Denzel Shaquille memilih mencintai Leah Ramiro dalam sunyi. Sebagai asisten pribadi kakak Leah, Zefan, ia hanya sanggup menjadi sandaran lembut bagi sang mahasiswi akuntansi. Namun, Jeff Chevalier—dosen Leah yang posesif—datang mengklaim Leah dengan terang-terangan.
Keadaan makin pelik saat sahabat Leah, Seraphina, mengejar cinta Denzel, sementara Zefan diam-diam memuja Seraphina. Terjebak dalam sandiwara demi tetap dekat dengan Leah, Denzel harus menyaksikan kehancuran hubungan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema Janji
Hujan gerimis mulai membasahi kaca jendela paviliun samping kediaman Ramiro, meninggalkan jejak-jejak air yang merambat lambat seperti air mata yang enggan jatuh. Di dalam kamarnya yang minim cahaya, Denzel Shaquille duduk mematung di tepi tempat tidur. Di tangannya, sebuah ponsel pintar tampak menyala, menampilkan kolom pesan kosong yang ditujukan kepada Seraphina Aeru.
Denzel menatap layar itu dengan pandangan yang kosong. Pikirannya masih tertahan pada getaran suara Leah di dalam mobil tadi. “Lakukan ini demi keamananku juga. Jika kau terlihat bahagia dengan Sera, Jeff mungkin akan melupakanmu sebentar.”
Kalimat itu bukan sekadar saran; itu adalah strategi pertahanan yang dilemparkan Leah kepadanya. Dan sebagai seorang pria yang dididik untuk memprioritaskan keamanan di atas segalanya, Denzel mulai membedah usulan itu dengan logika dingin, meski hatinya menjerit menolak setiap inci dari rencana tersebut.
Denzel mengembuskan napas panjang, sebuah suara berat yang sarat akan kelelahan jiwa. Ia tahu posisi keluarga Ramiro sedang berada di titik nadir. Zefan, sang kepala keluarga sekaligus mentornya, sedang mempertaruhkan segalanya pada investasi Jeff Chevalier. Jeff bukan hanya seorang pria kaya yang arogan; dia adalah predator yang tahu persis di mana letak kelemahan korbannya. Dan bagi Jeff, kelemahan terbesar Zefan—dan rintangan terbesar bagi obsesinya terhadap Leah—adalah kehadiran Denzel.
“Jangan buat Jeff marah,” suara Zefan bergema di ingatannya.
Denzel memejamkan mata. Dilema janji ini merobek nuraninya. Di satu sisi, ia memiliki janji setia kepada mendiang ayah Leah untuk menjaga anak-anaknya dengan nyawa sebagai taruhan. Menjaga Leah berarti memastikan gadis itu tidak kehilangan rumahnya, masa depannya, dan nama baik keluarganya. Jika Denzel terus mempertahankan posisinya sebagai "pelindung tunggal" yang selalu berada di dekat Leah, Jeff akan terus merasa terancam. Kecemburuan Jeff adalah bom waktu yang bisa meledakkan seluruh investasi Ramiro kapan saja.
Namun, di sisi lain, ada janji tak tertulis pada hatinya sendiri. Janji untuk selalu jujur pada perasaannya terhadap Leah, meski ia tahu perasaan itu tak akan pernah bisa memiliki muara. Memilih untuk berkencan dengan Seraphina berarti ia harus mengkhianati kejujuran itu. Ia harus membohongi Seraphina, seorang gadis tulus yang tidak tahu apa-apa tentang permainan catur ini. Ia harus menjadikannya perisai manusia demi kenyamanan Leah.
"Apakah ini yang dinamakan menjaga?" gumam Denzel pada kegelapan.
Ia membayangkan skenario masa depan jika ia menerima usul Leah. Jeff akan melihat Denzel sebagai pria yang sudah "tahu diri". Jeff akan menganggap Denzel telah menemukan pasangannya sendiri dan bukan lagi ancaman bagi rencananya mendekati Leah. Dengan begitu, tekanan terhadap Zefan akan berkurang, dan Leah akan mendapatkan ruang napas yang lebih luas. Leah tidak akan lagi merasa bersalah setiap kali Jeff menghina Denzel, karena di mata Leah, Denzel sudah memiliki "kebahagiaannya sendiri" bersama Seraphina.
Leah akan merasa aman dari rasa bersalahnya, pikir Denzel pahit. Dan itu adalah tugas utamaku. Memberinya rasa aman, meski itu berarti aku harus mematikan bagian dari jiwaku.
Denzel bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju meja kerjanya yang rapi. Di sana terletak sebuah foto kecil di dalam laci yang jarang ia buka—foto Leah saat merayakan kelulusan sekolah menengahnya. Leah tersenyum lebar, memegang buket bunga, dan Denzel berdiri di latar belakang, menjaga batas jarak yang sopan namun selalu waspada.
Itulah perannya selama sepuluh tahun ini. Menjadi latar belakang. Menjadi bayangan.
"Jika aku harus menjadi bayangan yang berpura-pura memiliki cahaya lain agar kau tetap bersinar, maka biarlah begitu," bisiknya.
Namun, bayangan Seraphina muncul di benaknya. Seraphina yang ceria, yang menawarinya limun, yang menatapnya dengan kekaguman yang murni. Denzel merasa seperti penjahat. Ia akan menyeret seorang gadis baik-baik ke dalam skenario palsu ini. Ia akan memberikan harapan pada hati yang tulus, sementara hatinya sendiri terkunci rapat di dalam peti besi yang kuncinya telah ia buang ke dasar laut.
Denzel merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Ia teringat perintah Zefan untuk "kooperatif". Ia teringat permohonan Leah untuk "bebas". Semua orang di sekitarnya menginginkan hal yang sama: agar Denzel Shaquille menjadi orang lain. Agar Denzel melepaskan pengabdiannya yang terlalu intens dan menjadi pria "normal" yang bisa diprediksi.
Mereka tidak tahu bahwa pengabdian ini adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa utuh, batin Denzel.
Dilema itu mencapai puncaknya saat ia menyadari bahwa jika ia menolak, ia justru akan mempersulit posisi Leah. Jeff akan menganggap penolakan Denzel untuk menjauh sebagai tanda tantangan terbuka. Jeff bisa saja mempercepat proses "pengambilalihan" Leah dengan cara yang lebih kasar jika ia merasa Denzel masih menjadi penghalang yang keras kepala.
Denzel menarik napas dalam, membiarkan oksigen dingin mengisi paru-parunya, mencoba menenangkan badai yang mengamuk di dalam hatinya. Keputusannya sudah bulat, bukan karena ia ingin berkencan dengan Seraphina, tapi karena ia percaya bahwa ini adalah protokol keamanan terbaik untuk Leah.
Ia akan menerima proposal Leah. Ia akan memainkan peran sebagai kekasih Seraphina dengan kesempurnaan yang sama seperti ia memainkan peran sebagai asisten pribadi. Ia akan membentengi Leah dengan kebohongannya sendiri. Jika Leah ingin dia "jauh" dari jangkauan emosionalnya agar Leah merasa aman dari konflik dengan Jeff, maka Denzel akan memberikan jarak itu seolah-olah itu adalah kehendaknya sendiri.
Denzel kembali meraih ponselnya. Jemarinya tidak lagi bergetar. Dingin dan stabil, seperti seorang penembak jitu yang sedang membidik target terakhirnya. Ia mengetik pesan balasan untuk Seraphina, menyetujui ajakan kencan yang sebelumnya ia gantungkan.
“Selamat malam, Nona Seraphina. Maaf atas keterlambatan saya membalas. Saya rasa pamEran artefak minggu depan adalah ide yang bagus. Saya akan menjemput Anda pukul sepuluh pagi.”
Pesan terkirim.
Denzel meletakkan ponselnya dengan layar menghadap ke bawah di atas meja kayu. Ia merasa seolah-olah baru saja menandatangani kontrak penyerahan diri. Ia telah mengorbankan integritas perasaannya demi sebuah janji setia yang lebih besar. Ia telah memilih untuk menjadi martir dalam drama yang ia sendiri tidak ingin perankan.
Malam itu, Denzel tidak tidur. Ia menghabiskan sisa waktu hingga subuh dengan duduk di kursi kerjanya, menatap keluar jendela ke arah kamar Leah yang lampunya sudah padam sejak lama. Ia menyadari bahwa mulai besok, ia harus belajar untuk tidak lagi mencari keberadaan Leah secara refleks. Ia harus belajar untuk tidak lagi memantau setiap helai rambut Leah yang bergerak ditiup angin. Ia harus belajar untuk menatap mata Seraphina dan berpura-pura melihat sesuatu yang indah di sana, sementara ingatannya terus memutar rekaman wajah Leah.
Dilema janji itu telah berakhir dengan sebuah keputusan yang pahit. Denzel telah memilih jalannya: ia akan tetap menjaga Leah, namun kali ini dengan cara yang paling menyakitkan—dengan membiarkan Leah percaya bahwa ia telah melupakannya.
Di bawah rintik hujan yang semakin deras, Denzel Shaquille menyadari satu hal: terkadang, bukti cinta yang paling sejati bukanlah tentang bagaimana kita menggenggam, melainkan tentang bagaimana kita bersedia melepaskan dan menjadi orang asing demi keselamatan orang yang kita cintai.