Dibakar hidup-hidup oleh suaminya sendiri, Aurelia kembali dari kematian dalam tubuh Elara, putri bangsawan lemah yang ia benci. Kini, ia terperangkap dalam tubuh rapuh yang trauma pada api, di istana yang sama tempat pembunuhnya bertahta.
Dikelilingi selir licik pemuja sihir hitam dan kaisar paranoid yang terobsesi padanya, Aurelia harus menggunakan sihir void terlarang untuk membalas dendam tanpa menghancurkan jiwanya sendiri. Di antara intrik racun dan rahasia kuno yang mengguncang dunia, sang Ratu harus memilih: takhta berlumur darah, atau keselamatan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Sekte Void Muncul
Bisikan di Ambang Kehampaan
Bulan sabit yang menggantung di langit malam itu tampak seperti luka yang belum mengering, memucat di atas cakrawala ibu kota yang masih berdenyut dengan sisa-sisa ketegangan sidang siang tadi. Elara berdiri mematung di balkon Paviliun Timur, jemarinya yang terbalut kasa putih meremas pagar marmer yang dingin, mencoba mengalihkan fokus dari denyutan korosif yang merayap di sepanjang saraf lengan kanannya. Aroma cendana yang baru saja disiapkan Rina berupaya menutupi jejak lavender yang telah ia musnahkan, namun di indra penciuman Elara, yang tertinggal hanyalah bau logam karat dan kematian—aroma khas dari sihir Void yang mulai mengonsumsi inangnya sendiri.
"Nyonya, angin malam mulai menusuk tulang. Sebaiknya Anda masuk dan beristirahat," suara Rina terdengar dari balik pintu kaca, penuh dengan kecemasan yang ditekan.
"Kehampaan tidak mengenal waktu untuk beristirahat, Rina," jawab Elara tanpa menoleh. Suaranya datar, hampir seperti desiran angin yang melewati celah sempit. "Letakkan surat untuk Kaelen di meja. Pastikan tidak ada segel yang rusak saat kau menyerahkannya pada kurir bayangan kita."
"Sudah saya siapkan, Nyonya. Tapi... tangan Anda masih gemetar."
Elara menurunkan lengannya, menyembunyikan getaran hebat itu di balik lipatan gaun sutranya yang berat. "Gemetar ini adalah tanda bahwa jiwa inangnya masih mencoba melawan, bukan karena aku lemah. Pergilah. Aku butuh kesunyian."
Begitu pintu tertutup dan langkah kaki Rina menjauh, kesunyian yang mencekam segera menyelimuti balkon. Namun, itu bukan kesunyian biasa. Elara merasakan suhu udara mendadak turun drastis, hingga embun di pagar balkon membeku menjadi kristal-kristal tajam dalam hitungan detik. Bau kemenyan yang dingin, tajam, dan sama sekali tidak harum mulai merembes dari balik bayang-bayang pilar paviliun.
"Aku tidak mengundang tamu pada jam segini," ucap Elara dingin, matanya menatap tajam ke arah sudut gelap di mana bayangan seolah-olah menjadi lebih pekat dari sekitarnya.
"Kehampaan tidak butuh undangan untuk masuk ke rumahnya sendiri, Pemegang Segel Rahasia yang terhormat," sebuah suara berbisik, namun suara itu seolah muncul langsung di dalam gendang telinga Elara, tanpa sumber arah yang jelas.
Dari kegelapan itu, sebuah sosok muncul perlahan. Ia mengenakan jubah abu-abu kelam yang seolah menyerap seluruh cahaya di sekitarnya. Wajahnya tertutup topeng perak tanpa fitur, hanya ada dua lubang gelap di bagian mata yang memancarkan pendar ungu redup. Urat-urat hitam di tangan Elara mendadak berdenyut seirama dengan kehadiran sosok itu, menimbulkan rasa sakit yang begitu akrab sekaligus memuakkan.
"Utusan Sekte Void," Elara mendesis, meskipun jantungnya berdetak kencang melawan trauma fisik yang bangkit. "Berani sekali kalian menyusup ke jantung kekaisaran setelah apa yang terjadi di Sidang Darah tadi."
"Kami tidak menyusup, kami hanya pulang ke tempat di mana energi kami diakui," sosok itu membungkuk sedikit, sebuah gerakan yang sarkastik. "Kami melihat tarianmu di hadapan kaisar paranoid itu, Aurelia—ah, maaf, maksudku Elara. Sangat mengesankan bagaimana kau menelan sihir logam Elena seolah itu hanya camilan siang hari."
"Jangan sebut nama itu," Elara melangkah maju, meskipun lututnya terasa lemas. Ia menyalurkan sedikit sisa energi Void-nya ke udara, menciptakan getaran distorsi yang membuat jubah utusan itu berkibar. "Apa yang kalian inginkan? Jika kalian pikir bisa menjadikanku pion seperti yang kalian lakukan pada Elena, kalian melakukan kesalahan fatal."
"Elena adalah kegagalan yang menyedihkan," utusan itu tertawa kering, suara yang terdengar seperti gesekan amplas pada batu nisan. "Dia memiliki ambisi, tapi tidak memiliki wadah. Dia menggunakan sihir hitam hanya untuk kecemburuan picik. Tapi kau... kau memiliki struktur molekul yang unik. Jiwa yang terbakar dan kembali dari abu. Kau adalah wadah yang sempurna untuk resonansi tingkat tinggi."
"Aku bukan wadah siapa pun," Elara menatap lubang mata topeng itu dengan intimidasi yang menusuk. "Katakan urusanmu atau aku akan memastikan seluruh penjaga kaisar mengepung tempat ini dalam hitungan detik."
"Penjaga kaisar?" Sosok itu melambai ringan. "Mereka bahkan tidak bisa melihatku. Kami di sini untuk menawarkan sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh kaisarmu yang haus darah atau jenderal Asteriamu yang terlalu setia itu. Kami tahu tanganmu mulai mati rasa. Kami tahu sirkuit energimu akan meledak dalam tiga hari jika kau tidak menstabilkannya."
Elara terdiam sejenak. Rahasia tentang kerusakan sarafnya adalah sesuatu yang ia simpan rapat-rapat, bahkan dari Kaelen. "Lalu?"
"Ini," sosok itu mengulurkan tangan. Di telapak tangannya terdapat sebuah bungkusan kecil kain beledu hitam. Saat dibuka, butiran garam kristal berwarna ungu gelap berkilauan di bawah cahaya bulan. "Ini adalah Garam Purifikasi dari Reruntuhan Asteria yang terdalam. Katalisator yang kau cari selama ini untuk menetralkan korosi di sirkuit nadimu."
"Kenapa kalian memberikannya padaku? Tidak ada yang gratis dari sekte yang menyembah kehampaan," Elara tidak segera mengambilnya, matanya menyipit penuh kecurigaan.
"Tentu saja tidak. Kami menginginkan janji," bisik utusan itu, mendekat selangkah demi selangkah. "Bergabunglah dengan kami. Jadilah wajah dari tatanan baru yang akan menggulingkan Valerius dan memulihkan Asteria ke dalam pelukan kehampaan yang abadi. Dengan kekuatan kami, tanganmu tidak akan lagi hitam karena luka, tapi karena kekuasaan yang tak terbatas."
Elara menatap garam itu, lalu menatap tangannya yang menghitam. Pilihan yang ditawarkan tampak seperti jurang yang sama dalam. Bergabung dengan sekte berarti menjadi budak entitas yang tidak ia pahami, namun menolak berarti mati sebelum dendamnya tuntas.
"Kalian salah menilai aku," Elara tiba-tiba tertawa kecil, sebuah tawa yang dingin dan penuh martabat seorang ratu. "Kalian pikir aku begitu putus asa hingga bersedia menukar satu belenggu dengan belenggu lainnya? Elena mungkin cukup bodoh untuk menyembah kalian, tapi aku adalah permaisuri yang membangun fondasi kerajaan ini dengan tanganku sendiri."
"Kau menolak?" pendar ungu di mata sosok itu menajam.
"Aku tidak menolak bantuan, aku menolak perintah," Elara meraih bungkusan garam itu dengan gerakan cepat dan angkuh. "Aku akan mengambil garam ini. Sebagai gantinya, aku akan menjamin sekte kalian tidak akan diburu di ibu kota selama satu bulan ke depan. Gunakan posisi baruku sebagai Pemegang Segel Rahasia untuk keuntungan kalian, tapi jangan pernah berpikir untuk mengatur langkahku."
"Berani sekali kau bernegosiasi dengan kami dalam keadaan sekarat, Elara," sosok itu bergetar, seolah menahan amarah atau mungkin rasa takjub.
"Karena aku tahu kalian membutuhkanku lebih dari aku membutuhkan kalian," Elara menyembunyikan bungkusan itu di balik gaunnya. "Kalian butuh seseorang yang bisa berdiri di samping Valerius tanpa terdeteksi. Kalian butuh kunci untuk membuka segel yang kalian dambakan. Dan kunci itu ada di tanganku yang hitam ini. Sekarang, enyah dari paviliunku sebelum aku mengubah pikiranku."
Sosok utusan itu mulai memudar, perlahan-lahan kembali menyatu dengan bayang-bayang pilar. "Kesepakatan yang berani. Tapi ingatlah, Elara... garam itu hanya penunda. Kehampaan akan selalu meminta bagian darimu. Sampai jumpa di laboratorium istana, saat kau menyadari bahwa tidak ada jalan kembali."
Begitu sosok itu menghilang sepenuhnya, suhu udara kembali normal. Elara segera ambruk berlutut, napasnya memburu dan keringat dingin membanjiri wajahnya yang pucat. Ia meremas bungkusan garam di tangannya, merasakan denyutan energi yang mulai merespon kehadirannya.
"Nyonya? Saya mendengar suara jatuh!" Rina masuk dengan tergesa-gesa.
"Jangan mendekat!" bentak Elara, suaranya serak. Ia memaksakan dirinya untuk berdiri kembali, menggunakan tongkat kayu hitamnya sebagai penopang. "Siapkan laboratorium pribadi di ruang bawah tanah paviliun ini besok pagi. Dan pastikan tidak ada seorang pun, termasuk Valerius, yang tahu apa yang aku lakukan di sana."
"Tapi Nyonya, kaisar baru saja mengirim pesan bahwa dia ingin makan malam bersama Anda besok—"
"Katakan padanya aku sedang memulihkan diri dari luka sidang," Elara memotong pembicaraan dengan nada instruktif yang tidak bisa dibantah. "Besok, aku akan membuat sesuatu yang akan mengubah peta kekuatan di istana ini selamanya. Sekarang, tinggalkan aku sendiri."
Elara kembali menatap bulan. Ia telah mengambil langkah berbahaya dengan merangkul bayang-bayang. Dilema martabatnya terus bergejolak; ia merasa seperti monster yang mulai memakan dirinya sendiri, namun demi pembalasan dendam yang tuntas, ia bersedia menjadi iblis yang paling ditakuti sekalipun.
"Satu per satu... semuanya akan membayar," gumamnya pada kegelapan.
Sintesis di Balik Tabir
Malam semakin larut, namun cahaya lilin di ruang bawah tanah Paviliun Timur masih berpendar redup, memantulkan bayangan Elara yang memanjang di dinding batu yang lembap. Ruangan itu kini telah berubah menjadi laboratorium darurat; deretan botol kaca berisi ekstrak tumbuhan Asteria bersanding dengan cawan-cawan perak yang berisi cairan sisa sihir logam Elena. Di tengah meja kayu ek yang berat, bungkusan kain beledu dari utusan Sekte Void itu terbuka, menampakkan butiran garam ungu yang seolah bernapas dalam ritme yang tidak wajar.
Elara memegang botol kecil berisi air suci dari kuil lama, tangannya masih dibalut kasa yang kini mulai rembes oleh cairan hitam pekat. Setiap gerakan kecil memicu rasa perih yang luar biasa, seolah ribuan jarum es sedang ditusukkan ke sumsum tulangnya. Ia tahu, ia sedang melakukan sesuatu yang dianggap bidah oleh para penyihir kekaisaran: mencampurkan bahan purifikasi suci dengan energi kehampaan yang korosif. Namun, dalam logikanya yang dingin, hanya perpaduan antara cahaya yang paling murni dan kegelapan yang paling pekat yang bisa menciptakan keseimbangan bagi tubuhnya yang hancur.
"Nyonya, ramuan dasar dari akar mandrake sudah siap," bisik Rina yang berdiri di sudut ruangan dengan wajah pucat. Ia memegang mangkuk porselen dengan tangan gemetar, matanya sesekali melirik ke arah pintu besi yang terkunci rapat.
"Tuangkan ke cawan perak itu, Rina. Perlahan saja," perintah Elara, suaranya terdengar seperti gesekan logam.
Begitu cairan mandrake menyentuh garam ungu milik sekte, reaksi kimiawi-magis langsung terjadi. Asap berwarna kelabu pekat membubung tinggi, membawa aroma belerang dan bunga layu yang menyesakkan napas. Elara tidak mundur. Ia justru mendekatkan wajahnya, membiarkan uap tersebut menyentuh kulitnya yang pucat. Melalui sirkuit Void-nya yang mulai aktif pada tingkat 1.1, ia menganalisis struktur molekul dari garam tersebut.
"Ini bukan sekadar garam," gumam Elara, matanya berkilat dalam kegelapan. "Ini adalah sel saraf entitas yang dikristalkan. Mereka tidak memberiku obat, mereka memberiku bagian dari 'tuan' mereka."
"Nyonya, apa itu berbahaya?" tanya Rina, suaranya hampir hilang karena takut.
"Sangat berbahaya. Tapi racun hanya menjadi obat jika kau tahu dosis yang tepat untuk membunuh penyakitnya," Elara mengambil sebilah pisau kecil, lalu tanpa ragu, ia menyayat sedikit telapak tangan kanannya yang sudah menghitam.
Darah yang keluar bukan berwarna merah, melainkan hitam kental seperti tinta. Ia membiarkan darah itu menetes ke dalam ramuan yang sedang bergolak. Seketika, cairan ungu itu berubah menjadi bening dengan pendar perak yang lembut—inilah Third Option yang ia ciptakan: menggunakan darah inang yang sudah terkontaminasi sebagai jembatan untuk menjinakkan energi sekte.
Elara meminum cairan itu dalam sekali teguk. Rasa pahit yang membakar segera menjalar dari tenggorokannya ke seluruh ujung saraf. Ia mengerang pelan, tubuhnya melengkung menahan tekanan energi yang mencoba menata ulang sirkuit nadinya. Di dalam benaknya, ia melihat bayangan api yang membakar istana Aurelia sepuluh tahun lalu, suara tawa Valerius yang berubah menjadi isak tangis, dan wajah Elena yang hancur. Trauma api itu kembali menyerang, membuatnya merasa seolah kulitnya sedang dikuliti hidup-hidup.
"Tahan... aku harus menahannya..." bisiknya pada diri sendiri, kuku-kukunya menancap di meja kayu hingga berdarah.
Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, hawa dingin yang menenangkan mulai menyebar. Elara membuka matanya dan perlahan-lahan membuka balutan kasa di tangannya. Rina memekik tertahan. Urat-urat hitam yang tadinya menonjol dan kasar kini mulai memudar, berubah menjadi pola abu-abu halus yang tampak seperti tato artistik di sepanjang lengannya. Rasa mati rasa itu hilang, digantikan oleh kekuatan yang terasa lebih terkontrol dan tajam.
"Kekuatan ini... kini dia patuh padaku," Elara mengepalkan tangannya. Ia merasakan Void-nya kini telah stabil di level 1.1, siap untuk digunakan tanpa risiko meledak secara spontan.
"Nyonya, Anda terlihat... berbeda," Rina menatap Elara dengan campuran rasa hormat dan ngeri. "Mata Anda... sempat berubah warna menjadi ungu sepenuhnya tadi."
"Itu hanya efek samping sementara, Rina. Jangan pernah bicarakan ini pada siapa pun, terutama pada Kaelen jika dia datang berkunjung," Elara berdiri, tubuhnya terasa jauh lebih ringan meskipun batinnya merasa lebih berat karena telah bersekutu dengan kegelapan.
Ia berjalan menuju cermin kecil yang tergantung di dinding batu. Di sana, ia melihat bayangan seorang wanita yang tidak lagi memiliki kemiripan dengan Aurelia yang lembut. Mata kelabunya kini memiliki kedalaman yang mengerikan, dan ada garis dingin di bibirnya yang menunjukkan bahwa empati telah menjadi barang mewah yang tidak lagi mampu ia beli.
"Valerius menginginkan aku dekat dengannya," Elara menyunggingkan senyum tipis yang mematikan. "Dia ingin memiliki Pemegang Segel Rahasia yang bisa menenangkan kegilaannya. Dia tidak tahu bahwa dia baru saja memberikan kunci gudang senjatanya kepada musuh terbesarnya."
Elara mengambil bungkusan garam yang tersisa dan menyembunyikannya di dalam sebuah kotak logam yang disegel dengan sihirnya sendiri. Ia tahu bahwa Sekte Void akan kembali untuk menagih janji. Mereka mungkin berpikir telah menanamkan "benih" mereka di dalam tubuh Elara, namun Elara sudah merencanakan cara untuk membusukkan benih itu sebelum sempat tumbuh menjadi parasit.
"Ayo kembali ke atas, Rina. Bersihkan semua ini. Besok, aku harus menghadapi kaisar dengan wajah yang paling manis yang pernah dia lihat," Elara melangkah keluar dari laboratorium, meninggalkan bau belerang yang perlahan memudar.
Saat ia melintasi koridor paviliun menuju kamarnya, ia berpapasan dengan seorang pengawal istana yang tampak gelisah. Pengawal itu membungkuk dalam, tidak berani menatap mata Elara yang baru saja diangkat menjadi orang paling berkuasa kedua di kerajaan.
"Penasihat Elara, maaf mengganggu istirahat Anda. Ada pesan mendesak dari Panglima Vane. Beliau meminta audiensi pribadi besok pagi sebelum pertemuan dewan," lapor pengawal itu dengan suara bergetar.
Elara berhenti sejenak, jarinya mengetuk tongkat kayu hitamnya dengan irama yang tenang. Panglima Vane—pemimpin faksi militer yang baru saja ia pecundangi di ruang sidang dengan membongkar buku kas suapan Elena.
"Katakan pada Panglima, aku akan menemuinya di taman Asteria tepat saat matahari terbit," jawab Elara tanpa emosi. "Dan katakan padanya untuk membawa daftar inventaris logistik yang sempat 'hilang' di perbatasan. Jika dia ingin bicara, dia harus bicara dengan angka, bukan dengan ancaman."
Pengawal itu mengangguk cepat dan segera pergi. Elara melanjutkan langkahnya. Ia tahu pertemuan besok akan menjadi medan tempur baru. Faksi militer tidak akan menyerah begitu saja hanya karena Elena dipenjara. Mereka akan mencoba menekan atau menyuapnya kembali. Namun, dengan kekuatan Void yang baru saja ia stabilkan dan jabatan resmi dari Valerius, Elara tidak lagi bertempur sebagai tawanan yang terpojok.
Ia memasuki kamarnya yang kini beraroma cendana dan duduk di tepi tempat tidur. Ia meraba lehernya, di mana bekas luka bakar tak terlihat dari masa lalunya masih terasa hangat. Dilema martabatnya berbisik: Apakah kau sedang menyelamatkan Asteria, atau kau hanya sedang menghancurkan segala sesuatu yang pernah kau cintai?
Elara memejamkan mata, membiarkan kegelapan menelan pertanyaan itu. Baginya, martabat Aurelia sudah mati di atas tumpukan kayu bakar sepuluh tahun lalu. Yang tersisa hanyalah martabat Elara—ratu yang akan bangkit dari reruntuhan dengan mahkota yang terbuat dari darah musuh-musuhnya.