Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."
Sinopsis Cerita:
Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Tiga Aturan Sekte Bintang Jatuh dan Ujian Lautan Gletser
Berikut adalah Bab 33 dari "Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir", melanjutkan setelah Ye Chen dan Yin Xue bersaudara berhasil mendapatkan tiket menuju Domain Pusat.
Setelah insiden di Kawah Meteorit, Kota Bintang Jatuh seakan menahan napas. Nama "Ye Gu" menjadi tabu untuk dibicarakan secara terbuka, namun menjadi bisik-bisik liar di kedai-kedai teh dan aula pertemuan klan. Seorang Dewa Fana yang mampu memukul mundur Xing Ming—jenius nomor satu Sekte Bintang Jatuh—kini menjadi sosok yang paling diawasi.
Di sebuah penginapan mewah yang disediakan oleh Klan Pedang Perak, Ye Chen duduk bersila di atas ranjang batu giok. Energi kosmik dari Sumsum Bintang Jatuh masih berdesir di dalam nadinya, memperkuat Tulang Emas Gelap-nya setiap detik.
"Hah..." Ye Chen menghembuskan napas panjang. Udara di sekitarnya sedikit terdistorsi karena tekanan yang tidak stabil. "Efek dari Sumsum Bintang ini terlalu kuat. Meminumnya mentah-mentah memang berisiko, tapi hadiahnya sepadan."
Tok! Tok!
Suara ketukan halus terdengar dari pintu. "Tuan Ye, ini Yin Yue. Boleh saya masuk?"
"Masuklah."
Pintu terbuka. Yin Yue melangkah masuk, wajah cantiknya memancarkan campuran rasa hormat dan kekhawatiran. Di tangannya, dia membawa sebuah kotak kayu panjang.
"Tuan Ye, kami telah menyiapkan segala perbekalan untuk ekspedisi Anda ke Lautan Gletser Utara," kata Yin Yue, meletakkan kotak itu di atas meja. "Di dalamnya ada Pil Pemanas Sumsum, Peta Gletser yang diperbarui, dan sebuah Artefak Komunikasi Jarak Jauh."
Ye Chen membuka kotak itu, memeriksa isinya secara singkat. "Terima kasih. Tapi kau terlihat cemas. Ada apa?"
Yin Yue menghela napas. "Xing Tian... Ketua Sekte Bintang Jatuh. Dia bukan orang yang mudah melepaskan dendam. Memberikan Anda misi ini adalah sebuah jebakan."
"Jebakan?" Ye Chen tersenyum tipis. "Maksudmu dia berharap aku mati konyol di perut Leviathan?"
"Itu satu hal," jawab Yin Yue. "Hal lainnya adalah Tiga Aturan Sekte Bintang Jatuh."
Yin Yue menatap mata hitam Ye Chen. "Aturan Pertama: Semua yang masuk ke wilayah Lautan Gletser Utara akan ditekan kultivasinya. Dewa Sejati tidak bisa masuk, dan Dewa Fana akan merasakan Qi mereka membeku. Aturan Kedua: Leviathan Es Kuno adalah makhluk yang dilindungi oleh Hukum Alam di sana; menyakitinya akan memancing kemarahan Badai Abadi. Dan Aturan Ketiga..."
"Jika aku berhasil kembali membawa Inti Roh Bulan, mereka akan merampasnya dan membunuhku," potong Ye Chen dengan nada bosan.
Yin Yue terdiam. Itulah kebenarannya.
"Kau tidak perlu khawatir, Yin Yue," Ye Chen berdiri, meraih jubah hitamnya. "Di duniaku sebelumnya, aturan dibuat oleh mereka yang memegang pedang. Jika Xing Tian ingin bermain-main, aku akan menunjukkan padanya bagaimana cara menghancurkan papan caturnya."
"Saya hanya berharap Anda selamat, Tuan Ye. Klan Pedang Perak berhutang nyawa pada Anda," kata Yin Yue, menundukkan kepalanya.
"Jaga klanmu dengan baik. Setelah urusanku dengan Formasi Teleportasi selesai, aku tidak akan kembali ke wilayah utara ini."
Ye Chen melangkah keluar dari penginapan, menuju pelabuhan Kota Bintang Jatuh. Tujuannya hanya satu: Ujung paling utara dari Benua Pinggiran, tempat di mana hawa dingin bisa membekukan bahkan jiwa itu sendiri.
Tujuh Hari Kemudian. Tepi Lautan Gletser Utara.
Angin sedingin es menerpa wajah Ye Chen. Sejauh mata memandang, hanya ada hamparan laut hitam pekat yang tertutup oleh gunung-gunung es raksasa yang melayang lambat. Langit di atasnya berwarna abu-abu gelap, tidak pernah melihat matahari.
Suhu di sini tidak masuk akal. Begitu kaki Ye Chen menyentuh lapisan es pertama, dia bisa merasakan Qi Dewa di dalam Dantian-nya melambat secara drastis.
"Dingin sekali," gumam Ye Chen. "Bahkan Api Inti Bumi Ungu-ku harus bekerja ekstra hanya untuk menjaga darahku tetap mengalir."
Ye Chen mengaktifkan Tulang Emas Gelap-nya, membiarkan energi kosmik dari Sumsum Bintang Jatuh mengalir ke seluruh tubuhnya, menciptakan lapisan isolasi panas tipis di bawah kulitnya.
Dia mengeluarkan Peta Gletser dari cincinnya. "Palung Es Biru... Tempat tidur Leviathan itu berada ratusan mil dari sini, di dasar samudra yang paling dalam."
KREAK... KRAK...
Baru saja Ye Chen melangkah sepuluh meter di atas es, suara retakan keras terdengar dari bawah kakinya.
Bukan es yang pecah. Tapi sesuatu yang merobek es dari bawah.
BLARR!
Sebuah bayangan putih raksasa meledak dari dalam air beku, moncongnya yang penuh dengan gigi tajam seperti gergaji es mengarah tepat ke tubuh Ye Chen.
Hiu Roh Gletser (Glacier Spirit Shark). Binatang Dewa Tingkat 2!
Di alam bawah, ini adalah monster yang setara dengan Nascent Soul Menengah. Di sini, di bawah tekanan Lautan Gletser, kecepatannya meningkat drastis berkat elemen es alami.
Ye Chen tidak panik. Matanya yang tajam merekam setiap inci pergerakan Hiu itu.
"Latihan pemanasan."
Ye Chen tidak menggunakan pedang. Dia mengepalkan tangan kanannya, memusatkan Qi Dewa yang telah dikompresi ke dalam tinjunya.
Saat rahang Hiu itu terbuka lebar untuk menelannya utuh...
Langkah Naga Awan!
Ye Chen melesat, bukan menghindar, melainkan menerjang lurus ke dalam mulut Hiu tersebut!
DUMMM!
Sebuah ledakan tumpul terdengar dari dalam tubuh Hiu Roh Gletser itu. Sedetik kemudian, punggung Hiu itu meledak hancur, darah biru menyembur ke udara. Ye Chen menembus keluar dari punggung monster itu, mendarat dengan mulus di atas es yang licin, sementara bangkai Hiu itu jatuh kembali ke dalam air yang bergolak.
Ye Chen mengibaskan darah biru dari tangannya.
"Tidak ada waktu untuk bermain-main. Aku harus menemukan Leviathan itu sebelum badai memburuk."
Ye Chen mempercepat langkahnya, berlari menembus angin beku. Dia tidak tahu bahwa dari kejauhan, melalui sebuah cermin es ajaib, sepasang mata tua sedang mengawasinya dengan saksama.
Di Puncak Menara Bintang Jatuh, Tetua Xing Kuang tersenyum sinis.
"Bocah itu benar-benar masuk. Mari kita lihat, seberapa lama kesombongannya bisa bertahan di hadapan kengerian sejati Lautan Gletser."
Perburuan untuk mendapatkan Kunci Bulan dan tiket menuju Domain Pusat telah resmi dimulai.
(Akhir Bab 33)