Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.
Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.
Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 - Bertahan Untuk Selamat
Lingkaran cahaya itu terus berdenyut, semakin terang setiap detik, seolah mempercepat detak jantung ruang di sekitarnya. Alverion Dastan berdiri di tengahnya dengan napas yang tidak lagi teratur, dada naik turun dengan ritme yang kacau karena kelelahan yang menumpuk. Tubuhnya dipenuhi luka yang belum sempat pulih, sebagian masih mengalirkan darah tipis, sementara sebagian lain terasa panas dari dalam seperti ada sesuatu yang terus menggerusnya perlahan.
Makhluk-makhluk di sekelilingnya tidak memberinya kesempatan untuk menenangkan diri, apalagi berpikir panjang. Mereka bergerak tanpa pola yang mudah ditebak, seolah dikendalikan oleh satu dorongan yang sama dari lingkaran energi di bawah kakinya. Ruang yang sempit membuat setiap gerakan terasa terbatas, dan kesalahan sekecil apa pun akan langsung dibayar mahal.
Satu makhluk melompat dari depan dengan kecepatan yang lebih tinggi dari sebelumnya, bayangannya memanjang seperti bilah tajam yang diarahkan lurus ke tubuhnya. Alverion menggeser tubuhnya ke samping dengan sisa tenaga yang ia miliki, langkahnya sedikit terseret karena keseimbangan yang tidak lagi sempurna. Serangan itu melewati wajahnya dalam jarak yang sangat tipis, lalu ia langsung membalas dengan hantaman ke bagian tubuh makhluk itu yang tampak lebih padat dibanding yang lain.
Benturan itu terasa, namun hasilnya jauh dari harapan. Makhluk itu hanya terdorong mundur beberapa langkah, lalu kembali menstabilkan dirinya seperti tidak terjadi apa-apa. Tidak ada celah yang benar-benar terbuka, dan itu membuat Alverion menyadari bahwa kekuatan yang ia keluarkan sudah mulai tertinggal.
Dari sisi lain, dua bayangan bergerak bersamaan, menyerang dari arah yang berbeda untuk menutup ruang geraknya. Ia menunduk dan memutar tubuhnya dengan gerakan yang dipaksakan, mencoba keluar dari tekanan yang terus mendekat. Namun batas lingkaran itu seperti dinding tak kasat mata yang mempersempit langkahnya, membuat setiap upaya menghindar terasa setengah tertahan.
Sistem di dalam dirinya terus memberikan respons, kali ini lebih jelas dan lebih mendesak dari sebelumnya. Informasi yang muncul tidak memberi solusi, hanya menunjukkan kondisi yang semakin memburuk dengan angka yang tidak bisa ia abaikan. Kondisi tubuh berada di titik kritis, stamina hampir habis, dan tidak ada jalur mundur yang bisa dipilih.
“Mundur ke mana...” gumamnya lirih.
Ia tahu jawabannya, dan itu membuat napasnya terasa semakin berat. Tidak ada jalan keluar yang tersedia, tidak ada celah yang bisa digunakan untuk kabur. Yang tersisa hanyalah bertahan selama mungkin dengan kondisi yang terus menurun.
Serangan berikutnya datang lebih cepat, dan kali ini ia tidak sepenuhnya berhasil menghindar. Ujung bayangan itu menyentuh sisi tubuhnya, menciptakan luka baru yang langsung membuat ototnya menegang. Rasa sakitnya tajam dan menyebar cepat, membuat napasnya tersendat sejenak sebelum ia mundur beberapa langkah.
Lututnya hampir menyentuh tanah, tetapi ia menahan diri untuk tidak jatuh. Pandangannya sempat goyah, tepi penglihatannya mulai menggelap, namun pikirannya masih bertahan di satu garis yang sama. Ia memaksa dirinya untuk tetap fokus, mengabaikan sinyal tubuhnya yang sudah meminta berhenti.
Ia menyadari satu hal dengan jelas, bahwa ini bukan pertarungan yang bisa dimenangkan dengan cara biasa. Jika ia terus bertukar serangan dalam kondisi seperti ini, hasilnya sudah bisa ditebak. Ia harus mengubah pendekatannya sebelum semuanya benar-benar berakhir.
Matanya bergerak cepat, mengamati pola di sekelilingnya dengan sisa konsentrasi yang ia miliki. Lingkaran cahaya di bawah kakinya bukan hanya jebakan, tetapi juga pusat dari semua yang terjadi di ruang itu. Garis-garis yang menyala bukan sekadar pola acak, melainkan jalur yang mengalirkan energi ke satu titik.
Semua makhluk ini terhubung dengan itu.
Jika aliran itu terganggu, sesuatu pasti berubah.
Satu makhluk kembali melompat ke arahnya dengan gerakan yang lebih agresif, mencoba memanfaatkan celah yang terlihat dari tubuhnya yang mulai melemah. Kali ini Alverion tidak mundur sepenuhnya, ia justru maju satu langkah ke arah serangan itu dengan keputusan yang diambil dalam hitungan detik.
Serangan itu tetap mengenai bahunya, menciptakan luka baru yang lebih dalam, namun ia berhasil memperpendek jarak. Dalam posisi itu, ia menghantam bagian inti makhluk tersebut dengan seluruh tenaga yang masih tersisa di tubuhnya. Benturan itu menghasilkan respons yang berbeda, tubuh makhluk itu pecah menjadi bayangan yang tercerai sebelum akhirnya menghilang.
Satu berkurang, tetapi tekanan tidak ikut hilang.
Tiga lainnya langsung bergerak untuk mengisi ruang yang kosong, menyerang tanpa memberi jeda. Alverion menarik napas dalam meskipun terasa seperti menghirup udara panas yang menyakitkan. Ia mulai menyesuaikan ritmenya, tidak lagi mencoba menghindari semua serangan, melainkan memilih mana yang harus dihadapi dan mana yang bisa dimanfaatkan.
Setiap gerakannya menjadi lebih terarah, meskipun terlihat lebih berisiko. Ia membiarkan sebagian serangan mengenai tubuhnya selama itu memberinya posisi yang lebih menguntungkan. Rasa sakit tetap ada, tetapi tidak lagi menjadi hal yang menghentikannya.
Serangan datang dari belakang, dan kali ini ia tidak berbalik untuk menahannya. Ia melangkah ke depan pada saat yang sama, membiarkan dorongan dari serangan itu membantunya bergerak lebih cepat ke arah pusat lingkaran. Tubuhnya terdorong cukup keras, namun ia menggunakan momentum itu untuk menjaga keseimbangan.
Matanya mengunci pada pola di tanah yang semakin jelas terlihat. Garis-garis cahaya itu membentuk jalur yang berulang, seperti aliran yang terus mengarah ke titik tertentu. Ia mulai memahami ritme itu, bukan dengan logika sepenuhnya, tetapi dengan sesuatu yang terasa lebih dalam.
Artefak di dalam tubuhnya merespons dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Denyutannya menjadi lebih stabil, seolah menyelaraskan dirinya dengan aliran energi di sekitarnya. Ia bisa merasakan jalur-jalur itu dengan lebih jelas, seakan-akan tubuhnya mulai memahami apa yang sebelumnya terasa asing.
“Kalau begitu...” bisiknya pelan.
Ia mulai bergerak mengikuti pola yang ia rasakan, menginjak titik-titik tertentu di dalam lingkaran itu. Setiap langkahnya bukan lagi sekadar usaha bertahan, tetapi bagian dari sesuatu yang lebih terarah. Makhluk-makhluk di sekitarnya tetap menyerang, tetapi gerakan mereka mulai terganggu.
Kecepatan mereka menurun, arah serangan tidak lagi sepresisi sebelumnya. Seolah ada sesuatu yang terputus di antara mereka dan sumber yang menggerakkan mereka.
Alverion terus melangkah meskipun tubuhnya hampir tidak mampu lagi menopang dirinya. Napasnya semakin berat, pandangannya mulai kabur di tepi, tetapi ia tidak berhenti. Ia tahu jika ia berhenti sekarang, semuanya akan sia-sia.
Satu langkah lagi, dan satu lagi.
Energi di dalam lingkaran mulai bergetar dengan cara yang tidak stabil. Cahaya yang sebelumnya konsisten kini berkedip, seperti kehilangan keseimbangan. Suara aneh mulai terdengar dari makhluk-makhluk di sekitarnya, bukan lagi agresif, tetapi lebih seperti kehilangan arah.
Alverion mengangkat tangannya dengan sisa kekuatan yang ia miliki, lalu menghantam titik terakhir yang ia rasakan sebagai pusat dari aliran itu. Benturan itu tidak menghasilkan ledakan besar, tetapi sesuatu yang lebih dalam dari itu.
Cahaya di bawah kakinya runtuh perlahan, seperti struktur yang kehilangan penopangnya. Energi yang terkumpul menyebar tanpa arah, dan lingkaran itu kehilangan bentuknya.
Makhluk-makhluk di sekitarnya berhenti sejenak sebelum tubuh mereka mulai terurai menjadi bayangan yang memudar. Satu per satu menghilang, meninggalkan ruang yang perlahan kembali sunyi.
Alverion tetap berdiri di tengahnya, tetapi tubuhnya tidak lagi mampu bertahan lebih lama. Getaran halus terasa di kakinya sebelum akhirnya lututnya menyentuh tanah. Ia jatuh dengan napas yang tersengal, setiap tarikan terasa seperti menusuk dari dalam.
Dunia di sekitarnya terasa menjauh, suara-suara memudar hingga hampir tidak terdengar. Namun kesadarannya masih bertahan, meskipun tipis.
Sistem kembali aktif dengan suara yang lebih stabil, memberikan informasi yang sudah bisa ia tebak. Ancaman telah berkurang, tetapi kondisi tubuhnya berada di titik yang sangat buruk. Ia membutuhkan pemulihan secepat mungkin jika ingin tetap bertahan.
Alverion tertawa kecil, suaranya lemah dan tertahan oleh napas yang tidak stabil.
“Selalu saja telat...” gumamnya.
Ia mencoba mengangkat tangannya, tetapi otot-ototnya terasa berat seperti bukan miliknya sendiri. Luka-lukanya lebih dalam dari yang ia rasakan sebelumnya, dan beberapa di antaranya mulai bereaksi terhadap energi yang masih tersisa di sekitarnya.
Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang berbeda.
Artefak di dalam dirinya tidak lagi bergerak liar seperti sebelumnya. Denyutannya kini mengikuti ritme tubuhnya, menyatu dengan aliran energi yang ia miliki. Sensasi itu tidak sepenuhnya nyaman, tetapi cukup untuk memberinya kesadaran bahwa sesuatu telah berubah.
Ia menutup matanya sejenak, bukan karena kehilangan kesadaran, tetapi untuk merasakan perubahan itu dengan lebih jelas. Pikirannya yang sebelumnya dipenuhi tekanan kini terasa lebih tenang, seolah ada bagian yang akhirnya menemukan keseimbangannya.
Saat ia membuka mata kembali, pandangannya masih kabur, tetapi cukup untuk melihat bahwa ruang di sekitarnya telah berubah. Retakan di tanah menghilang, cahaya meredup, dan suasana yang sebelumnya menekan kini terasa lebih kosong.
Ia memaksakan diri untuk berdiri meskipun tubuhnya menolak. Kakinya goyah, tetapi ia tetap berdiri dengan sisa kekuatan yang ia miliki. Setiap langkah terasa berat, namun ia tidak berhenti.
Ia berjalan keluar dari area itu perlahan, meninggalkan tempat yang hampir menjadi akhir perjalanannya. Setiap langkah yang ia ambil terasa seperti menarik dirinya keluar dari sesuatu yang mencoba menahannya.
Saat ia menjauh, satu hal menjadi semakin jelas di dalam pikirannya. Ia memang selamat dari situasi itu, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang tidak lagi sama seperti sebelumnya.
Bukan hanya soal kekuatan, tetapi cara ia membaca keadaan dan mengambil keputusan. Pengalaman itu meninggalkan jejak yang lebih dalam dari sekadar luka fisik.
Alverion Dastan terus berjalan dengan tubuh yang penuh luka, meninggalkan ruang gelap itu di belakangnya. Di dalam dirinya, sesuatu yang baru mulai terbentuk perlahan, mengikuti ritme yang kini terasa lebih jelas daripada sebelumnya.