MARVA RAVARA adalah seorang pemuda miskin yang hidup di dunia yang memuja status dan kekayaan. Berkat jalur beasiswa, ia dapat bersekolah di sebuah sekolah elit berskala internasional—tempat yang seharusnya membuka jalan untuk masa depannya, justru berubah menjadi neraka baginya.
Di sana, Marva dipandang sebagai noda: dihina, dikucilkan, dan menjadi sasaran perundungan oleh mereka yang merasa lebih “Layak”.
Segalanya berubah ketika Portal Misterius muncul dan menyeret semuanya ke dunia lain. Di hadapan mereka berdiri sebuah Menara Tinggi dan sebuah suara misterius menggema: Siapa pun yang mencapai puncak menara ini akan memperoleh kekuasaan serta keabadian.
Di dalam menara, para siswa dipaksa memilih peran—menjadi Seorang Player yang bertarung demi naik ke puncak, atau menjadi Seorang Guardian yang terikat pada sistem. Demi meraih kebebasan, Marva memilih jalan paling berisiko: Menjadi Seorang Player.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rein.Unknown, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lantai 2, Part 2 [INFINITE LABYRINTH]
Udara di labirin lembap dan berbau lumut. Tiga hari telah berlalu, Marva, Kaela dan Red terus bertarung untuk memperkuat diri. Dengan kekuatan Ring of Leo, menaikan lv. bukanlah hal yang sulit.
CRUNCH!
Tulang rusuk Stone Golem (Lv. 13, Nama Hijau) remuk dihantam pedang berapi Marva. Angka -89 melayang di atas kepala monster batu itu sebelum seluruh tubuhnya pecah menjadi kepingan cahaya lalu menghilang. Di tanah, beberapa item jatuh, 150 Xilo dan 2 Pcs Golem Core.
Tidak ada teriakan kemenangan. Tidak ada jeda. Mereka harus terus bergerak dan memburu para monster.
“Dua dari kiri, Kaela!” suara Marva datar, penuh perintah.
“Baik!” sahut Kaela. Tubuhnya melesat seperti kilat, Leather Boots nyaris tidak bersuara di atas lantai batu. Di tangannya, bukan lagi batu, tetapi sepasang Twin Blades (Tier E) yang dibeli dengan 5.000 Xilo hasil jerih payah mereka di hari pertama. Dua pisau itu meluncur, mengenai mata dua Goblin Scavenger (Lv.11, Nama Kuning) yang mendekat.
-22! -24!
Damage-nya kecil, tapi cukup untuk membuat monster-monster itu menjerit kesakitan dan perlahan membunuhnya.
“Red, Sekarang!”
“Aye aye, Captain!” Dari balik reruntuhan, Red Calder melompat keluar. Ekspresi takutnya masih ada, tetapi sekarang sudah lebih terbiasa, tekatnya perlahan menutupi rasa takut itu. Di tangannya, dia memegang: Wooden Hammer (Tier F)—yang dia beli seharga 1.800 Xilo, setelah menyadari pedang dan panah tidak cocok untuknya.
Plop!
Palu kayu itu mendarat tepat di kaki para Goblin. Para goblin mendapat efek stun, Marva dan Kaela lalu menyelesaikan sisanya.
“Bagus!” gumam Marva. Dia tidak perlu bekerja sendirian lagi. Kepercayaannya pada Red semakin meningkat, tidak lagi seperti anak kaya yang manja.
Dengan satu gerakan, Marva mengangkat tangannya. Ring of Leo langsung berubah menjadi Sword of Fire—pedang api sepanjang lengan—muncul dalam genggamannya. Tidak ada ledakan dramatis, hanya transformasi cepat, seperti menarik napas.
[Basic Strike of Fire]
Pedang api menyambar horizontal, membelah udara dengan desis. Segerombolan Goblin yang berlari ke arah mereka langsung terbelah, hangus sebelum sempat menjerit lagi.
-230! -260!
[EXP GAINED: 480]
[GUILD SHARE: EXP DISTRIBUTED]
[MARVA : +160 EXP]
[KAELA : +160 EXP]
[RED : +160 EXP]
“Mantap Lead, dapat EXP dari kamu emang lebih nikmat. Gampang dan Banyak,” Puji Red yang memang selalu ambil kesempatan dan keuntungan.
“Oke, Area sini Clear ya,” ucap Kaela.
“Check Inventory,” perintah Marva singkat.
Kali ini tidak hanya Kaela yang memungut Xilo dan item drop tapi Red juga ikutan. “Sisa tiga lagi. Harus hemat.”
Marva memperhatikan status setiap anggota nya melalui info Guild. Lv. mereka sudah jauh meningkat sejak tiga hari berada di Lantai 2.
“Name : Marva Ravara.”
“Status : Player/Leader of Guild ERAREX.”
“Level : 26.”
“HP : 437/437.”
“MP : 175/280.”
“EXP : 1.187/2.100.”
“Name : Kaela Naradis.”
“Status : Player/Member of Guild ERAREX.”
“Level : 19.”
“HP : 200/270.”
“MP : 65/110.”
“EXP : 78/450.”
“Name : Red Calder.”
“Status : Player/Member of Guild ERAREX.”
“Level : 17.”
“HP : 100/230.”
“MP : 90/90.”
“EXP : 150/400.”
Tiga Hari. Itu waktu yang mereka habiskan di labirin tak berujung ini. Hari Pertama adalah kekacauan. Mereka tersesat, potion terkuras, hampir mati karena jebakan ada dimana-mana. Mereka sadar, setiap lantai punya karakteristik yang berbeda-beda, Red menjerit setiap kali ada bayangan yang bergerak. Tapi malam itu, mereka menemukan Safe zone pertama kali—ruang kecil dengan motif biru terang, yang bebas dari monster. Saat berada disana, Sistem Toko Terbuka Sepenuhnya. Seolah-olah itu adalah Reward bagi mereka yang menemukan Safe zone di lantai 2, itu adalah permulaan yang baik bagi mereka.
Marva masih teringat ekspresi Red saat melihat daftar harga dalam sistem, Medium Healing Potion: 500 Xilo.
“Lima ratus?! Buat satu botol?! 10 botol setara dengan 1 Senjata Tier E, yang benar saja!” keluh Red.
“Tapi itu bisa menyelamatkan nyawamu Red,” balas Kaela, sambil memeriksa harga material yang mereka kumpulkan. Golem Core hanya bernilai 12 Xilo, apabila dijual kedalam toko yang disediakan sistem. Sedangkan Fragment of Finch bernilai 5 Xilo. Item yang didapat dari Lantai 1 dan 2 dihargai sangat murah oleh sistem. Tentu itu tidak sebanding apabila mereka membeli daripada menjual.
“Kita harus kerja cerdas, mengincar monster berlevel tinggi akan memberikan item drop yang lebih mahal,” ucap Marva sambil memandangi layar sistem. “Tapi juga harus hati-hati dengan HP kita, karena sekali mati tidak ada kata kembali!”
Hari Kedua, mereka berburu dengan strategi yang lebih matang. Mulai dengan memetakan area kecil, mengidentifikasi monster dengan Material drop yang bernilai tinggi, dan menghindari pertempuran yang hanya memberi sedikit EXP tapi boros Darah dan Mana. Red, dengan LUCKY POIN-nya sebesar 13 (10 poin awal + 3 dari item Necklace of Luck), menunjukkan hasil yang lebih baik. Drop-an dari monster yang dia kalahkan sering kali memberikan Double Item atau menghasilkan Material dengan harga yang lebih mahal.
“Lihat! Flawless Goblin Ear! Material Tier D! Harganya 100 Xilo, eh 150!” serunya bangga.
“Kerja bagus, Red,” pujian singkat dari Marva.
Mereka juga mulai berinvestasi pada kekuatan guild.
Marva membeli [Skill Book: Flame Dash] seharga 3500 Xilo, seperempat isi dari tabungan mereka. Tapi skill book itu memberikan Buff pada Marva dan membuatnya lebih mudah melindungi tim dari serangan monster.
Kaela juga meningkatkan AGILITY-nya dan membeli [Speed Boots (Tier D)].
Red juga meng-upgrade senjata nya, yang sebelumnya menggunakan Palu Kayu kini menggunakan Palu Metal [Metal Hammer (Tier D)].
Sementara mereka beristirahat di safe zone. Red tiba-tiba meminta ijin untuk solo farming, awalnya Kaela melarang, begitu juga dengan Marva. Tapi Red meyakinkan bahwa dia telah membawa Potion Pack untuk berjaga-jaga. Red bersih keras untuk pergi sendiri karena sistem memberikan informasi bahwa salah satu dari monster di lantai ini menyimpan item langkah. Tidak mau berbagi kesempatan dengan yang lain dan berharap bisa seperti Marva, maka Red pun ngotot ingin bertarung sendirian. Mereka pun tidak bisa menahan nya dengan catatan, jangan memaksakan diri, Red pun setuju lalu segera pergi.
Sementara Kaela sedang membersihkan senjatanya, Marva diam-diam memperhatikan dari tadi. Rambutnya yang biasa ditata rapi sekarang hanya diikat kasar, beberapa helai rambut menempel di pelipisnya yang berkeringat. Ada goresan tipis di pipinya, sisa dari pertarungan dengan monster. Tapi di matanya, ada keteguhan yang sebelumnya tidak ada.
Saat Kaela berpaling, tiba-tiba Marva salting dan refleks membuang muka. Kaela awalnya biasa saja. Dia lalu melanjutkan pekerjaannya, Marva kembali melihat nya dengan serius, disini Kaela sadar bahwa Marva sedang memperhatikan nya.
“Jika ingin terus menatapku, nggak masalah kok. Ngapain sembunyi-sembunyi?” ucap Kaela yang sudah menangkap basah Marva.
“Anuh, eh, itu.... Hehehehe...... Nggak kok, aku hanya bersikap waspada. Mana tahu tiba-tiba ada monster dibelakangmu,” jawab Marva dengan malu-malu.
“Inikan safe zone, mana mungkin monster bisa masuk kemari,” respon Kaela yang kali ini membuat Marva betul-betul tidak berkutik.
Kaela lalu menyambung pembicaraan nya,
“Sebenarnya aku adalah anak yang manja, dibalik semua prestasi dan penghargaan yang telah ku dapatkan saat di sekolah. Beberapa kali, aku harus menangis jika kalah pada sebuah pertandingan, Ibu dan Ayah selalu jadi tempat aku berlindung dan mengaduh.”
“Aku tidak pernah punya seseorang yang benar-benar aku percayai seperti kamu, Marva. Bahkan di dunia asal kita, hanya Ibu dah Ayahku,” lanjut Kaela yang sangat terbuka berbicara.
Kaela lalu mendekati Marva, “Terima kasih sudah menjagaku sampai saat ini. Aku titipkan nasib dan harapan ku, padamu Marva.”
Mata mereka bertemu. Tubuh mereka saling mendekat, saat bibir mereka akan ketemu ......
[BERSAMBUNG]