Bismillah ...
Buku ini diangkat dari kisah nyata. Tokoh perempuannya hanya ingin berbagi cerita agar para wanita tahu bahwa dia tidak sendirian menghadapi penderitaan. Jika pelukan tak bisa diberikan secara langsung, semoga kisah ini menjadi pelukan dari kejauhan untuk tokoh perempuan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Anisa Rahma adalah seorang perempuan yang kehilangan suaminya akibat virus Covid-19, di saat ia tengah mengandung buah hati yang telah mereka nantikan selama tiga tahun pernikahan. Kepergian itu bukan hanya merenggut pasangan hidupnya, tetapi juga meninggalkan luka yang lebih dalam ketika keluarga suaminya justru menyalahkan Anisa atas kematian tersebut.
Tanpa dukungan, tanpa pelukan, Anisa harus menerima kenyataan pahit: jasad suaminya dibawa ke kampung halaman, sementara ia ditinggalkan sendiri menghadapi kehamilan, duka, dan hidup yang kian berat. Hingga kini, Anisa bahkan tidak pernah tahu secara utuh bagaimana suaminya dimakamkan.
Penasaran ikutin terus ya kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Acara Yang Tidak Sampai
Sore itu mereka bersiap untuk datang, Zaki mengenakan kemeja berwana krem senada dengan gamis yang dikenakan Anisa, nampak simpel dan sederhana tapi tidak mengurangi kecantikan istrinya.
"Masyaallah, istriku cantik banget," puji Zaki dengan nada halusnya.
Anisa tersenyum pelan. "Masak sih."
"Dibilangin kok gak percaya, kamu itu mau pakai baju model apapun pasti terlihat cantik, apalagi jika mengenakan hijab kaya gini," ungkap Zaki.
"Hijabnya cocok gak?" tanya Anisa sambil melihat sisi kanan kiri wajahnya dari cermin.
"Cocok, senada dengan gamis yang kamu kenakan," ujar Zaki.
Mereka akhirnya keluar rumah dalam keadaan sudah siap, Anisa terlihat nampak anggun berjalan pelan sambil menenteng tas kecil begitu juga dengan Zaki yang terlihat tampan dengan kemeja yang ia gunakan.
Zaki mulai menstater mesin motornya, tangannya kirinya meraih tangan Anisa seolah memastikan jika istrinya itu sudah naik dengan baik.
"Sudah Yank?" tanya Zaki.
"Udah Mas."
Motor melaju pelan menyusuri jalanan yang mulai ramai penumpang, angin sore mengibaskan ujung hijab Anisa, sesekali Anisa merapikan hijab yang mulai menempel di pipinya. Zaki yang berada di posisi depan memperhatikan Anisa dari kaca sepion.
"Hijabmu kesapu angin Yank?" tanya Zaki.
"Enggak kok cuma sedikit.
Di perempatan jalan Zaki memperlambat laju motornya, ia berhenti di depan salah satu toko kue.
"Kok berhenti Mas?" tanya Anisa.
"Kita beli kue dulu ya, biar tak terlihat tangan kosong," sahut Zaki lembut.
Anisa hanya mengangguk. Keduanya melangkah menuju toko itu. Aroma harum roti panggang menyeruak ketika pintu di buka. Zaki memilih bolu pandan dan juga kue lapis. Namun pilihannya jatuh pada cake tart yang berbentuk memanjang.
"Mbak ambilkan yang ini aja ya," kata jagi.
Penjaga toko dengan sigap mengambil kue pilihan Zaki, setelah itu Zaki berinisiatif untuk menambahkan kue kembali tapi suara istrinya menghentikan langkahnya.
"Sudah Mas, satu aja cukup. Jangan boros," kata Anisa.
"Bukan masalah borosnya Yank, tapi niatnya," sahut Zaki.
"Aku tahu tapi satu aja cukup," ungkap Anisa.
"Iya satu aja," sahut Zaki akhirnya mengalah.
Setelah membayar, ia menerima kotak kue itu dengan hati-hati, lalu kembali menyalakan motor. Di antara angin sore dan kotak kue sederhana di tangannya, ada harapan kecil yang ia bawa, semoga pertemuan nanti berjalan baik.
Sesampainya di rumah Zaki, Anisa dibuat terpukau dengan kemegahan rumah itu, rumah Zaki berbeda jauh dengan rumahnya, halaman luas mobil berjajar, dan beberapa detik kemudian Anisa dengan reflek menghentikan langkahnya.
"Kok, berhenti Yank," kata Zaki.
"Aku takut Mas," ungkap Anisa.
"Sudah gak apa-apa, bukannya kita memang diminta untuk datang," kata Zaki meyakinkan hati Anisa.
Mendengar kata-kata suaminya hari Anisa sedikit lega, mereka berdua melanjutkan langkahnya untuk memasuki rumah Zaki.
Beberapa pasang mata langsung menoleh, ke arah keduanya, yang mulai memasuki ruang utama.
“Eh itu Zaki!” seru seseorang.
Umi berdiri dari sofa empuknya. Senyumnya ada, tapi tipis. “Ini kamu akhirnya datang juga,” ucapnya pada Zaki.
Zaki menyalami tangan Uminya. Anisa ikut menunduk dan mencium tangan. Namun sebelum sempat suasana mencair, salah satu tante dari keluarga besar bertanya dengan nada penasaran,
“Ini siapa, Mi?”
Sejenak suasana hening, Ghina menoleh ke arah menantunya itu. Anisa berdiri di samping Zaki, jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, meskipun tangan Zaki tidak melepaskan genggaman nya.
Umi tersenyum kecil. “Oh… ini yang bantu-bantu Zaki, ” katanya ringan.
“Pembantu," sahut salah satu keluarganya.
"Iya," sahut Ghina.
Satu kata itu jatuh seperti batu, berat tapi keras, Zaki membeku sepersekian detik ia tidak pernah menyangka dihadapan keluarga besarnya ibunya dengan tega berbicara seperti itu.
"Mi," cegah Zaki dengan tatapan yang menghunus.
Anisa mencoba tersenyum tipis, senyum yang ia pelajari bertahun-tahun untuk menutupi rasa perihnya.
Beberapa orang mengangguk-angguk. “Oh… pantesan kelihatan sederhana,” celetuk yang lain pelan, tak sadar suara itu cukup terdengar.
Zaki menoleh cepat ke arah Uminya.
“Mi,” suaranya rendah, tertahan.
Tapi Ghina sudah beralih menyapa tamu lain, seolah tidak ada yang salah dengan apa yang barusan ia ucap, ia sengaja menghindari panggilan Zaki.
Anisa menunduk. Ia memang pernah dipanggil pembantu, tapi hari ini. Kata itu seolah bergema lagi. Di depan keluarga suaminya sendiri, kata itu seolah terasa berbeda, kerana statusnya kini bukan lagi sebagai pembantu tapi seorang istri.
Zaki tidak mau diam begitu saja, saat para keluarganya percaya jika perempuan yang dia gandeng itu merupakan pembantu, langkah Zaki begitu cepat, mencekal pergelangan uminya.
"Apa maksud Umi, coba jelaskan," pinta Zaki.
Suasana mendadak hening, semua mata tertuju pada tatapan Zaki yang seolah tidak terima dengan ucapan ibunya itu.
"Kenapa sih Zak, kamu tidak boleh seperti itu dengan Umi," sahut saudara yang lain.
"Tapi wanita itu bukan pembantu, dia istriku, sekali lagi istriku!" tegas Zaki.
Semua yang ada di ruang tamu dibuat tercengang, tatapan yang tadi merendahkan seorang Anisa kini berubah malu, ternyata wanita yang disangka pembantu adalah koleganya sendiri.
"Umi, hanya becanda Zaki, kenapa sih diambil hati, toh Anisa diam aja gak marah," sahutnya lagi.
"Iya ini sih Zaki sensitif banget sih Umi mu hanya bercanda saja, kalau ngomong aja sambil tertawa tidak ada serius-seriusnya," timpal yang lainnya.
Ini bukan masalah candaan Tante, tapi ini masalah harga diri Zaki, jika ibuku saja tidak pernah menghargai pilihan anaknya bagaimana dengan orang lain!" cetus Zaki.
Suasana berubah menjadi tegang, nafas Zaki memburuh tanpa sadar air mata menetes di pipinya. "Sekali lagi aku tekankan pada anda-anda semua, jika wanita ini bukan pembantu tapi istriku," ucap Zaki.
Dan tanpa disuruh, Anisa meninggalkan kue tadi sebelum akhirnya tangan Zaki menuntunnya keluar dari acara halal bihalal itu.
Ghina mencoba untuk mencegah anaknya, karena acara belum di mulai dan Abinya juga masih belum mengetahui kedatangannya.
"Zaki, jangan pulang dulu, acara belum selesai," cegah Ghina.
Langkah Zaki terhenti tapi tidak untuk kembali.
"Iya Zak, ayolah kamu maafkan umi mu, lagian kita sudah terbiasa bercanda," timpal Tante Zaki.
"Maaf, aku tidak bisa berada di tempat yang tidak bisa menghargai istriku," tandas Zaki.
Keduanya melangkah pergi tanpa menoleh ke belakang lagi, tangan Zaki masih menggenggam tangan Anisa. genggamannya hangat, penuh kasih sayang, saat berada di dekat motornya Zaki menoleh sebentar ke arah Anisa.
"Maafkan atas semua perlakuan keluargaku," ucap Zaki.
Anisa terdiam sejenak. "Sudah gak apa-apa," sahut Anisa mencoba untuk tegar dihadapan Zaki.
"Makasih sudah menjadi wanita yang kuat," ucapnya sekali lagi sambil mencium kening istrinya berkali-kali.
Bersambung ....
Menjelang Berbuka jangan lupa sambil membaca cerita Anisa ya!
.