di samping Aaliyah. Bahu mereka bersentuhan, memberikan transfer kehangatan di tengah udara gunung yang membekukan.

​Batin Aaliyah: Bismillah... Ya Allah, hamba tahu mencuri adalah dosa. Namun hamba hanya mengambil hak yang seharusnya digunakan untuk membangun pesantren kami dua puluh tahun lalu. Hamba melakukan ini demi menyelamatkan sebuah nyawa yang tak bersalah. Maafkan kelancangan hamba, ya Rabb. Biarlah dosa ini hamba yang tanggung.

​Jemari Aaliyah mulai menari di atas keyboard. Layar monitor berkedip cepat, menampilkan ribuan baris kode yang bergerak seperti air terjun hijau di atas latar hitam. Ia menggunakan koneksi satelit Star-Link portabel, memantulkan IP Address-nya melalui tujuh server anonim di berbagai negara agar tidak bisa dilacak.

​"Masuk ke server utama di Cayman Island," gumam Aaliyah. Matanya tak berkedip menatap layar. "Zayn, mereka menggunakan sistem keamanan Black-Ice tiga lapis. Jika aku salah memasukkan algoritma, akun itu akan mengunci diri secara otomatis selamanya."

​"Sultan adalah orang yang narsis," Zayn menganalisis dengan cepat, insting bisnis dan psikologinya bekerja tajam. "Dia terobsesi dengan masa lalunya. Coba gunakan kombinasi tanggal kematian ayahnya, digabung dengan koordinat panti asuhan tempat kami dibesarkan."

​Aaliyah mengetikkan kombinasi itu dengan cepat. Layar memuat selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian.

​ACCESS GRANTED.

​Aaliyah membuang napas kasar. "Berhasil! Kita masuk, Zayn!"

​Di layar, terpampang saldo rekening bayangan bernilai jutaan dolar Amerika. Uang kotor yang tidak pernah tersentuh oleh pajak maupun hukum.

​"Ambil satu juta dolar. Transfer ke rekening penampungan Crypto acak, lalu pecah menjadi puluhan transaksi kecil menggunakan tumbler sebelum memasukkannya ke rekening Rumah Sakit Medika secara anonim dengan catatan 'Donasi Hamba Allah untuk Pasien Kyai Abdullah'," perintah Zayn tanpa ragu.

​Aaliyah mengangguk. Tangannya bergerak sangat cepat. Proses pengiriman dana (routing) sedang berlangsung di layar. Status persentase mulai merangkak naik: 10%... 25%... 45%...

​Namun, tiba-tiba sebuah peringatan merah berkedip besar di tengah layar laptop Aaliyah.

​WARNING: UNAUTHORIZED TRANSFER DETECTED. TRACE INITIATED.

​"Sial!" umpat Aaliyah tertahan. "Zayn, ada Watcher di dalam sistem ini! Seseorang sedang berjaga secara aktif dan menyadari peretasan ini!"

​Di sebuah ruangan gelap di Jakarta, Rian menatap layar komputernya dengan senyum iblis. Ia baru saja diangkat menjadi Kepala Keamanan Siber Al-Ghifari Group yang baru oleh Sultan.

​"Kena kau, H_Zero," guman Rian. "Kau pikir kau bisa mengambil uang Tuan Sultan begitu saja? Aku sudah menanam pelacak di rekening ini karena aku tahu kalian sedang kelaparan."

​Rian mulai mengetik, mencoba melakukan serangan balik (Counter-Hack) untuk memutus koneksi Aaliyah sekaligus melacak koordinat asli satelit yang digunakan wanita itu.

​Kembali ke gubuk di Subang.

​Aaliyah berkeringat dingin. "Zayn, ini Rian! Dia memblokir rute transfer kita. Uangnya tertahan di server Swiss! Jika aku memaksakan transfer, dia akan bisa melihat titik koordinat GPS kita dalam waktu kurang dari satu menit!"

​Batin Zayn bergejolak: Keparat Rian! Dia selalu tahu celah yang paling menyakitkan. Jika transfer ini gagal, nyawa Kyai Abdullah melayang. Tapi jika berhasil dan koordinat kami terbongkar, pasukan Sultan akan datang ke gubuk ini dalam hitungan jam untuk membantai kami berdua. Aaliyah... aku tidak bisa membiarkanmu mati.

​"Putuskan koneksinya, Aaliyah!" teriak Zayn tiba-tiba. "Batalkan transfernya!"

​Aaliyah menoleh ke arah Zayn dengan tatapan tidak percaya. "Apa maksudmu?! Ayahku ada di ujung tanduk, Zayn!"

​"Jika Rian mendapatkan lokasi kita, kita berdua mati malam ini! Kita tidak akan bisa menyelamatkan ayahmu jika kita sendiri menjadi mayat!" Zayn mencoba bersikap rasional, meskipun hatinya ikut hancur melihat keputusasaan Aaliyah.

​Aaliyah menggeleng kuat. Matanya berkilat penuh perlawanan. "Tidak! Aku tidak akan membiarkan Ayah mati di tangan mereka! Jika aku harus menukar nyawaku untuk napasnya, aku akan melakukannya!"

​Lihat pria ini. Dia rasional, dia logis. Dia memikirkan keselamatanku di atas segalanya. Tapi dia tidak mengerti... Ayah adalah seluruh duniaku. Aku lebih baik mati ditembus peluru Sultan daripada hidup dengan penyesalan bahwa aku membiarkan Ayahku mati karena aku takut ketahuan.

​Aaliyah kembali menghadap layar. Ia mengabaikan peringatan pelacakan Rian yang sudah mencapai angka 60%.

​"Aaliyah, jangan gila! Rian sedang membakar firewall-mu!" Zayn mencoba menarik tangan Aaliyah dari keyboard, namun wanita itu meronta.

​"Bantu aku, Zayn!" teriak Aaliyah, air matanya tumpah namun jemarinya tidak berhenti bergerak. "Alih-alih menyuruhku lari, bantu aku menjebaknya! Kau tahu kelemahan Rian! Katakan padaku, apa kelemahan kode Rian saat dia bekerja di perusahaanmu dulu?!"

​Zayn tertegun. Bentakan Aaliyah menyadarkannya bahwa wanita ini bukan berlian yang harus disimpan di dalam brankas, melainkan pedang yang siap ditebaskan.

​Dia benar. Mengapa aku harus selalu mengambil jalan mundur? Jika wanita ini bersedia mempertaruhkan nyawanya, maka aku sebagai suaminya harus berdiri di garis depan bersamanya.

​Zayn menatap layar yang menunjukkan pelacakan Rian sudah mencapai 75%. Otaknya bekerja dengan kecepatan maksimal.

​"Rian... dia sangat perfeksionis. Dia tidak pernah menggunakan proxy buatan orang lain, dia selalu mengarahkan pelacakan ke server mainframe miliknya sendiri untuk memastikan keamanannya," Zayn menganalisis dengan cepat. "Aaliyah, jangan lawan serangannya! Biarkan dia masuk sedikit lagi, lalu kirimkan virus Trojan-Horse yang pernah kau buat ke dalam paket data pelacakannya!"

​Aaliyah seketika menangkap maksud Zayn. "Kau jenius, Zayn! Kita akan menggunakan jalur pelacakannya sebagai jalan tol untuk mengirim virus yang akan melumpuhkan seluruh server pusat Baskoro!"

​Pelacakan Rian: 85%...

​Aaliyah menyisipkan sebuah file malware yang sangat merusak ke dalam paket data yang ditarik oleh Rian.

​Pelacakan Rian: 95%...

​"Kirim uangnya sekarang!" perintah Zayn.

​Aaliyah menekan tombol ENTER dengan sekuat tenaga.

​Di Jakarta, Rian tersenyum lebar saat layar komputernya menunjukkan angka 99%. "Gotcha! Aku dapat lokasinya—"

​Namun, sebelum angka itu mencapai 100%, layar Rian mendadak berubah menjadi merah darah. Tulisan "H_ZERO SAYS HELLO" memenuhi seluruh layarnya.

​BZZZTTT!

​Server utama di ruangan Rian meledak mengeluarkan percikan api. Seluruh sistem komputer Baskoro Group yang terhubung dengan mainframe itu mengalami pemadaman total (Blackout). Data mereka terkunci, dan jaringan mereka lumpuh dalam sekejap mata.

​Rian terpelanting ke belakang, menatap layar yang mati dengan wajah pucat pasi. "Tidak... tidak mungkin... dia membalikkan seranganku?!"

​Di gubuk Subang, layar laptop Aaliyah menunjukkan notifikasi hijau yang paling indah di dunia.

​TRANSFER COMPLETE. ANONYMOUS DONATION RECEIVED BY MEDIKA HOSPITAL.

​Aaliyah menjatuhkan tubuhnya ke sandaran kursi. Ia memejamkan mata, napasnya memburu, keringat dingin membasahi seluruh wajahnya.

​Zayn menatap layar itu, lalu menatap Aaliyah. Tanpa bisa ditahan lagi, ia menarik tubuh Aaliyah ke dalam pelukannya. Sangat erat. Ia membenamkan wajahnya di puncak kepala Aaliyah yang terbalut jilbab.

​"Kau berhasil, Aaliyah... kau berhasil menyelamatkannya," bisik Zayn, suaranya bergetar menahan haru.

​Aaliyah membalas pelukan Zayn, membiarkan air mata kelegaannya membasahi kemeja pria itu.

​Ya Allah... terima kasih. Engkau telah mengizinkan hamba menyelamatkan Ayah. Dan terima kasih... telah mengirimkan pria ini. Pria yang menolak lari, dan justru memilih berdiri di tengah badai bersamaku. Zayn... malam ini, hamba benar-benar merasa bahwa hamba tidak akan pernah sanggup kehilanganmu.

​Suasana di dalam gubuk itu mendadak terasa begitu hangat dan intim. Jarak di antara mereka telah sepenuhnya hilang, dilebur oleh perjuangan hidup dan mati yang baru saja mereka lewati bersama.

​Zayn perlahan melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah Aaliyah yang masih sembab. Dengan lembut, ibu jari Zayn menghapus sisa air mata di pipi wanita itu. Tatapan mereka bertemu dalam sebuah keheningan yang sarat akan makna.

​"Maafkan aku karena tadi menyuruhmu menyerah," bisik Zayn, wajahnya perlahan mendekat.

​Aaliyah terdiam. Ia bisa merasakan embusan napas Zayn yang hangat di wajahnya. Jantungnya berdegup jutaan kali lebih cepat daripada saat meretas server tadi. Ia tahu batasannya, namun entah mengapa, tubuhnya seolah membeku, terhipnotis oleh tatapan penuh cinta dari sang Raja Es.

​Namun, momen magis itu terpecah secara brutal saat laptop Aaliyah kembali berbunyi. Kali ini bukan suara notifikasi sukses, melainkan suara alarm peringatan merah yang sangat keras.

​Zayn dan Aaliyah seketika menoleh ke layar.

​WARNING. OFFLINE GPS PING DETECTED BEFORE BLACKOUT. LAST KNOWN LOCATION TRANSMITTED.

​Aaliyah memucat. "Zayn... sebelum virus itu mematikan server Rian... sebagian data lokasi kita sempat terkirim padanya lima detik yang lalu."

​Zayn mengutuk keras. Ia melihat ke arah luar jendela gubuk. Langit fajar mulai menyingsing, namun hujan masih menyamarkan pandangan.

​"Mereka sudah tahu kita di lereng gunung ini," rahang Zayn kembali mengeras. "Kita harus pergi. Sekarang."

​Sinetron kehidupan ini tidak memberikan mereka jeda sedikit pun untuk menikmati kemenangan. Perampokan digital itu berhasil, nyawa Kyai Abdullah selamat, namun harga yang harus dibayar adalah terbongkarnya tempat persembunyian terakhir mereka. Kematian kini sedang melaju ke arah mereka.

1
Sri Jumiati
cobaan berat bertubi tubi .terus menerus.kasihan Aaliyah
Rita Rita
AQ jadi kepikiran presiden RI,,, apakah pak Bowo Thor 🤔 novel mu Thor bikin tegangan tinggi
Misterios_Man: diem diem aja kak, jangan bilang-bilang /Shhh//Shhh//Shhh/
total 1 replies
Rita Rita
sultan memang iblis,,, meski udah dihantam kuat dengan tabung oksigen masih lagi sehat walafiat,,
Rita Rita
orang jahat memang selalu menang duluan,,🤭
Rita Rita
dari part ke part menegangkan,, Aaliyah bener bener wanita kuat,,yg cerdas dan genius. dia berjuang sendiri demi cinta pertama nya sang ayah tercinta,,
Sri Jumiati
ceritanya bagus
Rita Rita
meski tegang masih ada sisi romantis nya. Zayn bisa aja bikin Aaliyah baper kalo ga sedang kritis keadaan,,
Rita Rita
cieee Zayn,,, belum apa apa udah mengklaim permaisuri ku🤭🤣😍😍
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji
Zulfa
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!