NovelToon NovelToon
Jalan Kaisar Semesta

Jalan Kaisar Semesta

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Shen Yuan berdiri paling DEPAN di antara puluhan ribu kultivator dengan senjatanya dia siap membelah langit jika jalanya hanya ada satu😗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Pedang Berkarat dan Tiga Ratus Hari Musim Panas

​Waktu di dunia kultivasi mengalir layaknya air sungai yang mengukir tebing batu; sunyi, lambat, namun tanpa ampun mengubah segalanya.

​Empat bulan telah berlalu sejak Shen Yuan kembali dari Ngarai Angin Melolong. Musim semi yang lembut telah hangus ditelan oleh terik matahari musim panas. Udara di Puncak Pedang Patah kini terasa kering dan menyengat, memanggang atap-atap paviliun hingga memancarkan gelombang panas yang meliuk-liuk di udara.

​Bagi sebagian besar penghuni sekte, empat bulan adalah waktu yang singkat. Namun bagi Shen Yuan, itu adalah masa inkubasi yang sempurna.

​Di dalam kamarnya yang sederhana di Paviliun Awan Putih, Shen Yuan duduk bersila. Lengan kanannya tidak lagi dibalut perban. Kulitnya mulus, memancarkan kilau sehat yang samar, meskipun ia sengaja menggoreskan pisau kecil beberapa minggu lalu untuk menciptakan bekas luka buatan berbentuk jaring laba-laba di pergelangannya. Sebuah mahakarya penipuan untuk meyakinkan dunia bahwa lengannya "telah sembuh dengan cacat".

​Ia membuka kelopak matanya perlahan. Sepasang obsidian itu kini terlihat lebih dalam, lebih hening dari sebelumnya.

​Lima keping Batu Roh Tingkat Menengah yang ia dapatkan dari Misi Merah telah berubah menjadi debu sepenuhnya. Energi murni dari batu-batu itu tidak ia gunakan untuk mendobrak ke Lapisan Kedelapan. Logikanya yang dingin menahan godaan itu. Mendobrak ranah terlalu cepat tanpa menstabilkan fondasi hanya akan membuat bangunan Qi-nya runtuh di masa depan.

​Sebaliknya, ia menggunakan seluruh energi itu untuk memampatkan lautan Qi cair Lapisan Ketujuhnya hingga sekeras raksa. Benih Hitam di perutnya kini tertidur pulas, kekenyangan oleh asupan energi yang stabil selama seratus dua puluh hari terakhir.

​"Fondasi Lapisan Ketujuhku sudah mencapai tahap kesempurnaan bulat," gumam Shen Yuan, mengepalkan tangan kanannya. Tidak ada udara yang meledak, tidak ada suara yang keluar. Kontrolnya atas tenaga fisik dan spiritual kini telah mencapai tahap di mana ia bisa memukul sehelai daun kering jatuh tanpa merobek seratnya, atau menghancurkan tengkorak beruang hanya dengan sentilan jari.

​Teng... Teng... Teng...

​Sembilan kali dentangan lonceng perunggu raksasa dari Puncak Utama bergema, menyapu seluruh pegunungan. Getarannya begitu kuat hingga debu-debu di lantai kamar Shen Yuan sedikit melompat.

​Sembilan dentangan. Itu bukan panggilan untuk ujian biasa. Itu adalah genderang perang bagi setiap murid yang memiliki ambisi.

​Gerbang Ujian Seleksi Murid Dalam akhirnya dibuka.

​Shen Yuan bangkit berdiri. Ia mengenakan jubah sutra putihnya yang sederhana, membiarkan topi bambunya tergantung di punggung. Wajahnya yang biasa-biasa saja kini terekspos, dibingkai oleh tatapan mata yang tenang bagai telaga mati.

​Saat ia membuka pintu paviliunnya, Li Mu sudah berdiri di luar dengan napas terengah-engah. Pemuda berwajah kuda itu kini mengenakan jubah abu-abu yang lebih bersih, dengan medali perunggu bertuliskan 'Pelayan Senior' menggantung di dadanya. Berkat Pil Pengumpul Qi dari Shen Yuan, Li Mu telah berhasil menembus Lapisan Keempat bulan lalu.

​"Yuan! Kau dengar itu?!" Li Mu berseru, wajahnya merah karena kegembiraan dan keringat musim panas. "Pendaftaran Seleksi Murid Dalam! Seluruh elit pelataran luar sedang menuju Alun-Alun Keadilan sekarang!"

​"Aku mendengarnya, Mu. Napasmu terlalu memburu, kendalikan Qi di dadamu sebelum meridianmu terbakar udara panas," tegur Shen Yuan pelan, melangkah keluar dan menutup pintu kamarnya.

​Li Mu terkekeh canggung, segera mengatur napasnya. Tatapannya kemudian jatuh pada lengan kanan Shen Yuan yang telanjang, memperlihatkan bekas luka jaring laba-laba buatan itu.

​"Tanganmu... tabib sekte benar-benar hebat. Setidaknya kau bisa memegangnya lagi, kan?" tanya Li Mu dengan nada prihatin. Dunia masih percaya bahwa lengan Shen Yuan cacat dan tidak bisa lagi menyalurkan Qi dalam jumlah besar. "Yuan, kau... kau tidak berencana ikut seleksi itu, kan? Syarat minimalnya adalah Lapisan Kelima, atau Lapisan Keempat yang memiliki rekomendasi khusus. Tapi pertarungan di sana bukan lagi lelucon. Mereka tidak akan menahan diri seperti di turnamen musim semi lalu."

​"Aku hanya akan melihat-lihat, Mu," jawab Shen Yuan dengan senyum tipis yang tak terbaca. "Lagi pula, aku butuh udara segar."

​Keduanya berjalan berdampingan menuruni undakan batu menuju Alun-Alun Keadilan. Sepanjang jalan, tidak ada murid dari faksi keluarga Lin yang berani mencari masalah. Reputasi Shen Yuan sebagai "Orang Gila Peledak Tambang" telah memberinya ruang privasi yang sangat ia nikmati selama empat bulan ini. Lin Feng sendiri masih berada dalam masa penyembuhan akibat tulang tangannya yang hancur, membuat faksi Lin bertindak jauh lebih pendiam dari biasanya.

​Namun, begitu Shen Yuan dan Li Mu tiba di tepi Alun-Alun Keadilan, pemandangan di sana segera menyadarkan mereka bahwa keluarga Lin bukanlah satu-satunya penguasa di gunung ini.

​Alun-alun itu dipenuhi oleh ratusan murid. Namun anehnya, tidak ada keributan. Suasananya sangat sunyi, ditekan oleh beberapa pilar aura spiritual yang sangat mengerikan yang memancar dari area tengah.

​Kerumunan murid secara sukarela membelah diri menjadi sebuah jalan lebar, tidak ada satu pun yang berani melangkah melewati batas tak kasat mata itu.

​Shen Yuan menyipitkan matanya. Di pusat alun-alun, di depan meja pendaftaran pualam raksasa, berdirilah tiga orang yang auranya membuat udara di sekitarnya mendistorsi.

​Di sebelah kiri, seorang wanita berpakaian merah ketat dengan cambuk api melingkar di pinggangnya. Fluktuasinya berada di Puncak Lapisan Ketujuh. Matanya memancarkan keangkuhan yang liar, berbeda dengan kesombongan kosong milik Lin Feng.

​Di sebelah kanan, seorang pria bertubuh raksasa, tingginya hampir dua tombak. Otot-ototnya menonjol seperti bongkahan batu granit, memikul sebuah palu godam raksasa di bahunya. Awal Lapisan Kedelapan Kondensasi Qi. Setiap tarikan napasnya terdengar seperti embusan angin dari tungku tempa.

​Namun, perhatian Shen Yuan tertuju pada sosok yang berdiri tepat di tengah.

​Seorang pemuda berusia awal dua puluhan, mengenakan jubah linen putih polos yang ujungnya sedikit compang-camping. Rambut hitamnya diikat sembarangan dengan seutas tali kain. Di punggungnya, sebuah pedang besi bersarung kayu kusam tersampir dengan tenang.

​Pemuda itu tidak memancarkan tekanan Qi yang meledak-ledak. Ia terlihat sangat biasa. Namun, di mata Shen Yuan yang telah melampaui persepsi manusia fana, pemuda itu adalah sebuah pedang tajam yang telah ditarik dari sarungnya. Udaranya bukan ditekan, melainkan terbelah saat menyentuh kulit pemuda itu.

​"Siapa dia?" bisik Shen Yuan pelan, tanpa menoleh pada Li Mu.

​Li Mu menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin mengucur di lehernya hanya karena melihat punggung pemuda itu dari kejauhan.

​"Kau tidak mengenalnya karena dia sudah meninggalkan sekte selama setahun untuk berkultivasi di Dataran Darah Iblis," bisik Li Mu dengan suara bergetar. "Itu Ye Chuan. Peringkat Pertama di Daftar Elit Sekte Luar. Orang-orang memanggilnya 'Pedang Sunyi'. Rumor mengatakan, dia sudah berada di Lapisan Kedelapan, dan... dia pernah membunuh seekor Binatang Buas tingkat Pembentukan Inti Awal hanya dengan satu tebasan pedang."

​Shen Yuan diam. Evaluasi dingin segera berjalan di kepalanya.

​Lapisan Kedelapan. Niat pedang yang menyatu dengan tulang. Ini bukan harimau kertas, batin Shen Yuan, senyum tipis yang tak terlihat oleh siapa pun kembali terbentuk di bibirnya. Ini adalah pembunuh sejati. Pedang yang ditempa dalam lautan darah, bukan dari tumpukan pil spiritual.

​Tiba-tiba, pemuda bernama Ye Chuan itu menghentikan langkahnya tepat sebelum mencapai meja pendaftaran.

​Langkah kaki Ye Chuan berhenti bukan karena dihalangi, melainkan karena insting mematikannya menangkap sesuatu. Pedang besi di punggungnya mendadak bergetar pelan, mengeluarkan bunyi dengungan ngiiiing yang sangat halus, layaknya anjing pemburu yang tiba-tiba mencium bau singa yang bersembunyi di balik semak.

​Ye Chuan perlahan memutar tubuhnya. Sepasang matanya yang sedingin es abadi menyapu lautan kerumunan murid di belakangnya. Tatapan itu menyayat udara, membuat murid-murid yang bertatapan dengannya langsung menunduk ketakutan, merasa seolah leher mereka baru saja dilewati oleh mata pisau.

​Tatapan Ye Chuan terus bergerak, menyapu barisan demi barisan, hingga tatapan itu nyaris mendekati sudut tempat Shen Yuan berdiri.

​Di dalam tubuh Shen Yuan, Benih Hitam yang tadinya tertidur tiba-tiba bereaksi atas ancaman insting tersebut. Niat membunuh purba berniat bocor keluar untuk menantang pedang Ye Chuan.

​Dalam waktu seperseribu detik, Shen Yuan mengambil keputusan.

​Ia tidak menekan balik auranya. Jika ia melakukan itu, fluktuasi penekanannya akan terdeteksi. Sebaliknya, ia membiarkan auranya "melebur". Ia mengendurkan seluruh otot-ototnya, menundukkan bahunya, dan memalsukan napasnya menjadi sedikit terengah-engah dan tidak beraturan, persis seperti murid Lapisan Keempat yang sedang tersiksa oleh tekanan udara dari Lapisan Kedelapan.

​Tatapan Ye Chuan melewati Shen Yuan.

​Mata sedingin es itu berhenti selama sepersekian detik pada wajah biasa-biasa saja milik Shen Yuan, melihat lengan kanannya yang memiliki bekas luka aneh, lalu kembali bergerak menyapu tempat lain tanpa minat sedikit pun.

​Setelah tidak menemukan sumber bahaya yang merangsang pedangnya, Ye Chuan sedikit mengerutkan dahi. Ia menepuk gagang pedangnya dengan pelan untuk menenangkannya, lalu berbalik kembali menuju meja pendaftaran seolah tidak terjadi apa-apa.

​"Huft..." Li Mu menghembuskan napas panjang yang sedari tadi ia tahan, nyaris jatuh terduduk jika tidak berpegangan pada lengan kiri Shen Yuan. "Gila. Hanya ditatap olehnya saja membuatku merasa nyawaku sudah melayang separuh. Dia benar-benar monster."

​Shen Yuan memapah Li Mu dengan tenang. Detak jantungnya kembali normal dengan presisi yang mengerikan.

​"Ya, dia adalah monster," gumam Shen Yuan pelan, matanya menatap tajam ke arah punggung Ye Chuan yang kini sedang menandatangani perkamen seleksi. "Dan monster yang sesungguhnya tidak pernah memamerkan taringnya sebelum mereka siap merobek urat nadi mangsanya."

​Hari ini, Shen Yuan belajar dua hal. Pertama, Sekte Luar ternyata menyembunyikan naga-naga sejati yang tidak peduli pada politik picisan keluarga Lin. Kedua, untuk mendominasi Seleksi Murid Dalam yang akan datang, Lapisan Ketujuh miliknya belumlah cukup untuk menggaransi kemenangan mutlak.

​Ia butuh satu lapis kekuatan lagi. Dan dengan sebelas Sumsum Darah Bumi yang masih tertidur rapi di dalam kotak cendananya, Shen Yuan tahu persis, bahwa musim panas tahun ini akan menjadi musim panas paling berdarah yang pernah disaksikan oleh Sekte Langit Berkabut.

1
@arv_65
Salam Untuk pembaca, mohon maaf karena beberapa hal author iseng, mengunakan istilah modrn di bab 1-100 dan nantinya kedepanya istilah itu author kurangi karena di bab keatasnya adalah mendalami sebuah Dao, jadi mohon maaf jika pembaca agak tidak enak membacanya dan mohon maaf juga jika nantinya bab untuk MC di sekte ada 80+ bab namun author sudah melakukan uplod lebih dari dua bab setiap harinya agar pembaca tidak bosan mohon maaf dari author🙏
Hazard
seru bangettt
A 170 RI
tolong jangan hiatus lg ya thor net💪💪
@arv_65: iya maaf sebelumnya karena bencana jadi hiatus, ini untung akunya masih bisa di pulihkan🙏🏽
total 1 replies
Kaisar Abadi
bang mampir bang
@arv_65: okeeh
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
@arv_65: Terima kasih🤭
total 1 replies
Blue
Hasil Ai
Blue
Hasil Ai
@arv_65: tapi tenang cuma sebatas perbaikan kata👍
total 2 replies
@arv_65
😴
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!