Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjaga Aktif
Kehamilan ternyata membawa perubahan yang cukup aneh.
Bukan hanya pada tubuhku.
Tetapi juga pada Ashar.
Sejak dokter memastikan bahwa aku benar-benar hamil, Ashar berubah menjadi seseorang yang… sangat berhati-hati.
Bahkan terlalu berhati-hati.
Awalnya aku menganggap itu hal yang wajar.
Namun semakin hari aku mulai menyadari sesuatu.
Ashar bukan hanya protektif.
Ia juga jadi menjaga jarak.
Dan itu… sedikit membuatku bingung.
Malam itu aku sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.
Ashar duduk di ujung sofa lainnya dengan laptop di pangkuannya.
Aku melirik layar laptopnya.
“Buku lagi?” tanyaku.
Ia menoleh sebentar.
“Artikel.”
“Apa sekarang?”
“Hal-hal yang harus dihindari selama kehamilan.”
Aku menghela napas kecil.
“Ashar.”
“Iya?”
“Kamu sudah membaca terlalu banyak.”
“Tidak ada kata terlalu banyak untuk hal penting.”
Aku menggeleng sambil tersenyum kecil.
Beberapa detik kemudian aku berpindah sedikit lebih dekat ke arahnya.
Ashar tidak langsung menyadarinya.
Ia masih membaca.
Aku menyandarkan kepala di bahunya.
Biasanya ia langsung merangkulku.
Namun kali ini reaksinya berbeda.
Ia membeku.
Benar-benar membeku.
Aku menatapnya.
“Ashar.”
“Iya?”
“Kamu kenapa?”
Ia terlihat sedikit gugup.
“Aku… hanya tidak ingin menekan perutmu.”
Aku mengangkat alis.
“Kepalaku ada di bahumu.”
“Iya, tapi tetap saja.”
Aku menatapnya cukup lama.
“Ashar.”
“Iya?”
“Kamu menghindariku.”
Ia langsung menggeleng.
“Aku tidak menghindar.”
“Lalu kenapa kamu terlihat seperti orang yang takut menyentuh kaca mahal?”
Ia terdiam beberapa detik.
“Aku hanya tidak ingin membuatmu tidak nyaman.”
Aku menatapnya dengan mata menyipit.
“Ashar.”
“Iya?”
“Kehamilan tidak membuatku berubah menjadi benda rapuh.”
Ia menggaruk belakang lehernya.
“Aku tahu.”
“Tapi kamu tetap memperlakukanku seperti itu.”
Ia akhirnya menutup laptopnya.
Lalu menatapku dengan serius.
“Aku hanya takut menyakitimu.”
Kalimat itu terdengar sangat tulus.
Namun tetap saja membuatku sedikit kesal.
“Kalau kamu terus seperti ini, aku justru merasa seperti pasien rumah sakit.”
Ia terlihat bingung.
“Bukankah itu lebih aman?”
Aku langsung tertawa.
“Kamu benar-benar serius.”
Beberapa hari berikutnya aku mulai menyadari sesuatu yang lebih aneh.
Tubuhku terasa… lebih sensitif.
Lebih hangat.
Lebih mudah merasa dekat dengan Ashar.
Aku tidak tahu apakah itu karena hormon atau hanya karena perasaan bahagia.
Namun satu hal jelas.
Aku ingin berada dekat dengannya lebih sering.
Suatu malam ketika kami bersiap tidur, aku mendekatkan diri ke arahnya.
Ashar sedang membaca buku lagi.
Aku menutup buku itu.
“Ashar.”
“Iya?”
“Kamu membaca buku parenting bahkan di tempat tidur?”
“Itu kebiasaan belajar.”
Aku menatapnya sambil tersenyum kecil.
“Sekarang berhenti sebentar.”
Ia terlihat bingung.
“Kenapa?”
Aku hanya mendekat sedikit.
Namun reaksi Ashar langsung terlihat.
Ia mundur sedikit.
Aku langsung mengangkat alis.
“Kamu benar-benar menghindariku.”
“Aku tidak menghindar.”
“Lalu kenapa kamu mundur?”
Ia terlihat ragu menjawab.
Beberapa detik kemudian ia berkata pelan.
“Dokter bilang kita harus berhati-hati.”
“Ashar.”
“Iya?”
“Dokter tidak mengatakan kamu harus menjauhiku seperti ini.”
Ia menggaruk lehernya lagi.
“Aku hanya ingin memastikan.”
“Memastikan apa?”
“Bahwa kamu dan bayi aman.”
Aku menghela napas.
“Ashar, kehamilan bukan penyakit.”
Ia menatapku dengan ekspresi serius.
“Tetapi tetap tanggung jawabku untuk menjagamu.”
Aku menatap wajahnya beberapa detik.
Lalu tidak bisa menahan tawa kecil.
“Kamu terlalu serius.”
Ia mengangkat bahu.
“Mungkin.”
Aku akhirnya memeluknya.
Kali ini ia tidak mundur.
Namun tubuhnya masih terasa sedikit tegang seakan takut gerakannya akan menyakitiku.
Beberapa hari kemudian terjadi kejadian yang cukup lucu.
Aku tiba-tiba menginginkan sesuatu di tengah malam.
“Ashar.”
Ia setengah tertidur.
“Hm?”
“Aku ingin martabak.”
Matanya langsung terbuka.
“Sekarang?”
“Iya.”
Ia melihat jam.
“Ini jam satu pagi.”
“Aku tahu.”
Ia menatapku dengan ekspresi tidak percaya.
“Kamu serius?”
Aku mengangguk.
“Aku sangat serius.”
Ia menghela napas panjang.
Beberapa detik kemudian ia bangkit dari tempat tidur.
“Aku akan membelinya.”
Aku tersenyum puas.
Namun sebelum ia keluar kamar, aku berkata lagi.
“Tambahkan cokelat.”
Ia berhenti di pintu.
“Martabak cokelat?”
“Dan keju.”
Ia menatapku.
“Kombinasi itu sangat berat.”
“Aku tahu.”
Ia menggeleng sambil tertawa kecil.
“Baiklah.”
Ketika Ashar kembali setengah jam kemudian, ia membawa kotak martabak hangat.
Aku langsung duduk di meja makan.
Ashar memperhatikanku makan dengan ekspresi heran.
“Kamu benar-benar lapar.”
Aku mengangguk sambil mengunyah.
“Ini enak sekali.”
Ia tersenyum kecil.
“Tadi kamu bilang tidak terlalu suka makanan manis.”
“Hari ini suka.”
Ia menggeleng pelan.
“Kehamilan benar-benar aneh.”
Aku menelan makanan.
Lalu menatapnya.
“Ashar.”
“Iya?”
“Kamu tidak ikut makan?”
“Aku hanya ingin memastikan kamu puas.”
Aku tertawa kecil.
“Kamu benar-benar berubah.”
“Mungkin.”
Namun kali ini aku melihat sesuatu yang berbeda di matanya.
Bukan hanya protektif.
Tetapi juga bahagia.
Malam itu sebelum tidur aku memegang tangannya.
“Ashar.”
“Hm?”
“Kamu masih takut?”
Ia berpikir beberapa detik.
“Sedikit.”
“Kenapa?”
“Aku takut melakukan sesuatu yang salah.”
Aku tersenyum lembut.
“Kita akan belajar bersama.”
Ia mengangguk.
Namun kali ini ia menarikku lebih dekat.
Dengan hati-hati.
Tidak lagi terlalu kaku seperti sebelumnya.
Dan dalam pelukan itu aku menyadari sesuatu.
Ashar mungkin tidak pernah memiliki contoh seorang ayah.
Namun cara ia berusaha…
cara ia belajar…
cara ia menjaga kami…
sudah lebih dari cukup untuk membuatku yakin.
Bahwa suatu hari nanti…
anak kami akan memiliki sesuatu yang bahkan tidak pernah dimiliki Ashar sendiri.
Seorang ayah yang benar-benar berusaha.
Dan malam itu terasa hangat.
Penuh tawa kecil.
Penuh rasa aman.
Dan penuh harapan tentang keluarga kecil yang sedang tumbuh perlahan di dalam hidup kami.