"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai Es {1}
Deru mesin kendaraan taktis yang mendekat terdengar seperti geraman monster logam yang merayap di aspal distrik perumahan yang sunyi. Yuuichi berdiri mematung di tengah halaman kerikil putih Dojo Hoshino. Angin pagi yang awalnya sepoi-sepoi kini mulai berputar liar di sekelilingnya, membawa hawa dingin yang tidak alami. Setiap hembusan napas Yuuichi keluar sebagai kabut putih yang tebal, membeku sebelum sempat menyentuh tanah.
Di belakangnya, pintu geser bangunan utama tertutup rapat. Ia bisa merasakan keberadaan Chika, Rina, dan Akari yang sedang sibuk di dalam, serta aura Sakura yang berdiri waspada di koridor belakang.
"Target terdeteksi. Dua kendaraan lapis baja ringan jenis Humvee modifikasi. Jumlah personel: Delapan orang. Mereka mengenakan zirah komposit dengan filter gas terintegrasi. Status: Tentara bayaran Proyek Chimera tingkat menengah."
"Manusia yang bermain menjadi Tuhan," gumam Yuuichi. Tangannya perlahan menggenggam gagang katana Nichirin. Ia tidak segera menariknya. Ia membiarkan musuhnya merasa bahwa mereka memegang kendali.
Kedua kendaraan itu berhenti tepat di depan gerbang kayu ganda Dojo. Suara pintu kendaraan yang dibuka secara serentak terdengar tajam. Yuuichi bisa mendengar langkah kaki bot militer yang berat di aspal, diikuti oleh suara pengisian peluru dari senapan serbu otomatis.
"Subjek 001! Kami tahu kau ada di dalam!" Sebuah suara parau yang diperkeras oleh pengeras suara bergema, memecah ketenangan lingkungan tersebut. "Keluar dengan tangan di atas kepala! Kami memiliki otorisasi untuk menggunakan kekuatan mematikan jika kau melakukan perlawanan!"
Yuuichi tidak menjawab. Ia justru berjalan perlahan menuju gerbang. Setiap langkahnya meninggalkan jejak es di atas kerikil putih. Tekanan mental yang dipancarkannya begitu kuat hingga seekor burung yang hinggap di pohon pinus jatuh membeku karena kaget.
"Miu, sinkronisasikan indraku dengan kelembapan udara di luar gerbang. Aku ingin menciptakan 'Zona Nol Mutlak' dalam radius sepuluh meter dari gerbang."
[ PROSES SINKRONISASI DIAKTIFKAN ]
[ KONSUMSI ENERGI: 15 POIN PER DETIK ]
[ STATUS: SIAGA TEMPUR ]
Yuuichi mendorong daun pintu gerbang kayu itu dengan satu tangan. Krieeet. Pintu terbuka lebar, menampakkan delapan orang tentara yang sudah membidikkan moncong senjata mereka ke arahnya. Mereka mengenakan seragam hitam legam tanpa lencana, dengan helm taktis yang menutupi seluruh wajah.
"Dia sendirian?" bisik salah satu tentara melalui saluran radio mereka, namun Yuuichi bisa mendengarnya dengan jelas berkat atribut REC yang tinggi.
"Jangan remehkan dia. Itu adalah Subjek yang menghancurkan Alpha di pasar," sahut komandan mereka yang berdiri di tengah, memegang sebuah alat pelacak laser. "Subjek 001, ini adalah peringatan terakhir. Berlutut atau kami akan menembak!"
Yuuichi menatap mereka dengan mata merahnya yang berkilat dingin. "Kalian bicara tentang berlutut, padahal kalian sendiri berdiri di atas kuburan yang kalian gali sendiri."
"TEMBAK!" teriak sang komandan.
RATATATATAT!
Semburan api keluar dari moncong senapan serbu. Puluhan butir peluru melesat menuju Yuuichi dalam kecepatan tinggi. Namun, sebelum satu peluru pun menyentuh pakaian Yuuichi, udara di depan gerbang mendadak membeku secara fisik.
Sebuah dinding es transparan namun sekeras baja muncul secara instan dari tanah. Peluru-peluru itu menghantam dinding es tersebut, tertanam di dalamnya, dan kehilangan seluruh momentumnya sebelum hancur menjadi serpihan logam.
"Apa-apaan?!" tentara itu terbelalak.
Yuuichi bergerak. Ia tidak lagi berjalan; ia meluncur di atas lapisan es yang muncul secara otomatis di bawah kakinya. Dalam sekejap, ia sudah berada di tengah-tengah mereka.
Sring!
Katana Nichirin akhirnya keluar dari sarungnya. Bilahnya yang biru es memancarkan cahaya yang menyilaukan di bawah sinar matahari.
[ KETERAMPILAN AKTIF: TEKNIK PERNAPASAN MATAHARI - VARIASI ES: LINTASAN KUTUB ]
Yuuichi mengayunkan pedangnya dengan gerakan horizontal yang lebar. Bukan hanya bilah pedangnya yang menebas, tetapi sebuah gelombang es berbentuk sabit melesat dari ujung pedang. Tiga tentara di barisan depan tidak sempat menghindar. Zirah komposit mereka yang diklaim antipeluru membeku seketika dan retak saat gelombang es itu lewat. Mereka terlempar ke belakang, tubuh mereka terbungkus kepompong es yang membuat mereka tidak bisa bergerak.
"Gunakan penyembur api! Cepat!" sang komandan berteriak panik, menyadari bahwa senjata konvensional tidak berguna.
Seorang tentara di belakang menarik pelatuk penyembur api taktis. Lidah api raksasa menyembur ke arah Yuuichi, mencoba mencairkan dominasi dinginnya.
Yuuichi hanya mendengus. Ia mengangkat tangan kirinya, telapak tangannya menghadap ke arah api.
"Terlalu panas untuk seleraku," ucap Yuuichi.
[ MANIPULASI ELEMEN: SERAPAN TERMAL ]
Api yang seharusnya membakar Yuuichi mendadak tersedot ke dalam sebuah pusaran dingin di telapak tangannya. Yuuichi menyerap energi panas tersebut dan mengubahnya menjadi energi dingin yang berkali-kali lipat lebih kuat. Detik berikutnya, ia menghempaskan tangan itu kembali.
Sebuah badai salju kecil dengan tekanan udara tinggi meledak dari tangannya, mematikan penyembur api tersebut dan membekukan tangki bahan bakarnya hingga retak seribu. Tentara pembawa api itu jatuh pingsan karena syok hipotermia instan.
Sementara pertempuran di gerbang depan berlangsung dengan dominasi mutlak Yuuichi, di tembok belakang Dojo, suasana tidak kalah tegang.
Sesosok bayangan yang sangat ramping berhasil memanjat tembok batu tanpa suara. Ia mengenakan pakaian infiltrasi yang dirancang untuk menyerap cahaya. Di tangannya terdapat sebuah alat pemotong laser untuk menembus pintu belakang.
Namun, saat kakinya menyentuh lantai kayu koridor belakang, sebuah suara dingin menghentikannya.
"Ayahku selalu bilang, seorang tamu yang masuk lewat tembok belakang bukanlah tamu yang diinginkan," ucap Sakura Hoshino.
Gadis itu berdiri di kegelapan lorong, memegang pedang kayu pemberian Yuuichi. Namun, pedang kayu itu sekarang memiliki pendaran biru tipis yang mengalir di sepanjang permukaannya. Mata Sakura, berkat transfer atribut semalam, mampu melihat setiap gerakan otot sang penyusup di dalam gelap.
"Hanya seorang gadis kecil?" penyusup itu meremehkan, menarik belati pendek dari pinggangnya. "Menyingkirlah jika kau ingin tetap cantik."
Sakura mengambil posisi kuda-kuda rendah yang diajarkan Yuuichi. "Aku tidak sedang mencoba untuk tetap cantik. Aku sedang mencoba untuk melihat seberapa cepat kau akan membeku."
Di halaman depan, Yuuichi berdiri di atas kap Humvee yang kini tertutup bunga es. Ia menatap sang komandan yang merupakan satu-satunya orang yang masih berdiri, meski senjatanya sudah jatuh dan tangannya gemetar hebat.
"Katakan pada atasanmu di markas pusat," Yuuichi mendekatkan wajahnya, hawa dingin dari napasnya membuat alis sang komandan memutih. "Jika satu bom pun jatuh di distrik ini, aku akan memastikan fasilitas utama Proyek Chimera berubah menjadi gunung es abadi."