"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Alarm ponsel Afisa berbunyi tepat pukul 05.00 pagi, memecah kesunyian apartemen yang masih menyisakan sisa kehangatan semalam. Meskipun raga mereka tidak menyatu secara fisik, kehadiran Bintang di sisinya sepanjang malam memberikan ketenangan yang belum pernah Afisa rasakan selama enam tahun terakhir.
Di sampingnya, Bintang masih terlelap. Wajahnya tampak jauh lebih tenang setelah beban berat di IGD terbayar dengan tidur beberapa jam. Afisa tidak tega membangunkannya. Ia berjingkat menuju kamar mandi, bersiap secepat mungkin karena hari ini adalah hari "perang" terakhirnya di firma hukum Jakarta sebelum proses serah terima berkas selesai.
Pukul 06.15, Afisa sudah rapi dengan setelan blazer charcoal yang memberikan kesan tegas. Ia menuliskan sebuah pesan singkat di atas secarik kertas dan meletakkannya di atas meja makan, tepat di samping kopi yang sudah ia seduh.
"Mas, aku berangkat ke firma duluan ya. Ada klien besar yang sudah menunggu sepagi ini. Maaf nggak sempat pamit langsung karena kamu tidurnya pulas sekali. Kunci cadangan ada di tempat biasa. "
Pukul 08.30 WIB — Firma Hukum Pusat, Jakarta.
Lobi kantor sudah riuh dengan kesibukan pagi. Begitu Afisa melangkah masuk, beberapa rekan sejawatnya langsung menyapa dengan tatapan yang sedikit berbeda—tatapan hormat sekaligus iri karena mutasi Afisa ke Semarang sudah menjadi rahasia umum sebagai jalur cepat menuju posisi Senior Associate.
"Pagi, Bu Afisa. Klien dari PT. Global Manufaktur sudah menunggu di ruang rapat VIP," sapa sekretarisnya cepat.
Afisa mengangguk profesional. "Siapkan draf audit hukum yang saya buat semalam. Kita hanya punya waktu dua jam sebelum saya harus meeting internal untuk serah terima kasus."
Di dalam ruang rapat berdinding kaca itu, Afisa tampak sangat berbeda dengan Afisa yang tadi malam menangis di pelukan Bintang. Di sini, ia adalah singa meja hijau. Suaranya lantang, argumennya tajam, dan ketelitiannya membedah kontrak membuat kliennya tidak berkutik namun merasa aman di tangannya.
Namun, di sela-sela perdebatan teknis tentang hukum arbitrase, fokus Afisa sesekali teralihkan oleh ponselnya yang diletakkan telungkup di atas meja. Ia penasaran, apakah Bintang sudah bangun? Apakah suaminya itu kecewa ditinggal pagi-pagi sekali?
Bzzzt... Bzzzt...
Ponselnya bergetar sekali. Afisa mencuri pandang. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari: Mas Bintang 🌻.
"Aku baru bangun dan sudah minum kopinya. Terima kasih, Istriku. Fokus sidangnya ya, jangan pikirkan urusan pindahan dulu. Biar aku yang mulai cicil angkut kardus-kardus ke Safe House kita siang ini. Semangat, Associate kesayanganku!"
Afisa menarik napas panjang, sebuah senyum kecil yang tak sengaja tersungging di bibirnya tertangkap oleh klien di depannya.
"Ada berita bagus, Bu Afisa?" tanya sang klien heran.
Afisa berdehem, kembali ke mode seriusnya. "Hanya masalah teknis yang sudah menemukan solusinya, Pak. Mari kita lanjut ke pasal berikutnya."
Bagi Afisa, itulah Ekuilibrium yang sesungguhnya. Memiliki seseorang yang mendukung penuh ambisinya, bahkan saat raga harus segera terpisah oleh jarak. Jakarta pagi ini tidak lagi terasa menyesakkan, meski jadwal keberangkatan tanggal 15 Januari kini tinggal menghitung hari.
Baru saja Afisa hendak menutup laptopnya setelah rapat yang melelahkan, pintu ruang rapat terbuka. Sosok Pak Baskoro, Senior Partner sekaligus mentornya, melangkah masuk dengan raut wajah yang lebih serius dari biasanya.
"Afisa, bisa bicara sebentar?"
Firasat Afisa mendadak tidak enak. Ia mengikuti Pak Baskoro ke ruang kerja pribadinya yang berbau aroma cerutu dan buku-buku hukum tua.
"Ada perubahan rencana dari pusat di Semarang," Pak Baskoro membuka percakapan tanpa basa-basi begitu pintu tertutup. "Kasus sengketa lahan yang seharusnya baru dimulai akhir bulan, mendadak diajukan sidangnya oleh pihak lawan. Tim di sana butuh kamu untuk mematikan strategi mereka secepatnya. Kamu tidak bisa berangkat tanggal 15."
Jantung Afisa berdegup kencang. "Maksud Bapak?"
"Kamu harus berangkat besok pagi," tegas Pak Baskoro. "Tiket kereta api pertama sudah dipesan atas namamu. Saya tahu ini mendadak, tapi ini alasan kenapa kamu dipilih. Kamu yang paling siap dalam kondisi darurat."
Dunia seolah berputar di bawah kaki Afisa. Besok pagi? Itu berarti sisa waktunya di Jakarta bukan lagi hitungan hari, melainkan hitungan jam. Bayangan Mas Bintang yang sedang sibuk memindahkan kardus ke Safe House mereka terlintas di benak, membuat tenggorokannya mendadak tercekat.
"Tapi Pak, serah terima berkas di sini belum sepenuhnya..."
"Delegasikan ke junior. Fokusmu sekarang adalah Semarang. Ini kesempatanmu untuk membuktikan bahwa posisi Senior Associate itu memang layak untukmu, Afisa."
Afisa keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai. Di tengah hiruk-pikuk kantor, ia merasa tuli. Ia meraih ponselnya, jemarinya bergetar saat membuka ruang obrolan dengan Mas Bintang.
Bagaimana ia harus mengatakannya? Mereka baru saja merayakan status baru sebagai suami-istri. Mereka baru saja merencanakan satu minggu terakhir yang manis di Jakarta. Dan kini, ekuilibrium itu dipaksa patah oleh tuntutan profesi yang tak kenal kompromi.
Pesan masuk kembali dari Bintang:
"Fis, lemari di kamar utama sudah aku rapihkan. Baju-baju kantormu sudah masuk semua. Nanti sore aku jemput ya, kita makan malam di luar?"
Air mata Afisa nyaris jatuh tepat di tengah koridor firma. Dengan sisa kekuatan profesionalnya, ia mengetik balasan:
"Mas... nggak usah jemput mas,kita ketemu di kafe dekat apartemen sekarang bisa? Ada sesuatu yang harus aku bicarakan. Penting."
Afisa sadar, "perang" sesungguhnya bukan lagi di ruang sidang, melainkan bagaimana ia menjaga hati suaminya saat jarak tiba-tiba datang menyerbu lebih awal dari yang mereka sepakati.