Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.
Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.
Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…
Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 — Batas Kesetiaan
“Kau masih bisa menghentikan ini sebelum semuanya terlambat.”
Suara Gray merambat melalui earpiece tepat saat Leon mendorong pintu berat apartemennya. Suara itu tidak lagi terdengar seperti instruksi taktis yang biasa, melainkan sebuah permohonan yang dibungkus dengan nada otoriter yang mulai retak.
Leon tidak menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam kegelapan ruangannya, menutup pintu dengan satu sentakan lengan yang efisien. Bunyi klik dari kunci otomatis yang berputar terdengar nyaring di tengah kesunyian apartemen.
Apartemen itu terletak di lantai dua belas sebuah gedung brutalistik tua di jantung Distrik 2. Tidak ada sentuhan personal di dalamnya. Tidak ada bingkai foto yang menghiasi dinding, tidak ada tanaman yang tumbuh di sudut ruangan, bahkan tidak ada aroma makanan yang tersisa di dapur. Ruangan itu hanyalah sebuah kotak beton dengan meja logam panjang di tengahnya dan deretan rak senjata yang tertanam kokoh di dinding, tersusun berdasarkan kaliber dan jenis fungsi.
Tempat ini bukan sebuah rumah. Ini adalah hanggar persiapan bagi seorang predator yang tidak memiliki tempat untuk pulang.
Leon melepas jaket hitamnya, melemparkannya ke kursi lipat, lalu berjalan menuju meja logam. Ia menarik sebuah koper pelindung berukuran besar dari bawah meja.
“Aku tidak sedang bercanda, Leon,” lanjut Gray, suaranya kini bergetar karena frustrasi yang tertahan. “Kau sedang berjalan menuju sebuah jurang yang sengaja kau gali sendiri.”
Leon membuka pengait koper logam itu. Bunyi klik ganda bergema di langit-langit beton yang tinggi. Di dalamnya, tersusun dengan presisi militer: beberapa unit pistol semi-otomatis, barisan magasin cadangan yang terisi penuh, pisau taktis dengan bilah karbon hitam, dan dua unit granat kejut berukuran kecil.
Ia mengambil salah satu pistol, merasakannya dalam genggaman, lalu menarik bagian atas senjata itu untuk memeriksa kamar peluru. Logam yang bergesekan menciptakan bunyi mekanis yang tajam.
“Kau masih di sana?” tanya Gray saat Leon terdiam terlalu lama.
“Aku mendengar,” sahut Leon pendek.
“Bagus. Berarti kau juga mendengar dengan sangat jelas setiap risiko yang baru saja aku uraikan.”
Leon memasukkan magasin ke dalam lubang gagang pistol. Bunyi klik yang dihasilkan terdengar seperti penanda bahwa waktu negosiasi telah berakhir. “Aku tidak tertarik pada kalkulasi risikomu, Gray.”
Gray menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar seperti desisan statis di telinga Leon. “Ini bukan tentang kau tertarik atau tidak. Ini tentang bertahan hidup.”
Leon merogoh laci di bawah meja, mengambil sebuah peredam suara berbahan titanium. “Kalau begitu, berhentilah mencoba meyakinkanku.”
“Kau sedang merusak seluruh rencana besar yang sudah kita susun selama ini,” suara Gray meninggi, kehilangan ketenangan yang selama ini ia banggakan.
Leon mulai memasang peredam suara itu pada ujung laras pistolnya. Putaran logam itu berjalan halus hingga berhenti dengan bunyi pengunci yang nyaris tak terdengar. “Rencana siapa yang kau maksud?”
“Rencana kita. Masa depan kita setelah Helix runtuh.”
Leon mengangkat pistol itu, meluruskan lengannya, dan membidik sebuah titik imajiner di dinding beton yang kosong. Ia menahan napasnya selama tiga detik, membiarkan detak jantungnya melambat hingga ke titik terendah. Kemudian, ia menurunkan senjata itu kembali ke atas meja. “Tidak pernah ada rencana kita, Gray. Sejak awal, ini selalu menjadi rencanamu.”
Sunyi menyergap selama beberapa detik. Gray seolah kehilangan kata-kata untuk membalas kebenaran yang baru saja diucapkan Leon.
“Sudah sepuluh tahun aku membangun semua ini dari nol,” Gray akhirnya berkata dengan nada pelan yang menyayat. “Setiap jalur informasi, setiap kontrak yang kita ambil, semuanya adalah langkah catur untuk mencapai momen ini. Dan sekarang kau ingin membuang semuanya ke tempat sampah hanya demi seorang dokter distrik?”
Leon mulai memasukkan magasin cadangan ke dalam kantong-kantong tas taktisnya. Gerakannya tenang, tidak terpengaruh oleh ledakan emosi Gray. “Aku tidak sedang membuang apa pun. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan.”
Gray tertawa pendek, sebuah tawa yang terdengar sangat pahit. “Kau bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya sedang kau lindungi, Leon. Kau tidak tahu siapa wanita itu bagi Helix.”
Leon menutup ritsleting tas taktisnya dengan tarikan yang mantap. “Aku tahu cukup banyak.”
“Kau tidak tahu Helix,” potong Gray dengan nada tajam yang memekakkan telinga.
“Aku tidak perlu tahu seberapa besar mereka,” jawab Leon datar. “Aku hanya perlu tahu seberapa banyak peluru yang dibutuhkan untuk menghentikan mereka.”
Gray kembali diam. Ia seolah sedang menatap layar monitornya di suatu tempat, memperhatikan data yang tidak bisa dipahami oleh orang awam. “Helix tidak akan berhenti, Leon. Mereka bukan musuh yang akan menyerah hanya karena kau menembak beberapa tentara mereka.”
Leon berjalan menuju rak senjata utama di dinding. Ia menurunkan sebuah senapan pendek beraras pendek yang sudah dimodifikasi dengan sistem bidik optik terbaru. Ia memeriksa tuas penarik bolt, memastikan mekanismenya tidak terhambat oleh debu sedikit pun.
“Kau tidak bisa melindungi satu orang manusia dari organisasi yang memiliki kendali atas separuh kota ini,” lanjut Gray.
Leon memasang tali sling senapan itu di bahunya, menyesuaikan panjangnya agar senjata itu bisa ditarik dalam waktu kurang dari satu detik. “Aku tidak sedang mencoba melindunginya secara spesifik dari Helix.”
Gray mengernyit, suaranya terdengar bingung. “Lalu dari siapa? Seluruh pemburu bayaran di Valmere sedang menuju ke arahnya.”
Leon menjawab pelan sambil memeriksa pisau taktis di pergelangan tangannya. “Dari semua orang. Termasuk darimu.”
Gray terdiam cukup lama. Hanya ada suara dengung statis dari saluran komunikasi yang menandakan bahwa ia masih mendengarkan.
Leon berjalan mendekati jendela besar yang mendominasi satu sisi apartemennya. Di luar sana, Kota Valmere terbentang seperti hamparan sirkuit elektronik raksasa yang menyala dalam kegelapan. Lampu-lampu jalan di bawah sana tampak seperti lautan cahaya yang tidak berujung. Jembatan-jembatan baja membelah sungai hitam yang tenang, sementara gedung-gedung pencakar langit Helix menjulang di kejauhan seperti menara pengawas. Kota ini tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya menunggu mangsa berikutnya.
“Leon.”
“Apa.”
“Dengarkan aku sekali ini saja tanpa kau memotongnya,” Gray berbicara dengan nada yang jauh lebih tenang, hampir menyerupai bisikan.
Leon tidak menjawab, tetap menatap cakrawala kota yang dingin.
“Aku tidak peduli dengan formula biologis itu. Aku tidak peduli pada penemuan medis yang ada di dalam kepalanya,” kata Gray pelan. “Aku hanya peduli pada Helix. Aku ingin melihat mereka terbakar.”
Leon tetap diam, menunggu Gray menyelesaikan argumennya.
“Aku sudah menunggu selama sepuluh tahun untuk menarik mereka keluar dari bayangan. Aku sudah mengorbankan segalanya untuk momen ini,” lanjut Gray.
Leon berkata datar. “Kalau begitu lakukan saja tugasmu. Hancurkan mereka.”
Gray mengerang frustrasi, suaranya terdengar seperti harimau yang terperangkap dalam sangkar. “Aku hanya bisa melakukannya denganmu, Leon! Phantom adalah satu-satunya alasan mengapa mereka mulai merasa terancam dan keluar dari tempat persembunyian mereka!”
Leon tidak bergerak sedikit pun di depan jendela. “Kalau begitu cari Phantom lain. Valmere penuh dengan pembunuh yang haus akan uang.”
Sunyi kembali jatuh di antara mereka.
“Kau tahu kau tidak bisa digantikan,” Gray akhirnya berkata dengan suara rendah yang penuh dengan pengakuan yang menyakitkan.
Leon menoleh sedikit ke arah ponselnya yang diletakkan di atas meja. “Semua orang di dunia ini bisa digantikan, Gray. Kau sendiri yang mengatakannya saat kita pertama kali bertemu.”
“Tidak seperti kau,” sanggah Gray tajam. “Kau adalah karya terbaikku.”
Leon mengambil helm motornya dari atas meja logam. Permukaan helm yang hitam pekat memantulkan cahaya pucat dari lampu ruangan. “Kau terlalu melebih-lebihkan sebuah alat, Gray.”
Gray berbicara lebih cepat sekarang, seolah-olah ia sedang kehabisan waktu. “Helix tidak akan berhenti, Leon. Mereka akan datang dengan kekuatan yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya.”
Leon berjalan menuju pintu keluar, tas taktisnya tersampir di bahu.
“Mereka akan menghancurkan siapa pun yang berdiri di jalan mereka tanpa peduli berapa banyak nyawa yang melayang,” teriak Gray melalui earpiece.
Leon berhenti di ambang pintu apartemennya. Matanya menatap lorong gedung yang gelap dan sepi.
“Termasuk wanita itu,” Gray berkata dengan nada berat yang penuh peringatan.
Sunyi sejenak menyelimuti koridor tersebut. Leon akhirnya berkata dengan suara yang sangat pelan namun bergetar dengan kemantapan yang mutlak. “Kalau begitu, mereka harus melangkah melewati mayatku dulu.”
Gray menghela napas panjang di ujung sambungan sana. “Leon.”
“Apa.”
“Kau sedang membuat kesalahan terbesar dalam seluruh hidupmu.”
Leon menjawab tanpa sedikit pun emosi yang terdeteksi. “Mungkin saja.”
“Kau tahu aku bisa menghentikan semua kegilaan ini sekarang juga,” kata Gray pelan, suaranya kembali menjadi dingin dan penuh perhitungan.
Leon menatap pintu besi tangga darurat di depannya. “Bagaimana caranya?”
Gray menjawab dengan tenang. “Aku bisa menarik kontrak Helix secara sepihak. Aku bisa membatalkan semuanya melalui sistem mereka.”
Leon menggelengkan kepala sedikit. “Sudah terlambat untuk itu. Darah sudah mulai tumpah di jalanan.”
“Belum terlambat bagi kita,” sahut Gray tajam.
Leon akhirnya berkata dengan suara yang jauh lebih dingin dari sebelumnya, suara yang menandakan bahwa ia sedang menarik garis di antara mereka. “Dengarkan aku baik-baik, Gray.”
Gray terdiam, mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Aku sudah membuat keputusan akhir,” Leon melanjutkan.
Sunyi yang menyesakkan.
“Keputusan apa?” tanya Gray pelan.
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhnya. Tidak satu orang pun,” kata Leon datar.
Gray berteriak dari seberang sana. “Leon!”
Leon menyela sebelum Gray sempat memprotes lebih jauh. “Termasuk kau, Gray. Termasuk Helix. Termasuk setiap pemburu di kota ini.”
Gray mencoba membujuknya sekali lagi. “Leon, dengarkan logikamu, bukan perasaanmu.”
Leon menutup pintu apartemennya dengan bunyi klik yang kering dan final. Ia berjalan menuju tangga darurat dengan langkah yang stabil dan tenang. Sepatu botnya menghantam beton dengan irama yang mantap.
Gray masih terus berbicara di earpiece, suaranya terdengar semakin jauh. “Kau sedang tidak berpikir jernih. Kau sedang dikendalikan oleh sesuatu yang tidak kita rencanakan.”
“Justru sekarang aku sedang berpikir dengan sangat jernih,” sahut Leon sambil menuruni anak tangga pertama. “Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun.”
Gray berkata dengan nada terakhir yang mencoba menahan ledakan emosinya, sebuah peringatan yang kini menjadi sangat nyata. “Kalau kau terus berjalan di jalur ini, kau akan memaksaku untuk memilih sisi yang berseberangan denganku.”
Leon berhenti di tengah tangga darurat. Ia menatap ke bawah, ke arah kegelapan yang menantinya di dasar gedung. Keheningan berlangsung selama beberapa detik.
“Kalau begitu pilihlah dengan sangat hati-hati, Gray,” ucap Leon dengan suara yang sangat tenang.
Gray tidak memberikan jawaban langsung.
Leon melanjutkan kalimatnya, memberikan ultimatum yang mengubah hubungan mereka selamanya. “Karena jika kau tidak berdiri di pihakku saat fajar menyingsing nanti, aku tidak akan ragu untuk memperlakukanmu sebagai musuh.”
Beberapa detik berlalu dengan kesunyian yang mencekam di saluran radio mereka. Lalu, Gray akhirnya bertanya dengan suara yang sangat rendah, sebuah pertanyaan yang mengandung kepahitan yang mendalam.
“Dan sekarang kau benar-benar siap menodongkan senjata padaku hanya demi dia?”
Leon tidak menjawab. Ia hanya terus melangkah turun ke dalam kegelapan, meninggalkan Gray yang membeku di ujung frekuensi. Kesetiaan mereka selama sepuluh tahun baru saja mencapai batas akhirnya.