Arsa Kalandra — pria 30 tahun yang bekerja sebagai story archaeologist: ia dibayar keluarga untuk merekonstruksi kisah hidup orang-orang yang telah meninggal, menyusun kepingan memori menjadi sebuah warisan. Ia hidup di dalam cerita orang lain sementara hidupnya sendiri membeku sejak enam tahun lalu.
Wren Amara — perempuan 27 tahun, pengisi suara buku audio yang diam-diam memiliki kanal anonim bernama "Suara Asing" — tempat ia membacakan surat-surat cinta usang yang ia temukan di toko barang antik. Jutaan orang mendengarkan suaranya, tapi tak ada yang tahu wajahnya. Ia jatuh cinta pada penulis surat-surat itu, seseorang yang menulis untuk "Langit" — nama yang tak pernah bisa ia temukan.
Yang tidak mereka tahu: surat-surat itu adalah surat yang tidak pernah terkirim dari adik Arsa yang sudah tiada.
Dan ketika Arsa ditugaskan merekonstruksi kisah hidup seseorang yang ternyata terhubung dengan adiknya — mereka bertemu.
Dua orang yang sama-sama hidup di antara suara-suara masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hai el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
YANG TIDAK PERNAH DIUCAPKAN DI MEJA MAKAN
Sore itu, setelah makan siang yang berlangsung lebih panjang dari biasanya karena tidak ada yang ingin terlalu cepat menutup percakapan, Arsa menemukan dirinya sendirian di halaman belakang rumah.
Halaman yang tidak besar — lebih ke taman kecil dengan beberapa pot tanaman yang dirawat ibunya dengan konsistensi yang membuat Arsa selalu sedikit iri. Pohon jambu di sudut yang sudah ada sejak sebelum ia lahir. Kursi besi tua yang catnya sudah mengelupas di ujung-ujungnya.
Ia duduk di kursi itu.
Dari dalam rumah terdengar suara — ibunya dan Wren yang entah kapan mulai bicara di dapur, suara yang tidak bisa ia tangkap kata-katanya tapi bisa ia tangkap tonalitasnya. Percakapan yang terasa nyaman. Wren yang punya cara berbicara yang membuat orang merasa didengar bahkan ketika ia yang berbicara.
Ia tidak mencoba menguping.
Ia hanya duduk di halaman belakang dengan aroma tanah dan daun yang sudah sangat ia kenal, dan membiarkan dirinya berada di sini — di kota ini, di halaman ini, dengan semua yang ada di dalamnya.
Langkah kaki di belakangnya. Ibu Sari.
Ia duduk di kursi lain — satu-satunya kursi lain yang ada — dengan dua gelas es teh di tangannya. Menyodorkan satu ke Arsa.
"Mama suka Wren," katanya.
"Sudah terlihat."
"Mama jarang langsung suka seseorang." Ibu Sari minum es tehnya. "Dua menit bicara tentang cara menyeduh teh dan Mama sudah tanya kapan Wren mau main lagi."
Arsa tersenyum ke gelasnya.
"Arsa." Nada yang berubah. "Ada sesuatu yang tidak pernah saya ceritakan kepadamu." Jeda yang singkat tapi bermakna. "Tentang Raka. Tentang hari terakhir."
Arsa meletakkan gelas ke bawah.
"Raka menelepon saya," kata Ibu Sari. "Malam sebelum kecelakaannya. Saya tidak angkat karena saya sedang dalam meeting. Ia tidak meninggalkan pesan voicemail." Tangannya menggenggam gelas lebih erat. "Saya telepon balik dua jam kemudian. Tidak diangkat. Saya pikir besok saja. Lalu besoknya..."
Arsa diam.
"Saya tidak tahu mau bilang ini dulu karena saya tidak mau kamu pikir ada sesuatu yang bisa dicegah — dokter bilang kecelakaannya memang kecelakaan, tidak ada yang bisa menduga." Suara Ibu Sari stabil tapi ada garis di tepinya. "Tapi saya selalu bertanya-tanya apa yang ia ingin katakan."
Keheningan di halaman itu terasa berbeda dari keheningan biasa. Lebih berdimensi.
"Mungkin hanya ingin ngobrol biasa," kata Arsa akhirnya.
"Mungkin." Ibu Sari mengangguk. "Atau mungkin ia sedang dalam momen di mana ia mau bilang sesuatu yang penting. Seperti yang Dito tulis di suratnya — katakan, sebelum tidak ada waktu lagi. Mungkin Raka sedang mencoba itu."
Arsa menatap pohon jambu di sudut. Batangnya yang sudah tebal, akarnya yang sudah menembus jauh ke bawah tanah. Sesuatu yang sudah ada lebih lama dari semua orang yang pernah duduk di halaman ini.
"Mbak," katanya — kata yang jarang ia gunakan untuk Ibu Sari karena dalam keluarga mereka memang jarang, tapi sekarang terasa tepat. "Kalau Raka menelepon dan kamu angkat, apa yang kira-kira kamu katakan?"
Ibu Sari tidak langsung menjawab. Ketika menjawab, suaranya lebih pelan dari sebelumnya.
"Saya akan bilang: Ra, saya bangga sama kamu. Hal yang tidak pernah saya bilang langsung." Ia menarik napas. "Raka tumbuh selalu jadi yang termuda, yang paling pendiam, yang selalu agak di luar. Dan saya sebagai kakak — saya terlalu sibuk dengan hidup saya sendiri untuk benar-benar bilang: kamu penting, kamu berarti, saya lihat kamu."
Arsa menatap kakaknya. Perempuan empat puluh delapan tahun yang sepanjang hidupnya ia kenal sebagai seseorang yang terkelola dan efisien dan tidak pernah menunjukkan celah. Celah yang ternyata selalu ada, hanya dijaga dengan sangat rapi.
"Raka tahu," kata Arsa. "Dengan cara yang sama saya tahu Raka sayang meskipun ia tidak pernah mengatakannya langsung."
"Ya." Ia tidak membantah itu. "Ya, memang berbeda."
Mereka duduk dalam diam yang tidak nyaman tapi perlu — jenis diam yang terjadi ketika dua orang akhirnya berbicara tentang sesuatu yang sudah lama ada di antara mereka tapi tidak pernah disentuh. Tidak nyaman bukan karena tidak aman, tapi karena jujur.
"Mbak," kata Arsa lagi. "Untuk pameran ini — apakah Mbak mau terlibat?"
Ibu Sari menatapnya. Sesuatu di matanya bergerak.
"Mau," katanya. Tanpa ragu.
Wren tidak bermaksud bicara panjang dengan ibu Arsa.
Rencananya sederhana: membantu di dapur kalau ada yang perlu dibantu, tidak mengambil terlalu banyak ruang, ada kalau dibutuhkan tapi tidak memaksakan kehadiran. Ia tamu. Ia tahu batas tamu.
Tapi ibu Arsa — perempuan yang memperkenalkan diri dengan "panggil saja Ibu Ratna, jangan Bu ini Bu itu" — adalah tipe orang yang tidak membiarkan orang lain tetap di batas tamu kalau ia sudah memutuskan untuk tidak memperlakukannya sebagai tamu.
Dalam dua puluh menit pertama di dapur, Ibu Ratna sudah menanyakan tiga hal kepada Wren: apakah ia suka teh atau lebih suka kopi, dari mana asalnya, dan apakah ia makan semua jenis sayuran atau ada yang tidak bisa.
Bukan pertanyaan interogasi. Pertanyaan orang yang ingin tahu supaya bisa merawat dengan tepat.
"Saya dari Yogya aslinya, Bu. Tapi sudah lama di Jakarta."
"Ah, Yogya." Ibu Ratna mengaduk sesuatu di wajan dengan gerakan yang sudah sangat terlatih. "Saya pernah tinggal di Yogya dua tahun waktu muda. Sebelum ketemu bapaknya Arsa." Nada nostalgia yang ringan. "Kamu suka di Jakarta?"
"Sudah biasa." Wren duduk di kursi dapur yang ditawarkan. "Jakarta bukan kota yang mudah disuka. Tapi ada hal-hal yang hanya bisa ditemukan di sana."
"Seperti apa?"
"Seperti toko buku bekas di Blok M yang pemiliknya lebih bijak dari kebanyakan orang yang pernah saya temui." Wren tersenyum. "Dan orang-orang tertentu yang tidak akan saya temukan kalau saya tidak ada di Jakarta."
Ibu Ratna menatapnya sekilas dengan cara yang mengatakan ia mengerti lebih dari yang diucapkan. Kembali mengaduk. "Kamu sudah berapa lama kenal Arsa?"
"Dua bulan lebih sedikit."
"Dua bulan." Ibu Ratna mengulangi ini dengan nada yang mempertimbangkan. "Itu waktu yang pendek tapi juga bisa sangat panjang tergantung seperti apa dua bulannya."
"Dua bulan yang cukup padat, Bu."
"Arsa cerita tentang proyek pameran itu ke saya seminggu lalu." Ibu Ratna mematikan kompor, berbalik. "Ia tidak pernah cerita detail pekerjaan ke saya. Sudah bertahun-tahun saya tahu ia bekerja dengan kisah orang lain tapi tidak pernah tahu detailnya karena ia tidak pernah cerita." Matanya — mata yang sama dengan Arsa, Wren baru sadar — menatapnya dengan cara yang direct tapi tidak mengintimidasi. "Waktu ia cerita tentang pameran ini, ia menyebut nama kamu lebih banyak dari nama projeknya sendiri."
Wren tidak bicara.
"Saya tidak bilang ini untuk membuat kamu tidak nyaman," lanjut Ibu Ratna. Suaranya hangat — sama dengan Arsa ketika ia tidak sedang menjaga jaraknya. "Saya bilang ini karena Arsa adalah anak yang sudah lama saya tidak bisa baca. Setelah Raka pergi, ada bagian dari dia yang menutup. Tidak sepenuhnya — tapi ada. Dan waktu ia bicara tentang kamu, bagian itu terlihat." Ia berbalik ke kompor lagi. "Itu yang saya ingin kamu tahu."
Wren duduk di dapur itu dengan teh panas di depannya dan kata-kata Ibu Ratna yang masih menggantung di udara.
Waktu ia bicara tentang kamu, bagian itu terlihat.
Ia tidak tahu harus merespons apa. Tapi ada sesuatu yang hangat bergerak di dadanya — bukan karena kata-kata itu tentang dirinya, tapi karena kata-kata itu tentang Arsa. Tentang seseorang yang ia lihat setiap kali mereka duduk bersama membuka amplop — seseorang yang pada dasarnya adalah pengumpul kisah orang lain yang sudah sangat lama tidak mengizinkan kisahnya sendiri untuk bergerak.
"Ibu Ratna," kata Wren pelan.
"Hm?"
"Surat-surat Raka — apakah Ibu sudah mendengarkan semuanya?"
Ibu Ratna berdiri diam sejenak dengan punggung masih ke arah Wren. Lalu berbalik, duduk di kursi seberangnya.
"Belum semua. Sudah tiga." Tangannya di atas meja, jari-jari yang interlaced. "Saya tidak bisa dengarkan lebih dari satu dalam sehari. Harus ada jarak."
"Saya mengerti."
"Kamu membacakannya dengan sangat baik." Kalimat yang sederhana tapi beratnya tidak. "Raka pasti suka caranya. Ia selalu suka sesuatu yang natural — tidak dibuat-buat, tidak terlalu dipoles." Ia menatap Wren. "Dari mana kamu tahu cara membacakannya seperti itu?"
Wren berpikir sebentar. "Saya tidak tahu," katanya jujur. "Waktu membaca surat pertamanya, saya tidak berpikir tentang teknik atau delivery. Saya hanya... membaca. Seperti saya yang menulis itu dan saya yang membacakan untuk diri saya sendiri."
"Empati," kata Ibu Ratna.
"Mungkin. Atau mungkin karena saya merasakan sesuatu yang familiar dari cara Raka menulis."
"Familiar bagaimana?"
Wren diam sebentar. "Cara seseorang yang punya banyak hal di dalam tapi tidak selalu tahu caranya mengeluarkan." Ia tersenyum tipis. "Saya juga begitu kadang. Makanya suara lebih mudah dari kata-kata tertulis untuk saya. Tapi konsepnya sama — ada yang tersimpan lebih lama dari seharusnya."
Ibu Ratna menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa Wren baca sepenuhnya tapi yang terasa seperti sesuatu yang dalam dan hangat sekaligus. "Saya senang Arsa bertemu kamu," katanya akhirnya. "Dan saya senang kamu ada di sini hari ini."
Wren merasakan sesuatu di dadanya yang tidak punya nama tepat tapi yang paling mendekati adalah: diterima.