Di dunia di mana sihir adalah segalanya, kekuatan bukanlah anugerah—melainkan hasil dari latihan dan pengorbanan.
Ia hanyalah seorang siswi Akademi Sihir Arcanova. Tenang. Cerdas. Tak tersentuh. Hingga sebuah simbol tersembunyi muncul di tubuhnya—tanda kutukan dari iblis yang bahkan hanya hidup dalam legenda.
Tak hanya dirinya.
Dua siswa dari sekolah berbeda—termasuk seorang pewaris Akademi Crimson Crest—ternyata memikul kutukan yang sama… namun berasal dari iblis yang berbeda.
Kekuatan mereka luar biasa. Tak terbatas.
Namun setiap kali digunakan, ada harga yang harus dibayar.
Di tengah persaingan dua akademi, pelatihan mematikan di Hutan Abyss, dan rumor tentang iblis berwujud manusia yang belum pernah terlihat…
Pertanyaannya bukan lagi siapa yang paling kuat.
Tapi siapa yang akan bertahan ketika kutukan itu mulai mengambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa-Sisa Badai
Udara dingin yang menyesakkan tiba-tiba berganti dengan hembusan angin padang rumput yang segar. Tanpa ada guncangan, tanpa ada cahaya kilat yang menyilaukan, Hutan Abyss baru saja memuntahkan mereka kembali ke dunia luar. Itulah sifat misterius hutan tersebut; ia akan melakukan teleportasi halus kepada siapa pun yang dianggapnya telah menyelesaikan—atau gagal dalam—ujiannya.
Vivienne tertegun saat menyadari dirinya tidak lagi berada di antara pepohonan hidup yang mencekam. Ia masih terduduk di atas rumput hijau, namun posisinya tetap sama: di samping tubuh Lucien yang masih tidak sadarkan diri, sementara Daefiel terkapar beberapa meter di belakangnya.
Di sekeliling mereka, suasana tampak kacau balau. Area perbatasan yang tadi pagi terlihat rapi kini menyerupai medan perang. Puluhan siswa dari Arcanova maupun Crimson Crest tampak tergeletak dengan berbagai luka. Banyak dari mereka yang sudah dikeluarkan oleh hutan jauh lebih awal karena tidak sanggup menahan tekanan mental maupun serangan monster. Para penyihir medis dengan jubah putih mereka berlarian ke sana kemari, merapalkan mantra penyembuhan tingkat tinggi dan memberikan ramuan pemulih mana.
"Cepat! Bawa tandu ke sektor utara!" teriak salah satu penyihir medis.
Namun, perhatian semua orang—terutama para instruktur senior—seketika teralih pada titik di mana Vivienne, Daefiel, dan Lucien muncul. Keheningan singkat menyelimuti area tersebut. Instruktur kepala Arcanova, seorang pria tua dengan jubah abu-abu, menatap jam saku besarnya dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Tidak mungkin..." gumam sang instruktur dengan wajah pucat. "Mereka... mereka baru saja keluar sekarang?"
Ia segera melangkah lebar mendekati mereka, wajahnya dipenuhi keheranan yang mendalam. Sebagian besar siswa hanya mampu bertahan selama tiga puluh menit hingga satu jam sebelum hutan itu ‘membuang’ mereka karena dianggap tidak layak. Namun, ketiga siswa ini telah berada di dalam sana selama hampir empat jam penuh—sebuah rekor yang belum pernah terdengar bagi siswa setingkat mereka.
"Instruktur! Tolong mereka!" teriak Vivienne dengan suara serak, mencoba menahan tubuh Lucien agar tidak jatuh sepenuhnya ke tanah.
Sang instruktur berlutut di depan mereka, matanya memicing menatap luka-luka yang dialami Daefiel dan aura aneh yang masih tersisa pada tubuh Lucien. Ia bertanya-tanya dalam hati, monster macam apa yang mereka hadapi hingga bisa bertahan selama itu? Dan kekuatan apa yang mereka gunakan untuk tetap hidup di jantung kegelapan yang terus berubah bentuk?
"Medis! Kemari sekarang juga!" perintah instruktur itu dengan suara menggelegar. "Prioritaskan mereka bertiga! Terutama anak dari Crimson Crest ini, detak jantungnya sangat tidak stabil!"
Beberapa penyihir medis segera mengepung mereka. Vivienne merasakan tangan-tangan lembut mulai membalut luka di bahunya, namun matanya tetap tertuju pada Daefiel dan Lucien yang sedang diangkat ke atas tandu sihir. Ia tahu, di balik kebingungan para instruktur, ada rahasia besar yang harus mereka sembunyikan rapat-rapat: fakta bahwa mereka selamat bukan karena sihir akademi, melainkan karena kutukan iblis yang mulai terbangun.
Vivienne masih terduduk di ranjang medisnya sendiri, membiarkan seorang penyihir muda membalut luka di bahunya dengan kain kasa yang telah direndam ramuan mandrake. Namun, pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Ia menatap ke arah tirai putih yang memisahkan area perawatan pria dan wanita. Di balik tirai itu, ia bisa mendengar kesibukan para tabib yang menangani Daefiel dan Lucien.
"Pasien di sini kehilangan banyak darah, kita harus melepaskan seragamnya untuk mengoleskan salep esensi Aether secara merata!" suara seorang kepala medis terdengar tegas dari balik tirai.
Mata Vivienne membelalak seketika. Jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan. Melepaskan baju?
"Oh, tidak..." bisiknya dengan wajah pucat.
Ia baru teringat akan hal yang paling krusial: simbol retakan merah di pergelangan tangan Daefiel dan pola kilat yang merambat di punggung Lucien. Jika para instruktur melihat tanda-tanda itu, mereka bukan lagi dianggap sebagai pahlawan yang bertahan lama di Hutan Abyss, melainkan sebagai wadah iblis yang harus dimusnahkan atau dikurung selamanya.
"Nona Seraphine, tolong tetap tenang, proses penyelarasan mana Anda belum selesai!" cegat penyihir medis saat Vivienne mencoba melompat turun dari ranjangnya.
"Lepaskan aku!" bentak Vivienne dengan kesombongan yang kembali menyala akibat rasa panik. "Aku harus melihat keadaan mereka! Mereka teman satu timku!"
Dengan langkah tertatih dan napas yang memburu, Vivienne menyentak tangannya dan berlari menuju area perawatan Daefiel. Ia membayangkan skenario terburuk: para instruktur sedang berdiskusi tentang cara mengeksekusi mereka karena memiliki tanda kutukan. Namun, saat ia menyibak tirai dengan kasar, pemandangan yang ia lihat justru membuatnya terpaku.
Daefiel terbaring telanjang dada, begitu juga dengan Lucien yang diposisikan miring agar tabib bisa mengobati luka memar di punggungnya. Para penyihir medis dengan santai mengusapkan cairan penyembuh tepat di atas kulit di mana seharusnya simbol-simbol itu berada. Mereka berbicara tentang tekanan otot dan kelelahan mana, tanpa sedikit pun menyinggung soal tanda iblis.
Vivienne menyipitkan matanya. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat dengan sangat jelas simbol retakan merah itu masih berdenyut di tangan Daefiel, dan pola kilat hitam itu masih tercetak nyata di punggung Lucien.
"Apa kalian... tidak melihatnya?" tanya Vivienne dengan suara bergetar, hampir tidak terdengar.
"Melihat apa, Nona?" salah satu tabib menoleh dengan dahi berkerut. "Luka mereka memang cukup parah, tapi berkat penanganan cepat, mereka akan stabil dalam beberapa jam."
Vivienne tertegun. Ia memandang tangannya sendiri, menyentuh area di bawah tulang selangkanya di mana simbol lingkaran hitam miliknya berada. Tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang tidak tertulis dalam buku sejarah mana pun di akademi. Simbol-simbol ini—tanda kutukan iblis legendaris ini—ternyata memiliki perlindungan gaib.
Hanya mereka yang memikul beban yang sama yang bisa melihat tanda itu. Di mata manusia biasa, kulit mereka tampak bersih, seolah-olah kutukan itu hanyalah rahasia gelap yang terkunci rapat di dalam dimensi yang berbeda.
Vivienne menghela napas panjang, kekhawatiran di wajahnya perlahan memudar, meski rasa takut akan masa depan masih tersisa. Ia berjalan mendekati ranjang Lucien, menatap wajah pria yang biasanya dingin itu kini tampak begitu rapuh dalam tidurnya.
"Ternyata kita benar-benar sendirian di dunia ini," gumam Vivienne pelan, menyadari bahwa mulai saat ini, mereka bertiga adalah satu-satunya sekutu yang mereka miliki.