NovelToon NovelToon
Enam Serangkai

Enam Serangkai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:830
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sunyi di markas dan perang dingin yang membekukan

Kampus tetap berjalan seperti biasa, namun bagi geng "Enam Serangkai", ada sesuatu yang mati di tengah-tengah mereka. "Markas Besar"—meja pojok di kantin fakultas yang biasanya berisik oleh tawa Eno Surya—kini hanya diisi oleh suara denting sendok yang beradu dengan piring.

Dewi Laras duduk memandangi gelas es tehnya yang embunnya mulai membasahi meja. Di depannya, kursi yang biasanya diisi oleh Bagas Putra kini kosong. Bagas tidak masuk kuliah selama tiga hari sejak malam kecelakaan itu.

"Dia masih di rumah sakit," suara Gia Kirana memecah keheningan. Gia tampak lebih kurus, bekas memar di pipinya sudah menguning, namun tatapannya tetap tajam. "Kondisi Tante Maria sudah stabil, tapi Bagas... dia nggak mau ditemui siapa-siapa. Terutama kita."

"Terutama gue, Gi. Ngomong aja yang jujur," sahut Laras lirih. Suaranya serak, sisa dari tangis yang pecah setiap malam.

Eno yang biasanya punya seribu satu cara untuk mencairkan suasana, kali ini hanya diam sambil mengaduk-aduk nasi gorengnya tanpa selera. Dia tidak lagi memakai kostum jerapah atau melontarkan tebakan garing. "Gue semalam ke sana, niatnya mau kasih martabak kesukaan dia. Tapi dia cuma bilang 'Makasih, No, tapi gue mau sendiri'. Dia bahkan nggak lihat muka gue."

"Ini yang diinginin bokap lo, Ras," Juna Pratama menyahut dari balik layar laptopnya yang penuh dengan barisan kode dan angka. "Dia bukan cuma mau narik lo ke Jakarta. Dia mau ngancurin support system lo. Dia tahu kalau geng ini hancur, lo nggak punya pilihan selain lari ke dia."

Laras mengepalkan tangannya. "Gue nggak akan pernah lari ke dia. Meskipun itu artinya gue harus kehilangan Bagas selamanya."

"Tapi lo nggak bisa diem aja," tegas Gia. "Bagas sekarang lagi di titik gelap. Dia anak polisi, dia tumbuh dengan rasa keadilan yang tinggi. Tapi sekarang dia lihat ayahnya sendiri—seorang perwira—nggak bisa berkutik karena ditekan atasan yang disuap bokap lo. Itu ngerusak mentalnya, Ras."

Tiba-tiba, sosok yang mereka bicarakan muncul di pintu kantin. Bagas berjalan dengan langkah berat, matanya cekung dan ada gurat amarah yang tertahan di rahangnya. Dia tidak menuju ke meja mereka. Dia langsung berjalan menuju loker tim basket, mengambil tasnya, dan hendak pergi lagi.

Laras tidak tahan. Dia berdiri dan berlari mengejar Bagas.

"Gas! Tunggu!" Laras menahan lengan jaket Bagas di selasar gedung yang sepi.

Bagas berhenti, tapi dia tidak menoleh. Bahunya menegang. "Gue mau ke rumah sakit, Ras. Jangan sekarang."

"Sampai kapan, Gas? Sampai kapan lo mau anggep gue kayak orang asing? Gue tahu bokap gue monster, tapi gue bukan dia!" teriak Laras, air matanya kembali jatuh.

Bagas berbalik perlahan. Tatapannya dingin, setajam sembilu yang menyayat hati Laras. "Lo tahu apa yang paling menyakitkan, Ras? Setiap kali gue liat muka lo, gue inget gimana nyokap gue terbaring di ICU dengan tulang rusuk patah. Gue inget muka bokap gue yang nunduk malu karena nggak bisa nangkep pelaku aslinya. Gue sayang sama lo, Ras... tapi sayang gue sekarang ketutup sama rasa benci gue ke keluarga lo."

Kalimat itu menghantam Laras lebih keras daripada tamparan apa pun. "Sayang" dan "Benci" diucapkan dalam satu napas yang sama.

"Kalau gitu, bantu gue jatuhin dia," bisik Laras di tengah isakannya. "Kita pake bukti yang Gia dapet. Kita pake data yang Juna kumpulin. Kita seret dia bareng-bareng."

Bagas tertawa sinis. "Hukum? Ayah gue udah coba, dan dia hampir kehilangan jabatannya. Hukum itu mainan bokap lo, Ras. Gue nggak akan pake cara itu lagi."

"Terus lo mau pake cara apa? Kekerasan? Itu yang dia mau, Gas! Dia mau lo berbuat kriminal supaya dia punya alasan buat singkirin lo selamanya!"

Bagas tidak menjawab. Dia melepaskan tangan Laras dengan kasar dan berjalan pergi, meninggalkan Laras yang terduduk lemas di lantai selasar.

Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, Eno, Gia, Rhea, dan Juna memperhatikan dengan hati yang hancur. Persahabatan mereka yang dulu sekuat karang, kini mulai terkikis oleh pasang surut dendam yang dibawa oleh orang dewasa.

"Gue nggak akan biarin ini," gumam Gia sambil menatap punggung Bagas yang menjauh. "Juna, buka folder 'Project Blackout'. Kita mulai malam ini. Kalau hukum nggak bisa nyentuh Pak Gunawan, kita pake cara mahasiswa: kita bikin kerajaannya runtuh dari dalam internet."

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!