NovelToon NovelToon
Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Perempuan Yang Selalu Di Tinggalkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Wanita Karir / Keluarga
Popularitas:974
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERHATIAN YANG TIDAK MENUNTUT UTANG

Keesokan paginya, tepat jam sembilan, sebuah motor matic hitam berhenti di depan gerbang kos Dina. Adrian tidak memakai seragam lorengnya hari ini. Ia mengenakan kaos polo biru tua dan celana kargo, penampilannya jauh lebih santai namun tetap terlihat tegap.

"Sudah siap?" tanya Adrian saat Dina keluar dengan mengenakan sepatu kets dan jaket tipis.

Mereka menuju lapangan bola di pinggir kota yang permukaannya rata dan luas. Sesampainya di sana, Adrian turun dan memberikan posisi kemudi kepada Dina.

"Kuncinya cuma satu, Mbak. Jangan tegang. Motor ini akan mengikuti perasaanmu. Kalau kamu panik, peganganmu ke gas akan semakin kencang, dan itu yang bikin bahaya," ucap Adrian sambil berdiri di samping motor, tangannya siap siaga memegang bagian belakang jok untuk menjaga keseimbangan.

Dina menarik napas panjang. Ia teringat bagaimana dulu ia selalu dibilang "ceroboh" oleh ayahnya dan "lemah" oleh Rama. Kata-kata itu sempat membuat mentalnya jatuh setiap kali ingin mencoba hal baru. Namun, suara Adrian yang tenang di sampingnya perlahan menghapus suara-suara negatif itu.

"Pelan-pelan saja... tarik gasnya sedikit... ya, bagus. Seimbangkan badannya," instruksi Adrian dengan sabar.

Dina mulai menjalankan motor itu perlahan. Awalnya ia goyah, kakinya beberapa kali turun ke tanah karena takut terjatuh. Namun, Adrian tidak pernah melepaskan penjagaannya. Ia berlari kecil di samping motor, memastikan Dina tetap aman.

"Mas, aku takut!" seru Dina saat motor itu melaju sedikit lebih cepat.

"Jangan takut, saya ada di sini. Saya nggak akan biarkan kamu jatuh," jawab Adrian dengan nada yang sangat meyakinkan.

Mendengar kalimat itu, sesuatu dalam diri Dina terasa hangat. Ia menyadari bahwa ia sedang belajar lebih dari sekadar mengendarai motor; ia sedang belajar mempercayai orang lain lagi, dan yang lebih penting, mempercayai kemampuannya sendiri.

Setelah hampir dua jam latihan, Dina sudah mulai bisa berputar di lapangan tanpa bantuan Adrian yang memegangi jok. Ia merasa sangat bangga pada dirinya sendiri. Rasa mandiri yang ia cari selama ini terasa semakin nyata.

"Lihat, Mas! Aku bisa!" teriak Dina kegirangan sambil menghentikan motor di depan Adrian yang sedang menyeka keringat.

Adrian tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Saya bilang juga apa. Mbak Dina itu pintar, cuma butuh keberanian saja untuk memulai. Sekarang, Mbak nggak perlu lagi jalan kaki berkilo-kilo kalau mau ke pasar."

Mereka duduk di bawah pohon rindang di pinggir lapangan, menikmati hembusan angin sepoi-sepoi. Adrian menyodorkan sebotol air mineral dingin kepada Dina.

"Terima kasih ya, Mas. Bukan cuma buat pelajaran motornya, tapi buat... semuanya," ucap Dina tulus.

Adrian menatap lapangan di depan mereka. "Di hidup ini, Mbak, kita nggak bisa selalu bergantung pada orang lain untuk mengantar kita ke tujuan. Kita harus bisa pegang kendali sendiri. Saya hanya membantu membukakan jalannya sedikit."

Dina mengangguk setuju. Ia merasa bahwa di kota kecil ini, ia benar-benar sedang menulis ulang takdirnya. Ia bukan lagi Dina yang rapuh, melainkan Dina yang mulai berani memegang "stang" kehidupannya sendiri.

Sore harinya, saat Adrian mengantarnya pulang, Dina merasa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Ia merasa lebih berdaya. Ia menatap jalanan kota kecil itu dan membayangkan dirinya bisa pergi ke mana pun ia mau tanpa harus menunggu izin atau bantuan siapa pun.

Di dalam kamarnya, Dina kembali membuka laptop. Ia mengetikkan satu paragraf tambahan untuk novelnya:

"Ternyata, pahlawan sejati bukanlah dia yang membawamu terbang di atas pundaknya, melainkan dia yang memberikanmu kekuatan agar kakimu sendiri bisa melangkah, dan tanganmu sendiri bisa mengemudi menuju masa depan yang kamu inginkan."

Dina tersenyum. Malam itu, ia tidak hanya bermimpi tentang kebebasan, ia sedang merasakannya dalam setiap embusan napasnya yang tenang. Di kota kecil ini, bersama sahabat baru seperti Olan dan sosok pelindung yang menghargai jarak seperti Adrian, Dina akhirnya menemukan rumah yang sesungguhnya: sebuah tempat di mana ia bisa tumbuh tanpa rasa takut.

Pagi itu, kantor cabang terasa lebih tenang dari biasanya. Sinar matahari menerobos masuk melalui celah gorden, menciptakan garis-garis emas di atas lantai keramik. Dina melangkah masuk dengan napas yang masih sedikit memburu karena habis berjalan kaki—kebiasaan yang rencananya akan segera ia ubah setelah latihan motor kemarin.

Begitu ia sampai di meja kerjanya, aroma gurih kunyit dan santan langsung menyambut indra penciumannya. Di atas meja, tepat di samping laptopnya, tergeletak sebungkus nasi kuning yang masih hangat, dibungkus rapi dengan daun pisang dan kertas cokelat. Ada kepulan uap tipis yang keluar dari sela bungkusannya, menandakan makanan itu baru saja dibeli.

Dina menoleh ke arah Olan yang sudah asyik dengan tumpukan berkas di meja sebelah.

"Lan, makasih ya nasi kuningnya. Tahu saja kamu kalau aku belum sempat sarapan tadi," ucap Dina sambil tersenyum lebar. Ia merasa sangat bersyukur punya sahabat seperhatian Olan.

Olan menghentikan aktivitas mengetiknya, lalu menengok ke arah Dina dengan kerutan di dahi yang kemudian berubah menjadi senyum jahil yang sangat lebar.

"Bukan dari aku, Mbak," sahut Olan pendek, matanya berkedip jenaka.

Senyum Dina memudar seketika. Sebuah rasa dingin tiba-tiba menjalar di punggungnya. Trauma masa lalu yang belum sepenuhnya sembuh langsung menarik paksa ingatannya ke satu nama yang paling ia hindari.

"Hah? Maksudmu... Mas Rama ke sini?" tanya Dina dengan nada panik yang tidak bisa disembunyikan. Ia refleks mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk, lalu ke jendela, seolah-olah sosok obsesif dari Jakarta itu akan muncul dari balik tembok. Jantungnya berdegup kencang, rasa mual mendadak menyerang perutnya.

Olan tertawa renyah melihat reaksi berlebihan Dina. Ia segera berdiri dan menghampiri meja sahabatnya itu.

"Duh, Mbak... Tenang dulu. Tarik napas," ucap Olan sambil menepuk bahu Dina. "Aku nggak kenal siapa itu Mas Rama yang Mbak maksud. Yang jelas, yang barusan ke sini itu 'cowoknya' Mbak Dina sendiri."

Dina mengerutkan kening, bingung. "Cowokku? Siapa?"

"Itu lho, tentara ganteng yang ngajarin Mbak naik motor di hari ketiga Mbak sampai di sini. Letnan Adrian," ucap Olan dengan nada menggoda yang sangat kental. "Tadi dia mampir sebentar pakai motor pribadinya. Dia bilang, dia perhatikan Mbak Dina itu sering banget telat sarapan atau malah sengaja nggak sarapan karena buru-buru ke kantor."

Dina terpaku. "Mas Adrian ke sini cuma buat antar ini?"

"Iya! Katanya, Mbak harus cobain nasi kuning ini karena ini nasi kuning paling enak di kantin asramanya. Dia bilang asramanya punya koki khusus yang bikin nasi kuning legendaris," lanjut Olan, matanya berbinar seolah dia yang sedang diberi hadiah. "Gimana, Mbak? Romantis banget kan? Nggak banyak omong, tapi langsung aksi. Perhatiannya itu lho, diam-diam menghanyutkan!"

Dina duduk perlahan di kursinya, menatap bungkusan nasi kuning itu dengan perasaan campur aduk. Rasa paniknya perlahan luruh, digantikan oleh kehangatan yang asing namun menyenangkan. Ia teringat kembali sesi latihan motor kemarin—bagaimana Adrian begitu sabar menjaganya agar tidak jatuh, bagaimana suaranya yang tenang meredam kecemasannya.

Ternyata, perhatian Adrian sangat berbeda dengan "perhatian" Rama. Rama memberikan sesuatu karena ia ingin Dina merasa berutang budi dan bergantung padanya. Tapi Adrian? Ia memberikan nasi kuning ini murni karena ia peduli pada kesehatan Dina, tanpa ada embel-embel tuntutan atau kata-kata manis yang manipulatif.

"Mbak... kok malah bengong? Dimakan gih, mumpung masih hangat. Mas Letnan tadi pesen, katanya jangan sampai maag-nya kambuh," goda Olan lagi.

Dina membuka bungkusan itu perlahan. Harum serai dan daun salam menguar. Di dalamnya ada telur balado, orek tempe yang garing, sambal goreng ati, dan taburan bawang goreng yang melimpah. Benar-benar tampak seperti sarapan yang disiapkan dengan penuh pertimbangan.

"Dia benar-benar datang ke sini tadi, Lan?" tanya Dina pelan, suaranya sudah jauh lebih tenang.

"Iya, Mbak. Tapi cuma sebentar. Dia titip salam, katanya selamat bekerja buat 'murid setir motor'-nya yang paling berani," Olan tertawa lagi.

Dina menyuapkan satu sendok nasi kuning itu ke mulutnya. Rasanya memang luar biasa enak—gurih dan kaya rempah. Namun yang lebih terasa nikmat bagi Dina adalah kenyataan bahwa di kota kecil ini, ada seseorang yang menghargai keberadaannya sebagai manusia, bukan sebagai objek yang harus dikontrol.

1
Ratih Tupperware Denpasar
astaga knp adriqn dibuat meninggal
nanuna26: karena dina itu selalu ditinggalkan ka
total 1 replies
Ratih Tupperware Denpasar
semoga adrian bener2 tulus ga kayak si rama.namanya rama tqpi tingkahnya ga sesuai namanya
Ratih Tupperware Denpasar
semoga ditempat baru dina bener2 bs tenang
Ratih Tupperware Denpasar
kukasi juga secangkir kopi supaya dina tetep semangat
nanuna26: kakk cantik terimakasih sudah support terua😍
total 1 replies
Ara putri
Hay kak. jika berkenan saling dukung yuk. mampir keceritaku.

-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib
Ratih Tupperware Denpasar: astga part awao sdh mewek
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!