Hu Li’an merasa kepalanya seperti akan pecah. Cahaya putih yang menyilaukan dari lampu plafon membuatnya mengerutkan kening.
Lantai yang keras di bawah tubuhnya bukan tempat tidur hotel yang lembut seperti yang dia ingat sebelum pingsan di bak mandi. Udara berbau alkohol dan obat-obatan yang khas rumah sakit membuatnya semakin pusing.
Dia ingat Saat itu dia merasa tenggorokan kering dan tubuhnya tidak berdaya, air mulai memenuhi bak mandi.
"Harusnya aku tenggelam... tapi kenapa aku ada di sini?"
Tiba-tiba pintu ruang inap terbuka perlahan dari luar. Seorang pria tinggi dengan wajah tajam dan mata hitam yang dalam masuk bersama seorang dokter dan perawat.
Pria itu mengenakan jas hitam yang rapi, rambutnya tertata rapi, dan ekspresinya tampak terkejut." Kamu bangun!"
Dokter segera mengarahkan perawat untuk menyiapkan alat pemeriksaan.Pria itu berjalan mendekati ranjang dengan langkah yang mantap, lalu menekan ujung ranjang dengan lembut.
"Kamu bangun..."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7. Bindah ke Rumah Baru
Hu Lian kembali ke rumah pukul 8 malam dengan wajah yang masih berseri-seri,Dia telah menonton permainan basket Qin Cheng dan teman-temannya.
Suasana yang ceria membuatnya benar-benar melupakan pertemuan singkat dengan Bai Xuning sore itu.
Saat dia memasuki ruang tamu, salah satu pelayan segera menghampirinya dengan senyum ramah. "Nona, apartemen dekat kampus sudah kami bersihkan dengan baik. Semua perlengkapan juga sudah dipersiapkan. Nona bisa pindah kapan saja jika sudah siap."
"Baiklah terimakasih....."ucap Hu Lian mengangguk dengan senyum puas.
Benar saja, beberapa hari yang lalu dia telah meminta ayahnya untuk membeli apartemen dekat kampus agar dia bisa tinggal sendiri dan lebih fleksibel untuk menghadiri kuliah serta mengatur waktu sesuai keinginannya.
Hidup mandiri adalah salah satu hal yang dia impikan sejak datang ke dunia ini, jauh dari tekanan dan masalah yang pernah menyertai pemilik asli tubuhnya.
"Tolong bantu aku menyusun barang-barang yang perlu aku bawa.... Yang lain bisa tetap disimpan di sini saja."
"Baiklah nona...!"Pelayan mengangguk dan segera pergi untuk menyiapkan barang-barangnya.
Hu Lian sendiri berjalan ke kamar tidurnya, melihat sekeliling ruangan yang telah menjadi tempat tinggalnya selama beberapa waktu.
Meskipun nyaman dan mewah, dia merasa sudah saatnya untuk merdeka dan membangun kehidupan sendiri sesuai dengan caranya.
Dia membayangkan bagaimana kehidupan di apartemen akan terasa—bebas untuk bangun kapan saja, memasak makanan yang dia suka, dan mengatur waktu untuk belajar maupun melakukan hal-hal yang dia minati.
Tanpa ada orang yang mengganggu atau masalah yang berkaitan dengan Bai Xuning, dia bisa fokus pada masa depannya.
"Ini adalah awal yang baru," bisiknya pelan sambil melihat ke arah jendela yang menghadap taman gelap.
Dia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, namun dia merasa siap untuk menghadapinya dengan kepala yang tegak dan hati yang terbuka.
Hu Lian sebelumnya menceritakan kepada ayah dan ibunya tentang rencananya—dia ingin fokus menyelesaikan kuliahnya dengan baik, dan setelah lulus akan bergabung untuk membantu ayahnya mengelola perusahaan keluarga.
Kedua orang tuanya sangat mendukung keputusan itu, melihat betapa serius dan matang putrinya berpikir tentang masa depannya.
"Sangat bagus nak, dengan kamu yang akan bergabung nanti, ayah yakin perusahaan akan semakin berkembang," ucap Ayah Hu dengan senyum bangga saat mereka makan malam bersama.
Ibu Hu juga mengangguk dengan penuh cinta."Kita sudah menyetujui semua rencanamu,. Besok pagi supir kita akan siap untuk mengantar kamu pindah ke apartemen. Jangan lupa untuk menghubungi kita kapan saja jika ada kebutuhan ya."
"Tenang saja Bu, aku akan sering pulang untuk mengunjungi kalian," jawab Hu Lian dengan senyum manis.
Dia merasa sangat bersyukur memiliki orang tua yang begitu mendukung dan mencintainya.
Setelah makan malam, Hu Lian kembali ke kamarnya untuk mengecek barang-barang yang akan dia bawa ke apartemen.
Dia hanya membawa barang-barang penting seperti buku kuliah, beberapa set pakaian, perlengkapan harian, dan beberapa foto keluarga yang dia letakkan di dalam kotak kecil.
"Besok pagi aku akan mulai hidup baru,"bisiknya sambil melihat ke arah barang-barang yang sudah rapi.
Dia tidak sabar untuk merasakan kehidupan mandiri, fokus pada kuliah, dan mempersiapkan diri untuk masa depan yang lebih baik—tanpa ada ikatan yang membatasi dan tanpa ada Bai Xuning yang mengganggu kehidupannya.
Pelayan sudah menyiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan di apartemen, mulai dari perlengkapan dapur hingga barang-barang kebersihan.
3 Minggu kemudian
Hu Lian keluar dari ruang kelas dengan jaket Hoodie, kepalanya tertutup rapat membuat wajahnya sedikit tersembunyi.Dia berjalan dengan langkah ringan dan rileks menyusuri lorong kampus yang ramai dengan mahasiswa lain yang juga baru saja selesai kuliah.
Meskipun baru beberapa minggu tinggal di apartemen dekat kampus, Hu Lian sudah cukup dikenal di lingkungan mahasiswa.
Dia sering membantu teman sekelas yang kesulitan memahami materi kuliah, dan sikapnya yang ramah serta ceria membuat banyak orang suka dekat dengannya.
Sesekali ada teman atau mahasiswa lain yang lewat menyapa namanya dengan ramah, dan Hu Lian selalu membalasnya dengan senyum sopan dan ucapan hangat.
Beberapa dari mereka bahkan mengajaknya untuk bergabung bersama mereka makan siang, namun Hu Lian dengan lembut menolaknya karena sudah punya janji untuk bertemu teman-temannya.
Setelah beberapa minggu yang lalu, Hu Lian tetap menjaga hubungan baik dengan pemuda itu dan teman-temannya.
Dia sering datang menonton latihan basket mereka,Bagi Qin Cheng dan teman-temannya, Hu Lian bukan hanya kakak yang ramah, tapi juga seorang teman yang bisa dipercaya.
Hu Lian melirik jam di pergelangan tangannya—belum lama lagi dia akan bertemu mereka di lapangan basket dekat kampus.
Dengan hati yang senang, dia mempercepat langkahnya menuju pintu keluar kampus, siap menghabiskan sore hari dengan menyaksikan latihan mereka seperti biasa.
Namun saat Hu Lian tiba di depan lapangan basket, suasana yang ia temui sangat berbeda dari biasanya.
Lapangan terlihat sangat ramai dengan banyak orang yang berkumpul, sorakan dan suara makian terdengar keras hingga menjalar ke arahnya. Wajahnya langsung berubah serius, ada rasa khawatir yang muncul di dalam hatinya.
Dia cepat-cepat mendekati kerumunan orang, dan segera melihat Qin Cheng yang sedang berdiri dengan wajah memerah di tengah lapangan, sementara seorang pemuda lain yang tampak lebih tua dan berbadan besar sedang berteriak dengan nada yang kasar.
Di sebelah Qin Cheng, Wei Yang dan teman-temannya tampak cemas dan mencoba untuk menjaga ketenangan.
"Apa masalahnya?" tanya Hu Lian dengan suara yang jelas namun tenang saat ia berhasil menembus kerumunan.Semua mata segera tertuju padanya, termasuk mata pemuda besar yang sedang marah.
"Kamu siapa? Jangan campur urusan kita!" teriak pemuda itu dengan tatapan yang menyengat.
Hu Lian tidak terpengaruh, dia melangkah lebih dekat ke Qin Cheng dan menoleh pada pria itu."Saya temannya. Bisa saya tahu apa yang sebenarnya terjadi?"
Wei Yang segera menyela dengan suara sedikit gemetar. "Kakak mereka mengeklaim kita mengambil lapangan yang sudah mereka tempati duluan, padahal kita sudah datang lebih dulu dan sudah mulai berlatih!"
Pemuda itu mendekat dengan wajah yang semakin marah, namun Hu Lian tetap berdiri dengan tegak, tidak menunjukkan sedikit pun rasa takut.
Hu Lian menatap pemuda itu dengan wajah dingin dan suara yang tegas. "Lapangan ini adalah fasilitas umum—aturannya jelas, siapa yang datang lebih dulu berhak menggunakannya. Kalian bisa menunggu giliran atau cari lapangan lain."
Namun jawaban itu malah membuat pemuda itu semakin marah. "Kita tidak peduli dengan aturan kamu! Lapangan ini selalu jadi milik kita setiap hari sore!" teriaknya sambil mendekat lebih jauh.
Tak lama kemudian, beberapa mahasiswa yang mengenal Hu Lian dari kampus segera menghampiri untuk melindunginya." Hei dia seorang gadis jangan berani berteriak padanya! Jangan jadi pengecut!"
"Sialan bukan urusanmu!!" Namun situasi semakin memanas—makian berkembang menjadi dorongan-dorongan yang tidak terkendali, hingga akhirnya berujung pada perkelahian antar kedua kelompok.
Hu Lian mencoba dengan segala cara untuk melerai keributan agar tidak semakin parah, namun dalam kekacauannya, dia terkena benturan dan jatuh ke tanah.
Sebuah batu kecil yang terinjak membuat lututnya terluka dan berdarah, bahkan ada goresan kecil di pipinya akibat tersenggol pada pagar besi di pinggir lapangan.
Suasana yang sudah sangat kacau tiba-tiba menjadi hening ketika suara sirine polisi terdengar semakin dekat.
"Sial siapa yang memanggil polisi!"
Semua orang yang terlibat dalam keributan segera berhenti dan mulai berlarian ke berbagai arah, tak ingin terkena tindakan hukum.
Qin Cheng dan Wei Yang dengan panik berlari mendekati Hu Lian yang baru saja bangkit dari tanah.
"Kakak kamu baik-baik saja?!" tanya Qin Cheng dengan wajah penuh rasa bersalah.Hu Lian menggeleng perlahan, menepuk-nepuk pakaiannya dari debu.
"Aku baik-baik saja. Kita harus pergi dari sini sebelum polisi datang," ucapnya dengan suara yang sedikit lemah, Dia meraba lututnya yang terluka, menyadari bahwa luka itu cukup dalam dan perlu diperiksakan ke klinik.
Namun sebelum mereka bisa melangkah pergi, beberapa petugas polisi sudah memasuki area lapangan dan langsung menangkap semua orang yang masih berada di sana—termasuk Hu Lian, Qin Cheng, dan teman-temannya.
Seorang polisi wanita dengan seragam rapi segera mendekat, ekspresi wajahnya tegas namun penuh perhatian saat melihat Hu Lian yang berdiri dengan lutut berdarah dan goresan di pipinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Siapa yang pertama kali memulai keributan ini?"tanyanya dengan suara yang jelas dan tegas.
Tanpa berpikir panjang, Qin Cheng dengan jujur menceritakan awal mula masalahnya—mulai dari klaim kelompok pemuda lain tentang lapangan, hingga bagaimana situasi menjadi tidak terkendali dan berujung pada perkelahian.
Dia juga menjelaskan bahwa Hu Lian hanya mencoba untuk melerai dan tidak ikut serta dalam kekacauan.
Setelah mendengar penjelasannya, polisi wanita mengangguk perlahan. "Saya mengerti keadaan kalian, tapi karena ini adalah insiden yang melibatkan kekerasan dan ada korban terluka, kalian semua harus ikut kami ke kantor polisi untuk memberikan keterangan resmi. Jangan khawatir, kami akan menangani ini dengan adil."
Hu Lian mengangguk dengan penuh kerjasama."Baiklah terimakasih..."
Qin Cheng merasa sangat bersalah dan menggenggam lengan Hu Lian dengan lembut."Maafkan aku, Kakak Lian Kalau bukan karena kita, kamu tidak akan terluka dan harus ikut ke kantor polisi."
Hu Lian hanya tersenyum kecil untuk menenangkannya. "Tidak apa-apa. Ini bukan salahmu. Yang penting kita menjelaskan semua dengan jujur nanti....."
Petugas polisi kemudian mengantar mereka ke dalam mobil patroli.
Hu Lian melihat ke luar jendela saat mobil mulai bergerak, tidak bisa tidak merenung—siapa sangka hari yang seharusnya menyenangkan menjadi begitu rumit dan membuatnya harus menghadapi hal yang tidak beruntung.
Hu Lian awalnya mengira insiden di lapangan basket hanya akan diketahui oleh mereka yang terlibat dan petugas polisi.
Namun ternyata, kejadian itu sudah dengan cepat menyebar melalui forum kampus dan media sosial—banyak mahasiswa yang menyaksikan keributan langsung atau mendengarnya dari teman, dan semua orang tahu bahwa dia terluka saat mencoba melerai pertikaian antara dua kelompok pemuda.
Berita itu bahkan sampai ke telinga Zhang Fei,Sebagian besar pelanggan cafe-nya adalah mahasiswa dari kampus terdekat dan siswa SMA sekitar, jadi ia dengan cepat mendapatkan informasi tentang apa yang terjadi.
Tanpa berlama-lama, Zhang Fei segera mengambil ponselnya dan menghubungi Bai Xuning. Suaranya terdengar cemas saat sambungan telepon terhubung.
"Xuning! Kau dengar kabar tentang Hu Lian?"tanya dia dengan cepat.Bai Xuning yang baru saja selesai rapat di kantor merasa hati langsung berdebar kencang. "Apa yang terjadi padanya?!"
"Kabarnya dia terluka saat melerai perkelahian di lapangan basket dekat kampusnya. Sekarang dia ada di kantor polisi untuk memberikan keterangan....!" jelas Zhang Fei dengan suara yang penuh kekhawatiran.
Setelah mendengarnya, wajah Bai Xuning langsung berubah serius. Tanpa berkata apa-apa lagi, dia segera mengambil jasnya dan berlari keluar dari ruang kerja.
Dia tidak peduli apakah mereka sudah jadi orang asing seperti yang dikatakan Hu Lian—ketika mendengar bahwa gadis itu terluka dan berada di kantor polisi, dia tidak bisa tinggal diam dan hanya berdiri sendiri.
"Dia berada di kantor polisi mana?" tanya Bai Xuning dengan suara yang sedikit terengah saat sudah masuk ke dalam mobilnya.
Setelah mengetahui lokasinya, Bai Xuning langsung menginjak pedal gas dengan cepat.Pikirannya sekarang hanya satu—untuk segera sampai di sana dan melihat kondisi Hu Lian dengan matanya sendiri.
Dia tidak tahu apa yang akan dia lakukan atau katakan ketika bertemu dengannya, namun yang pasti, dia harus ada di sana untuknya.