NovelToon NovelToon
Sang Legenda Telah Kembali

Sang Legenda Telah Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: ilwa nuryansyah

Albus adalah puncak evolusi manusia—seorang jenius yang mampu membedah hukum alam tanpa bantuan doa.

Di dunia yang dikuasai oleh dogma agama, keengganannya untuk bersujud kepada para dewa membuatnya dicap sebagai **"Iblis Tanpa Langit."** Lima puluh tahun lalu, ia dikhianati dan diburu oleh aliansi kerajaan suci, hingga akhirnya tewas dalam kepungan ribuan ksatria dan pendeta.

Namun, maut hanyalah jeda bagi inteleknya.

Albus terbangun kembali 50 tahun kemudian di tubuh ilwa Eldersheath putra dari keluarga bangsawan agung yang dikenal memiliki sirkuit mana yang cacat. Dunia kini telah berubah menjadi teokrasi yang kaku, di mana sains dianggap sihir terlarang. Dengan ingatan yang menyimpan ribuan formula magis kuno dan dendam yang dingin, Albus mulai memperbaiki tubuh barunya dari dalam bayang-bayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilwa nuryansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chaplin 6

Waktu seolah merayap dengan lambat di kediaman mewah Duke Eldersheath. Beberapa hari telah berlalu sejak Ilwa berhasil membentuk *Mana Crystal* pertamanya yang rapuh.

Kini, tubuh mungilnya mulai berangsur pulih; rasa sakit yang menusuk di persendiannya mulai memudar, digantikan oleh kehangatan konstan yang berasal dari obat-obatan Saint Benedictus dan sirkulasi mana mandiri yang ia lakukan secara rahasia.

Siang itu, di dalam kamar yang tenang, Ilwa baru saja selesai menyusu pada Elara.

Setelah kenyang, Elara mendekapnya dengan penuh kasih, menepuk-nepuk punggungnya agar sang bayi bersendawa.

Namun, di balik wajah bayinya yang menggemaskan, jiwa Albus sedang mengalami pergolakan batin yang luar biasa hebat.

"Sialan... martabatku benar-benar hancur total," batin Ilwa sambil memalingkan wajahnya yang memerah.

Aku adalah seorang penyihir agung yang pernah membuat para raja gemetar hanya dengan menyebut namaku. Dan sekarang, aku bergantung pada nutrisi dari seorang wanita muda yang secara teknis bisa menjadi anakku di kehidupan sebelumnya. Ini... ini adalah siksaan mental yang lebih berat daripada Aura-Lock itu sendiri!"

Meskipun ia sangat tidak menyukai situasi ini, Ilwa tahu bahwa ia membutuhkan nutrisi tersebut agar fisiknya tidak tertinggal jauh dari perkembangan mananya.

Dengan perasaan campur aduk antara malu dan pasrah, ia hanya bisa terdiam saat Elara dengan lembut meletakkannya kembali ke dalam ayunan kayu ek yang empuk.

"Tidurlah yang nyenyak, Ilwa sayang," bisik Elara dengan senyum yang menenangkan.

---

Tepat saat Elara hendak merapikan selimut Ilwa, pintu kamar terbuka dengan kasar. Seorang pelayan wanita masuk dengan napas memburu, wajahnya pucat pasi dan jemarinya gemetar saat ia memegang pinggiran gaunnya.

Elara tersentak, ia segera berdiri tegak dengan wajah penuh tanya. "Ada apa, Martha? Kenapa kau masuk tanpa ijin dengan keadaan seperti ini?"

"Nyonya... maafkan saya..." pelayan itu menelan ludah, suaranya hampir tidak keluar karena rasa takut yang mencekik. "Beliau... Beliau telah tiba di gerbang depan. Sang **Patriak** sedang berjalan menuju halaman belakang!"

Seketika, rona merah di wajah Elara memudar. Tubuhnya kaku seperti patung. "Ayah? Mengapa Ayah datang ke sini tanpa memberi kabar terlebih dahulu?"

Pikiran Elara langsung tertuju pada ancaman ibunya, Elisa, beberapa waktu lalu.

Apakah kunjungan mendadak ini adalah langkah awal untuk meresmikan kematian suaminya, Rovelt? Ataukah ini tentang rencana perjodohan paksa dengan keluarga Blackwood? Ketakutan terpancar jelas dari matanya yang mulai berkaca-kaca.

Sementara itu, di dalam ayunannya, jantung Ilwa berdegup kencang "Robert? Robert Eldersheath ada di sini?"

Rasa penasaran yang besar meledak di benak Ilwa. Robert adalah jenderal yang hampir ia bunuh di kehidupan sebelumnya, seorang ksatria *Sword Magic* yang kekuatannya diakui oleh kawan maupun lawan.

Ilwa ingin melihat seperti apa wajah pria yang kini menjadi kakeknya itu setelah puluhan tahun berlalu.

Apakah pedangnya masih setajam dulu? Ataukah usia telah mengikis kehebatannya?

"Bawa aku ke sana!" Ilwa berteriak dalam diam.

"Jangan tinggalkan aku di sini dalam kegelapan informasi ini! Aku harus melihat musuh lamaku!"

Namun, Elara seolah tidak mendengar jeritan batin anaknya.

Ia menoleh kepada pelayan lain yang berdiri di sudut ruangan. "Jaga Ilwa dengan baik. Jangan biarkan dia keluar dari kamar ini apa pun yang terjadi. Aku harus menemui Ayah sendirian."

Ilwa menendang-nendang udara dengan kesal saat Elara bergegas keluar. "Oeeekkk! Apuuukk!" (Kalian pengecut! Bawa aku ikut!) teriaknya, namun bagi telinga manusia normal, itu hanyalah tangisan bayi yang sedang rewel.

Elara menghilang di balik pintu, meninggalkan Ilwa dalam asuhan seorang pelayan yang tampak gugup.

---

Langkah kaki Elara bergema di koridor marmer menuju halaman belakang, sebuah area terbuka yang dikelilingi oleh taman mawar putih dan dinding batu tinggi yang ditumbuhi tanaman merambat.

Di tengah taman itu, berdiri seorang pria yang kehadirannya seolah mendominasi seluruh alam sekitarnya.

Pria itu adalah **Robert Eldersheath**.

Meski usianya telah melewati enam puluh tahun, tubuhnya masih tampak tegak dan perkasa seperti pohon jati kuno.

Ia mengenakan jubah kebesaran bangsawan berwarna hitam dengan aksen emas, namun di balik pakaian mewah itu, otot-otot lengannya masih terlihat padat dan bertenaga.

Rambutnya yang pendek telah memutih sepenuhnya, menyatu dengan janggut rapi yang memberinya kesan bijaksana sekaligus kejam.

Di pinggangnya tergantung sebuah pedang dengan hulu berlapis permata—pedang yang sama yang dulu pernah beradu dengan pedang Albus.

Aura mana yang terpancar darinya sangat stabil, berat, dan menekan, sebuah bukti bahwa ia adalah seorang praktisi *Sword Magic* tingkat tinggi yang belum kehilangan taringnya.

Elara melangkah maju dengan kepala tertunduk, suaranya bergetar saat menyapa pria yang paling ia takuti sekaligus ia hormati itu.

"Selamat datang, Patriak," ucap Elara sambil membungkuk dalam-dalam. "Sebuah kejutan besar melihat Anda berkunjung di sore yang cerah ini."

Robert tidak langsung menjawab. Ia berdiri membelakangi Elara, matanya menatap tajam ke arah cakrawala seolah sedang mencari sesuatu yang hilang.

Keheningan itu berlangsung cukup lama, menciptakan tekanan psikologis yang membuat Elara hampir tidak kuat berdiri di atas kakinya sendiri.

Angin sore bertiup, memainkan ujung jubah Robert yang megah.

Perlahan, Robert membalikkan tubuhnya. Matanya yang abu-abu, setajam mata elang yang sedang mengincar mangsa, tertuju langsung pada putrinya.

Tidak ada kehangatan seorang ayah di sana; yang ada hanyalah tatapan seorang penguasa yang sedang mengevaluasi asetnya.

"Elara," suara Robert berat dan berwibawa, bergema di seluruh halaman belakang. "Kudengar dari ibumu, kau masih mempertahankan harapan yang sia-sia terhadap pria rakyat jelata itu."

Elara terdiam, hanya bisa menggigit bibir bawahnya saat Robert melangkah mendekat, langkah sepatunya terdengar seperti detak lonceng kematian yang menandai babak baru dalam perjuangan Ilwa untuk merebut kembali takdirnya di keluarga yang penuh dengan monster ini.

Halaman belakang kediaman Duke Eldersheath yang biasanya asri dengan aroma mawar putih, kini terasa seperti medan eksekusi yang dingin.

Sinar matahari sore yang berwarna jingga menyapu wajah Robert Eldersheath, memberikan kesan bahwa pria tua itu adalah patung perunggu yang tak memiliki emosi.

Elara berdiri beberapa langkah di depannya, tangannya terkepal erat di balik lipatan gaunnya. "Ayah... aku mohon, dengarkan penjelasanku mengenai Rovelt. Dia adalah pria yang jujur, dan dia—"

"Hentikan," potong Robert dengan suara rendah yang menggetarkan udara.

Ia bahkan tidak menatap mata putrinya. "Di tanah ini, di bawah panji keluarga ini, kau panggil aku **Patriak**. Kau harus sadar akan posisimu sekarang, Elara. Kau bukan lagi bagian dari keluarga inti yang memiliki hak untuk bernegosiasi."

Kalimat itu menghujam Elara lebih dalam dari belati mana pun.

Ia menundukkan kepala, membiarkan helai rambutnya menutupi matanya yang mulai memanas. Realitas pahit itu terpampang nyata di depannya.

Dahulu, Elara adalah putri kesayangan, bunga dari keluarga inti Eldersheath.

Namun, keputusannya untuk melarikan diri dan menikah dengan Rovelt—seorang ksatria rakyat jelata yang tak memiliki silsilah—telah menghancurkan statusnya.

Karena pernikahan itu dilakukan tanpa restu dewan keluarga dan tidak pernah diresmikan secara protokoler bangsawan, Elara dianggap telah membuang kehormatannya.

Secara teknis, dia hanyalah anggota keluarga cabang yang tidak memiliki hak istimewa.

"Maafkan saya... Patriak," ucap Elara dengan suara yang hampir menghilang. "Mengenai suamiku, Matriark telah memberikan waktu satu tahun. Jika Rovelt kembali sebelum waktu itu, maka—"

"Satu tahun adalah waktu yang terlalu lama untuk sebuah ketidakpastian," Robert berbalik, menatap Elara dengan mata abu-abunya yang tajam dan tak kenal ampun.

"Namun, aku datang ke sini bukan untuk berdebat tentang seorang ksatria rendahan yang mungkin sudah membusuk di parit peperangan. Aku datang untuk memberimu kesempatan."

Mendengar kata 'kesempatan', Elara mendongak. Secercah harapan muncul di wajahnya yang kusam.

Jika ia bisa kembali ke lingkaran keluarga inti, maka masa depan Ilwa akan terjamin.

Ilwa tidak akan dibuang ke tangan pelayan, ia akan mendapatkan pendidikan terbaik, dan mungkin ada tabib hebat yang bisa menyembuhkan penyakitnya jika status mereka kembali tinggi.

"Kesempatan untuk kembali ke keluarga inti?" tanya Elara dengan napas tertahan. "Apa pun... aku akan melakukan apa pun, Patriak."

Robert menyipitkan matanya. "Tapi ada syaratnya. Dan syarat ini tidak akan mudah."

Elara menelan ludah, firasat buruk mulai merayapi tengkuknya. "Apa... apa syaratnya, Patriak?"

Robert melangkah perlahan mengelilingi Elara, seperti seekor serigala yang mengitari mangsanya.

"Berdasarkan catatan terakhir, kau adalah seorang *Sword Magic* tingkat 8, bukan? Bakatmu dalam memadukan sihir dan pedang adalah salah satu yang terbaik di generasi ini, sebelum kau memutuskan untuk menyia-nyiakannya demi asmara picisan."

"Itu... benar, Patriak," jawab Elara ragu. Di dunia ini, tingkat 8 adalah level yang sangat dihormati bagi seorang bangsawan muda.

"Bagus," ucap Robert dingin. "Ada sebuah wilayah di ujung paling timur Kerajaan Dorn. Sebuah wilayah terpencil yang berbatasan dengan hutan purba dan pegunungan terlarang. Wilayah itu bernama **Veldora**."

Elara tersentak. Nama itu tidak asing di telinganya. Veldora dikenal sebagai "Tanah Terbuang". Wilayah itu adalah kota terpencil yang gersang, sering diserang oleh monster liar dari hutan, dan dihuni oleh orang-orang buangan serta narapidana yang masa tahanannya telah habis. Tidak ada bangsawan waras yang mau menginjakkan kaki di sana.

"Lalu... apa hubungannya Veldora dengan saya, Patriak?" tanya Elara, suaranya mulai bergetar.

Robert berhenti tepat di depan Elara, memberikan tekanan aura yang membuat lutut Elara lemas. "Aku memerintahkanmu untuk pergi ke sana. Kau akan menjabat sebagai Walikota Veldora selama sepuluh tahun ke depan. Kau harus menata kota busuk itu, mengamankan perbatasan, dan membuktikan bahwa darah Eldersheath di dalam tubuhmu tidak sepenuhnya menguap karena cinta butamu."

Elara ternganga. "Sepuluh tahun? Patriak, itu adalah tempat yang berbahaya! Bagaimana dengan Ilwa? Dia masih bayi, dan dia... dia sedang sakit! Kondisi fisiknya tidak akan kuat bertahan di lingkungan sekeras Veldora!"

"Itulah syaratnya," Robert berkata tanpa belas kasihan. "Buktikan kau bisa memimpin di tempat paling kotor di kerajaan ini. Jika kau berhasil bertahan dan memakmurkan Veldora dalam sepuluh tahun, aku akan memulihkan statusmu dan putramu ke dalam keluarga inti secara penuh. Namun jika kau gagal... jangan pernah bermimpi untuk kembali menginjakkan kaki di kediaman ini."

Robert kemudian berpaling, membelakangi putrinya seolah pembicaraan telah usai. "Kau punya waktu tiga hari untuk berkemas. Bawa anak itu, atau tinggalkan dia di sini untuk menjadi pelayan. Pilihan ada di tanganmu, Walikota Veldora."

Elara berdiri mematung di tengah taman yang kini terasa seperti kuburan. Sepuluh tahun di tanah pembuangan Veldora.

Itu bukanlah tugas, itu adalah pengasingan yang halus. Di kejauhan, di dalam kamar bayinya, Ilwa yang memiliki indra tajam berkat *Mana Crystal* barunya, bisa merasakan gejolak emosi ibunya dari kejauhan.

Albus, yang kini bernama Ilwa, tersenyum pahit di dalam ayunannya.

"Veldora, ya? Tanah terbuang yang penuh monster dan kekacauan. Sepertinya takdir ingin aku memulai kembali dari tempat yang paling bawah. Bagus... di tempat seperti itu, tidak akan ada Saint atau Matriark yang mengawasi setiap gerak-gerik sihirku."

Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai, bukan di istana Duke yang megah, melainkan di tanah tandus yang akan menjadi saksi kebangkitan sang legenda yang terbuang.

Bersambung...

1
Orimura Ichika
oke sih
Ilwa Nuryansyah
terimakasih banyak 😄😄
black_rose
Karyamu masterpiece teruskan dan semagattt(っ´▽`)っ
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!