Dunia runtuh bukan karena virus itu sendiri—melainkan karena vaksin yang dijanjikan sebagai penyelamat. Saat wabah menyebar dan ketakutan menguasai setiap sudut kota, pemerintah memerintahkan seluruh rakyat untuk menerima vaksin demi mencegah penularan. Mereka percaya itu adalah harapan terakhir umat manusia. Namun harapan itu berubah menjadi bencana.
Vaksin yang seharusnya melindungi justru memicu mutasi tak terduga. Tubuh manusia berubah, naluri mereka terdistorsi, dan kemanusiaan perlahan terkikis. Dalam hitungan waktu, peradaban yang dibangun selama ratusan tahun runtuh—bukan oleh penyakit, tetapi oleh “obat” yang diciptakan untuk menghentikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Dua — Menjadi Buronan Militer
Selamat membaca cerita baruku, semoga kalian suka yaa
PRANG!
Suara pecahan kaca menggema. Tentara itu menoleh tajam, Jay sudah bergerak dari sisi lain, menyergap dari belakang. Satu pukulan keras ke pergelangan tangan tentara. Alat suntik jatuh.
Arsya maju tanpa ragu, tongkatnya menghantam sisi lutut tentara itu. Retakan kecil terdengar. Tentara itu tersungkur. Namun reaksinya cepat—terlalu cepat untuk manusia biasa. Ia mencoba bangkit.
Mata itu… kosong.
Bukan seperti tentara normal. Lebih seperti warga di truk tadi. Jay menyadari sesuatu. “Mereka juga sudah divaksin,” gumamnya. Tentara itu mengayunkan tangan. Niki menendang keras dadanya hingga kembali terjatuh.
“Cepat!” teriak Niki pada wanita itu. Wanita itu merangkak ke arah anaknya, memeluknya erat. Arsya menatap mereka. “Lewat belakang! Ke hutan! Jangan ke jalan utama!” wanita itu mengangguk cepat, wajahnya pucat tapi penuh tekad. Jay mengambil alat suntik yang jatuh dan menghancurkannya di lantai. “Bunuh dia!”
Tentara itu mencoba bangkit lagi, namun Niki menghantam bagian belakang lehernya dengan keras, serta Jay yang langsung menusuk tentara itu tepat di jantungnya. Tubuh itu akhirnya terkulai. Tidak bergerak.
Hening.
Hanya suara nafas memburu mereka. Wanita itu berdiri, menggenggam tangan anaknya. Air matanya masih mengalir. “Terima kasih…” suaranya hampir tak terdengar. Arsya menatapnya tajam, “jangan percaya mereka. Jangan ikut truk. Sembunyi.”
Wanita itu mengangguk, lalu berlari ke arah belakang rumah bersama anaknya. Sunyi kembali turun di jalan kecil itu. Jay berdiri diam beberapa detik. Tangan nya sedikit gemetar. Niki menghembuskan nafas kasar. “Sekarang kita resmi jadi buronan militer.”
Jay menatap alat pemindai yang masih menyala di tangan tentara itu. Layar kecilnya menampilkan tulisan:
TARGET NON-RESPONSIVE: 5 METER
Jay langsung menghancurkan benda pemindai itu ke lantai hingga layarnya rusak total. Namun sebelum benar-benar mati, ia sempat menekan beberapa tombol acak, mengubah frekuensi sinyalnya.
Niki menatap cepat. “Kamu ngapain?”
Jay menjawab singkat, “mengirim status ‘target netral - area bersih’. Biar patroli lain tidak terlalu cepat ke sini.”
Alat itu akhirnya mati sepenuhnya.
Sunyi kembali turun.
Mereka bertiga menatap tubuh tentara yang tergeletak. Tidak ada rasa bangga maupun kemenangan. Saat ini yang mereka rasakan hanya berat. “Cepat,” ujar Jay pelan.
Mereka menyeret tubuh itu ke belakang rumah, ke tanah yang cukup lunak dekat pagar kayu tua. Dengan sekop kecil yang ditemukan di gudang, mereka menggali seadanya. Tanahnya keras, tapi cukup dalam untuk menyembunyikan tubuh itu.
Arsya menahan nafas saat tanah terakhir menutup wajah tentara tersebut. “Dia juga korban,” gumamnya pelan. Jay tidak menjawab. Ia tahu itu benar, seragamnya bersih dan wajahnya masih muda. Mungkin belum lama divaksin, mungkin juga tidak pernah diberi pilihan.
Setelah selesai, Niki mengumpulkan senjata yang mereka ambil—dua pistol, satu pisau taktis, dan beberapa peluru cadangan. “Lumayan,” katanya lirih. “Lebih baik dari tongkat baseball.” Arsya meliriknya tajam.
Niki mengangkat tangan. “Hei, bukan meremehkan.”
Jay mengambil salah satu pistol, mengecek magazinnya. “Kita gunakan hanya kalau terpaksa. Suara tembakan akan memanggil semuanya.” Arsya kembali memanggul tasnya. Matanya masih sedikit berkaca-kaca, tapi kini bukan hanya karena takut.
Marah.
Kecewa.
Dan sadar.
Jay perlahan mengangkat pandangannya ke arah Arsya. “Bukan hanya kanihu yang harus kita hindari sekarang,” katanya pelan. Arsya mengangguk. “Manusia yang kehilangan hati lebih berbahaya dari monster yang kehilangan akal.”
Angin berhembus membawa suara jauh dari konvoi truk yang semakin menghilang. Jay menatap jalan menuju arah barat— ke kota Abadi. “Kita sudah mengacaukan satu patroli,” ujar Niki. “Cepat atau lambat mereka sadar.”
Jay mengangguk pelan. “Berarti kita harus bergerak sebelum sinyal cadangan aktif.” Arsya menarik nafas panjang, menenangkan detak jantungnya. “Jay… kalau orang tuamu juga divaksin…” kalimatnya menggantung.
Jay terdiam beberapa detik. Lalu ia menjawab, suaranya lebih tegas dari sebelumnya. “Kalau mereka masih punya kesadaran, aku akan membawa mereka keluar.”
“Dan kalau tidak?” Tanya Niki. Jay menatap lurus ke depan. “Kalau tidak… aku tetap harus melihatnya dengan mataku sendiri.” tidak ada yang membantah.
Karena perjalanan ke Kota Abadi kini bukan hanya tentang mencari tempat aman. Melainkan mencari kebenaran. Dan mungkin menghentikan sesuatu yang jauh lebih besar dari wabah itu sendiri. Jay memberi isyarat.
“Mari kita kembali ke Regan dan Lyno. setelah itu… kita tinggalkan kota Sejuk sebelum kota ini menutup dirinya sepenuhnya.”
Langkah mereka kembali menyatu namun lebih berat dari sebelumnya, dan sedikit lebih pasti dengan tekad yang kuat.
🍂
Ketika tiba di dekat Lyno dan Regan. Regan langsung berdiri saat melihat mereka kembali. “Ada apa? Kalian lama.”
“Tidak sekarang,” jawab Jay singkat. “Kita harus bergerak.”
Lyno menangkap sesuatu dari ekspresi kakaknya. Bukan hanya tegang—tapi berubah. Seperti baru saja melihat sisi lain dunia yang lebih gelap.
Mereka segera menyusuri jalan tikus yang lebih sempit, di antara pagar rumah dan semak liar. Jay memimpin, Niki di belakang sebagai penutup.
Belum lima belas menit berjalan, suara mesin truk kembali terdengar. Satu… Dua… tuga.. Mereka berhenti di balik tembok retak dan mengintip. Truk militer berjajar, penuh warga dengan tatapan kosong seperti yang mereka lihat sebelumnya. Seorang tentara berdiri di belakang truk, memegang pengeras suara.
“Zona Abadi adalah tempat aman. Vaksinasi menjamin perlindungan dari infeksi. Jangan melawan proses evakuasi.” suara terdengar seperti rekaman dan seperti tidak ada emosi.
Namun di sisi lain jalan, sebuah teriakan terdengar. Beberapa warga berlari dari gang kecil. Seorang pria tua memapah remaja perempuan yang tampak pucat. Seorang ibu menggendong bayi. Dua pemuda berusaha menahan pintu pagar agar tidak dibuka paksa oleh tentara di belakang mereka.
“Mereka menolak vaksin,” bisik Asa. Tentara mengejar, langkah mereka cepat, teratur dan seperti manusia robot. Arsya menahan nafas. “Jay…” Jay sudah berpikir cepat, “jangan terlibat langsung, kita bantu arahkan.”
Ia berlari memotong gang sempit dan muncul di ujung lain jalan tiku. Dengan cepat ia melambaikan tangan pada kelompok warga yang kabur. “Sini! Lewat sini! Jangan ke jalan utama!”
Pria tua itu ragu sejenak, lalu memilih percaya. Mereka berbelok. Niki dan Domi membantu pagar kecil yang sudah setengah roboh. Warga-warga itu masuk satu per satu, nafas memburu. Tentara tiba di ujung gang, namun Jay sudah menarik kawat jemuran yang terpasang rendah di antara dua tembok.
Dua tentara tersandung bersamaan. Waktu sedetik itu cukup. Regan menutup pintu kayu dan mengganjalnya dengan besi tua. Sunyi.
Hanya suara nafas campur aduk. Seorang ibu menangis pelan, “mereka bilang suamiku kebal setelah vaksin, tapi mengapa dia berubah? Dia tidak mengenal kami sebagai keluarganya..”
Seorang pemuda lain berkata gemetar, “yang tidak mau divaksin dibilang pembawa wabah. Padahal yang berubah itu justru yang sudah di suntik oleh mereka..”
Arsya menatap Jay, potongan-potongan itu mulai menyatu. Vaksin memang bukan untuk perlindungan atau pertahanan imun tubuh melainkan mereka adalah cairan pengendalian. Mungkin tahap awal sebelum benar-benar menjadi kanihu.
Atau versi manusia yang setengah kehilangan diri. Jay menatap kelompok kecil itu, “kalian mau ke mana?”
“Ke luar kota. Ke hutan. Ke mana saja selain Zona Abadi,” jawab pria tua tadi. Jay terdiam sebentar. Lalu berkata pelan, namun tegas. “Kota Abadi bukan zona aman.”
Semua menatapnya.
“Disitulah distribusi vaksin tahap besar dilakukan. Kalian akan kehilangan pilihan di sana.”
Hening.
“Lalu kami harus ke mana?” tanya ibu yang menggendong bayi. Jay menarik nafas, lalu menoleh ke arah kelompoknya.
Lyno.
Arsya.
Niki.
Regan.
Dimo.
Dazzel.
Asa.
Perjalanan mereka tadinya hanya untuk bertahan hidup. Sekarang, orang-orang mulai mengikuti arah yang mereka pilih. Jay akhirnya berkata, “ada jalur hutan menuju perbukitan utara. Tidak banyak yang tahu. Kami menuju ke sana dulu sebelum memutuskan langkah berikutnya.”
Niki menatapnya cepat, “kita menambah rombongan?” Jay menjawab tanpa ragu kali ini. “Semakin banyak yang sadar, semakin kecil peluang mereka menguasai semuanya.” arsya merasakan sesuatu dalam dadanya.
Bukan hanya perasaan takut atau marah melainkan sebuah harapan kecil. Mungkin mereka tidak bisa menghentikan militer sekarang. Tapi ada suatu saat mereka pasti bisa menyelamatkan kesadaran.
Di kejauhan, suara tembakan peringatan terdengar. Waktu mereka semakin sedikit. Jay mengangkat tangan memberi isyarat. “Kita bergerak. Diam, ikuti langkahku. Dan jangan sampai terpisah.”
Dan untuk pertama kalinya, mereka bukan lagi hanya sekelompok remaja yang mencoba selamat. Mereka mulai menjadi sesuatu yang lebih besar.
Awal dari perlawanan.
Terima kasih sudah membaca, lanjut cerita besok yaa..