NovelToon NovelToon
My Possession Hot Daddy

My Possession Hot Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:29.8k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Singgasana di Balik Kabut

Keheningan yang ditinggalkan Clara di ruang rapat Bramasta Group bukanlah keheningan biasa.

Itu adalah keheningan setelah badai besar yang baru saja menyapu bersih benalu dari taman firdaus Aluna.

Di kursi kebesaran CEO, Bramasta masih berdiri tegak, namun tatapannya tak lagi tertuju pada dokumen-dokumen bernilai miliaran rupiah di atas meja.

Matanya terkunci pada Aluna—gadis yang baru saja menunjukkan taringnya dengan cara yang paling elegan sekaligus mematikan.

Bramasta melangkah mendekat, memutar kursi Aluna agar menghadapnya. Tanpa peduli pada asisten yang masih gemetar di ambang pintu, ia menangkup wajah Aluna. Ibu jarinya mengelus bibir Aluna yang sedikit basah karena sisa teh.

"Kau menghancurkannya tanpa menyentuhnya sedikit pun, Little Bird," desis Bramasta, suaranya berat oleh gairah yang terselubung kekaguman.

"Itu adalah pertunjukan paling indah yang pernah kusaksikan."

Aluna hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak lagi mengandung kepolosan, melainkan kepuasan seorang pemenang.

Sore itu, suasana di kediaman utama Adiguna terasa lebih hangat namun tetap sarat otoritas.

Di ruang keluarga yang beraroma kayu cendana, dua pilar utama keluarga itu sudah menunggu. Nyonya Widya duduk di kursi goyangnya, sementara Tuan Adiguna tampak berdiri di dekat perapian dengan wajah yang biasanya kaku kini dipenuhi kecemasan.

Begitu Aluna melangkah masuk, Tuan Adiguna segera menghampirinya. Pria tua yang ditakuti di dunia perbankan itu meraih tangan Aluna, menggenggamnya dengan jemari yang mulai keriput namun masih kuat.

"Aluna, Sayang... Kakek sudah dengar apa yang dilakukan gadis ular itu padamu," suara Tuan Adiguna bergetar oleh amarah yang tertahan.

"Beraninya dia merendahkan cucu kesayanganku? Jika Bramasta tidak memecatnya hari ini, Kakek sendiri yang akan memastikan seluruh keluarga Clara terusir dari negeri ini."

Aluna menunduk, membiarkan beberapa helai rambut menutupi wajahnya agar ia tampak lebih rapuh.

"Aku tidak apa-apa, Kek. Aku hanya... merasa sangat kecil saat dia menghina statusku di rumah ini."

Mendengar itu, Tuan Adiguna langsung memeluk Aluna. "Kau adalah permata Adiguna, Aluna. Jangan pernah lupakan itu."

Ia kemudian menoleh pada Bramasta yang berdiri di belakang mereka.

"Bramasta, jaga dia baik-baik. Jangan biarkan sampah seperti itu mendekatinya lagi!"

"Karena itulah, aku akan membawanya ke villa di Lembang besok," sahut Bramasta datar namun tegas. "Dia butuh ketenangan."

Tuan Adiguna sempat mengerutkan kening.

Sisi protektifnya sebagai kakek langsung bangkit. "Lembang? Apa tidak terlalu jauh? Media sedang menyoroti skandal ini, Bram. Aluna lebih aman di sini, di bawah penjagaanku."

"Dia butuh udara segar, Ayah. Bukan kurungan," sela Bramasta, kali ini dengan nada yang tidak bisa dibantah.

Nyonya Widya yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. "Biarkan mereka pergi, sayang. Aluna butuh waktu untuk memulihkan hatinya, dan Bramasta adalah orang yang paling tepat untuk menjaganya. Ini adalah kompensasiku untuk Aluna karena kelalaianku mempercayai Clara. Biarkan cucu kita bahagia sejenak."

Tuan Adiguna akhirnya menghela napas, kalah oleh argumen istrinya. Ia menatap Aluna sekali lagi, mencium keningnya dengan sayang.

"Pergilah. Tapi ingat, Bramasta, jika ada satu helai rambutnya yang terluka, kau akan berhadapan dengan kakeknya."

Perjalanan menuju Lembang adalah siksaan yang manis bagi Aluna. Di dalam mobil mewah yang melaju membelah kegelapan menuju pegunungan, Bramasta tidak sedetik pun melepaskan tangannya dari paha Aluna.

Jemarinya merayap di balik kain gaun Aluna yang halus, memberikan tekanan-tekanan kecil yang membuat perut Aluna bergejolak.

Begitu gerbang villa terbuka, kabut tebal menyambut mereka, mengisolasi tempat itu dari seluruh dunia. Villa kayu itu berdiri angkuh, dikelilingi hutan pinus yang sunyi.

Begitu pintu depan tertutup dan dikunci, atmosfer seketika berubah dari dingin menjadi membara.

Bramasta tidak menunggu lama. Ia menarik Aluna ke dalam dekapannya di lobi yang remang-remang.

"Akhirnya... hanya ada kita berdua."

Bramasta membimbing Aluna ke kamar utama di lantai atas. Kamar itu memiliki jendela besar yang menghadap langsung ke lembah yang tertutup kabut, namun perhatian Aluna sepenuhnya tersita oleh pria di hadapannya.

Bramasta melepaskan jasnya, lalu menyampirkan kemeja hitamnya yang kini terbuka dua kancing teratas, memamerkan dada bidang yang kokoh.

"Sekarang Daddy benar-benar milikku?" bisik Aluna, suaranya serak saat ia melangkah mendekat, melingkarkan tangannya di leher Bramasta.

"Seluruhnya, Aluna. Raga ini, harta ini, semuanya di bawah kakimu," sahut Bramasta sebelum menunduk dan memagut bibir Aluna dengan lapar.

Ciuman itu tidak lagi tentang kelembutan. Itu adalah perayaan kemenangan yang liar. Lidah Bramasta menjelajah dengan tuntutan yang tak tertahankan, memeras desahan kecil dari tenggorokan Aluna.

Aluna membalasnya dengan keberanian yang baru, jemarinya menarik rambut Bramasta, memaksa pria itu untuk semakin tenggelam dalam pagutan mereka.

Bramasta mengangkat tubuh mungil Aluna, mendudukkannya di atas meja konsol kayu jati yang dingin. Kontras antara permukaan meja yang membeku dan panas tubuh Bramasta yang menghimpit di antara kaki Aluna membuat gadis itu bergidik.

Jemari kasar Bramasta mulai menanggalkan satu per satu penghalang di antara mereka. Saat gaun Aluna luruh ke lantai, cahaya remang dari perapian menyinari kulitnya yang seputih porselen. Bramasta menatapnya seolah Aluna adalah karya seni paling suci sekaligus paling berdosa yang pernah ia miliki.

"Kau sangat indah, Baby," desis Bramasta. Ia mulai mengecup sepanjang garis leher Aluna, turun ke bahu, hingga ke puncak dadanya yang naik-turun karena napas yang memburu.

Setiap sentuhan Bramasta terasa seperti klaim yang sah. Aluna merasakan kepuasan yang luar biasa setiap kali pria itu menggeram karena gairah yang ia ciptakan.

Ia menikmati bagaimana pria yang ditakuti kakeknya, pria yang menguasai ribuan karyawan, kini berlutut di hadapannya, menciumi setiap inci kulitnya dengan pemujaan yang gila.

Di atas ranjang besar yang empuk, badai gairah itu memuncak. Aluna memejamkan mata, mencengkeram sprei satin saat Bramasta membawanya ke puncak kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Suara desahan Aluna bersahutan dengan suara kayu yang meletup di perapian.

Untuk sementara waktu, Aluna bisa bernapas lega. Ia tidak hanya memenangkan pertarungan melawan Clara, tapi ia telah mengukuhkan posisinya sebagai ratu di hati sang penguasa Adiguna. Ia merasa aman, dicintai, dan yang paling penting—berkuasa.

Saat malam semakin larut dan badai itu mereda, Aluna berbaring di dada bidang Bramasta yang masih berkeringat. Ia mendengarkan detak jantung pria itu yang mulai teratur. Di balik jendela yang berembun, dunia terasa sangat jauh.

"Daddy..." panggil Aluna pelan.

"Ya, Sayang?" Bramasta mengecup puncak kepalanya, memeluknya seolah tak ingin ada satu inci pun celah di antara mereka.

"Jangan pernah biarkan siapa pun mengambil tempat ini dariku," bisik Aluna dengan nada posesif yang kini setara dengan Bramasta.

Bramasta menyeringai dalam kegelapan, matanya berkilat penuh janji.

"Tempat ini sudah disegel dengan namamu, Aluna. Siapa pun yang mencoba masuk, akan kuhancurkan sampai tak tersisa."

Aluna tersenyum puas. Ia tahu ini baru awal dari rencananya, tapi untuk malam ini, ia akan menikmati kemenangannya sebagai satu-satunya pemilik hati sang Daddy di bawah selimut kabut Lembang.

1
SYADZA
seru bgt kak lanjut
@ˢ⍣⃟ₛ 💜⃞⃟𝓛JAᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©⍣⃝✰zc❖
huhuhu posesif banget nih daddy
Yasa
Selamat datang Lumiii😍 Aaah serasa punya ponakan
Mita Paramita
huhu Bram kesel bukan main aluna dan anaknya direbut rehan 🤣🤣🤣
ollyooliver🍌🥒🍆
semakin kesini semakin gk jelas...prrtama bramasta gk punya hubungan dara denaga aluna..mereka" sama saling cinta tapi karna cara bram yg terlalu posesi malah dibilang obsesi..bedakan obsesi dan cinta meski beda tipis tapi cara mainnya beda. dan perbedaan itu ada dlm cerita ini tapi justrus itu adalah cinta hanya karna hubungan wali doang sdh jadi masalah besar. kedua, apa hak rehan dan vanya..mereka hanya orng asing yg kebetulan dekat. tapi ikut campur dlm hubungan aluna dan bram, aluna pun tdk akan pergi kalau bukan status tapi kepergiannya seolah" dibuat karna bram yg semakin tak terkendali pdh b aja mah kalau orng udah kecintaan..ketiga, pemeran utama prianya semakin bodoh!


ok..sampai sini aja, terimakasih atas ceritanyaa yg diawal udah menarik. bye🙂
Yasa: setuju sama authornya nih, gimana perspektif pembaca. Aku sangat menikmati alurnya kok. aku rasa porsi konfliknya pas, bikin geregetan.

So kalau kamu ngerasa ga jelas, berarti ga sesuai ekspektasi kamu.

yes. bye bye
total 2 replies
Mita Paramita
akhirnya aluna beban jauh dari Bram 😮‍💨
Mita Paramita
aluna kabur aja😭😭😭
Senja_Puan: Ini dukung Aluna kabur kak?😄
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
ini sebenarnya gimana hubungan para pemain..kakak yg dimaksud vanya , bram? bukankan mereka berteman? vanya dan rehan bersaudara bukan? si aluna juga manggil vanya kakak, pdhl pantasnya tante. trus si rehan ngomong kek orng sumuran dengan bram. trus si adiguna kan ayahnya bram, ada chapter sebelumnya dia manggil kakek..Tuan adiguna sebenarnya ada brp?
Senja_Puan: wah iya juga kak. makasih sudah mengingatkan kak💪😍
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
tamu kesayangan? yg punya rumah bukannya bram?
Senja_Puan: betuul kak. coba dibaca baik-baik
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
ini kenapa bram gk menampar rehan, dia tuan rumah bukan? terlepas mungkin rehan tau hubungan lebih aluna dan bram..ya bram berhak atas aluna. knp bram disini sangat bodoh, masa anak kecil didiamin, percuma dibentuk jadi karakter seorang penguasa kalau si rehan aja gk bisa ditangani😌
Senja_Puan: Marahin aja kak, suruh sadar
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
jangan menunggu nekatnya, dari dia berani menantang bram dengan menyentuhmu itu sdh kelewatan..lu aja yg dasarnya lonte😌
Mita Paramita
kasian aluna 🤣🤣🤣
Senja_Puan: kuatkan Aluna kak
total 1 replies
Lfa🩵🪽
akhirnya Aluna udah gk lembek lagi😍😍
Senja_Puan: Maunya terus-terusan kuat ya kak
total 1 replies
Lfa🩵🪽
akhirnya Aluna bisa jg lawan si clarajing, udah deh Aluna gk usah terlalu di lembek2in gitu dah
ollyooliver🍌🥒🍆
gw yg deg"an...biarin aja kalau ketahuan mah🤧
ollyooliver🍌🥒🍆
kek maling aja🤭
ollyooliver🍌🥒🍆
waduuuhhh
Yasa
heeeei, bisa-bisamya anda Bram. gimana kalau lolos tuh desahannya/Sob/
Senja_Puan: marahin kak. atau pakein lakban
total 1 replies
Yasa
😍
Yasa
semangat thor
Senja_Puan: makasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!