NovelToon NovelToon
SPION KIRI

SPION KIRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Mata Batin
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: nhatvyo24

Di antara aroma aspal basah setelah hujan dan asap sate maranggi di pinggiran jalur Cisaat, Adella Veranza Tan hanya ingin menjalani hidup normal sebagai mahasiswi hobi motoran.

Bersama Sasha Eliana Wijaya, sahabatnya yang terobsesi pada kuliner hits Instagram, Della membelah kabut Sukabumi dengan Scoopy krem kesayangannya.

​Namun, bagi Della, spion motor bukan sekadar alat pantau lalu lintas. Sejak kunjungan ke sebuah kedai kopi "tersembunyi" di lereng gunung, spion kirinya tak lagi menampilkan aspal yang kosong.

​Ada sosok yang betah duduk di jok belakang, tepat di belakang Sasha yang tak menyadari apa pun.

​Gerian Liemantoro, mekanik andalan sekaligus sahabat masa kecilnya, mulai curiga saat mesin motor Della sering kali "berat" tanpa alasan teknis.

Ada sesuatu yang ikut berboncengan.

"Loe ngerasa motor gue berat nggak, Sha?"

​"Enggak ah, Del. Perasaan loe aja kali, atau sate tadi emang bikin kenyang bego?"

​Della melirik spion kiri, Sosok itu kini balas menatapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nhatvyo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: Dasar Sungai

​BRAAAK!

​Suara benturan logam dengan bebatuan sungai menggema di kesunyian hutan Situ Gunung.

Scoopy krem itu tergelincir, jatuh menghantam tepian sungai kecil yang dangkal. Della terlempar ke semak-semak, sementara Sasha terjatuh di atas tanah berlumpur, berteriak kaget namun untungnya tidak terluka parah.

​"Della! Sasha!" Geri mengerem mendadak, hampir menjatuhkan motor trail-nya sebelum melompat turun untuk menolong mereka.

​Della meringis, sikunya lecet terkena batu, tapi matanya langsung mencari keberadaan motornya. Si Creamy tergeletak miring, mesinnya masih menyala dengan suara yang tercekik. Anehnya, ban belakangnya masih berputar kencang meski tidak ada yang menarik gas.

​"Loe gila, Del? Gue udah bilang jangan ke kiri!" bentak Geri sambil menarik Della berdiri.

​"Tadi ada angkot, Ger... lampunya silau banget di spion," bisik Della dengan suara bergetar. Ia menunjuk ke arah spion kiri motornya.

​Geri melihat ke arah motor itu.

Spion kiri Scoopy Della kini menghujam ke dalam air sungai yang jernih namun dingin. Cairan hitam yang tadi dilihat Geri di bengkel kini merembes keluar dari kaca spion, mencemari aliran air sungai seperti tinta.

​"Del, liat..." Sasha menunjuk ke dasar sungai yang dangkal.

​Di bawah permukaan air, tepat di titik spion Della terendam, terlihat sebuah kerangka motor tua yang sudah berkarat habis, hampir menyatu dengan lumut dan batu. Motor itu adalah model bebek tahun 90-an yang sudah hancur tak berbentuk.

​Tiba-tiba, suasana di sekitar mereka berubah. Suara burung hutan mendadak hilang, Air sungai yang tadinya mengalir tenang mulai bergejolak, dan dari balik kabut di seberang sungai, sosok pria berjaket hujan transparan itu muncul.

​Kali ini dia tidak duduk di motor. Dia berdiri di atas air, menatap lurus ke arah motor Della.

​"Punya... ku..." suara itu terdengar seperti gesekan amplas pada besi.

​Pria itu perlahan melangkah mendekati Scoopy Della. Setiap langkahnya membuat air sungai di sekelilingnya membeku seketika. Geri mencoba menghalangi dengan kunci pas di tangannya, tapi Mang Asep yang tiba-tiba muncul dari balik pohon menahan pundak Geri.

​"Jangan dilawan pakai kekerasan, Jang. Dia cuma mau mengambil apa yang dia pikir miliknya," ujar Mang Asep tenang, meski wajahnya terlihat tegang.

​Della memberanikan diri mendekat ke motornya. Ia melihat ke spion kiri yang terendam air. Di dalam pantulan kaca yang basah itu, ia melihat wajah pria itu kini berubah. Tidak lagi hancur, melainkan wajah seorang pemuda biasa yang tampak ketakutan. Pemuda itu sedang mencari sesuatu di dalam air.

​"Dia nggak butuh mata gue," gumam Della tiba-tiba, seolah mendapat pencerahan. "Dia cuma mau nemuin spionnya sendiri biar dia bisa liat jalan buat pulang."

​Della merogoh ke dalam air sungai yang dinginnya menusuk tulang, tepat di bawah motornya yang jatuh. Di sela-sela mesin motor tua yang karatan itu, jemari Della menyentuh sesuatu yang bulat dan tajam.

​Sebuah spion motor tua yang pecah.

​Begitu Della mengangkat spion pecah itu ke permukaan, sosok pria berjaket hujan itu berhenti melangkah. Dia menatap spion pecah di tangan Della dengan tatapan yang sangat sedih.

​"Ger, bantuin gue," pinta Della. "Kita harus ganti spion motor gue sama spion ini. Walaupun udah pecah."

​"Tapi drat-nya pasti beda, Del! Nggak bakal masuk!" protes Geri sebagai mekanik.

​"Lakuin aja, Ger. Ini satu-satunya cara biar dia lepas dari motor gue."

​Dengan tangan gemetar, Geri menggunakan tang untuk melepas paksa spion kiri Scoopy Della yang bautnya sudah menghitam. Anehnya, kali ini baut itu lepas dengan sangat mudah, seolah-olah besinya telah melunak. Geri kemudian memasang sisa batang spion tua dari sungai itu ke motor Della.

​Ajaib. Meskipun ukurannya berbeda, spion tua itu terkunci rapat di stang Scoopy seolah-olah memang diciptakan untuk di sana.

​Seketika, kabut tebal itu tersedot masuk ke dalam spion tua yang pecah tersebut. Sosok pria berjaket hujan itu perlahan memudar, berubah menjadi bintik-bintik cahaya redup yang kemudian menghilang ke arah hulu sungai.

​Della terduduk lemas di aspal pinggir sungai, Suhu udara perlahan kembali normal, Suara kicau burung kembali terdengar.

​"Udah... udah selesai?" tanya Sasha sambil terisak pelan.

​Mang Asep mengangguk, lalu menatap Della dengan hormat. "Untuk sekarang, iya. Tapi ingat, Neng Adella. Spion itu sekarang adalah 'pintu'. Jangan pernah biarkan orang asing memegang spion kiri motor kamu, atau mereka akan melihat apa yang seharusnya tidak mereka lihat."

​Della menatap spion tua yang kini terpasang di Scoopy-nya. Kaca pecahnya memantulkan wajahnya sendiri, tapi dengan latar belakang yang tampak seperti Sukabumi di tahun yang berbeda.

​"Ayo balik," ajak Della pelan. "Gue mau makan sate maranggi yang beneran, yang nggak ada rambutnya."

Geri membantu Della mendirikan kembali Scoopy-nya. Anehnya, meski baru saja menghantam bebatuan sungai, bodi motor itu tidak lecet sedikit pun. Hanya saja, pemandangan di stang kiri kini terlihat sangat kontras: sebuah batang spion tua yang berkarat dengan kaca yang retak seribu, terpasang di motor matic tahun 2017 yang masih mulus.

​"Gue nggak tahu harus bilang apa soal modifikasi ini, Del," bisik Geri sambil menyeka keringat dingin di dahinya. "Kalau anak-anak klub motor liat, mereka pasti ngira loe habis nemu rongsokan di gudang angker."

​"Biarin aja, Ger. Yang penting motornya nggak 'berat' lagi," sahut Della. Ia mencoba menghidupkan mesin. Jreng! Suara mesin Scoopy itu kembali garing, jauh lebih ringan dari sebelumnya.

​Mang Asep hanya memperhatikan dari kejauhan, asap rokoknya membumbung lurus ke atas pertanda bahwa "udara" di tempat itu sudah bersih. Ia memberikan anggukan kecil sebelum akhirnya menghilang di balik rimbunnya pohon damar, seolah-olah ia adalah bagian dari hutan itu sendiri.

...​Perjalanan Pulang – Jalur Cisaat...

​Sasha memeluk Della sangat erat, tapi kali ini pelukannya terasa normal. Tidak ada lagi tangan dingin yang melingkar di perut Della.

​Sore itu, Sukabumi sedang cantik-cantiknya. Langit berubah menjadi gradasi ungu dan oranye, sangat Instagramable. Tapi Sasha sama sekali tidak mengeluarkan HP-nya, Dia terlalu takut kalau kamera HP-nya menangkap sesuatu yang tidak diinginkan lagi.

​"Del," panggil Sasha pelan. "Loe... loe masih mau kulineran bareng gue kan setelah ini?"

​Della tersenyum di balik kaca helm Bogonya. "Masih lah, Sha. Tapi kita cari tempat yang parkirannya terang, kafenya nggak di dalam gang buntu, dan yang paling penting... nggak ada kabutnya."

​"Setuju! Gue mau sate maranggi di pinggir jalan raya aja yang rame orang lewat," seru Sasha, mulai kembali ke sifat aslinya.

​Della melirik spion kirinya spion tua dari dasar sungai itu. Di dalam kacanya yang retak, Della melihat jalanan di belakangnya bukan aspal Lingkar Selatan, melainkan sebuah jalan setapak tanah merah yang sunyi. Namun, tidak ada hantu di sana. Hanya jalanan kosong yang tampak damai.

​Pukul 19.30 WIB – Warung Sate Maranggi "Mang Dadang"

​Mereka bertiga akhirnya sampai di sebuah warung sate yang ramai.

Wangi lemak daging yang terbakar dan sambal oncom seketika mengembalikan semangat mereka. Geri memesan tiga porsi besar sekaligus.

​"Ini baru hidup!" seru Geri sambil melahap sate pertamanya. "Tadi di sungai gue udah ngerasa kayak bakal jadi berita di koran Radar Sukabumi besok pagi."

​Della tertawa kecil, menyuap nasi timbelnya. Rasa makanannya kembali normal gurih, pedas, dan nikmat. Tidak ada baut, tidak ada rambut, tidak ada rasa hambar yang mencekam.

​Namun, saat mereka sedang asyik makan, seorang pengamen jalanan yang membawa gitar kecil berhenti di samping motor Della yang terparkir paling depan. Pengamen itu hendak membetulkan letak kacamatanya sambil menggunakan spion kiri Della untuk bercermin.

​Della yang melihat itu dari kejauhan langsung berdiri. "Bang! Jangan!"

​Terlambat.

Pengamen itu sudah melirik ke arah spion tua itu.

​Wajah si pengamen mendadak berubah pucat, Gitarnya hampir jatuh. Ia mundur beberapa langkah dengan tatapan horor ke arah motor Della, lalu tanpa pamit, ia lari terbirit-birit meninggalkan warung sate itu tanpa meminta uang sepeser pun.

​Geri dan Sasha berhenti mengunyah. Mereka menatap Della, lalu menatap motor di parkiran.

​"Kayaknya ucapan Mang Asep bener," bisik Della sambil duduk kembali dengan lemas. "Spion itu emang 'pintu'. Dan pintu itu sekarang... punya gue."

​Della menyadari satu hal: hidupnya sebagai anak motor biasa di Sukabumi sudah berakhir. Sekarang, setiap perjalanan kulinernya akan selalu dibayangi oleh apa yang terpantul di sisi kirinya.

1
Ma Vin
bagus ceritanya,, semangat up date nya yaa kak😄😍
falea sezi
)bakar.lah motornya goblok amat della
falea sezi
sasa ne ngeyel. amat harusnya biarin aja mati biar gk jd beban aja temen goblok
falea sezi
di blg ngeyel sih kapok di tempelin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!