NovelToon NovelToon
CINTA DI TEPI DOSA

CINTA DI TEPI DOSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dosen / Balas Dendam
Popularitas:640
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Nazwa Adzira Putri, atau sering di panggil Zira, adalah seorang wanita yang dulunya berselimut cahaya. Dengan nama pena Nana, dia menginspirasi banyak orang dengan kata-katanya yang bijak dan agamanya yang kuat. Namun, kebenaran pahit tentang ayahnya - seorang yang mengkhianati ibunya dengan perselingkuhan, merobek tirai kesucian itu. Luka itu membawanya ke jurang kegelapan, meninggalkan hijab dan agamanya, dan masuk ke dunia malam yang gelap. Tapi, di tengah-tengah badai itu, ada secercah harapan. Nathan Fernandez, anak kyai yang sholeh dan dingin, menjadi sosok yang menarik perhatiannya. Mata teduh dan menenangkan itu menjadi tempat pelariannya, dan tanpa disadari, cinta mulai tumbuh, membawa harapan baru di tengah-tengah kegelapan. Penasaran dengan kelanjutan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Pada pukul 03.00 pagi, Nathan terbangun seperti kebiasaannya setiap hari. Jam segitu biasanya ia bangkit untuk melaksanakan sholat sunnah Tahajud. Matanya melirik ke tempat tidur, terlihat istrinya, Zira, masih terlelap. Nathan mendekati tempat tidur dan mencoba membangunkan istrinya agar mereka bisa sholat bersama.

"Dek, bangun yuk, kita sholat tahajud berjamaah," ucap Nathan dengan lembut. Namun, Zira tetap tak bergerak. Nathan lalu menggoyangkan lengannya perlahan untuk membangunkannya. "Dek, bangun yuk..." katanya lagi.

Zira akhirnya merespons meski dengan suara malas. "Masih pagi banget mah... Tunggu sebentar lagi, lima menit saja. Aku masih ngantuk." Dalam keadaan setengah sadar, Zira tampak seperti tidak ingat bahwa ia sudah menikah seolah yang membangunkannya adalah ibunya, Mama Sarah.

Nathan yang awalnya bersabar mulai menyerah dengan cara lemah lembut. Ia memutuskan untuk menggunakan sedikit taktik agar Zira benar-benar bangun. Dia pergi ke kamar mandi, mengambil air secukupnya, dan mencipratkannya ke wajah Zira.

"Astaghfirullah... Banjir, Mah! Banjir!" seru Zira sambil memegangi lengan Nathan seolah mengajaknya keluar dari situasi yang ia anggap banjir tersebut.

"Ternyata kamu susah banget dibangunin ya, Dek," kata Nathan sambil tertawa kecil.

Zira meliriknya dengan wajah kesal. "Hadeuh, nyebelin banget sih, Mas. Untung aku nggak jantungan."

Namun kemudian ekspresi Nathan berubah. Dengan wajah yang tiba-tiba memerah, ia memalingkan muka sambil berkata, "Astaghfirullah... Penampilanmu kok beda? Bukannya sebelum tidur kamu pakai baju tidur yang panjang?"

Mendengar itu, Zira melihat penampilannya sendiri. Ternyata ia hanya mengenakan tanktop dan celana pendek selutut. Dalam hati ia sedikit malu menyadari pakaiannya terlihat terlalu santai.

"Oh ya ampun, tadi aku ganti karena baju itu nggak nyaman untuk tidur," jawab Zira sambil terburu-buru menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.

Sambil menunggu istrinya berwudhu, Nathan menyiapkan sajadah dan mukena untuk sholat. Setelah selesai berwudhu, Zira langsung mengenakan mukena dan bersiap menjadi makmum bagi suaminya. Nathan memastikan kesiapan Zira dengan bertanya, "Sudah?" Zira hanya mengangguk pelan sebagai tanda setuju. Mereka pun melaksanakan sholat tahajjud dengan penuh khusyuk.

Setelah mengucapkan salam dan menoleh ke arah Zira, Nathan mengulurkan tangannya untuk disalami oleh sang istri. Zira menyambut tangan Nathan dengan penuh hormat. Usai sholat, keduanya berdoa dengan tulus demi kebaikan keluarga kecil mereka.

Suasana hening dan damai menyelimuti kamar mereka. Setelah sholat tahajjud, Nathan dan Zira duduk berdampingan, menikmati kehangatan kebersamaan di tengah malam yang sunyi. Mereka berdua saling menatap, merasakan ketenangan yang sulit dijelaskan. "Alhamdulillah, terima kasih ya, Zira," ucap Nathan, suaranya lembut. Zira tersenyum, "Sama-sama, Mas. Semoga doa kita dikabulkan Allah."

Setelah selesai menjalankan sholat tahajud, Zira mendekati Nathan untuk mengobrol sejenak. "Mas, bolehkah aku minta sesuatu?" tanyanya dengan nada hati-hati. Nathan menanggapi dengan lembut, "Apa itu, Dek? Kalau masih bisa Mas penuhi, insya Allah akan Mas kabulkan." Zira kemudian berkata, "Bisakah kita merahasiakan pernikahan ini, terutama di kampus?"

"Kenapa? Apa kamu malu punya suami seperti Mas?" tanya Nathan, sedikit heran. "Bukan begitu, Mas. Aku hanya belum siap menghadapi reaksi orang-orang, terutama dari fans-mu di kampus," jawab Zira jujur. Nathan pun tersenyum kecil, "Ada-ada saja kamu ini, Dek. Ya sudah, sesuka kamu saja bagaimana baiknya." Zira merasa lega dan mengucapkan terima kasih pada suaminya.

Setelah itu, Zira mulai membereskan tempat mereka untuk tidur kembali. Namun, sebelum rencananya terlaksana, Nathan memanggilnya, "Mau ke mana, Dek? Yuk kita lanjut murojaah hafalanmu sambil menunggu waktu Subuh." Zira mengangguk dan menjawab, "Baik, Mas." Mereka pun melanjutkan kegiatan murojaah, di mana Zira membaca ayat-ayat hafalannya sementara Nathan mengecek apakah bacaannya sudah benar atau belum.

"Kurang tepat, Dek. Harus begini," ujar Nathan saat menemukan kesalahan. Zira pun langsung membenarkan bacaannya sesuai arahan suaminya. Ketika waktu Subuh tiba, mereka menyudahi hafalan dan bersama-sama mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat Subuh berjamaah.

Usai sholat, Zira turun terlebih dahulu ke lantai bawah untuk membantu Mama Sarah memasak. Saat melihat Zira sudah bangun pagi-pagi, Mama Sarah menyapa, "Pagi, Nak. Tumben bangun pagi sekali." Zira menjawab dengan tersenyum lelah, "Iya, Mas Nathan tadi bangunin aku jam tiga. Bayangkan betapa ngantuknya aku!" kata Zira sambil tertawa kecil.

Mama Sarah tersenyum mendengar cerita Zira. "Kamu nggak nemenin suamimu di kamar dulu?" tanyanya ingin tahu. Zira menjawab cepat, "Mas Nathan lagi mandi. Aku juga sudah siapkan baju untuknya tadi, jadi langsung saja ke sini."

Di tengah obrolan mereka, Umi Aisyah yang baru bangun menghampiri dapur bergabung dengan mereka. "Assalamualaikum, selamat pagi Zira, Bu Sarah," sapa Umi Aisyah dengan ramah. "Waalaikumsalam. Pagi juga, Jeng," jawab Mama Sarah sambil tersenyum. "Pagi, Umi," sahut Zira menyambut.

Umi Aisyah tampak sedikit canggung dan meminta maaf sambil berkata, "Maaf ya, saya bangunnya telat tadi." Namun Mama Sarah langsung menenangkannya, "Tidak apa-apa, Jeng. Saya paham kok pasti capek sekali setelah acara kemarin." Suasana menjadi hangat dengan perbincangan ringan di pagi hari antara mereka bertiga.

Setelah selesai menyiapkan makan, Zira kembali ke kamar untuk bersiap pergi ke kampus. Tanpa mengetuk pintu, Zira langsung membuka kamar. Ia terkejut melihat Gus Nathan baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan handuk. Sontak Zira mengucapkan “Astaghfirullah” sambil membalikkan badan membelakangi Nathan. Nathan, yang juga kaget, segera mengenakan pakaian yang telah disiapkan oleh istrinya.

Nathan berkata, “Kamu boleh berbalik, aku sudah berpakaian.” Zira pun kembali menghadap Nathan dan berkata, “Mas, makanan sudah siap. Kalau kamu mau makan duluan, tidak apa-apa. Aku mau bersiap-siap untuk berangkat ke kampus dulu.” Nathan menjawab, “Aku tunggu kamu di sofa, kita makan bareng.” Zira mengangguk dan mengucapkan, “Baiklah.”

Ketika bergegas menuju kamar mandi, Zira lupa membawa handuk. Ia bingung apakah harus meminta bantuan Nathan atau tidak, tetapi akhirnya ia memutuskan untuk meminta pertolongannya agar tidak terlambat pergi ke kampus.

“Mas...” panggil Zira dengan nada sedikit keras. Nathan, yang mendengar suara Zira, bertanya, “Iya, ada apa, Dek?” Zira menjawab, “Aku lupa bawa handuk. Tolong ambilkan, dong.” Nathan menyahut, “Oke, tunggu sebentar ya.”

Nathan mengambilkan handuk untuk Zira dan berkata, “Nih, Dek, handuknya.” Mendengar suara Nathan di depan pintu kamar mandi, Zira membuka pintu sedikit dan mengulurkan tangannya untuk menerima handuk dari Nathan. Setelah mendapatkannya, Zira pun berterima kasih kepada Nathan sebelum kembali ke aktivitasnya.

Setelah selesai mempersiapkan diri, Zira dan Nathan turun ke lantai bawah untuk menikmati sarapan bersama keluarga besar. Suasana sarapan pagi itu terasa hangat dan akrab. Putri, yang terlihat ceria sejak tadi, tak bisa menahan komentar sambil tersenyum melihat pasangan tersebut, "Wah, pengantin baru ini benar-benar serasi sekali, ya!"

Mendengar candaan itu, Umi Aisyah ikut menimpali sambil menoleh ke arah Putri, "Kamu juga harus begitu nanti kalau sudah berumah tangga, Put."

Zira dan Nathan memilih untuk duduk berdampingan di meja yang telah dipenuhi variasi hidangan. Dengan gerakan lembut penuh perhatian, Zira mengambil inisiatif untuk melayani sang suami. Dia meraih piring dan menoleh ke arah Nathan dengan senyum yang tulus. "Mas, mau makan apa?" tanyanya lembut.

Nathan tersenyum kecil, merasa semakin dimanjakan oleh istrinya. Tanpa berpikir panjang, ia menjawab dengan nada tenang, "Ayam goreng sama sambalnya, ya Dek."

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!