NovelToon NovelToon
Polisi & Dokter

Polisi & Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Action
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Akmaludd

Davino Narendra seorang polisi yang trauma akan masa lalunya justru terikat dengan sebuah perjanjian perjodohan dimasa yang akan datang. Perjodohan itu mempertemukan Davino Narendra dengan seorang Dokter, yakni Alisa Widanata.

Kehidupan rumah tangga mereka tentu sangat teruji, karena di balik pernikahan tanpa didasari cinta serta dua bangsal yang berbeda harus menyatukan dua insan tersebut.

bagaimana kelanjutannya??? ikuti kisahnya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaludd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Sinar matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah gorden kamar utama, menerangi debu-debu halus yang menari di udara. Alisa terbangun dengan perasaan waspada yang masih menyelimuti benaknya. Ini adalah pagi pertama ia terbangun di ranjang yang sama dengan Davino tanpa guling pembatas. Ia melirik ke samping; sisi kasur Davino sudah kosong, namun seprainya masih sedikit berantakan, menandakan pria itu baru saja beranjak.

Alisa menghela napas lega, lalu bangkit untuk merapikan tempat tidur. Ia menarik seprai putih itu hingga kencang, menepuk-nepuk bantal, dan mencoba menghilangkan jejak "jarak" yang mereka buat semalam agar tidak terlihat mencurigakan jika Maura tiba-tiba masuk.

Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka. Suara uap air yang hangat keluar bersamaan dengan sosok Davino.

Alisa membeku di tempatnya berdiri, tepat di samping bantal Davino. Pria itu keluar hanya dengan mengenakan celana panjang kain berwarna gelap, tanpa atasan. Tubuhnya yang atletis, dengan otot-otot dada yang bidang dan perut sixpack yang keras, masih basah oleh sisa air mandi. Rambut pendeknya berantakan dan meneteskan air ke bahunya yang lebar.

"Mas... Mas Davino! Kenapa tidak pakai baju di dalam?" seru Alisa, segera memalingkan wajahnya ke arah jendela. Wajahnya terasa panas seketika.

Davino tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru melangkah mendekat. Alisa bisa merasakan kehadiran pria itu di belakangnya. Tiba-tiba, sebuah handuk kecil yang lembap mendarat tepat di atas kepala Alisa, menutupi pandangannya.

"Keringkan rambutku. Aku harus segera bersiap," ucap Davino datar.

Alisa menarik handuk itu dari kepalanya dengan gusar. "Mas punya tangan sendiri, kan? Dan berapa kali aku bilang, gantung handuknya! Jangan dilempar begitu saja!"

Davino menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Maura sudah bangun. Dia sedang di dapur bersama Bi Ijah. Dia sempat bertanya tadi malam kenapa tidak ada foto kita berdua di rumah ini selain foto pernikahan yang kaku itu."

Alisa mengernyitkan dahi. "Lalu?"

"Lalu kita butuh bukti. Sesuatu yang terlihat... alami. Seperti pasangan yang baru bangun tidur," Davino mengambil ponsel Alisa yang tergeletak di nakas tanpa izin.

"Hei! Itu ponselku!" Alisa mencoba merebutnya, namun Davino dengan mudah mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi.

"Duduk di kasur," perintah Davino.

"Mas, jangan bercanda—"

"Duduk, Alisa. Atau aku akan memanggil Maura ke sini untuk melihat kita bertengkar soal handuk," ancam Davino pelan.

Dengan gerutuan kesal, Alisa akhirnya duduk di tepi ranjang. Rambutnya masih sedikit berantakan khas orang baru bangun tidur, namun ia tetap terlihat cantik secara alami. Davino kemudian menarik kursi dari meja rias dan duduk di sana, memposisikan dirinya sedikit di depan Alisa sehingga mereka berdua masuk dalam bingkai kamera depan.

Davino mengarahkan ponsel itu. "Tersenyumlah sedikit. Jangan seperti sedang diinterogasi."

"Aku memang merasa sedang diinterogasi," balas Alisa ketus, namun ia tetap mencoba mengatur ekspresi wajahnya.

Cekrek.

Satu foto terambil. Dalam foto itu, Alisa duduk di kasur dengan wajah yang tampak sedikit terkejut namun manis, sementara Davino duduk di kursi dengan dada bidangnya yang masih setengah basah, memberikan kesan intim yang sangat meyakinkan.

"Satu lagi," kata Davino. Kali ini ia sedikit memiringkan kepalanya ke arah Alisa.

Alisa terpaksa mendekat agar wajahnya masuk ke dalam bingkai. Ia bisa mencium aroma sabun citrus yang segar dari tubuh Davino. Untuk sesaat, ia merasa jantungnya berdebar bukan karena takut, melainkan karena intensitas kehadiran pria itu. Namun, ia segera menepis perasaan itu. Ingat guling pembatas, Alisa. Ingat bentakannya.

"Cukup," Alisa merebut ponselnya kembali. Ia melihat hasil fotonya. Jika orang luar melihatnya, mereka pasti akan mengira ini adalah pagi yang romantis bagi pengantin baru. "Puas?"

"Kirimkan padaku. Aku akan menjadikannya wallpaper atau setidaknya menunjukkannya pada Maura jika dia mulai curiga," Davino berdiri, seolah sesi foto itu hanyalah tugas operasional lainnya. Ia mengambil kaos hitamnya dan memakainya dengan santai.

Alisa mendengus. "Mas benar-benar aktor yang berbakat. Mas harusnya masuk sekolah seni peran, bukan kepolisian."

"Di kepolisian, penyamaran adalah kunci bertahan hidup, Alisa. Anggap saja ini penyamaran terlama yang pernah kulakukan," jawab Davino dingin sebelum melangkah keluar kamar.

Alisa turun ke bawah beberapa saat kemudian setelah mengganti pakaiannya dengan dress rumah yang sopan. Di dapur, Maura sedang asyik membantu Bi Ijah menata meja makan.

"Pagi, Kak Alisa!" sapa Maura riang. "Wah, Kakak tidurnya nyenyak ya? Kak Davino tadi sudah turun duluan, katanya Kakak masih butuh istirahat."

Alisa tersenyum canggung, melirik Davino yang sedang duduk tenang sambil membaca koran digital di ponselnya. "Iya, Maura. Pasien kemarin agak banyak, jadi sedikit lelah."

"Oh ya, tadi aku sempat lihat HP Kak Davino tergeletak di meja," Maura menyipitkan matanya dengan jenaka. "Foto paginya keren juga. Jadi iri deh, kapan ya aku punya suami sekeren Kak Davino yang mau diajak selfie pagi-pagi begitu?"

Alisa hampir tersedak air putih yang baru saja diminumnya. Ia menatap Davino yang tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Pria ini benar-benar cepat bertindak, batin Alisa.

"Itu... itu cuma iseng saja, Maura," sahut Alisa berusaha tenang.

"Iseng tapi romantis banget, Kak! Kak Davino yang biasanya anti-kamera saja mau begitu," Maura duduk di samping Alisa. "Kak, hari ini aku ada kelas sampai sore. Nanti aku pulang telat ya, mau mampir ke perpustakaan dulu."

"Jangan pulang terlalu malam," Davino menyela tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya. "Kirimkan lokasimu setiap dua jam ke grup keluarga yang baru kubuat."

Maura memutar bola matanya. "Tuh kan, sifat 'polisi'-nya keluar. Kak Alisa, tolong ya bilangin suaminya, aku ini sudah mahasiswa, bukan anak TK."

Alisa tertawa kecil, merasa sedikit terhibur dengan interaksi kakak-beradik itu. "Mas Davino cuma khawatir, Maura. Ikuti saja, ya?"

Setelah Maura berangkat kuliah, suasana rumah kembali ke pengaturan awal: sunyi dan penuh sekat. Alisa bersiap berangkat ke rumah sakit, namun langkahnya terhenti di ruang tengah. Ia melihat Davino sedang memeriksa senjata apinya—sebuah rutinitas yang selalu membuat Alisa merasa tidak nyaman.

"Mas..." panggil Alisa pelan.

Davino mendongak, jemarinya berhenti bergerak di badan senjata. "Ya?"

"Terima kasih untuk tadi pagi. Maksudku... soal Maura. Aku tahu Mas melakukannya agar dia tidak bertanya-tanya."

Davino memasukkan senjatanya ke dalam sarung di pinggangnya. "Itu bagian dari kesepakatan. Aku tidak ingin ada celah dalam sandiwara ini."

"Tapi Mas..." Alisa ragu sejenak. "Jangan terlalu sering memerintahnya dengan nada tinggi. Dia adikmu, bukan bawahanmu di Polda. Dia bisa merasa tertekan."

Davino menatap Alisa cukup lama. Ada kilat kemarahan kecil di matanya, namun ia menahannya. "Aku tahu cara menjaga keluargaku, Alisa. Kamu urus saja pasienmu."

Alisa menghela napas. Tembok itu kembali tegak. Ia tidak ingin berdebat lebih jauh, terutama karena ia benci suara keras. Ia berbalik dan berjalan menuju garasi, di mana Mang Asep sudah menunggu.

Saat mobil Alisa meluncur keluar dari gerbang, Davino berdiri di teras, menatap kepergian istrinya. Ia meraba ponsel di sakunya, melihat kembali foto selfie mereka tadi pagi. Ia tidak tahu mengapa, tapi ada sesuatu dalam ekspresi Alisa di foto itu yang membuatnya merasa sedikit bersalah karena telah memaksanya.

Namun, lamunannya terputus ketika sebuah panggilan masuk dari Alvin.

"Vin, ada pergerakan di dekat rumah sakit tempat Alisa bekerja," suara Alvin terdengar serius di seberang sana. "Mobil sedan perak yang kemarin muncul di depan rumahmu, terlihat parkir di area belakang RS pagi ini. Sepertinya tahap dua mereka benar-benar menargetkan istrimu."

Rahang Davino mengeras. "Awasi dari jauh. Jangan bertindak sebelum aku sampai di sana. Aku akan segera ke kantor."

Davino segera memakai jaket kulitnya dan melesat menuju markas. Perang yang ia takutkan mulai merayap keluar dari bayang-bayang, dan kali ini, sandiwara di rumah harus ia tinggalkan untuk menghadapi ancaman nyata di dunia luar.

Di rumah sakit, Alisa sedang memeriksa rekam medis pasiennya, sama sekali tidak menyadari bahwa di luar sana, dua dunia yang berbeda sedang bertabrakan, dan dirinya berada tepat di tengah pusaran tersebut.

Bersambung

1
Rian Moontero
mampiiirr/Bye-Bye/👍👍
Akmaluddin: makasih kak, jangan lupa like kaka👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!