Sora Kalani menghabiskan hidupnya di antara detak mesin jam, menunggu satu detik di mana Ezrael Vance akan menoleh ke arahnya. Namun bagi Ezra, Sora hanyalah pelabuhan tenang tempatnya bersandar sebelum ia kembali berlayar mengejar Liora—balerina yang menjadi pusat dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon firsty aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Bandara dan Janji yang Hambar
Sora tersentak bangun. Napasnya memburu, memecah kesunyian bengkel yang hanya diisi oleh detak ribuan jam yang kini terdengar seperti ribuan jantung yang berdegup tidak selaras. Di bawah pipinya, permukaan meja kayu terasa dingin dan keras. Sisa mimpi tentang panggung balet di Paris itu masih membekas di belakang matanya—bayangan Ezra yang berlutut di depan Liora, cahaya lampu sorot yang menyilaukan, dan keheningan yang mencekam saat semua jam berhenti berdetak serentak.
Ia mengerjapkan mata, mencoba mengumpulkan kesadarannya di tengah temaram lampu meja yang mulai meredup. Cahaya abu-abu fajar mulai menyusup dari sela-sela tirai jendela bengkel. Di depannya, arloji Liora yang sudah selesai diperbaiki berkilau pucat, seolah-olah benda itu baru saja ikut menonton mimpinya dan menertawakannya.
Sora melihat jam dinding tua di atas pintu. Pukul 05.15 pagi.
"Satu jam lagi," bisiknya serak.
Ia segera bangkit, mengabaikan rasa kaku di leher dan bahunya akibat tidur dalam posisi duduk semalaman. Ia melangkah ke wastafel kecil di sudut belakang bengkel, membasuh mukanya dengan air dingin yang seolah menusuk kulit. Di cermin tua yang permukaannya mulai berbintik hitam dimakan usia, Sora menatap pantulan dirinya. Wajahnya pucat, matanya sedikit sembap, namun ia memaksakan diri untuk memoleskan lipstik tipis—sebuah tameng kecil agar Ezra tidak melihat betapa hancurnya ia semalam.
Tepat pukul 06.00, sebuah pesan masuk dan menggetarkan meja kayu.
Ezra Vance: Ra, aku sudah di jalan menuju bandara. Kamu sudah bangun? Aku mampir sebentar ke depan bengkelmu ya untuk ambil jamnya.
Sora tidak membalas. Ia mengambil kotak beludru hitam, memasukkan arloji itu dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu melangkah keluar. Udara pagi di luar bengkel terasa lembap dan berkabut. Di depan bengkel, sebuah mobil SUV putih sudah menunggu dengan mesin yang menderu halus, memecah keheningan jalanan tua yang masih sepi.
Pintu mobil terbuka, dan Ezra turun dengan energi yang seolah-olah bisa menghapus seluruh kelelahan Sora dalam sekejap. Pria blesteran itu tampak sangat tampan dengan mantel panjang berwarna unta dan syal yang melilit lehernya. Senyumnya lebar, penuh harapan yang—sekali lagi—tidak melibatkan Sora di dalamnya.
"Tepat waktu, seperti biasa," ucap Ezra sambil menghampiri Sora. Langkahnya ringan, seolah ia sedang terbang menuju kebahagiaannya.
Sora menyerahkan kotak itu dengan gerakan kaku. "Ini. Sudah selesai. Semuanya sudah berfungsi dengan baik."
Ezra membuka kotak itu sebentar, matanya berbinar melihat arloji Liora yang kini kembali berkilau seperti baru. Tanpa aba-aba, ia menarik Sora ke dalam pelukan singkat namun erat. Bau parfum maskulin bercampur aroma kayu manis yang sangat familiar menyerbu indra penciuman Sora, membuat dadanya terasa sesak seketika.
"Terima kasih, Sora. Kamu benar-benar penyelamatku. Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan tanpa kamu," bisik Ezra tepat di telinganya.
Sora hanya bisa mematung di dalam dekapan itu. Kata-kata itu terasa seperti pisau yang dibalut beludru halus. Penyelamat. Kata itu menegaskan bahwa peran Sora hanyalah sebagai jembatan yang membantu Ezra menyeberang menuju wanita lain.
"Aku berangkat sekarang ya? Pesawatku lepas landas sebentar lagi," kata Ezra sambil masuk kembali ke mobil. Ia menurunkan kaca jendela, menatap Sora dengan binar yang sama seperti dalam mimpi Sora tadi malam. "Aku akan meneleponmu setiap hari dari Paris, Ra. Aku janji."
Sora hanya mampu mengangguk kecil, memaksakan sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. "Hati-hati di jalan, Ezra."
Mobil itu perlahan melaju, menjauh dari depan bengkel tua yang sudah menjadi saksi bisu ribuan detik penantian Sora. Sora tetap berdiri di sana, menatap lampu belakang mobil yang perlahan menghilang di tikungan jalan yang masih berkabut. Ia menunggu Ezra menoleh sekali saja dari kaca spion, atau sekadar melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan yang berarti. Namun, Ezra tidak melakukannya. Pria itu sudah terlalu sibuk membayangkan bagaimana ia akan melingkarkan jam itu ke pergelangan tangan Liora di bawah langit Paris.
Di tangannya, Sora merasakan sesuatu yang keras di dalam saku mantelnya. Koin pemberian Hael semalam. Ia merogohnya dan menatap logam tua itu dengan nanar.
Denting.
Bunyi lonceng dari dalam bengkelnya kembali terdengar saat ia melangkah masuk, namun kali ini suaranya terasa hampa. Janji Ezra untuk menelepon setiap hari terdengar seperti melodi sumbang di telinganya. Sora tahu, di antara dirinya dan Paris, ada jarak ribuan kilometer yang tidak akan pernah bisa dijembatani oleh sekadar janji di pagi hari.
"Kamu sudah pergi, bahkan sebelum pesawatmu lepas landas," gumam Sora pedih.
Ia berbalik masuk ke dalam bengkelnya yang kini terasa berkali-kali lipat lebih luas dan jauh lebih dingin. Ia menyadari satu hal pahit: Ezra tidak hanya membawa jam Liora pergi. Ezra membawa seluruh alasan Sora untuk tetap berdetak bersamanya ke dunianya yang lain.