"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 04: Kecurigaan
Di perusahaan, Reno berjalan menuju ruangannya, ia menaiki lift yang hanya khusus untuk dirinya dan Jordi saja.
Ting!
Pintu lift terbuka, Reno kembali melangkahkan kakinya keluar dari dalam lift.
Melihat pimpinannya datang tiba-tiba itu, Jordi langsung berdiri dari duduknya dan menunduk sopan.
"Jo, ke ruanganku sekarang." ucap Reno.
"Baik, Tuan." sahut Jordi lalu langsung mengikuti langkah Reno.
Sesampainya di ruangan Reno, Jordi masih berdiri di hadapan Reno.
"Duduklah." ucap Reno.
Jordi pun mengangguk dan menarik kursi lalu menjatuhkan bobot tubuhnya di sana.
"Jo, tolong cari wanita malam itu yang kemarin satu kamar bersamaku. Jangan katakan itu pada orang tuaku, ini rahasia kita berdua, kalau sampai kau berani melanggarnya, jangan harap kau bisa hidup enak setelahnya." ancam Reno.
Jordi mengangguk cepat, "Tentu saja Tuan, saya akan segera mendapatkan biodata wanita itu."
Reno menyunggingkan senyumannya, "Baiklah saya menunggunya."
Jordi pun langsung beranjak dari duduknya dan berjalan keluar dari ruangan Reno.
Reno mendengus pelan, ia memijat kepalanya yang sedikit pusing, "Kalau masih ada Kak Zavia di rumah, semakin malas saja aku untuk pulang." gumamnya lalu mulai membuka laptopnya.
Hari minggu memang seharusnya libur dan mengistirahatkan pikirannya, tapi tidak dengan Reno, ia justru selalu menyempatkan waktu liburannya dengan pekerjaannya. Memang luar biasa.
***
Malam hari, Reno baru datang di rumah, suasana sudah sepi karena hari sudah mulai malam, ia langsung melangkahkan kakinya menuju kamar putrinya.
Ceklek~
Suster Ina yang menjadi pengasuh Lena itu langsung terduduk ketika melihat Reno datang.
"Selamat malam, Tuan." sapa Suster Ina lalu keluar dari kamar Lena.
Lena menatap Reno dengan mata yang berkaca-kaca, sedetik kemudian membuang pandangannya ke arah samping.
Reno tersenyum, "Good night kesayangan Daddy. Maafkan Daddy yang pulang terlalu lama, pasti Len menunggu Daddy kan? Daddy sudah pulang, ayo Daddy temani Len tidur."
Reno merebahkan dirinya di samping putri kesayangannya. Masih lengkap menggunakan pakaian kerjanya. Pria itu tercium sangat wangi.
"Tidak mau. Len ingin tidur dengan Sus Ina saja." pekiknya lalu menangis.
"Maafkan Daddy sayang, besok Daddy janji akan menemani Len jalan-jalan dan membelikan Len mainan yang banyak." ucap Reno seraya mengelus kepala Vellena dengan sayang.
Tidak adalagi rayuan permintaan maaf selain mainan untuk putrinya, karena pasti sudah menurut dan kembali tidak merajuk.
"Tidak mau, hiks, hiks." kata Lena lalu mengusap air matanya yang terus saja lolos dari pelupuk matanya.
Reno mendekap tubuh Lena, masih terasa hangat karena memang belum sepenuhnya sembuh, hati Reno teriris jika melihat putrinya bersedih. Ia sangat bingung menghadapi posisi seperti ini, lebih baik berhadapan dengan pekerjaan yang panjang.
"Sudah jangan menangis, Daddy kan sudah minta maaf pada Len. Len juga belum tidur kan?" Reno mencium kening Lena lalu membenarkan selimutnya yang sudah tidak beraturan karena Lena menendang-nendang kakinya dengan keras untuk meluapkan emosinya.
"Daddy selalu sibuk bekerja. Len ingin ditemani Daddy selalu tidak bisa! Len ingin Mommy juga Daddy selalu berkata tidak bisa! Daddy jahat, Len benci Daddy." pekik bocah kecil itu sambil menangis.
Reno mengambil napasnya panjang, "Mommy Bella adalah Mommy Len. Len jangan selalu membahas Mommy, Mommy Bella sudah tenang di surga."
"Tapi Dad, teman-teman Len masih punya Mommy." protes Lena.
Mommy Ellen memasuki kamar cucunya, ia menatap sengit pada Reno, "Pergilah, biar Len dengan Mommy saja. Suka sekali membuat anakmu terbebani dengan keegoisanmu, Ren." ucap Mommy Ellen lalu mendekati Lena dan mengusap air matanya.
"Len jangan bersedih, nanti Oma akan carikan Mommy untuk Lena." lanjut Mommy Ellen.
Mata Reno membola. Tentu saja ia tidak suka sang Mommy mengatur kehidupannya.
"Jangan berjanji apapun pada Lena, Mom. Karena konsekuensinya akan besar sekali. Reno tidak mau bertanggung jawab." sahut Reno seraya menggeser tubuhnya ke sudut ranjang.
Mommy Ellen tidak menyahut, hanya diam saja.
"Daddy ke kamar dulu sayang, setelah mandi, Daddy akan kembali ke sini menemani Len tidur." pamit Reno pada putrinya.
Lena mengangguk.
Reno tersenyum, "Jangan lupa berdo'a sebelum Len tidur." ucapnya memperingati pada sang putri sebelum kakinya melangkah keluar dari kamar putrinya itu.
***
Ibu Hesti megerutkan keningnya kala melihat putrinya kesakitan saat berjalan. Dea meringis sembari memejamkan matanya, jalannya pun terseok-seok.
"Kenapa dengan jalanmu yang seperti itu Dea? jangan ada yang kamu tutup-tutupi pada Ibu, katakan sejujurnya, apa yang sudah kamu lakukan saat bersama Arya tadi?" cecar Ibu Hesti menatap tajam pada Deana.
Deana menelan salivanya kasar, ia benar-benar tidak bisa menutupi cara jalannya yang aneh itu, bahkan kedua pahanya ingin rapat saja rasanya susah dan sakit sekali.
"Ti-tidak ada Bu, Dea hanya sakit di bagian tumit saja karena lelah bekerja. Ibu tahu kan, Dea kalau bekerja harus berjalan ke sana ke sini untuk mengantari pesanan, kebetulan kemarin hari weekend jadi ramai sekali." Deana tersenyum hambar lalu berpura-pura memijati kakinya.
Ibu Hesti mendekati Dea dan mengelus pundaknya, ia tersenyum, "Maafkan Ibu yang sudah salah mengartikan rasa lelahmu sayang, maafkan Ibu juga karena kamu harus membiayai sekolah Tio. Semoga setelah Tio lulus sekolah nanti, Tio segera mendapat pekerjaan."
Deana mengangguk. Jauh di lubuk hatinya ia sangat menginginkan salah satu keluarganya menjadi seorang sarjana, namun apa daya, untuk makan sehari-hari saja terkadang susah.
"Iya Bu, semoga Tio dilancarkan segala sesuatunya dan dibanyakkan rezekinya." do'a Deana.
Ibu Hesti mengangguk, "Aminn. Ya sudah kamu istirahat Nak, sudah malam."
"Iya Bu." balas Deana mengangguk.
Sepeninggalan Ibunya dari kamar, Deana terduduk lemas. Bagaimana kalau Ibunya tahu soal itu? kalau dirinya hamil bagaimana? pasti Ibunya akan marah padanya dan akan mendapat cacian dari tetangga-tetangganya. Deana sudah sangat bingung memikirkannya.
Deana mengelus perutnya yang rata, "Ya Tuhan, aku mohon jangan hamil." Deana memukul kecil perutnya.
***
Keesokan harinya, Reno bangun lebih awal karena hari ini adalah hari Senin, pekerjaannya lebih banyak dari hari-hari biasanya.
"Morning kesayangan Daddy, bagaimana keadaanmu sayang?" tanya Reno dengan senyum yang sumringah melihat putrinya makan dengan lahap.
"Kalau masih demam, Mommy akan membawa Lena ke rumah sakit, Ren." ucap Mommy Ellen.
Reno mendekati Lena dan memegang keningnya, panasnya masih tinggi, belum turun. Reno jadi ikut khawatir.
"Ya Mom. Sayang, makan yang banyak lalu minum obat." ucap Reno, "Hari ini istirahat di rumah saja. Sus Ina, tolong selalu awasi Lena." sambung Reno menatap Sus Ina yang duduk di samping Lena.
"Baik, Tuan." sahut Sus Ina patuh.
Daddy Samuel datang dan langsung duduk di kursi utama meja makan itu, "Ren, pulanglah lebih awal, akan ada tamu yang datang ke rumah."
"Siapa?" tanya Reno sembari memulai sarapan paginya.
"Keluarga Bertram."
Reno mengangguk, "Ya Dad, Reno usahakan datang lebih awal. Reno juga khawatir dengan keadaan Lena yang belum membaik." ucap Reno.
"Ya, Ren." balas Daddy Samuel.
"Lihat saja nanti sore putrimu sepertinya akan sembuh dari sakitnya, Ren." ucap Mommy Ellen tersenyum penuh arti.
Reno mengerutkan keningnya, namun di hatinya ia mengaminkannya, "Hm, apa bisa seperti itu Mom?"
"Ya, nanti Mommy akan kenalkan Fiona pada putrimu, begitu pula denganmu." jawab Mommy Ellen.
Reno mendesis pelan, ah rasanya ia muak sekali.
"Reno sudah lama kenal dengan Fiona, Mommy tidak perlu mengenalkannya padaku." balas Reno cuek.
Mommy Ellen tersenyum, "Kalau sudah kenal itu pertanda bagus, Ren."
Reno menghela napasnya berat, ia tidak memperdulikan ucapan Mommy nya lagi, ia justru asik melanjutkan acara makannya.