Dia Xuan Huan. seorang pejuang tingkat sembilan. Programmer sekaligus hacker yang sangat ditakuti. Banyak lawan yang sudah ditaklukkan, bahkan ada yang berkeinginan untuk menjalin kerja sama.
Proyek terakhir yang Ia kerjakan, adalah proyek kecerdasan buatan, yang bisa menjelajahi alam semesta. Penuh dengan kode kode rumit dan mencengangkan.
Quantum Xuan, itulah nama programnya. Tapi karena program itu dia harus mati, dan jiwanya ditempatkan pada tubuh seorang gadis lemah 12 tahun ke belakang, yang juga mati karena penganiayaan. Lalu bisakan tubuh dengan jiwa Xuan membalas dendam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aditya Jetli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Pengalihan dua
"Nindya, oh, bukan. Nona Nindya. Tolong maafkan kami yang selama ini buta, tidak bisa melihat tingginya gunung di depan mata."
"Selama ini kami tidak tahu bahwa anda adalah pemilik asli yayasan ini. Kalau kami tahu, tidak mungkin kami tidak menghormati anda Nona." ucap Bima mencoba mencari muka pada atasan barunya.
"Oh, pak Bima ya. Hampir aku lupa, bahwa anda selalu memotong beasiswa kami tanpa alasan, bahkan jumlahnya sangat besar."
"Dari enam juta yang harus kami terima, anda hanya menyerahkannya pada kami sebesar 1 juta saja. Lalu yang lima jutanya kemana. Hilang atau ditilep ya pak Bima?"
"Bukan begitu Nona. Yayasan yang memotongnya dengan alasan prestasi anda sudah menurun, dan jarang masuk sekolah, dan itu disetujui oleh sebagian besar pengurus yang ada." jawab Bima.
"Benarkah begitu pak Pramana. juga yang lainnya. Apakah kalian tahu tentang pemotongan itu?"
"Kami tidak tahu Nona. Itu sepenuhnya dibawah wewenang pak Bima, dan kami hanya mendengar ceritanya saja."
'Oh, ada yang seperti itu rupanya. Quan! coba selidiki kecurangan yang selama ini dilakukan oleh Bima juga guru guru lainnya. Jika terbukti menyalahgunakan kekuasaan, maka aku tidak akan segan untuk memecat mereka!' ucap Xuan melalui mata batinnya.
[Baik tuan, akan segera Quan tampilkan di depan anda]
"Bagus, aku tunggu hasilnya."
Maka dalam sekejap saja, informasi yang sangat akurat serta terperinci muncul di depan Xuan Nindya, bahkan ditampilkan melalui slide pula.
Orang lain tentu tidak bisa melihat itu, hanya Xuan Nindya seorang. Xuan Li saja tidak bisa melihatnya.
"Hemm. Ternyata begitu. Pak Bima, bagaimana dengan bantuan alat alat labor juga perpustakaan Apakah sudah dialirkan sebagaimana mestinya?"
"Sudah Nona. bahkan alat sekecil apapun tidak luput dari pencatatan. dan semua barang barang itu ada di perpustakaan termasuk di gudang." jawab Bima
"Benarkah begitu? Tapi saya melihat sebaliknya. Kau menggunakan sebagian besar dana itu untuk kepentinganmu sendiri, dan guru guru lain yang bekerja sama denganmu juga banyak. Apa penjelasanmu pak Bima?"
"Anda jangan asal menuduh Nona. Jika ada buktinya, tolong tunjukkan kepada kami. Karena kami melakukan itu sesuai dengan prosedur, dan semua ada sop nya!" bantah Bima
"Benarkah begitu. Bagaimana dengan yang ini pak Bima?" reaksi Nindya. yang mereka masih memanggilnya begitu.
Kemudian mengklik layar di depannya. dan dalam sekejap saja, visualisasi kecurangan Bima juga yang lainnya sudah terpampang di depan mata.
Bima, Juna serta Ratih, adalah trio kawakan yang selalu bertindak semena mena.
Mereka tidak segan segan memotong beasiswa, bantuan serta sumbangan dari orang tua siswa. Bahkan sebagian besarnya mereka bagi rata, yang jumlahnya, sekali terima bisa mencapai 300 sampai 500 juta. dan itu ditampilkan di depan mata.
Bukan hanya itu, mereka juga terlibat dalam sindikat penggelapan dana hibah, dana wakaf, dana umat juga dana masyarakat.
Semua itu dikemas cukup rapi, dan berkedok bantuan kemanusiaan. Padahal sejatinya dipakai untuk kepentingan mereka sendiri.
"Anda sudah melihat itu guru guru semua. Tiga orang ini selama bertahun tahun telah menipu kalian, demi untuk memperkaya diri sendiri. dan kalian hanya dijadikan tumbal saja. yang menikmati tetap mereka bertiga. Jadi menurut kalian, apa yang sepantasnya kita lakukan pada mereka?"
'Gawat! Bagaimana bocah itu bisa mengetahui ini semua. siapa sebenarnya dia?' batin Bima.
"Pak Bima, bagaimana ini?Kecurangan kita sudah terbongkar, dan kita tidak bisa mengelaknya lagi. Apa kita harus berterus terang dan meminta maaf pada bocah itu?" tanya Juna.
"Benar pak Bima. saya juga takut jika harus masuk penjara, karena tanggunganku masih banyak. Cicilan mobil untuk anak anakku juga belum lunas. Jika diperkarakan, maka habislah kita"
"Semua harta yang kita miliki akan disita untuk mengganti kerugian yang telah kita timbulkan selama ini, dan saya tidak mau itu terjadi. Jadi cepat cari solusinya pak Bima. mumpung anda masih berstatus sebagai kepala sekolah "bisik Ratih pula.
"Tidak bisa! Kita bertiga yang harus mencari solusinya, bukan hanya saya sendiri, karena ini sudah kesepakatan. Jika masuk penjara, maka tiga tiganya harus masuk!"
"Tidak boleh begitu pak Bima. Saya tidak mau masuk penjara, karena semua ini atas usul dari anda sendiri bukan?"
"Nona Nindya, itu semua atas bujukan dari Pak Bima. Kami hanya ikut saja. Jadi tolong jangan laporkan kami pada polisi atau petugas kota."
"Jika anda menuntut kami, maka habislah masa depan anak anak. Mereka semua masih kecil dan butuh bimbingan dari orang tua. Jadi mohon selamatkan kami Nona Nindya. Sekali ini saja." ucap Ratih tiba tiba.
"Pak Pramana. Apa yang sebaiknya kita lakukan pada mereka?"
"Yayasan ini milik anda Nona. Kami hanya ikut saja. Begitu juga dengan guru guru yang lain." jawab Pramana.
"Benar Nona. Kami hanya mengikuti Nona saja" jawab yang lainnya.
"Baik, kalau begitu dengarkan arahan. Mulai hari ini Kepala Sekolah yang bernama Pak Bima aku bebas tugaskan, dan akan dilaporkan pada petugas kota."
"Untuk pak Juna juga demikian. Sementara untuk bu Ratih, aku juga akan melaporkannya pada petugas kota."
"Selain itu seluruh hartanya akan saya sita, untuk mengganti kerugian, karena dia dalam kasus ini berperan sebagai bendahara, dan dialah yang paling banyak menerima bagian."
"Untuk memimpin sekolah ini, saya tunjuk pak Jaya Karta sebagai pimpinan, dan bu Vina sebagai bendaharanya."
"Sedangkan untuk empat wakilnya, silahkan anda semua berembuk setelah rapat ini selesai."
"Untuk sementara, tolong rahasiakan kepemilikan ini pada siswa yang lainnya, kecuali Kirana, karena dia wakil ku saat saya tidak ada. dan keputusannya adalah keputusanku juga, yang tentunya tidak melanggar aturan."
"Untuk pak Pramana. Silahkan cek saldo di rekening anda, karena uang sebesar sebesar 970 miliar sudah saya transfer ke dalamnya."
"Untuk masalah surat surat kepemilikan, orang orang ku yang akan mengurusnya. dan anda hanya tinggal tanda tangan saja. Bagaimana, apakah Pak Permana bersedia?"
"Nona. Kami semua adalah bawahan anda. Tidak mungkin kami menetapkan harga yang sangat mahal seperti itu. Yayasan ini sepenuhnya kami serahkan kepada anda, tanpa sepeser pun anda harus membayarnya."
"Jadi silahkan tarik kembali uang itu, karena kami tidak berani menerimanya." respon Pramana.
"Tidak bisa. Harga adalah harga. Benda adalah benda. Untuk mendapatkannya harus dibayar dengan uang. dan uang itu sudah saya bayarkan kepada anda."
"Jadi mulai saat ini setelah penandatanganan selesai, yayasan yang semula bernama Tunas Bangsa, saya rubah menjadi Yayasan Xuan, karena mulai hari ini nama panggilan ku bukan hanya Nindya atau Anindya saja, tapi Xuan Nindya."
"Namun dalam administrasi sekolah juga negara, namaku tetaplah Anindya. Panggilan ku saja yang berubah menjadi Xuan Anindya, atau Xuan Nindya"
"Namun anda semua boleh memanggil ku Nindya atau Nina saja. karena anda semua adalah guru guruku sekaligus orang tuaku."
"Jadi mulai hari ini. Sekolah ini juga sembilan usaha kecil lainnya sudah resmi menjadi milikku, dan kepengurusan nya saya serahkan pada pak Pramana juga guru guru lainnya."
"Sekarang karena semua sudah jelas, saya izin pamit dan masuk kelas seperti biasa." ucap Nindya.
Lalu tanpa basa basa lagi langsung keluar dari ruang rapat, dan segera kembali ke kelasnya.